Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang DALAM
Dini hari itu, suasana sekitaran apartemen begitu sunyi. Langkah Serra semakin terasa berat, seraya memegangi lengan kirinya, ia berusaha menaiki beberapa anak tangga yang akan membawanya ke lantai dua.
Brukkk!
Serra bersandar sejenak ke dinding dengan napas tertahan, tubuh berbalut pakaian serba hitamnya terasa melemah, ditambah dengan pikiran yang semakin berisik. Ia mulai meraih gagang pintu apartemen, lalu memutar kunci, terasa sedikit licin karena darah yang merembes dari perban darurat yang ia ikat seadanya.
Klik!
Pintu sudah terbuka, aroma sisa masakan serta hawa hangat dari pemanas ruangan terasa nyaman. Hal itulah yang membuat tubuhnya makin terasa tak berdaya. Belum sempat gadis itu melangkah maju, keseimbangan berkhianat padanya.
GUBRAKKK!
Akhirnya ia jatuh tersungkur tepat di depan pintu, dengan suara keras yang memecah kesunyian malam.
Di sofa ruang tamu, Ethan yang terlelap karena menunggu pun terbangun. Matanya terbuka lebar, dengan jantung yang berdegup cepat. Pemuda itu mulai beranjak, menuju sumber suara seraya berjalan cepat ke arah pintu utama yang masih terbuka.
"Serra?!."
Tatapan Ethan turun ke lantai, di sana terlihat jelas sosok Serra yang sudah tergeletak lemah dengan noda darah di bagian lengan kirinya. Napas gadis itu terdengar tidak stabil. Tanpa membuang waktu, Ethan mengangkat tubuh Serra dengan hati-hati. Ia membawanya ke kamar, lalu meletakkannya di atas ranjang.
"Ethan..," dalam keadaan setengah sadar Serra memanggil nama yang sedari tadi mengusik pikirannya."Ya, aku disini," balas Ethan lembut.
Pemuda itu segera menyiapkan alat P3K, lalu meletakkannya di atas meja kecil dekat ranjang.
Ia menarik napas, berusaha tenang. Tangannya membuka balutan kain dengan hati-hati, lalu melepas perlahan jaket yang Serra kenakan. Matanya hanya terfokus pada luka tembak di bagian lengan kiri.
Baru pertama kalinya ia melihat luka tembak secara langsung, setelah mengetahui dari banyak jurnal medis yang ia baca, serta beberapa video yang ia lihat di internet. Sejenak ia melihat kilatan benda logam dari dalam luka. Peluru masih bersarang di sana, "tolong tahan sebentar," ujarnya pelan.
Setelah mengoleskan anti septik, Ethan mulai memasukkan pinset kedalam luka yang sedikit menganga. Entah mengapa kali ini tangannya sedikit gemetar. Serra meringis lemah. Tangan kanannya refleks mencengkeram seprai. Ethan tetap fokus mengambil peluru, ia tak lagi ragu seperti sebelumnya.
Kling!
Suara logam kecil terdengar, peluru itu akhirnya keluar. Darah langsung mengalir lebih deras, ethan mulai menekan pelan luka tersebut dengan kapas dan kasa, lalu membalutnya dengan perban. Hasilnya terbilang rapih untuk seseorang yang baru pertama kali melakukannya.
"Selesai," bisik nya pelan.
Serra sedikit tenang, di sela-sela itu ia mulai kembali merasakan sentuhan yang terkendali, saat Ethan membantunya mengganti pakaian. Tangan pemuda itu bergerak dengan hati-hati. Kedua matanya tetap terjaga dan tidak menyentuh area yang tidak perlu. Bahkan ia memalingkan wajah saat melepas lapisan dalam pakaian gadis tersebut.
