Hanya satu persen dari populasi global, manusia yang memiliki warna mata heterochromia. Lunar salah satunya.
Memiliki warna mata hijau dan biru, Lunar menyembunyikannya ketika hidup di luar Silvanwood yang terisolasi dari teknologi.
Untuk menyambung hidup, Lunar tak menduga menjadi aktris di perusahaan entertainment milik Jackson Adiwangsa dan menjadi kesayangannya.
Hingga kejadian tak terduga membuat apa yang disembunyikan Lunar terkuak. Bagaimana kehidupan Lunar, apakah dia akan tetap tinggal atau kembali ke Silvanwood?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Introvert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh enam
"Katakan padaku, apa kita semua sudah mati?" cicit Naomi.
Gadis berwajah seperti Jackson itu perlahan membuka matanya. Tak hanya Naomi, Tom pun sama terkejut. Spontan mereka berdua menjauh sembari bergidig.
"Hiii! Kakak, si pria gundul itu berani sekali memelukku!" Naomi mengadu.
Jackson melepaskan pelukannya pada Lunar. Pria itu menatap sengit adiknya karena sudah menggangu suasana. Namun Naomi tak sadar juga, bisa-bisanya gadis tengik itu bergabung di antara Jackson dan Lunar.
Angin kencang disertai kabut membuat gadis itu merinding. Naomi malah mengucap syukur karena para pengunjuk rasa dibuat menderita. Saking kencangnya, mereka sampai tidak bisa melarikan diri selain merunduk dan saling memeluk.
"Padahal ramalan cuaca di ponselku hari ini cerah. Kenapa tiba-tiba saja terjadi badai?" Naomi memperlihatkan ponsel pada Jackson dan Lunar.
"Ahli meteorologi bukan Tuhan," lanjut Naomi.
Lunar menganga sementara Jackson berdecak. Bisa-bisanya Naomi bertanya dan dia pun yang menjawabnya sendiri. Ketiga orang itu dibuat heran melihat Tom datang terburu-buru seraya mengatakan bahwa badai hanya terjadi di AHP.
Jackson meneguk ludah melihat berita live dari ponsel Tom. Lantas Jackson menatap kembali ke luar jendela. Nyali pria itu jadi kecil melihat orang-orang panik tak bisa ke luar dari AHP. Beruntung mereka sudah di dalam gedung, meski muak tapi Jackson tak setega itu.
"Ayah," cicit Lunar tanpa sadar.
Ketiga orang itu terkejut melihat sosok pria bercaping muncul di tengah kabut. Wajahnya tak terekspos yang terlihat hanyalah janggut yang memutih.
Naomi dan Tom sampai mengucek mata merasa penglihatan mereka bermasalah. Sementara Jackson semakin curiga bahwa Lunar bukanlah manusia sembarangan. Sejak kedatangan gadis itu, Jackson dihadapkan dengan keanehan yang bukan kebetulan. Terhempas sudah prinsip Jackson yang selalu mengedepankan logika.
"Kau tak pernah bertemu ayahmu. Bagaimana kau yakin?" Jackson bertanya.
Lunar menggedikan bahu. Gadis itu memberi alasan tak masuk akal. Menurut Lunar, mungkin saja pria bercaping itu salah satu aktor.
Jackson tersenyum kecut. Bisa-bisanya Lunar mengalihkan pembicaraan padahal gadis itu sudah ketahuan.
"Tapi kami tidak sedang syuting nona Lunar," Tom angkat suara.
Lantas Jackson memberi isyarat pada Tom untuk mencari tahu sosok pria bercaping itu. Bibir Lunar bergetar. Seharusnya dia tidak boleh mengutuk meski dibuat kesal oleh penggemar fanatik. Lunar lah yang bertanggung jawab karena sudah mengundang angin kencang itu.
Lunar membalikan badan. Dia berusaha mengatur napas dan amarahnya. Usapan tangan Jackson di bahu gadis itu membuat Lunar merasa lebih baik.
Jackson kembali memeluk istrinya seraya membisik untuk memaafkan mereka. Lunar mengangguk membetulkan. Seharusnya dia tidak boleh kuatir atas masalah apapun karena Jackson sedia menemani dan memberi solusi.
"Oh sayang," Jackson berucap lembut.
"Ini salahku tuan. Seharusnya aku bisa mengelola emosiku," balas Lunar.
Jackson menenangkan meski ngeri. Sejak menikahi Lunar, Jackson semakin tahu luar-dalam. Jackson sendiri harus hati-hati dalam bertindak maupun berucap agar tidak menyakiti Lunar.
Tak lama kemudian cuaca kembali cerah. Jackson menghela napas lega karena amarah istrinya sudah reda begitupun badai berlalu. Sosok pria bercaping pun hilang secara misterius.
"Silahkan kalian demo lagi!" Jackson membuka kaca jendela lalu berteriak menggunakan toa.
