NovelToon NovelToon
Dibalik Lampu Sorot

Dibalik Lampu Sorot

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Malam di Manhattan tidak pernah benar-benar gelap, langitnya berwarna ungu pekat, dipenuhi pendar lampu neon dan siluet gedung-gedung pencakar langit yang tampak seperti raksasa yang mengawasi penghuninya.

Di sebuah klub eksklusif bernama The Velvet Vault, tempat di mana hanya kartu anggota berlapis emas yang bisa membuka pintunya, suasana sangat bising. Dentum musik techno-jazz kelas atas bergetar di dinding berlapis beludru merah, bercampur dengan aroma parfum mahal, cerutu Kuba, dan alkohol berkualitas tinggi.

Di sudut paling gelap dari area VIP, Andreas St. Clair duduk tenggelam di sofa kulit. Penampilannya berantakan. Jasnya sudah entah ke mana, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung asal-asalan sampai siku. Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena frustrasi yang menumpuk selama tujuh hari terakhir.

Di sampingnya, dua asisten setianya, Luke dan Nayya, duduk dengan ekspresi cemas. Mereka bukan sekadar asisten, mereka adalah penjaga rahasia dari seorang bintang yang sedang berada di ambang kehancuran.

"Sir, sudah cukup. Ini gelas ketujuh," bisik Nayya, mencoba meraih gelas kristal di tangan Andreas. Nayya selalu menjadi suara logika, sementara Luke lebih ke arah pelindung fisik.

Andreas menepis tangan Nayya dengan gerakan kasar. "Jangan atur aku, Nay. Aku punya uang untuk membeli seluruh isi bar ini jika aku mau," racau Andreas. Suaranya berat dan tidak stabil. "Seminggu... seminggu tanpa satu pesan pun. Dia pikir dia siapa?"

Luke menghela napas, melirik ponsel Andreas yang tergeletak di meja dengan layar gelap. Kekasih Andreas, seorang model internasional yang sedang melakukan tur di Paris dan Milan, tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Tidak ada telepon, tidak ada balasan pesan, hanya unggahan foto di Instagram yang menunjukkan wanita itu sedang berpesta di atas yacht bersama pria lain.

Bagi seorang St. Clair yang terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan, diabaikan adalah bentuk penghinaan tertinggi.

"Mungkin dia sibuk dengan runway, Sir," Luke mencoba menenangkan, meski dia sendiri tahu itu bohong.

"Sibuk?" Andreas tertawa getir, tawanya terdengar seperti pecahan kaca. "Dia hanya memanfaatkanku untuk naik ke sampul majalah. Semua orang di kota ini palsu! Semuanya!"

Sementara itu, hanya terpaut beberapa meja di area yang lebih terbuka, suasana terasa jauh lebih ceria. Seraphina Vanderbilt duduk di tengah lingkaran sahabat-sahabat sosialitanya. Malam ini adalah ulang tahun ke-24 Chloe, sahabat masa kecilnya. Sera tampak memukau dengan gaun cocktail berwarna perak yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya dikuncir kuda tinggi, memberikan kesan tajam dan elegan.

Namun, pikiran Sera tidak sepenuhnya ada di pesta itu. Sejak kejadian di lokasi syuting kejadian di mana dia meledak dan memberikan ciuman pertamanya kepada pria paling arogan di New York, Sera merasa ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya. Dia merasa terhina, tapi juga merasa... hidup.

"Sera, kau melamun lagi," goda Chloe sambil menyodorkan segelas kecil tequila. "Jangan bilang kau masih memikirkan si brengsek St. Clair itu?"

Sera mendengus. "Aku lebih baik memikirkan harga saham daripada pria itu, Chloe."

Namun, tepat saat dia ingin menyesap minumannya, telinganya menangkap suara yang sangat dia kenal. Suara itu berasal dari sudut remang-remang di belakang mereka. Itu adalah suara bariton yang serak, penuh dengan kemarahan dan rasa sakit.

"Dia pikir aku butuh dia? Aku adalah Andreas St. Clair! Aku bisa menghancurkan kariernya dalam satu malam!"

Sera tertegun. Dia meletakkan gelasnya dan menoleh perlahan. Dari celah di antara dekorasi bunga lili yang besar, dia melihat Andreas. Pria itu tampak menyedihkan. Tidak ada lagi aktor berwibawa yang menghinanya di lokasi syuting. Yang ada hanyalah seorang pria elit yang kesepian dan mabuk berat.

"Sir, tolong, orang-orang mulai melihat," suara Nayya terdengar memohon.

