NovelToon NovelToon
Hatiku Di Gondol Sang Duda

Hatiku Di Gondol Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Duda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Ruang perawatan itu terasa lebih hangat setelah tangis mereda.

Nadira masih duduk di samping ranjang, tangannya tak lepas dari genggaman Mama Ayunika Sasmita. Abah Adi berdiri di dekat jendela, menatap keluar sebentar sebelum kembali mendekat.

“Dira…” suara Mama pelan.

“Iya, Ma. Nadira di sini”

“Kamu kurusan”

Nadira tersenyum kecil “Mama juga.l”

Mama mendengus pelan.

“Enak saja. Mama ini cuma kurang istirahat”

Abah ikut menyahut “Kurang istirahat atau kurang berhenti mikirin anaknya yang jauh di Jakarta itu?”

Mama melirik tajam “Abah ini kalau ngomong…”

Nadira tertawa kecil di tengah suasana haru. Rasanya seperti kembali ke rumah sepenuhnya.

“Ma” Nadira memulai pelan,“kenapa nggak bilang dari dulu kalau sering pusing?”

Mama menghela napas.

“Kalau Mama bilang, kamu pasti langsung panik”

“Ya memang harus panik, Ma!”

“Nah kan” Mama mengangkat alisnya tipis “Mama nggak mau kamu ambil keputusan gegabah”

Nadira terdiam sejenak

“Resign itu keputusan gegabah, ya? Katanya gak mau anaknya cuti”

Abah dan Mama saling pandang.

Abah duduk di kursi dekat ranjang.

“Kamu yakin dengan keputusan itu? Ya Mama kan cuma pengin kamu ada disamping Mama biar mama gak khawatir”

Nadira menarik napas panjang.

“Waktu semalam Abah bilang Mama nyebut nama Nadira terus… rasanya dunia berhenti. Nadira nggak mikir apa-apa lagi”

Mama menggenggam tangannya lebih erat.

“Karena takut kehilangan?”

Nadira mengangguk

Mama tersenyum lembut

“Takut itu manusiawi tapi hidup nggak boleh dikendalikan rasa takut”

“Terus Mama maunya apa?” tanya Nadira hampir putus asa “Dira kerja jauh, Mama sedih. Dira resign, Mama takut Dira menyesal. Dira Cuti Mama gak mau gimana sih buat bingung aja”

Mama terdiam, lalu berkata pelan,

“Mama cuma punya kamu”

Abah ikut berbicara,

“Dira, waktu kamu kecil dan jatuh dari sepeda, kamu tahu apa yang kamu lakukan?”

Nadira mengerutkan kening “Apa?”

“Kamu nangis sebentar. Habis itu kamu bilang, ‘Abah, Dira coba lagi ”

Mama tersenyum mengenang

“Kamu keras kepala dari dulu”

Nadira menunduk, tersenyum tipis

“Sekarang pun sama” lanjut Abah “Kalau kamu mundur hanya karena takut kehilangan, itu bukan kamu”

Ruangan kembali hening beberapa detik.

Nadira menatap Mama.

“Kalau Dira kerja lagi nanti… Mama nggak marah?”

Mama langsung menjawab

“Mama marah kalau kamu nggak pernah pulang”

“Tuh kan…” Nadira mendesah pelan

Mama tertawa kecil walau lemah

“Pulang itu bukan berarti berhenti. Bisa saja kamu atur hidupmu lebih baik. Datang lebih sering. Telepon lebih sering. Jangan menghilang seperti tujuh tahun kemarin”

Kalimat itu membuat Nadira menelan ludah.

“Dira nggak pernah menghilang, Ma…”

Mama menatapnya lembut

“Secara fisik mungkin tidak tapi hatimu sering sibuk sendiri”

Kata-kata itu jujur, dan menyentuh.

Abah berdiri lalu berkata,

“Sekarang bukan waktunya debat yang penting Mama sembuh dulu”

Tiba-tiba Mama berkata pelan

“Dira…”

“Iya?”

“Kalau nanti Mama sudah sehat… kamu masak untuk Mama ya?”

Nadira tertawa “Masakan Nadira masih berantakan.”

“Belajar lagi” kata Mama tegas “Nanti kalau sudah nikah, kasihan suamimu”

“Ma!” Nadira langsung protes

Abah ikut tertawa

“Nah, ini yang Mama tunggu bahas nikah”

Nadira menutup wajahnya dengan tangan.

