Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Kedua : Bayangan dan Gamelan
Siang datang perlahan, merayap masuk ke dalam ceruk batu melalui celah-celah kecil di antara kabut yang masih bergelayut. Tio duduk bersandar di dinding batunya, matanya terus mengamati luar. Setiap setengah jam ia menengok, berharap kabut benar-benar pergi.
Sekitar pukul satu siang, kabut akhirnya menipis. Tidak hilang total—masih ada sisa-sisa putih yang bergerak lambat di antara bebatuan—tapi setidaknya jarak pandang mulai meluas. Tio bisa melihat puluhan meter ke depan, bahkan mungkin lebih.
Ini saatnya.
Dengan hati-hati, Tio merangkak ke mulut ceruk. Setiap gerakan membuat kaki kanannya berdenyut, tapi ia berusaha mengabaikannya. Ia harus melihat. Ia harus tahu di mana ia berada.
Dari posisinya di lereng, pemandangan terbuka di hadapannya. Di bawah, lembah hijau membentang, tertutup kabut tipis yang membuatnya tampak seperti lautan kapas. Di kejauhan, ia bisa melihat garis-garis punggungan gunung yang saling tumpang tindih. Di satu arah, tampak puncak yang lebih tinggi—mungkin Puncak Slamet yang kemarin ia capai. Di arah lain, lereng menurun drastis, mungkin menuju ke jurang yang dalam.
Tio mencoba mengingat peta jalur pendakian yang ia lihat di basecamp. Dari Puncak Malang, jalur turun normal adalah ke arah tenggara, melewati Pos 4, Pos 3, Pos 2, Pos 1, lalu keluar di Desa Clekatakan. Tapi ia tidak tahu persis di mana ia sekarang setelah jatuh kemarin. Mungkin ia sudah menyimpang dari jalur. Mungkin ia berada di sisi gunung yang sama sekali berbeda.
Keputusan ini akan menentukan segalanya.
Ia mengamati tanda-tanda alam. Lumut di bebatuan—biasanya tumbuh lebih subur di sisi yang lembab, yaitu sisi yang menghadap ke arah datangnya angin basah. Angin di gunung ini kebanyakan datang dari selatan, membawa uap air dari Samudra Hindia. Jika ia bisa menentukan arah selatan, mungkin ia bisa memperkirakan posisinya.
Tapi lumut tumbuh di hampir semua sisi batu di sini. Kelembaban terlalu tinggi, semua sisi basah. Tidak membantu.
Matahari? Samar-samar muncul di balik awan, tapi terlalu redup untuk menentukan arah dengan bayangan.
Tio frustrasi. Ia butuh keputusan, tapi semua pilihan tampak sama berisikonya.
---
Ia memandang ke bawah, ke arah lembah yang tampak hijau. Di sana, mungkin ada sungai. Mungkin ada desa. Mungkin ada jalur pendakian lain. Jika ia bisa mencapai lembah itu, mungkin ada harapan.
Tapi untuk mencapai lembah, ia harus turun. Dan turun dengan kaki cedera di medan yang tidak ia kenali adalah mimpi buruk. Satu langkah salah, satu jatuh lagi, dan ia bisa tidak bangun.
Di sisi lain, jika ia mencoba kembali ke jalur pendakian normal, ia harus mendaki lagi. Naik ke arah punggungan, mencari tanda-tanda jalur. Dengan kaki kanan yang bengkak, mendaki mungkin lebih berat daripada turun. Tapi setidaknya ia bergerak ke arah yang lebih dikenal.
Naik atau turun? Turun atau naik?
Tio duduk di mulut ceruk, menimbang-nimbang. Rasa sakit di kakinya terus mengirim sinyal bahwa pilihan apa pun akan menyakitkan. Tapi diam di sini juga bukan pilihan. Airnya terbatas. Makanannya terbatas. Ia harus bergerak.
Akhirnya, setelah berpikir lama, ia membuat keputusan. Turun. Ia akan mencoba turun ke lembah. Setidaknya gravitasi akan membantunya. Dan di lembah, kemungkinan besar ada air. Air adalah prioritas utama.
Sekarang, tinggal mencari arah turun yang paling aman.
---
Tio mengamati lereng di hadapannya. Beberapa bagian tampak curam, hampir tegak lurus—tidak mungkin dilalui. Beberapa bagian lain lebih landai, dengan semak-semak dan pepohonan kecil yang mungkin bisa menjadi pegangan. Ia memilih satu jalur yang tampaknya paling mungkin: turun dengan sudut kemiringan sekitar 30-40 derajat, dengan banyak vegetasi.
