NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Sembilan Belas

"Bapak enggak tiba-tiba ada meeting dadakan, kan?"

Pak Han mendongak, "oh, nggak kok. Tunggu sebentar ya, lima menit saja. Saya janji."

"Saya tunggu diluar ya," Felicia hendak beranjak sebelum Pak Han menarik tangannya hingga tubuh mereka sangat dekat sekarang.

"Disini aja, sebentar kok. Saya cuman perlu matikan laptop dan bereskan meja."

Felicia menelan ludah, "oh, iya pak."

Tepat di lima menit kemudian, Pak Han berdiri dan meraih tas kerjanya. "Ayo, berangkat."

Felicia mengangguk kemudian mengekori Pak Han dari belakang. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, beberapa karyawan lain memerhatikan mereka dengan tatapan aneh.

Mungkin, karena tumben-tumbennya mereka pulang tepat waktu. Biasanya, Felicia baru keluar kantor minimal jam enam. Sedangkan Pak Han, bisa sampai jam delapan.

Jadi, melihat mereka berjalan di koridor di pukul lima seperti ini tentu saja menjadi pemandangan yang cukup langka.

"Pulang cepat, Pak Han, Felicia." sapa Anissa, salah satu staff marketing, yang juga anak buah Pak Han.

"Iya, kami ada keperluan diluar kantor. Kamu lembur, Ca?" tanya Felicia. Anissa memang lebih akrab dipanggil Ica.

"Enggak sih, paling sepuluh menitan lagi aku pulang. Biar gak terlalu macet." jawab Ica yang dibalas anggukan singkat oleh Felicia.

"Kita duluan ya, Ca."

Didalam mobil, Pak Han menyetir sendiri. Padahal biasanya, dia akan menggunakan sopir kantor jika ingin pergi keluar. Tetapi entah kenapa, setiap kali pria itu pergi bersama Felicia, ia tidak pernah menggunakan supir.

"Sudah tahu mau kemana?" tanya Pak Han.

"Karena udah sore, dan rawan macet, kita ke Mall aja ya Pak?" tanya Felicia ragu-ragu.

"Kamu mau belanja?" Pak Han balik bertanya.

Felicia tersenyum tipis, "ke mall kan nggak harus belanja, Pak. Ayo kesana, nanti saya ajak bapak seru-seruan."

"Jangan yang aneh-aneh ya Fel."

Felicia terkekeh, "aneh itu yang kaya gimana Pak?"

"Ya... Yang enggak biasa. Yang gak normal."

"Enggak lah, Pak. Pokoknya, saya jamin Bapak bakal have fun banget hari ini."

Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah Mall yang cukup besar di dekat kantor mereka. Sengaja memilih yang terdekat karena besok mereka masih harus bekerja sehingga Felicia tidak ingin mereka terlalu kelelahan malam ini.

Pak Han sudah melepas jas dan dasinya, hanya meninggalkan kemeja berwarna biru muda yang lengannya digulung hingga ke siku. Dua kancing kemeja teratas juga sengaja ia buka untuk kesan lebih casual.

​Saat berjalan dari parkiran menuju mal, kebiasaan lama Felicia sebagai asisten sulit hilang; ia masih saja berjalan beberapa langkah di belakang Pak Han dengan patuh. Melihat itu, Pak Han tidak berhenti, ia hanya mengulurkan tangan kanannya ke belakang dengan jemari yang memberi isyarat 'kemarilah'.

​Felicia yang sigap menangkap sinyal itu langsung berjalan mendekat. "Ada apa, Pak?"

​Pak Han menghela napas pendek, menoleh sedikit dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Kita ini sedang ngedate, Fel, bukan mau rapat direksi. Sini, jalan di sebelah saya."

​Tanpa menunggu persetujuan, Pak Han meraih tangan Felicia dan menautkan jemari mereka. Telapak tangannya yang besar dan hangat terasa begitu nyaman membungkus tangan Felicia yang kecil.

Genggamannya tidak erat, seolah hanya ingin memastikan bahwa gadis itu tetap berada di sisinya.

Mata Felicia tiba-tiba berbinar saat melewati sebuah sudut mal yang dihiasi lampu neon warna-warni. Di sana berdiri sebuah bilik photobox kekinian yang sedang ramai oleh pasangan anak muda. Tanpa sadar, ia menarik tangan Pak Han dengan antusias.

"Pak! Lihat, ada photobox! Ayo kita ke sana sebentar," seru Felicia sambil menunjuk bilik bertuliskan 'Selfie Time' itu.