“Mama belum juga sembuh, sudah mulai”

Mama tersenyum penuh arti.

“Umur kamu sudah berapa sekarang?”

“Mah…”

“Jawab”

“Dua puluh enam”

Mama mengangguk.

“Menurut Mama Dua puluh enam itu bukan anak kecil lagi”

Abah ikut menimpali

“Sudah cukup dewasa untuk menentukan hidup sendiri”

Nadira menatap mereka bergantian.

“Dira tahu, Bah. Dira cuma belum mau terburu-buru”

Mama mengangkat alisnya tipis.

“Belum mau terburu-buru atau belum ada yang cocok?”

“Mah…” Nadira menutup wajahnya dengan tangan, malu sekaligus gemas “Dira baru saja pulang, belum juga istirahat”

Abah tertawa kecil.

“Iya batu nyampe langsung mulai bahas jodoh”

Mama ikut tersenyum lemah.

“Mama cuma mengingatkan. Umur dua puluh enam itu masa emas. Kerja sudah, mandiri sudah. Tinggal belajar berbagi hidup”

Nadira terdiam sejenak.

“Kalau Dira belum siap?”

Mama menatapnya lembut.

“Mama tidak memaksa tapi jangan menutup hati karena terlalu sibuk membuktikan diri”

Kalimat itu membuat Nadira berpikir.

Selama ini ia fokus membuktikan bahwa ia bisa mandiri.

Bisa sukses.

Bisa berdiri sendiri.

Tapi mungkin… ia lupa bahwa hidup bukan hanya tentang berdiri sendiri.

Abah menepuk bahu Nadira pelan.

“Kamu masih 26. Masih banyak waktu tapi jangan sampai waktu terasa habis karena kamu terlalu keras pada diri sendiri.”

Nadira tersenyum kecil.

“Iya, Bah”

Nadira menghela napas.

“Dira belum kepikiran”

Mama menatapnya dalam.

“Belum kepikiran atau belum ada yang membuat kamu berhenti melangkah?”

Pertanyaan itu membuat Nadira terdiam.

Abah tersenyum samar.

“Sudah, sudah jangan interogasi anak baru pulang”

Mama terkekeh pelan.

Kemudian suasana berubah lebih tenang.

Nadira menyeka sisa air matanya

“Ma… semalam Mama bilang mau seret Dira pakai polisi”

Mama tersenyum malu

“Itu cuma ancaman rindu”

“Kalau Dira nggak pulang?”

Mama menatapnya lama

“Mama mungkin benar-benar datang ke sana”

Abah langsung menyahut,

“Naik mobil delapan jam, cuma buat jemput anak keras kepala”

Mereka bertiga tertawa kecil.

Lalu Mama berkata lebih serius,

“Dira, janji satu hal lagi”

“Apa, Ma?”

“Jangan jauh secara hati lagi. Kalau lelah, cerita. Kalau sedih, pulang jangan simpan semuanya sendiri”

Nadira mengangguk, kali ini tanpa ragu.l

“Janji”

Abah menepuk bahunya pelan.

“Anak Abah memang kuat yapi kuat bukan berarti harus sendirian”

Kalimat itu terasa seperti pelukan kedua setelah pelukan pertama tadi.

Di luar, suara langkah perawat terdengar.

Mama mulai terlihat mengantuk.

“Dira…”

“Iya, Ma”

“Mama senang kamu pulang”

Nadira membungkuk dan mencium kening Mama pelan.

“Dira juga senang bisa pulang”

Mama memejamkan mata dengan senyum tipis.

Abah berbisik pelan,

“Kamu lihat? Sejak kamu datang, wajah Mama lebih cerah”

Nadira tersenyum haru.

Nadira menatap kedua orang tuanya bergantian.

Untuk pertama kalinya, percakapan mereka bukan soal memaksa, bukan soal menyalahkan, bukan soal jarak.

Tapi soal memahami.

Dan di ruangan kecil rumah sakit itu, dengan dialog-dialog sederhana yang penuh cinta, Nadira akhirnya mengerti

Rumah bukan tempat yang menuntutnya berhenti bermimpi.

Rumah adalah tempat yang selalu siap menyambutnya, apa pun pilihan hidupnya nanti.

Mama masih memejamkan mata, tapi senyumnya belum hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!