Tapi sebelum bergerak, ia harus memastikan. Keputusan ini akan menentukan ke mana ia akan berjalan. Dan sekali ia masuk ke dalam hutan di bawah, arah akan hilang. Pandangan akan terbatas. Ia tidak akan bisa lagi melihat gambaran besar seperti sekarang.
Tio mengamati lebih detail. Di jalur yang ia pilih, ia bisa melihat beberapa pohon besar yang mungkin bisa menjadi penanda. Ada juga batu besar berbentuk unik—seperti kepala gajah—yang bisa ia jadikan referensi. Jika ia berhasil turun sampai ke pohon-pohon itu, mungkin dari sana ia bisa melihat lebih jauh.
Ia mengingat-ingat posisi matahari saat ini. Samar, tapi ia tahu matahari bergerak dari timur ke barat. Jika ia turun ke arah yang sekarang ia hadapi, berarti ia turun ke arah... selatan? Barat daya? Tidak tahu pasti.
Tidak apa. Yang penting turun. Cari air.
Tio menarik napas panjang, lalu mulai merangkak keluar dari ceruk.
---
Langkah pertama adalah yang paling berat. Tio mencoba berdiri, bertumpu pada kaki kiri. Kaki kanan diangkat, tidak menyentuh tanah. Ia meraih tongkat bambu yang masih ia pegang selama jatuh kemarin. Tongkat itu menjadi penyelamatnya sekarang.
Dengan tongkat di tangan kanan, ia mencoba melangkah. Lompatan kecil dengan kaki kiri, tongkat menopang di depan. Lompatan lagi. Lagi. Lagi.
Setiap lompatan mengirim getaran sakit ke kaki kanan, meski tidak digerakkan. Tio menggertakkan gigi, terus bergerak. Jarak dari ceruk ke tepi jalur turun yang ia pilih hanya sekitar 20 meter, tapi terasa seperti satu kilometer.
Sesekali ia berhenti, mengatur napas, menahan rasa sakit. Keringat bercucuran di pelipisnya, bukan karena panas—udara tetap dingin—tapi karena effort luar biasa yang ia keluarkan.
Setelah 15 menit, ia akhirnya sampai di titik di mana jalur turun dimulai. Dari sini, lereng menukik tajam ke bawah, dipenuhi semak-semak dan bebatuan kecil. Tio duduk di tanah, memandangi medan di hadapannya.
Bagaimana cara turun dengan kaki begini?
Ia tidak punya jawaban. Tapi ia harus mencoba.
---
Tio memutuskan untuk turun dengan posisi duduk. Ia duduk di tanah, menggunakan kedua tangan dan satu kaki kirinya untuk mendorong, sementara kaki kanan diangkat agar tidak terbentur. Perlahan, sentimeter demi sentimeter, ia meluncur menuruni lereng.
Metode ini sangat lambat. Dalam satu jam, ia mungkin hanya turun 100 meter. Tapi tidak ada pilihan lain. Setiap kali ia mencoba berdiri dan melompat, rasa sakit di kaki kanan membuatnya hampir pingsan. Jadi duduk dan meluncur adalah satu-satunya cara.
Tanah basah membuatnya lebih licin—kadang membantu, kadang menyulitkan. Di beberapa bagian, ia meluncur terlalu cepat, hampir tak terkendali. Di bagian lain, ia harus merayap melewati semak-semak rapat yang melukai tangan dan wajahnya.
Sekitar pukul setengah empat sore, ia mencapai pohon besar pertama—salah satu penanda yang ia lihat dari atas. Ia berhenti di bawah pohon itu, meregangkan punggung yang pegal, minum seteguk air dari botolnya yang semakin menipis.
Dari sini, ia bisa melihat lebih jauh ke bawah. Lembah masih jauh. Mungkin butuh dua hari lagi dengan kecepatan ini. Dua hari, dengan sisa air yang mungkin hanya cukup untuk satu hari. Dua hari, tanpa makanan selain dua batang energi bar.
Tuhan, bantu aku.
---
Sore mulai merambat. Cahaya matahari berubah warna, dari putih ke kuning keemasan, lalu perlahan ke jingga. Tio sadar ia harus segera mencari tempat berteduh untuk malam kedua. Tidak mungkin turun dalam gelap.
Ia mencari-cari di sekitarnya. Di kejauhan, sekitar 50 meter ke arah timur, ia melihat overhang batu lain—mirip dengan ceruk kemarin, tapi tampak lebih besar. Itu bisa menjadi tempat berlindung untuk malam ini.
Tio memulai perjalanan terakhir hari itu. Merangkak, melompat dengan satu kaki, meluncur duduk—apapun yang bisa membuatnya bergerak.
Saat ia hampir mencapai overhang batu itu, sesuatu menarik perhatiannya. Di dinding tebing di sebelah kirinya, sekitar 30 meter dari posisinya, ada bayangan bergerak.
