NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik-detik penyamaran yang terancam

Empat hari di rumah keluarga Hardianto terasa seperti empat tahun bagi Laura. Setiap detik yang berlalu adalah detak jam menuju eksekusi yang tak kunjung ia sanggup lakukan. Pendar emas di nadinya kini sering berdenyut nyeri, berbenturan dengan kedamaian yang melingkupi rumah itu. Sisa dua hari lagi sebelum malam Black Sabbath, dan botol kristal hitam di sakunya masih sekosong jiwanya.

Sore itu, suasana rumah berubah. Bukan karena kegelapan, melainkan karena kehadiran cahaya yang begitu kuat hingga membuat dahi Laura berkeringat dingin saat ia membukakan pintu depan.

Enam orang wanita dan dua pria paruh baya masuk dengan langkah mantap. Mereka tidak membawa senjata, namun aura yang mereka bawa membuat Laura merasa seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Mereka adalah Tim Doa Menara Kota, para penjaga rohani yang dikenal selalu "menjaga" gerbang spiritual kota itu dari segala bentuk kegelapan.

Bu Sisil menyambut mereka dengan pelukan hangat.

"Selamat datang, Bapak dan Ibu! Mari, silakan masuk. Kami sudah menantikan kehadiran tim pendoa hari ini."

Pemimpin Pendoa Ibu Marta Seorang wanita tua dengan tatapan mata yang sangat tajam namun teduh. Ia berhenti tepat di depan Laura, menatap gadis itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

"Selamat sore, Nak. Siapa namamu?"

Laura menunduk dalam, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya. "Yanti, Bu... Saya pengasuh Gabriel."

Ibu Marta tidak segera melepaskan tatapannya. Ia mengangguk perlahan, lalu berbisik hampir tak terdengar,

"Tuhan memberkatimu, Yanti. Semoga hatimu menemukan jalan pulang."

Mereka berkumpul di ruang tengah, membentuk lingkaran. Bu Sisil meminta Laura untuk tetap berada di sana bersama Gabriel. Laura terpaksa duduk di kursi sudut, mendekap Gabriel erat-erat, seolah bayi itu adalah tamengnya agar ia tidak "terbakar" oleh atmosfir doa di ruangan itu.

"Mari kita mulai. Kita tahu kota ini sedang dalam ancaman kegelapan yang tidak terlihat. Ada aura hitam yang mencoba merayap masuk melalui pinggiran kota. Kita di sini untuk mematahkan setiap kutukan dan melindungi setiap jiwa yang murni."

Doa dimulai. Suara mereka tidak keras, namun terasa seperti frekuensi radio yang sangat kuat yang membuat telinga Laura berdenging hebat.

Di dalam pikirannya, mantra-mantra Satanic Bible yang ia pelajari di rumah tempat ia tinggal mulai berteriak, mencoba melawan. Namun, setiap kali para pendoa menyebut nama "Sang Terang Tuhan Yesus Kristus", Laura merasa sebuah ikatan gaib di lehernya yang dipasang oleh Marco mulai mengencang, membuatnya sesak napas.

Di tengah doa yang semakin khusyuk, salah satu pendoa pria tiba-tiba membuka matanya dan menunjuk ke arah sudut tempat Laura duduk.

"Ada kegelisahan yang besar di sudut itu. Sesuatu yang tersembunyi sedang mencoba bersembunyi di balik jubah kepolosan."

Ucap salah seorang pendoa pria.

Bu Sisil menatap Laura dengan khawatir. Laura bangkit berdiri dengan terburu-buru, wajahnya pucat pasi.

"Maaf... Gabriel sepertinya butuh ganti popok. Saya permisi ke atas dulu."

Ia lari menaiki tangga dengan jantung berdegup kencang. Di dalam kamar bayi, Laura menyandarkan tubuhnya ke pintu yang tertutup. Ia bisa mendengar gema doa dari bawah yang seolah-olah menembus lantai kayu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan jarum perak itu. Jarum itu kini tampak hitam kusam, seolah kehilangan kekuatannya di rumah ini.

Meskipun suasana spiritual di ruang tengah terasa sangat menekan bagi Laura, para pendoa itu tetap bersikap sangat ramah. Sebagai "prajurit rohani", mereka memiliki kepekaan, namun mereka tidak lantas menuduh; mereka justru membalas kegelisahan yang mereka rasakan dari Laura dengan kasih persaudaraan.

Bu Sisil menyentuh lengan Laura dengan lembut, membuyarkan lamunan kelam gadis itu.

"Yanti, Sayang... tolong bantu Ibu ya. Makanan dan kue-kuenya sudah siap di dapur. Tolong sajikan bersama teh hangat untuk tamu-tamu kita," bisik Bu Sisil sambil tersenyum tulus.

Laura mengangguk kaku. "Baik, Bu. Segera saya siapkan."