Pak Han menghentikan langkahnya, menatap bilik kecil itu dengan dahi berkerut, seolah-olah sedang menganalisis sebuah mesin produksi yang asing. "Untuk apa? Kalau kamu mau foto, saya bisa fotokan kamu pakai ponsel. Hasilnya lebih jernih."

Felicia tertawa kecil, ditariknya tangan Pak Han agar mendekat ke mesin otomatis tersebut. "Beda, Pak! Ini namanya kenang-kenangan. Kita bisa pakai properti lucu-lucu, terus hasilnya langsung dicetak. Ayo dong, Pak... sekali aja?"

Pak Han menatap antrean anak SMA di depan mereka, lalu kembali menatap Felicia yang sedang memberikan puppy eyes andalannya. Pertahanan sang Manajer itu runtuh seketika.

"Baiklah. Tapi jangan harap saya mau pakai bando telinga kelinci atau semacamnya," gumam Pak Han, meski tangannya tetap membiarkan Felicia menggiringnya masuk ke dalam bilik yang sempit.

Begitu pintu bilik ditutup, suasana mendadak berubah. Ruangan itu sangat kecil, membuat tubuh tegap Pak Han harus berdiri sangat rapat dengan Felicia agar keduanya masuk ke dalam bingkai kamera.

Aroma parfum Pak Han kembali memenuhi indra penciuman Felicia, sementara Pak Han sendiri tampak kaku menatap layar monitor di depan mereka.

"Pak, mukanya jangan kayak mau pecat orang gitu dong," protes Felicia sambil tertawa, ia meraih sebuah kacamata plastik besar dan memasangkannya ke wajah Pak Han. "Nah, begini kan lebih... manusiawi."

Pak Han melihat pantulan dirinya di layar—seorang manajer elit dengan kacamata hitam plastik yang sangat besar. Ia menghela napas pasrah, namun saat melihat tawa lepas Felicia di sampingnya, sudut bibirnya perlahan terangkat.

Felicia memilih bingkai dan tema di layar mesin foto. Setelahnya angka penghitung mundur mulai muncul.

"Bergaya Pak."

Felicia melakukan berbagai gaya dengan sangat mudah. Sementara Pak Han, pria itu hanya berdiri mematung seperti hendak foto KTP. Hanya di foto keempat, pria itu tersenyum menatap Felicia yang sedang bergaya seperti kucing yang hendak mencakar.

"Wah, hasilnya bagus banget! Bapak di sini kelihatan... nggak kayak bos galak," seru Felicia riang. Ia memisahkan dua lembar foto itu dan menyodorkan satu ke arah Pak Han.

"Nih, buat Bapak satu. Simpan ya, jangan sampai hilang atau dibuang!"

Pak Han menerima lembaran kertas kecil itu dengan ujung jari-jarinya yang panjang. Ia memperhatikannya cukup lama, menatap sosoknya sendiri yang terlihat sangat konyol dengan kacamata plastik besar itu.

"Kamu yakin mau saya simpan ini?" tanya Pak Han pelan, suaranya sedikit serak. "Kalau ada klien atau kolega saya yang lihat saya berpose seperti ini, kredibilitas saya bisa hancur dalam semalam, Felicia."

"Ih, Bapak mah mikirin kerjaan terus! Simpan aja di mess, di selipan buku. Nggak akan ada yang lihat kecuali Bapak sendiri," protes Felicia sambil memamerkan miliknya yang sudah ia masukkan kedalam tasnya.

Pak Han menghela napas, namun ia menarik dompet kulit mahalnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati—seolah sedang menyimpan dokumen negara yang sangat rahasia—ia memasukkan foto strip itu di antara lembaran uangnya yang terlihat sangat padat.

"Sudah saya simpan," ucap Pak Han sambil memasukkan kembali dompetnya ke saku celana.

Felicia tertawa lepas, ia tanpa sadar kembali merangkul lengan Pak Han saat mereka mulai berjalan lagi. "Tenang, Pak. Rahasia perusahaan aman di tangan saya. Sekarang... kita lanjut makan ya? Saya lapar habis ketawa-tawa terus."

Pak Han hanya mengangguk patuh, membiarkan dirinya dituntun oleh asistennya—yang mungkin sebentar lagi akan mengubah seluruh tatanan hidupnya.

Gimana gimanaaa Pak Han udah husband material belum?

Jangan lupa like dan comment supaya author makin semangat update yaaaa!!!

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!