NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuh Sampai Dasar

Hidup Siska sekarang bukan lagi soal bahagia atau nggak.

Tapi soal takut.

Takut kalau bel rumah bunyi.

Takut kalau HP getar.

Takut kalau ada orang berhenti lama di depan pagar.

Setiap suara kecil bikin jantungnya lompat.

Bayu udah nggak pernah pulang dengan senyum.

Yang ada muka kusut. Mata gelisah. Nada tinggi.

Ngomong dikit ribut.

Diam juga jadi tegang.

Rumah yang dulu terasa mewah sekarang kayak ruang tunggu menuju bencana.

Satu-satu isi rumah mulai hilang.

Lemari kayu besar yang dulu dibanggain Bayu?

Raib.

TV gede yang katanya “investasi hiburan”?

Nggak ada.

Sofa empuk tempat mereka nerima tamu?

Ikut dijual.

“Buat apa disimpan?” kata Bayu dingin.

“Cuma barang.”

Buat Siska itu bukan cuma barang.

Itu simbol hidup yang dulu dia pilih.

Hidup yang dia bela mati-matian waktu ninggalin Kevin.

Dan tiap satu barang pergi…

rasanya kayak satu bagian dirinya ikut copot.

Siska lagi hamil.

Badannya makin lemah.

Pikiran makin kacau.

Bayu makin jarang pulang.

Kalau ada pun cuma duduk natap HP.

“Kerjaan,” jawabnya tiap ditanya.

Jawaban yang makin lama makin kosong.

Suatu malam, Siska kebangun karena perutnya sakit banget.

Awalnya dia pikir cuma kecapekan.

Tapi sakitnya makin jadi.

Dan dia lihat…

darah.

Tangannya gemetar.

“Bayu… tolong…”

Rumah sunyi.

Bayu nggak ada.

Dengan sisa tenaga, dia buka pintu dan gedor rumah tetangga.

Ambulans datang.

Sirene bunyi di tengah malam.

Semua terasa blur.

Lampu putih. Bau obat. Langkah kaki dokter yang cepat.

Lalu satu kalimat itu datang—

“Maaf, Bu… janinnya tidak bisa diselamatkan.”

Dunia Siska runtuh.

Nggak ada teriakan.

Nggak ada histeris.

Cuma kosong.

Kosong banget.

Dua hari dia setengah sadar.

Waktu akhirnya benar-benar bangun, yang pertama dia cari Bayu.

Kursi sebelah ranjang kosong.

Nggak ada bunga.

Nggak ada pesan.

Nggak ada suami.

Rumah sakit coba hubungi Bayu.

Nomornya nggak aktif.

Tagihan numpuk.

Akhirnya orang tua Siska dipanggil.

Ibunya datang dengan mata merah.

Ayahnya diam, tapi wajahnya keras banget.

Begitu lihat kondisi Siska, ibunya nangis.

“Apa yang sudah kamu lakukan sama hidupmu, Nak…” bisiknya pelan.

Mereka bayar semua biaya.

Bayu?

Nggak muncul.

Waktu Siska boleh pulang, dia cuma pengen satu hal:

Istirahat.

Mobil berhenti di depan rumah.

Siska turun.

Dan langsung beku.

Rumah itu… kosong.

Bener-bener kosong.

Nggak ada sofa.

Nggak ada meja.

Nggak ada gorden.

Lampu pun dilepas.

Kayak rumah yang nggak pernah dihuni.

“Kita salah alamat?” tanya ibunya pelan.

Siska masuk perlahan.

Langkahnya berat.

Setiap sudut yang dulu dia banggakan sekarang cuma dinding kosong.

Beberapa jam kemudian, Bayu datang.

“Apa yang kamu lakuin?!” teriak Siska.

Pertama kalinya dengan amarah penuh.

Bayu santai.

“Rumahnya udah aku jual.”

“Kamu jual?!” suara Siska pecah.

“Tanpa ngomong sama aku? Waktu aku di rumah sakit?!”

“Kita butuh uang.”

“Kita?” Siska ketawa pahit.

“Kamu bahkan nggak datang waktu anakmu meninggal!”

Bayu buang muka.

“Aku juga punya masalah.”

Siska gemetar.

“Kamu bukan punya masalah…

kamu itu masalahnya.”

Bayu mulai bentak.

Nyalahin ekonomi.

Nyalahin keadaan.

Bahkan nyalahin Siska.

Dan di tengah semua itu—

Siska tiba-tiba ngerasa tenang.

Tenang yang aneh.

Seolah hatinya akhirnya berhenti berharap.

Pria di depannya bukan suami.

Bukan pelindung.

Bukan tempat pulang.

Dia cuma lubang besar yang bakal narik siapa pun jatuh bareng dia.

“Aku mau cerai,” kata Siska pelan. Tapi tegas.

Bayu cuma ketawa sinis.

“Terserah. Aku juga nggak punya waktu.”

Itu cukup.

Siska balik ke rumah orang tuanya.

Hari-hari setelah itu berat banget.

Dia sering kebangun malam.

Napas sesak.

Tangannya refleks megang perut yang sekarang kosong.

Ibunya selalu ada.

Ngusap rambutnya.

Bikin teh hangat.

Duduk tanpa banyak ngomong.

Nggak lagi bilang, “Ibu sudah bilang.”

Ayahnya duduk di ruang tamu suatu malam dan berkata pelan,

“Ayah cuma mau kamu hidup. Itu aja.”

Kalimat sederhana.

Tapi kali ini nggak terasa dingin.

Pelan-pelan Siska bangkit.

Nggak cepat.

Nggak dramatis.

Tapi nyata.

Dia urus perceraian.

Datang ke pengadilan dengan tangan gemetar, tapi kepala tegak.

Bayu jarang datang.

Sibuk ngurus utang… atau mungkin kebohongan baru.

Akhirnya palu diketuk.

Siska resmi jadi janda.

Tanpa harta.

Tanpa bayi.

Tanpa suami.

Tapi untuk pertama kalinya setelah lama—

dia ngerasa lega.

Bebas dari bohong.

Bebas Dari takut.

Bebas dari pria yang cuma bawa kehancuran.

Di kamar lamanya, Siska berdiri depan cermin.

Wajahnya lebih tirus.

Matanya lebih dalam.

Ada luka di sana.

Ada penyesalan.

Tapi di balik semua itu…

ada sesuatu yang mulai tumbuh lagi.

Kesadaran.

Hidup mungkin nggak selalu ngasih kesempatan kedua.

Tapi dia masih hidup.

Dan itu artinya—

ceritanya belum selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!