"Biar mereka lihat!" teriak Andreas, membuat beberapa orang di meja sekitar menoleh. "Biar mereka tahu kalau kekasih sempurna New York itu hanyalah seorang wanita murahan yang tidak punya nyali untuk memutuskan hubungan secara langsung!"

Sera merasakan dadanya berdenyut. Dia benci melihat Andreas seperti ini, tapi dia juga merasa muak. Bagaimana bisa pria yang begitu keras pada orang lain di tempat kerja, ternyata begitu rapuh hanya karena seorang wanita di luar negeri?

"Kalian tunggu di sini," ucap Sera pada sahabat-sahabatnya. Suaranya dingin dan mutlak.

"Sera, mau ke mana?" tanya Chloe, tapi Sera sudah melangkah pergi.

Sera berjalan menembus kerumunan, langkah kakinya mantap meski mengenakan tumit tinggi. Dia berhenti tepat di depan meja Andreas. Luke dan Nayya langsung berdiri, kaget melihat kehadiran sang aktris.

"Nona Vanderbilt," gumam Luke dengan nada hormat sekaligus was was.

Andreas mendongak. Pandangannya kabur, butuh beberapa detik baginya untuk mengenali wajah di depannya. "Oh... lihat siapa yang datang. Si Gadis Manis. Apa kau ke sini untuk memberikan take kedelapan, Sera?" Andreas menyeringai miring, sebuah ejekan yang sangat menyakitkan.

Sera tidak membalas seringai nya itu. Dia menatap Andreas dengan tatapan yang sangat datar, seolah dia sedang melihat tumpukan sampah di pinggir jalan Broadway.

"Kau memalukan, Andreas," ucap Sera pelan, tapi tajam.

Andreas tertawa keras. "Memalukan? Aku sedang merayakan kebebasanku! Aku bebas dari wanita yang bahkan tidak bisa membalas pesanku!"

Sera melangkah lebih dekat, menunduk sehingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Andreas. Aroma alkohol yang menyengat dari napas Andreas membuatnya ingin berpaling, tapi dia bertahan.

"Kau menghinaku di depan semua kru karena aku kaku dan amatir," bisik Sera, suaranya kini dipenuhi racun.

"Tapi lihat dirimu sekarang. Menangis seperti bocah karena ditinggal kekasihmu? Kau bilang bibirku membuatmu muak? Well, melihatmu meracau seperti pecundang di sini membuatku jauh lebih muak."

Andreas terdiam. Kata-kata Sera seperti tamparan dingin yang menembus kabut alkohol di otaknya.

"Kau punya nama besar, Andreas. Kau punya bakat yang orang lain impikan. Tapi di balik semua itu, kau hanyalah pria kecil yang takut kesepian," lanjut Sera. Dia melirik ke arah Luke dan Nayya.

"Bawa dia pulang. Sebelum seseorang mengambil foto dan menghancurkan sisa-sisa reputasinya yang sudah retak ini."

Sera berbalik untuk pergi, namun tiba-tiba tangan Andreas yang panas mencengkeram pergelangan tangannya. Tenaganya tidak kuat, tapi cukup untuk menghentikan langkah Sera.

"Kenapa kau peduli?" tanya Andreas, suaranya tiba-tiba melemah. Matanya menatap Sera dengan kejujuran yang menakutkan, jenis kejujuran yang hanya keluar saat seseorang benar-benar hancur.

Sera menarik tangannya perlahan. Dia tidak menoleh saat menjawab. "Aku tidak peduli padamu, Andreas. Aku hanya peduli pada film kita. Aku tidak mau bekerja dengan aktor yang hancur sebelum proses produksi selesai. Pulanglah. Cuci wajahmu. Dan besok, jadilah aktor yang kau klaim berada di puncak itu."

Sera berjalan pergi, kembali ke pestanya tanpa menoleh lagi. Sementara itu, Andreas tetap duduk mematung.

Gelas di tangannya masih penuh, tapi dia tidak lagi ingin meminumnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Andreas St. Clair merasa benar-benar kalah, dan ironisnya, kekalahannya datang dari gadis yang baru saja dia hancurkan hatinya di lokasi syuting.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Triana Oktafiani
Terloveh semua ceritamu ❤️❤️
ros 🍂: ma'aciww kak 😍
total 1 replies
isnaini_jk 28
Luar biasa
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Siti Maryati
bagus .... bagus ..... ceritanya
ros 🍂: Ma'aciww kak 😍
total 1 replies
Siti Maryati
enak bacanya...bahasa tertata, alur cerita nya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
ini tuch bgus banget asli cuma baru nemu aja.... karna gak kepikiran judulnya Inggris gak nyambung di pencarian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!