Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Krisis Data
"Sabotase bagaimana maksudmu?!" raung Dominic, suaranya nyaris mengalahkan kebisingan sirine alarm yang terus melolong di atas kepala mereka. Pria itu mencengkeram tepi mejanya kuat kuat.
"Ada yang meledakkan panel listrik cadangan di dekat ruang server utama," jawab Harper cepat. Jemarinya menari lincah di atas layar ponsel, meneruskan laporan keamanan ke sistem darurat gedung. "Pelaku memanfaatkan kekacauan itu untuk menanamkan virus penghancur langsung ke dalam jaringan inti kita. Data klien sedang dimakan hidup hidup."
Wajah Dominic yang tadinya memerah karena amarah kini berubah pucat pasi. Urat di pelipisnya menonjol keluar.
"Sambungkan panggilan ke Kepala Divisi IT sekarang juga! Tampilkan di layar monitor utamaku!" perintah Dominic dengan suara menggelegar memekakkan telinga.
Harper langsung menekan layar tabletnya. Tiga detik kemudian, layar televisi raksasa di dinding ruang kerja Dominic menyala terang. Tampilan grafik saham tergantikan oleh wajah Kepala IT, seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang wajahnya dibanjiri keringat dingin. Di latar belakang pria itu, terlihat asap putih tipis mengepul dari sela sela deretan lemari server raksasa. Lampu merah berputar putar menambah kesan horor di ruangan bawah tanah tersebut.
"Pak Dominic! Seseorang dari luar gedung baru saja mengunci paksa sistem keamanan berlapis kita!" lapor Kepala IT itu dengan suara gemetar hebat. Bunyi alarm dari lantai bawah ikut terdengar bersahutan dari pengeras suara televisi. "Virus ini memakan data keuangan klien penting kita satu per satu! Kalau kita tidak bisa mematikannya dalam lima belas menit ke depan, seluruh data triliunan itu akan terhapus permanen tidak bersisa!"
"Matikan sistemnya sekarang juga, dasar idiot!" bentak Dominic kalap.
Pria angkuh itu menyambar sebuah kursi tamu dari bahan besi ringan di dekatnya, lalu membanting benda itu kuat kuat ke arah dinding kaca. Bunyi benturan keras bergema di seluruh ruangan, menciptakan retakan halus di sudut kaca tebal tersebut.
"Cabut kabelnya! Potong sumber listriknya! Lakukan apa saja! Kalau data itu sampai hilang, saham perusahaanku akan terjun bebas dan kalian semua akan kumasukkan ke dalam penjara bawah tanah!" ancam Dominic sambil menunjuk layar televisi dengan jari telunjuk bergetar.
"Tidak bisa dicabut manual, Pak!" Kepala IT itu nyaris menangis meratapi nasibnya di depan kamera. "Sistem keamanannya terkunci otomatis dari dalam perlindungan inti! Kalau kami potong paksa aliran listriknya, pelindung data otomatis akan menganggap itu sebagai serangan fisik dan akan langsung menghancurkan seluruh memori simpanan! Kami tidak bisa menembus masuk ke dalam programnya. Kode akses darurat tingkat dewa sudah diubah paksa oleh peretas itu!"
Dominic mencengkram rambutnya sendiri dengan sangat frustasi. Napasnya memburu cepat. Perusahaan raksasa yang dia bangun dengan susah payah kini terancam hancur berantakan hanya dalam hitungan menit. Dia menatap layar monitor di atas meja kerjanya yang menampilkan deretan angka berwarna merah menyala. Angka-angka itu terus bergerak liar, menelan nama nama klien besarnya satu per satu.
"Kalian semua benar benar sekumpulan orang tidak berguna! Tim IT macam apa yang gajinya ratusan juta sebulan tapi tidak bisa menghentikan satu virus konyol buatan peretas jalanan!" Dominic kembali menendang kaki meja kerjanya dengan keras. Pria itu benar benar kehilangan akal sehatnya menghadapi krisis teknologi tingkat tinggi ini. Reputasinya sedang dipertaruhkan.
Di tengah kepanikan massal dan amukan bosnya yang mirip monster kesetanan, Harper hanya memutar bola mata. Wanita itu menarik napas panjang, merasa sangat muak melihat kelakuan dramatis Dominic yang sama sekali tidak memberikan solusi nyata. Berteriak dan membanting barang tidak akan menghentikan barisan kode peretas. Seseorang harus mengambil alih kemudi kapal yang hampir tenggelam ini.
Harper melangkah tenang mendekati meja kerja utama. Sepatu kets putihnya melangkah tanpa ragu sedikit pun. Dia menggeser tubuh besar Dominic yang sedang mondar mandir panik layaknya setrika panas. Wanita itu langsung menarik kursi kulit kebesaran milik sang CEO, lalu duduk di sana dengan posisi sangat nyaman dan percaya diri.
"Singkirkan barang barangmu," ucap Harper pelan. Tangannya dengan santai menyingkirkan cangkir kopi mahal dan tumpukan map dokumen milik Dominic hingga tergeser berantakan ke ujung meja.
Dominic menoleh kasar. Matanya membelalak lebar melihat sekretaris barbar itu seenaknya duduk santai di kursi posisi puncak saat dunia mereka sedang runtuh.
"Apa yang kau lakukan di situ? Bangun dari kursiku! Ini bukan waktunya memancing emosiku atau bermain-main!" bentak Dominic keras. "Data perusahaan sedang dirampok!"
Harper sama sekali tidak memperdulikan teriakan melengking itu. Jari jarinya mulai menyentuh keyboard mekanik di meja komputer utama Dominic. Layar monitor kedua di atas meja langsung berubah warna menjadi hitam pekat, lalu menampilkan barisan kode berwarna hijau yang bergerak sangat cepat dari atas ke bawah.
Mata Harper fokus membaca ribuan baris kode rumit yang terlihat murni seperti bahasa alien bagi orang awam. Suara tuts keyboard yang ditekan dengan kecepatan gila memenuhi keheningan di sekitar meja kerja tersebut, beradu dengan suara alarm dari luar ruangan.
Deretan angka merah di layar monitor Dominic masih bergerak semakin liar. Waktu tersisa tinggal lima menit sebelum seluruh sistem pertahanan Vance Corp hancur total tidak terselamatkan. Celah pertahanan semakin menyempit.
Dominic merasa tidak sabar sekaligus ngeri melihat pergerakan mematikan virus tersebut. Dia tidak tahu apa yang sedang dikerjakan sekretarisnya, tapi layar hitam itu tampak sama berbahayanya. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka. Tangannya terulur berniat menunjuk layar monitor secara langsung dari atas bahu Harper.
"Ketik bagian sebelah kanan itu! Kode merahnya bergerak makin cepat turun ke bawah menuju server induk! Cepat hentikan sebelum data milik investor asing ikut terhapus selamanya! Kau ini sedang apa, menekan tombol sembarangan?!" teriak Dominic tepat di sebelah telinga kanan Harper dengan napas memburu.
Harper menghentikan gerakan tangannya seketika. Hening sejenak melanda di tengah raungan sirine.
Wanita itu menoleh pelan, menatap wajah Dominic yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya sendiri. Tatapan Harper luar biasa dingin, tenang, dan menuntut kepatuhan mutlak.
"Minggir dari keyboard, Dom. Biar aku yang ketik. Dan tolong jangan teriak teriak di dekat telingaku. Suaramu itu polusi."
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