Tio mengerjap, mengira matanya mulai berhalusinasi karena kelelahan. Tapi bayangan itu tetap ada. Bergerak perlahan, merayap di dinding tebing seperti... seperti apa? Seperti manusia yang merayap, tapi tanpa suara, tanpa bentuk yang jelas.
Hitam. Pekat. Bergerak dengan ritme aneh—kadang cepat, kadang lambat, kadang berhenti diam.
Bulu kuduk Tio meremang. Ia belum pernah melihat sesuatu seperti ini. Bayangan itu tidak seperti bayangan biasa yang mengikuti gerak benda. Bayangan ini bergerak sendiri, seolah-olah ada entitas di dinding tebing itu.
Tio diam, tidak berani bergerak. Matanya terus mengikuti bayangan itu merayap, naik ke atas tebing, lalu menghilang di balik tonjolan batu. Hilang.
Jantungnya berdebar kencang. Apa itu tadi? Apa itu sungguhan?
Ia menunggu beberapa saat, berharap bayangan itu muncul lagi. Tapi tidak. Dinding tebing itu kosong, hanya bebatuan basah dan lumut hijau.
Cuma ilusi. Pasti cuma ilusi. Lelah, lapar, dehidrasi—pasti itu.
Tio memaksakan diri untuk percaya pada penjelasan rasional itu. Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada getaran takut yang tak bisa ia singkirkan.
---
Malam tiba. Tio sudah berada di dalam overhang batu yang ia tuju. Tempat ini lebih baik dari kemarin—agak lebih luas, lantainya relatif datar, dan ada sedikit pasir kering di sudutnya. Ia meregangkan tubuh, mengeluarkan matras dan sleeping bag yang agak lembab, dan membungkuskan diri sebisanya di atas matras.
Dari mulut overhang, ia bisa melihat langit malam. Kabut sudah pergi, digantikan langit cerah dengan taburan bintang yang luar biasa banyak. Di bawah, lembah gelap gulita. Tapi Tio berharap, di kejauhan, ia akan melihat titik-titik lampu—lampu rumah penduduk, lampu desa, apa saja yang menunjukkan bahwa ada manusia di luar sana.
Ia duduk bersandar, matanya terus mengamati ke arah lembah. Satu jam. Dua jam. Tidak ada lampu. Hanya gelap pekat yang sesekali diterangi kerlap-kerlip kunang-kunang.
Sekitar pukul sembilan malam, ketika Tio hampir tertidur, ia mendengar sesuatu.
Suara. Samar-samar. Dari kejauhan.
Ia menajamkan telinga. Suara itu... seperti gamelan. Irama khas Jawa, dengan bunyi saron, bonang, dan gong. Jelas. Nyata.
Tio terkesiap. Gamelan? Di tengah hutan di ketinggian 3.000 meter? Tidak mungkin.
Ia berdiri setengah—lupa sejenak pada kakinya yang cedera, lalu meringis sakit dan duduk lagi. Tapi telinganya tetap fokus pada suara itu.
Gamelan terus berbunyi. Iramanya lambat, khidmat, seperti musik pengiring ritual atau upacara adat. Kadang terdengar jelas, kadang samar tertiup angin. Tapi tidak pernah benar-benar hilang.
Dari mana suara ini?
Tio mencoba mencari arah sumber suara. Dari lembah? Tidak, suaranya datang dari samping, dari arah tebing tempat ia melihat bayangan tadi sore. Dari dalam gunung? Tidak masuk akal.
Ia duduk diam, mendengarkan, jantung berdebar campuran antara takut dan heran. Gamelan itu terus berbunyi, tidak berhenti, tidak berubah irama. Seperti rekaman yang diputar berulang.
Setelah setengah jam, suara itu perlahan menghilang, ditelan angin malam. Tio masih duduk diam, mencerna apa yang baru saja ia alami.
Halusinasi pendengaran. Pasti itu. Efek kelelahan dan kelaparan.
Tapi di dalam hatinya, ia tahu—ini bukan pertama kalinya ia mengalami hal aneh di gunung ini. Bayangan hitam kemarin malam. Bayangan merayap tadi sore. Dan sekarang suara gamelan. Semuanya terhubung.
Tio memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi pikirannya terus berkecamuk. Gunung ini tidak seperti gunung lain yang pernah ia daki. Ada sesuatu di sini. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Di luar overhang, angin malam bertiup membawa bisikan. Dan di dinding tebing yang gelap, bayangan hitam itu kembali merayap, diam-diam mengamati Tio yang meringkuk dalam sleeping bag lembabnya.
Menunggu.
Menunggu sesuatu.