akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 – Titik Balik
Langit kota yang hancur berwarna merah kelabu. Asap masih mengepul dari reruntuhan gedung, dan tanah bergetar setiap kali monster kalajengking raksasa menghentakkan kakinya. Ekornya yang besar menghantam puing-puing, menciptakan gelombang kejut yang membuat pasukan di bawahnya terpental.
Regu superhero resmi berada di ambang batas.
Komandan Olan berdiri dengan napas terengah, seragamnya robek di beberapa bagian. Banyak anggotanya sudah terluka, sebagian tidak mampu berdiri lagi.
“Tarik mundur unit B dan C!” teriaknya.
“Kita tidak bisa menahannya lebih lama!”
Monster itu menggeram, suara rendahnya menggema seperti gempa. Lapisan tubuhnya nyaris tak tergores oleh serangan sebelumnya. Setiap langkahnya mendekat ke pusat kota—ke tempat pengungsian terakhir.
“Kalau dia sampai ke sana…” gumam Olan.
“Kota ini benar-benar habis.”
Getaran itu terasa sampai ke ruang dimensi.
Air sungai bercahaya beriak tak wajar. Daun-daun pohon energi bergetar, seolah merasakan ancaman dari dunia luar.
Deva membuka matanya.
“Paman Rey… waktunya hampir habis.”
Rey berdiri di tengah padang rumput, wajahnya tegang. Ia telah merasakan tekanan energi itu sejak beberapa menit lalu—energi asing, brutal, dan tidak terkendali.
“Ayo kita keluar, kalahkan monster itu! ” kata Rey pelan.
“Regu resmi pemerintah butuh bantuan kita, mereka sudah kehabisan energi.”
Sila mengepalkan tangan, kilat menyambar di sekelilingnya.
“Kalau kita tidak turun sekarang, kita tidak akan punya kota untuk diselamatkan.”
Leoni mengunci senjata sniper otomatisnya.
“Aku sudah memindai. Monster utama level tinggi. Tapi… ada fluktuasi.”
Boy mengangkat alis.
“Fluktuasi?”
“Ya,” jawab Leoni.
“Energinya seperti pusat. Kalau monster utama jatuh, sisanya akan melemah.”
Leo menutup kotak medisnya.
“Artinya… kita hadapi yang besar. Regu resmi yang sudah kelelahan cukup menangani yang kecil.”
Semua mata tertuju pada Rey.
Ia menarik napas panjang.
“Kita turun,” katanya akhirnya.
“Sebagai tim yang tidak bisa membiarkan dunia hancur.”
Deva menelan ludah, lalu melangkah maju.
“Aku siap.”
Rey menatapnya lama.
Cahaya putih mulai terbuka di udara.
Portal dimensi kembali muncul.
Sebuah pintu dimensi terbuka di antara reruntuhan kota, tepat di belakang monster kalajengking raksasa.
Semua orang terdiam.
“Apa itu?!” teriak seorang tentara.
Dari dalam portal dimensi, satu per satu sosok muncul.
Rey melangkah paling depan, tameng energi transparan membentang di sekeliling mereka.
Di belakangnya: Sila dengan segera melontarkan kilat listrik, Boy dengan bola api berputar memukul mundur monster itu, Leoni di posisinya menembakan peluru logam dan meninggalkan retakkan kecil di sisiknya, Leo dibantu Deva bersiap dengan peralatan medis mengobati tim yang terluka.
Komandan Olan membelalak.
“…Tim Rey.”
Monster kalajengking berbalik, merasakan ancaman baru.
Ia mengaum dan menyerang.
“Sekarang giliran kami” teriak Rey.
Ekor monster menghantam ke arah mereka—namun tameng Rey mengeras, menahan serangan itu dengan ledakan energi yang mengguncang udara.
Sila terus bergerak.
Petir menyambar dari langit, menghantam kaki monster, melumpuhkan gerakannya sesaat.
Boy memanfaatkan celah itu.
Api membentuk spiral besar, membakar sendi-sendi tubuh monster dan memaksa makhluk itu mundur.
“Leoni!” teriak Rey.
