Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel di Atas Prahara
Suara terompet perak kembali bergema, namun kali ini nadanya lebih rendah dan berat, menandakan pemisahan resmi antara para pengguna elemen murni dan para ksatria sihir pedang. Di Arena Satu, kabut emas yang dilepaskan Master Alaric mulai memadat, menciptakan dinding transparan yang memisahkan Mina dan Rhea dari dua rekan setim mereka.
Lucien Vlad menatap kedua siswi Arcanova itu sejenak.
"Mina, Rhea. Kalian dengar instruksi Master Alaric. Jinakkan monster manifestasi kalian, dan jangan biarkan perselisihan tadi merusak fokus kalian. Aku menyerahkan arena ini pada kalian."
Mina mengangguk dengan tekad baru, sementara Rhea hanya menggumamkan persetujuan tipis, meski matanya tak lagi memancarkan permusuhan yang tajam. Lucien kemudian menoleh ke arah Clara.
"Ayo, Clara. Waktunya membuktikan didikan Crimson Crest," ucap Lucien tegas.
Clara, yang sedari tadi berdiri tegak dengan dua pedang pendeknya, mengangguk mantap.
"Siap, Ketua. Saya tidak akan mempermalukan tim satu."
Keduanya melangkah keluar dari Arena Satu menuju Zona Tengah—sebuah lapangan luas yang dilapisi ubin marmer putih yang telah diperkuat sihir pelindung tingkat tinggi. Di sana, para instruktur pedang dari Crimson Crest sudah menunggu dengan aura yang menekan.
---
Zona Tengah: Tarian Angin dan Petir
Di Zona Tengah, Lucien dan Clara berdiri berdampingan. Di hadapan mereka, berdiri dua instruktur senior. Salah satunya adalah Master Silas yang menatap Lucien dengan tatapan haus akan pembuktian kegagalan, dan yang lainnya adalah Master Vane, seorang ahli pedang angin yang merupakan mentor langsung dari Clara.
"Kalian para pengguna pedang adalah ujung tombak akademi," suara Silas menggelegar di tengah lapangan. "Jiwa kalian tidak dimanifestasikan menjadi hewan liar, melainkan dituangkan ke dalam bilah senjata kalian. Untuk menjinakkan kekuatan kalian sendiri, kalian harus melampaui teknik guru kalian!"
Master Vane melangkah maju menghadap Clara.
"Clara, tunjukkan padaku apakah anginmu hanya sepoi-sepoi atau sebuah badai yang mampu membelah gunung!"
Tanpa banyak bicara, Clara melesat. Kedua pedang pendeknya bersinar dengan cahaya hijau pucat. Ia bergerak seperti bayangan yang terbawa angin, menyerang Vane dari sudut-sudut yang mustahil.
"Twin Gale: Cyclone Slash!" teriak Clara. Ia berputar di udara, menciptakan pusaran angin tajam yang mengarah tepat ke leher Master Vane.
Vane tersenyum tipis, menangkis serangan itu dengan gerakan minimalis. Duel mereka menjadi tarian maut yang sangat cepat, di mana suara dentingan logam bertemu logam terdengar seperti melodi yang liar. Clara harus benar-benar fokus; ia harus menyatukan mananya ke dalam pedangnya tanpa membiarkan emosinya membuat anginnya menjadi tidak terkendali.
Sementara itu, Lucien berhadapan dengan Master Silas.
"Mari kita lihat, Vlad," desis Silas sembari menghunuskan pedang panjangnya. "Apakah peringkat satumu itu hasil dari bakat murni, atau ada 'sesuatu' yang kotor yang kau sembunyikan?"
Silas menyerang dengan kekuatan penuh. Setiap tebasannya membawa tekanan mana yang luar biasa. Lucien menangkis, merasakan getaran hebat yang menjalar hingga ke tulang bahunya. Di saat yang sama, ia harus menjaga Petir Biru-nya agar tetap berada di dalam bilah pedang, tidak meledak keluar dan menunjukkan wujud iblisnya.
---
Arena Satu: Manifestasi Pikiran dan Es
Di saat Lucien dan Clara bertarung hidup dan mati di Zona Tengah, Mina dan Rhea di Arena Satu menghadapi ujian yang tak kalah berat. Sesuai instruksi Master Alaric, mereka harus melahirkan monster dari jiwa mereka.