Di dapur, tangan Laura gemetar hebat saat ia menyusun cangkir-cangkir porselen di atas nampan perak. Ia melihat bayangan dirinya di pantulan teko teh—wajah seorang gadis polos yang sedang membawa "racun" di dalam hatinya. Ia merogoh saku celemeknya, menyentuh botol kristal hitam itu. “Campurkan sedikit minyak pelumpuh ke dalam teh mereka, Laura... buat mereka tertidur agar kau bisa mengambil darah Gabriel malam ini,”

sebuah suara di kepalanya—suara yang mirip Elena—terdengar menghasut.

Namun, saat ia melihat tumpukan kue yang dibuat Bu Sisil dengan penuh kasih, Laura menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Tidak... jangan sekarang," gumamnya lirih.

Laura melangkah kembali ke ruang tengah dengan nampan di tangannya. Ia bergerak sepelan mungkin, mencoba tidak menarik perhatian. Namun, aroma teh melati yang ia bawa seolah bercampur dengan aura dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya.

Ibu Marta menerima cangkir teh dari tangan Laura.

"Terima kasih, Nak Yanti. Wajahmu pucat sekali. Apa kamu sudah makan? Jangan sampai sakit ya, tugasmu menjaga bayi ini sangat mulia."

"Sudah, Bu... terima kasih perhatiannya," jawab Laura singkat, berusaha menghindari kontak mata

"Kue ini enak sekali, Bu Sisil. Dan tehnya... terasa sangat menenangkan. Tuhan benar-benar memberkati rumah ini dengan kehadiran orang-orang yang rajin."

Laura berdiri mematung di sudut ruangan setelah selesai menyajikan. Ia melihat para pendoa itu tertawa kecil, saling menguatkan, dan kembali menaikkan doa syukur atas makanan tersebut. Di mata mereka, Laura hanyalah seorang gadis desa yang malang dan rajin. Mereka tidak tahu bahwa di balik kacamata itu, terdapat mata seorang Satanis yang sedang menghitung jam menuju penghancuran keluarga ini.

Laura menarik napas lega saat para pendoa itu kembali larut dalam percakapan hangat dengan Pak Hardianto. Dengan gerakan secepat mungkin namun tetap terlihat tenang, ia segera mengundurkan diri ke dapur, lalu bersembunyi di balik pilar ruang makan. Keringat dingin membasahi punggungnya. Berada di tengah orang-orang yang "bercahaya" itu rasanya seperti berdiri terlalu dekat dengan api unggun yang sangat panas bagi jiwanya yang kini telah dicemari kegelapan.

Di dapur, Laura menyandarkan tubuhnya ke meja marmer yang dingin. Ia bisa mendengar tawa tulus Ibu Marta dan suara rendah Pak Hardianto yang sedang mengucap syukur.

"Mereka tidak tahu... Mereka benar-benar tidak tahu siapa yang baru saja menyuguhkan teh untuk mereka. Jika mereka melihat tanda di leherku, atau jika mereka tahu apa yang ada di dalam saku celemek ini..."

Batin Laura.

Ia merogoh sakunya, jemarinya menyentuh permukaan botol kristal hitam yang kasar. Botol itu terasa bergetar, seolah bereaksi negatif terhadap suara puji-pujian yang samar-samar terdengar dari ruang tengah.

Aktivitas yang Tergesa-Gesa

Untuk menenangkan sarafnya yang tegang, Laura mulai mencuci piring dengan sangat cepat. Suara gemericik air membantunya meredam suara doa-doa itu.

Saat Bu Sisil sesekali masuk ke dapur untuk mengambil tambahan kue, Laura langsung memasang wajah "Yanti" yang rajin.

"Duh, rajinnya anak Ibu. Terima kasih ya, Yanti. Tamu-tamu tadi bilang teh buatanmu sangat enak. Kamu istirahat saja kalau capek, biar piringnya Ibu yang lanjut nanti."

"Tidak apa-apa, Bu. Saya lebih suka sibuk begini. Ibu temani saja tamu-tamunya sampai selesai."

Laura tahu, setiap detik yang ia habiskan di dapur adalah waktu yang ia curi untuk menghindari konfrontasi spiritual yang mematikan. Ia harus bertahan. Hanya dua hari lagi. Dua hari sampai Marco datang menjemput.

Sore itu pun berakhir. Satu per satu para pendoa itu berpamitan. Dari balik tirai dapur, Laura mengintip saat mereka bersalaman dengan keluarga Hardianto di teras depan.

Ibu Marta,sambil melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah rumah.

"Ingat, Sisil. Jaga rumah ini baik-baik. Ada sesuatu yang sedang 'berhenti' di kota ini, dan kita harus tetap waspada."

Mobil para tamu itu perlahan menjauh. Rumah kembali sunyi, menyisakan bau harum dupa mawar dan kedamaian yang mendalam. Namun bagi Laura, kesunyian ini jauh lebih menakutkan daripada kebisingan di klub malam. Karena dalam kesunyian ini, suara nuraninya sendiri terdengar jauh lebih nyaring.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!