Dari kejauhan, sniper otomatis Leoni menembakkan rentetan peluru logam energi presisi tinggi—tepat ke titik retakan kecil yang terbuka di sisik monster.
Peluru itu tidak menghancurkan, tapi membuka jalan.
Monster menggeram marah dan menghantam tanah, menciptakan gelombang kejut besar.
Beberapa anggota regu resmi terpental—namun Leo sudah bergerak.
Ia mengaktifkan medan penyembuhan, menarik mereka ke zona aman.
“Kalian tangani monster kecil!” teriak Leo ke regu resmi.
“Yang ini milik kami!”
Seolah mendengar perintah itu, dari gerbang dimensi lain muncul monster level lebih rendah—pecahan energi dari monster utama.
Regu resmi segera bergerak, kali ini dengan semangat baru.
Mereka akhirnya bisa mengimbangi musuh.
Monster kalajengking mengangkat ekornya tinggi-tinggi.
Energinya berkumpul—serangan terakhir.
Rey menyadarinya.
“Deva…”
Anak itu melangkah maju, matanya bersinar, di bola matanya seperti ada bayangan jarum jam yang berputar.
“Aku tahu.”
Ia mengangkat tangannya.
Dan semua… berhenti.
Api membeku di udara.
Debu berhenti jatuh.
Ekor monster berhenti beberapa meter dari tanah.
Dalam keheningan mutlak itu, hanya Deva dan tim Rey yang bergerak.
“Cepat,” kata Deva dengan suara bergetar.
“Aku tidak bisa lama.”
Rey bergerak ke inti energi monster.
Sila mengalirkan listrik ke titik itu.
Boy menambahkan api dengan presisi.
Leoni menembakkan satu peluru terakhir—tepat ke pusat energi yang terbuka.
“Sekarang!” teriak Rey.
Waktu kembali berjalan.
Ledakan besar terjadi.
Cahaya menyapu medan perang.
Monster kalajengking mengaum sekali… lalu tubuhnya retak dan runtuh, berubah menjadi debu energi yang tersapu angin.
Sunyi.
Lalu sorak-sorai.
Monster utama jatuh.
Monster level rendah ikut melemah dan segera ditaklukkan oleh regu resmi.
Setelah Pertempuran
Kota masih hancur.
Namun… selamat.
Regu superhero resmi berdiri terdiam, menatap tim Rey dengan campuran kagum dan bingung.
Komandan Olan mendekat dan memberi hormat.
“Tanpa kalian… kami tidak akan bertahan.”
Rey hanya mengangguk.
"Kalian juga hebat."
Tak lama kemudian, iring-iringan kendaraan pemerintah tiba.
Seorang pejabat tinggi turun, wajahnya serius—lalu menunduk.
“Atas nama pemerintah… kami meminta maaf.”
“Keputusan sebelumnya adalah kesalahan.”
Rey menatapnya tanpa senyum.
“Kami tidak butuh permintaan maaf,” jawabnya.
“Kami hanya tidak ingin dunia ini hancur karena ego.”
Pejabat itu mengangguk berat.
“Kolonel Armand… telah dicopot dari jabatannya dan diturunkan pangkatnya. Semua kewenangan militernya dicabut.”
Di layar komunikasi yang terbuka, Armand terlihat—wajahnya kaku, matanya penuh amarah, tapi tak berdaya.
Rey menatap layar itu sebentar.
“Armand? .” Rey teringat dengan masa depan, Armand sih Penghianat yang menyebabkan seluruh dunia runtuh.
Deva memandang kota yang rusak.
“Apakah… dunia akan membaik?”
Rey menepuk kepalanya.
“Pelan-pelan. Selama masih ada yang mau berdiri.”
Portal dimensi kembali terbuka di belakang mereka.
Tim Rey melangkah pergi—tidak dielu-elukan, tidak ditahan.
Mereka kembali ke bayangan.
Namun sejak hari itu, satu hal berubah.
Di mata dunia…
Tim Rey bukan lagi musuh.
Mereka adalah kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Dan bagi Armand—
kekalahan ini bukan akhir,
melainkan awal dari dendam yang lebih dalam.