Mina memejamkan matanya, memfokuskan kekuatan telekinesisnya. Dari udara yang bergetar, muncul seekor Gajah Raksasa yang transparan, terbuat dari energi pikiran murni. Namun, gajah itu langsung mengamuk, mencoba menginjak Mina dengan kaki energinya yang berat.
"Mina! Jangan gunakan kekerasan!" teriak Rhea dari sisi lain.
Rhea sendiri sedang berhadapan dengan manifestasinya: seekor Serigala Es yang bulunya terbuat dari duri-duri salju yang tajam. Serigala itu melolong, membekukan tanah di sekitar Rhea dan mencoba menerkam lehernya.
Rhea teringat bagaimana Lucien tadi melindunginya. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan kedinginan di hatinya.
"Aku bukan lagi orang yang egois," bisiknya.
Ia merentangkan tangannya, bukan untuk menyerang, tapi untuk memberikan kehangatan mana pada serigala esnya. Perlahan, duri-duri tajam pada serigala itu melunak menjadi bulu salju yang halus.
Mina pun mengikuti. Ia menggunakan pikirannya untuk "membelai" gajah energinya, menyelaraskan gelombang otaknya dengan mahluk tersebut. Gajah itu berhenti mengamuk dan mengeluarkan suara rendah yang menenangkan, lalu berlutut di hadapan Mina.
---
Puncak Duel: Fokus Mutlak Lucien
Kembali ke Zona Tengah, situasi semakin panas. Clara sudah mulai kelelahan, namun ia berhasil mendaratkan satu goresan di jubah Master Vane—sebuah bukti bahwa ia telah menjinakkan teknik anginnya sendiri.
Namun, Lucien berada dalam bahaya. Silas sengaja menggunakan teknik-teknik terlarang untuk memancing emosi Lucien.
"Kenapa, Vlad? Kau takut mengeluarkan kekuatan aslimu? Di mana petir yang kau gunakan di Abyss itu?!"
Silas menghantamkan pedangnya, memojokkan Lucien ke dinding sihir. Lucien merasakan kemarahan mulai membakar dadanya. Di punggungnya, simbol petir biru berdenyut panas, siap untuk meledak menjadi Tahap Kedua.
Jika aku melepaskannya sekarang, Silas akan tahu. Seluruh akademi akan tahu, batin Lucien.
Lucien menutup matanya di tengah hujan serangan Silas. Ia memvisualisasikan buku kedelapan. Ia memisahkan amarahnya dari mananya. Ia mengambil esensi dari petir—bukan sifat menghancurkannya, melainkan kecepatannya yang murni.
"Crimson Style: Static Silence."
Secara tiba-tiba, aura Lucien menjadi sangat tenang, hampir seperti tidak ada kehidupan. Saat pedang Silas hanya berjarak satu inci dari wajahnya, Lucien bergerak. Bukan dengan ledakan petir, tapi dengan satu gerakan kilat yang sangat halus dan presisi.
ZAP!
Dalam satu kedipan mata, Lucien sudah berada di belakang Silas. Pedang Lucien berada tepat di tengkuk Silas, dengan percikan petir biru yang sangat kecil namun sangat padat di ujung bilahnya.
Silas mematung. Ia bisa merasakan ujung pedang Lucien yang dingin.
"Tugas selesai, Master Silas," ucap Lucien dengan suara yang sangat rendah dan terkontrol.
Master Alaric, yang mengawasi dari kejauhan, memberikan tepuk tangan tunggal yang bergema.
"Cukup! Clara, Lucien, kalian telah menjinakkan pedang kalian. Kembali ke tim kalian!"
Clara berlari menghampiri Lucien, wajahnya penuh peluh namun matanya bersinar bangga.
"Kita melakukannya, Ketua!"
Lucien menyarungkan pedangnya, menyembunyikan tangannya yang sedikit bergetar karena menahan energi kutukan yang nyaris meluap. Ia melihat ke arah Arena Satu, di mana Mina dan Rhea sedang menunggu mereka dengan monster-monster manifestasi yang telah jinak.
Tim Satu telah berhasil melewati ujian ini dengan keselarasan yang tak terduga. Namun, saat Lucien berjalan kembali, ia menangkap tatapan Silas yang penuh dendam. Ia tahu, meskipun ia berhasil menjinakkan pedangnya hari ini, ia baru saja membuat musuh yang lebih berbahaya daripada monster Abyss mana pun.