Lunar dan Tom saling pandang kemudian berdecak. Sekarang mereka paham, kenapa Naomi bersikap seperti itu.
"Ya! Ya! Boikot Jackson Adiwangsa dan Lunar Kaelix! Karena kalian menikah, berapa nyawa melayang secara sia-sia! Jacksooon! Kau akan merasakan apa yang kami rasakan!"
"Tenangkan dirimu tuan! Aku juga manusia biasa sama seperti kalian!" Jackson tak terima disudutkan.
Apa kesalahan Jackson menjadi pria nyaris sempurna? Penggemar fanatik terlalu memaksakan diri, padahal Jackson berkarier hanya untuk uang.
Para pengunjuk rasa kembali riuh. Sepertinya badai tadi tidak membuat mereka gentar apalagi perintah Jackson barusan semakin membuat mereka tertantang.
"Kurang keras!" Naomi menambahkan.
Tak tanggung-tanggung Jackson memerintahkan Tom untuk memesan tomat dan telur busuk lalu diberikan kepada para pengunjuk rasa.
"Ya! Ya! Boikot Jackson Lunar! Boikot mereka!" Naomi meniru mereka.
"Silahkan lempari kakakku seperti ini!" Naomi mengambil tomat busuk lalu melempari para pengunjuk rasa.
Gadis itu tertawa jahat begitupun Jackson.
"Rasakan ini!" Naomi memasang jurus.
"Eits gak kena! Weee!" gadis itu menjulurkan lidah.
................
Lunar termenung seorang diri di kamarnya. Badai di AHP membuatnya yakin bahwa Kaelix masih hidup. Jika memang benar, seharusnya Kaelix kembali ke Silvanwood untuk menemani Aling. Lunar frustasi. Tak bisakah Kaelix bersikap seperti manusia biasa.
Gadis itu prihatin pada Aling. Menurut Lunar, Aling terlalu naif karena cintanya pada Kaelix. Jika dulu Lunar sangat ingin bertemu dengan Kaelix, tapi sekarang gadis itu tidak terlalu berharap. Toh, Kaelix memilih jalannya sendiri daripada mengurus Lunar selama ini.
Kadang Lunar tak paham, apa yang dicari Kaelix selama ini. Ilmu kebal yang dipelajarinya untuk apa? Sekarang sudah bukan zamannya lagi berperang. Lunar tak habis pikir, jangan mentang-mentang Kaelix seorang veteran lantas menginginkan keabadian di dunia. Tidak bisa. Benar kata Jackson, semua hal ada masanya.
Lunar jadi ingat ketika dirinya di Silvanwood. Setelah berbincang serius dengan Jackson, pikiran Lunar semakin terbuka. Gadis itu berubah pikiran, dia ingin membawa Aling pergi dari Silvanwood tapi wanita tua itu malah menolak dan mengusirnya.
Lunar menarik napas panjang. Meski tanpa mengatakannya, Lunar tahu bahwa pria bercaping itu ayahnya. Sama seperti padanya, Aling pun hanya bisa melihat sosok Kaelix seperti itu. Muncul lalu menghilang lagi.
Padahal jika Lunar di posisi Aling, dia akan fokus menjalani kehidupannya. Meski tak lahir di rahim Aling, sempat Lunar menyinggung mungkin saja Kaelix tinggal bersama wanita lain. Dibuat sesak dada Aling mendengarnya tapi tetap kepala batu.
Kesadaran Lunar kembali pulih ketika Jackson tiba-tiba merebahkan kepala di pangkuannya. Lunar mengusap rambut pria itu lembut. Napas Jackson tak beraturan. Melihatnya saja membuat Lunar paham bahwa pria itu sedang tidak baik-baik saja.
Jackson mengatakan bahwa investor kabur dan projeknya dibatalkan sehingga Jackson rugi banyak. Lunar yakin hal itu terjadi karena pernikahannya dengan Jackson.
"Apa tuan bangkrut?" tanya Lunar hati-hati.
"Jika aku bangkrut, apa kau akan meninggalkanku?" Jackson balik bertanya.
Lunar menggeleng.
"Kenapa kau diam?"
"Aku sudah menggeleng tuan"
"Oh. Aku tak melihatnya!" Jackson bangun lalu menghadap Lunar.
Pria itu menangkup wajah Lunar. Meskipun investor kabur, Jackson takkan membiarkan AHP berakhir di pelelangan.
"Apa kau mau membantu suamimu ini?" Jackson menatap serius.
Lunar mengangguk tanpa ragu. Seperti sebelumnya, Lunar siap jika dijadikan mesin uang Jackson.
"Projek baruku belum dimulai. Oh sayang, bisakah kau membujuk Nyonya Aling agar semua dunia tahu keberadaan Silvanwood tempat asalmu? Aku yakin akan meledak!"
Lunar termenung. Meskipun tahu Silvanwood tempat terisolasi, bagi Jackson itu peluang bisnis.