NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas mendapat banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil memenangkan Laila.

Akankah keduanya berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 6) Wanita yang ramah

Malam itu di kediaman Mendoza, Laila menyeret kopernya masuk ke dalam sana. Leo menyambutnya dengan ramah seperti biasa.

"Mari, nyonya. Biar saya antarkan ke kamar anda." Ucap Leo merenggut gagang koper Laila.

Melihat Laila yang nampak menilik sekeliling, Leo langsung paham. "Tuan ada urusan mendadak ke Belanda, Nyonya. Ketika obrolan tadi sore usai dan anda pun pergi mengambil barang-barang, tuan langsung berangkat."

Dengan spontan Laila bertanya, "berapa lama dia disana?"

"Kira-kira sebulan," jawab Leo yang membuat Laila tersentak. Namun tidak lama kemudian, sentakan itu berubah menjadi perasaan senang.

Laila melebarkan senyumnya yang samar. "Oh, sebulan ya."

Leo yang mengetahui kesenangan yang terselip itu pun berkata, "resepsi pernikahan akan digelar saat tuan kembali. Jadi untuk sementara waktu, anda bisa beradaptasi sambil mempersiapkan diri."

"Hah? resepsi?" Laila mengerucutkan keningnya. "Bukankah kami hanya sekedar pasangan suami-istri kontrak? Mengapa harus pakai acara resepsi nikah segala?" lanjutnya, menyelidiki.

Leo tersenyum tipis. "Memang seperti itulah aturannya, nyonya. Mohon kerjasamanya."

Laila terdiam. Sudah tidak ada hal yang ia pertanyakan ataupun katakan. Sepasang matanya indahnya, kembali mengamati setiap sudut ruangan dan lorong kediaman yang megah tersebut.

Para pelayan nampak sibuk kesana-kemari dengan pekerjaannya masing-masing. Dan saat melihat Laila, mereka hanya tertunduk sebentar lalu pergi entah kemana.

"Ah, nyo... Nyonya. Selamat datang." Salah seorang pelayan tidak sengaja berpapasan dengan Laila. Gadis muda itu pun seketika meringkukkan badan.

Baru saja Laila hendak melebarkan senyumnya dan mengajaknya bicara, tiba-tiba pelayan itu berbalik begitu saja.

Laila sedikit sedih. "Kenapa para pelayan di kediaman ini sangat aneh? Apa mereka tidak menyukai kedatanganku?" tanyanya kepada Leo, dengan kepala tertunduk.

"Tidak seperti begitu, nyonya." Balas Leo. "Mereka hanya takut menyinggung anda."

Laila bingung. "Hah? Menyinggung? Memang, aku terlihat sejahat itu?"

Leo tidak membalas. Seolah membiarkan Laila menebak sendiri jawabannya.

"Apa karena aku adalah istri kontrak David Mendoza, si pria paling kejam di Sao Paulo? Sehingga membuat mereka takut untuk berurusan denganku?" batin Laila berpikir keras.

Leo yang mendapati Laila tampak berpikir keras, menghela nafasnya dan kemudian berkata, "selain anda, tuan pernah membawa seorang wanita ke kediaman Mendoza ini."

Laila ternanap. "Benarkah?"

"Iya, nyonya. Wanita itu adalah kekasih tuan David. Lebih tepatnya, wanita yang dipaksa tuan untuk menjadi miliknya. Sama seperti anda. Dia sangat cantik dan lemah lembut. Namun, dia tidak mencintai tuan karena rasa takut." Jelas Leo.

"Sesampainya disini, wanita itu malah bikin gaduh. Mungkin disebabkan oleh tekanan yang mengharuskan dirinya untuk mencintai tuan muda, mentalnya jadi berantakan. Sementara tuan, tidak bisa menunjukkan perasaannya. Ia kaku, dingin dan tidak peka. Itulah mengapa, suatu hari wanita itu tiba-tiba menggila dan menganggap semua pelayan adalah musuhnya."

"Tuan yang mengira bahwa penyebab kekacauan wanita itu karena kurangnya pelayanan, langsung menghukum semua pelayan dengan lima puluh kali cambukan. Mereka juga tidak diberikan gaji selama satu bulan. Kalau kabur, maka kematian adalah hadiahnya. Saya harap, anda memaklumi sikap pelayan barusan, nyonya Laila." Ucap Leo, membuat bulu kuduk Laila meremang lalu bersumpah untuk tidak mencari gara-gara kepada David ketika ia kembali.

"Lalu, dimana wanita itu sekarang?" timpa Laila.

Leo termenung sejenak. Setelahnya berkata, "dia sudah meninggal."

Laila membelalakkan matanya. Ia sebenarnya ingin melontarkan beberapa pertanyaan terkait wanita masa lalu David. Namun, ekspresi wajah Leo secara tidak langsung memberikan keterangan jikalau ia tidak mau melayani pertanyaan apapun lagi.

Tiada terasa, Laila tiba di depan pintu kamar yang berada di lantai dua. Segera, Leo menuntunnya masuk ke dalam.

"Ini adalah kamar tidur anda, nyonya. Silahkan beristirahat sebentar lalu mandi. Saya mau kebawah untuk mempersiapkan makan malam anda," pinta Leo dengan sopan seraya membungkuk.

"Terima kasih, Pak asisten." Ujar Laila yang mendadak menepak pundak Leo. "Dan kau tidak perlu khawatir. Aku berjanji untuk menguatkan diri supaya tidak membuat kekacauan di rumah ini."