Profesional.. Ethan memang orang yang seperti itu. Dan di momen inilah, ingatan Serra tiba-tiba menyeruak. Kilasan demi kilasan mulai tergambar jelas, saat tubuhnya terluka parah dengan darah di mana-mana dan napasnya hampir putus. Satu-satunya orang yang merawatnya waktu itu hanyalah Ethan.
Masih dengan tangan yang sama, ketenangan yang sama, serta jarak kesopanan yang sama. Dulu ia mengira itu hanyalah kebetulan, sampai tidak ingin membahasnya. Tapi kini, setelah mengalaminya kembali, ia semakin sadar jika perasaan Ethan kepadanya bukanlah hal kecil yang mudah di hilangkan.
Air mata tipis menggenang di sudut mata gadis itu, dadanya semakin terasa sesak. Mengapa?, batinnya tetap bertanya walau sudah menemukan jawaban. Dan justru jawaban itu yang membuatnya merasa lebih kejam.
Beberapa jam berlalu, demam Serra naik karena luka dan tekanan pikiran yang tak berhenti sejak tadi. Setelah meminumkan obat penurun demam, Ethan mengganti kompres berkali-kali. Ia terjaga semalaman sambil sesekali memandangi wajah pucat kekasihnya.
Pemuda berambut sebahu itu merasa jika ada sesuatu yang ganjil sedari tadi. Serra pulang dengan luka tembak, sedangkan sebelum pergi, gadis itu jelas-jelas bilang jika ada urusan di dojang.
Pikirannya bekerja dengan pelan, ia bukanlah orang yang suka memaksa, tapi dalam hati pemuda itu jelas merasa ada yang sesuatu yang sengaja Serra sembunyikan darinya. Ia mulai menoleh ke arah dapur. Tatapannya jatuh ke tempat sampah kecil di dekat pintu. Sebelum pergi, Serra sempat membuangnya. Padahal yang Ethan perhatikan, kekasihnya tidak terlalu peduli dengan hal-hal sepele seperti itu.
Alis Ethan sedikit berkerut, dengan hati-hati ia mengambil ponsel milik Serra yang terletak di atas nakas, lalu menempelkan dengan perlahan ibu jari Serra pada layar ponsel. Sebenarnya ia tak ingin melakukan hal yang mengganggu privasi, namun entah mengapa kali ini ada dorongan kuat yang memaksanya.
Pemuda itu mulai menggulir satu persatu kontak dalam ponsel, tidak banyak yang ia temukan. Hanya ada beberapa nama yang familiar, hingga tangannya berhenti menggulir tepat di salah satu kontak bernama mr. Antonio —pemilik dojang tempat Serra mengajar. Ethan mulai beranjak, ia beralih ke ruangan lain agar Serra tidak mendengar.
Di dapur, Ethan mulai menekan tombol panggilan. Mulanya ia sempat ragu, namun rasa penasaran sudah terlanjur menerkam.
"Ya Serra, tumben sekali menelpon ku di waktu ini," terdengar suara Antonio dari balik telepon.
"H-Halo, ini Ethan."
Sejenak suara Antonio terdiam, "Oh rupanya kau, ada perlu apa sampai menghubungiku?," tanyanya.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya, apa tadi Serra sempat bertemu denganmu?," Ethan mulai bertanya, jantungnya mulai berdetak dengan cepat.
"Bertemu?," suara Antonio terdengar bingung.
"Ah, maksudku apa kau yang mengirim surat pada Serra? ku dengar ada urusan di dojang," jelas Ethan.
"Urusan? sepertinya tidak ada. Lagi pula untuk apa aku mengirim surat, jika ada hal penting tinggal menelpon saja," tukas Antonio.
Setelah menutup panggilan telepon, Ethan kembali ke kamar, meletakkan kembali ponsel milik Serra ke tempat semula. Sejenak ia menatap wajah pucat yang tengah terlelap itu. Perkataan Antonio memang masuk akal, dan ia jadi tahu jika saat ini Serra benar-benar menyembunyikan sesuatu darinya.