Leo terkejut. Setelahnya ia mengembangkan senyum. "Panggil saja Leo, nyonya. Kebetulan kita seumuran."

"Hahaha," Laila tergelak tawa. "Begitu ya."

**********

Duing!

Sejak terduduk di meja makan, Laila sama sekali tidak menyentuh hidangan yang disajikan. Lantaran satu pun dari makanan tersebut, tiada yang memenuhi seleranya.

Padahal, Leo dan para koki sudah berusaha keras untuk menyiapkan makanan khas Brazil yang istimewa dan berkelas.

"Nyonya? Kenapa anda masih belum makan? Feijoada, Churrasco, dan Coxinha yang ada disana, sangat enak loh." ujar Leo, menghunjuk satu per satu makanan yang dimaksud.

Laila mengeluh. "Aku tidak pernah memakan makanan ini sebelumnya. Penampilannya aneh-aneh. Dan, tidak ada nasi."

Deggg.

Leo tersengat. "Ma... Maaf, nyonya. Saya baru ingat kalau anda bukan asli orang sini."

Leo lantas mengkode sang koki untuk menyiapkan makanan yang berbahan nasi. Tetapi, Laila menyelanya.

"Tidak apa-apa, Leo." Ucap Laila. Namun isi hatinya berkata lain. "Stok mie yang aku bawa dari Indonesia, masih ada banyak sih di koper. Tapi, masa malam-malam begini aku makan mie? Dari pagi, aku sama sekali belum makan nasi. Haduh, coba tadi bukan mie doang yang aku bawa."

"Tunggu tunggu," Laila tersadar dari renungannya.

"Leo. Ada nasi, kecap manis, cabai, bawang, wortel, telur dan tomat?" tanya Laila.

"Ada, nona." Balas Leo.

"Tapi aku butuh banyak," Keluh Laila.

"Baik nyonya, saya akan menyediakannya." Timpa Leo.

"Kalau begitu bawa aku ke dapur," titah Laila yang tidak lama kemudian sudah berada di dapur dengan celemek serta bahan-bahan tersebut.

Ia menggulung rambut panjangnya, mengeratkan tali pengait celemek, lalu mempersiapkan bahan untuk memasak makanan kesukaannya, yakni nasi goreng.

Para pelayan pun mulai berdatangan dan berhamburan di pintu dapur untuk menontonnya memasak, karena rasa penasaran.

Dengan telaten, Laila mula-mula memanaskan minyak. Menumis bawang dan cabe, lalu disusul oleh telur. Kemudian, Laila menumpahkan nasi di atas wajan itu bersamaan dengan potongan-potongan kecil wortel serta tomat. Terakhir, ia menuangkan kecap, garam dan penyedap rasa. Setelah dirasa sudah pas, Laila mematikan kompor. Dan jadilah, nasi goreng.

"Taraaa," ucapnya memancarkan aura yang berkilauan.

"Wah, makanan apa ini nona?" timpa salah seorang pelayan bertanya.

"ini adalah nasi goreng." Laila tersenyum sumringah.

"Na... Nasi gawwreng?" Ucap mereka bersamaan. Bahkan Leo juga.

"Hahaha, itu tidaklah penting." seru Laila seraya mengangkat panci yang telah ia isi dengan nasi goreng itu.

"Ayo semua, kita makan nasi goreng ini bersama-sama." Ajak Laila menggotong panci itu.

Para pelayan mengekori langkahnya dari belakang sambil menyerap aroma nikmat nasi goreng khas Indonesia, buatan Laila.

Sesampainya di meja makan Laila berkata, "kenapa malah berhenti sampai situ? Ayo sini, makan bareng aku. Biar meja sama kursi yang banyak ini, tidak menganggur. Kau juga Leo, jangan diam saja kaya patung."

Leo dan para pelayan yang berjumlah belasan itu, kelihatan canggung. Mereka tampak saling dorong-mendorong.

"Ta... Tapi nyonya," Ucap Leo tidak jadi ia teruskan, setelah melihat mulut manyun dan pipi Laila yang menggembung, pertanda dia mau ngambek.

"Haaah, baiklah. Ayo semuanya," perintah Leo duduk di sebelah Laila. Tidak lama, para pelayan pun menyusul. Baik perempuan maupun laki-laki dan begitupun koki. Mereka sangat ingin tahu tentang rasa makanan unik itu.

"Nah, ayo dimakan. Kalau di Indonesia, memang begini. Makanan akan terasa nikmat apabila dimakan beramai-ramai." Tutur Laila menuangkan nasi goreng tersebut ke piring, dan mengoper ke mereka hingga semua kebagian.

"Wah, enak nyonya." Disela-sela makan, tidak sedikit orang yang memuji masakan Laila. Sehingga membuat wanita yang akan menjadi nyonya Mendoza itu, gembira.

"Sudah aku katakan, nasi goreng adalah makanan terenak." Puji Laila, bangga.

Dengan sikap Laila yang kelihatan ramah dan mudah bergaul itu, para pelayan perlahan-lahan mengubah sudut pandang mereka tentang Laila. Mana ada nyonya rumah mengajak pelayan rendahan, untuk makan bersamanya di satu meja makan?

Dia bukan wanita sombong ataupun penakut. Melainkan seseorang yang sederhana dan anggun. Laila, sudah memenangkan hati mereka.

"Anda luar biasa, nyonya Laila." Batin Leo kala mendengar bisikan-bisikan yang dipenuhi pujian untuk Laila. Dengan senyuman dan hati yang lega, ia menghabiskan nasi goreng tersebut sampai mulus tak tersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!