Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. PENGHINAAN
Liora tidak langsung menjawab.
Ia berdiri di tengah ruang tamu Montclair, punggungnya tegak, kedua tangannya terlipat rapi di depan tubuhnya yang selama ini dianggap memalukan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dijadikan tumbal.
"Baik. Aku terima," kata Liora akhirnya.
Satu kata itu membuat semua orang terdiam.
Count Bernard mengerutkan kening. Seolah ia mengharapkan tangisan. Protes. Permohonan. Apa pun, selama itu menunjukkan bahwa Liora masih bisa ditekan.
Namun tidak ada.
Liora hanya menunduk sopan ke arah utusan istana. "Sampaikan pada Yang Mulia Kaisar," ucapnya datar, "bahwa keluarga Montclair menerima perintah itu."
Utusan itu tampak sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk. "Upacara pernikahan akan dilaksanakan sebulan dari sekarang."
Satu bulan.
Waktu yang singkat untuk memersiapkan pernikahan.
Terlalu panjang untuk menunggu hukuman.
Setelah utusan itu pergi, keheningan di ruang tamu tidak lagi terasa resmi. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih pribadi.
"Kenapa kau terlihat begitu pasrah?" Countess Irene memecah suasana, nada suaranya dingin. "Seolah kami melakukan kejahatan besar padamu."
Liora mengangkat wajahnya. Matanya tenang, nyaris kosong. "Bukankah memang begitu?"
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Liora.
Kepalanya terhuyung ke samping, rambutnya terurai. Rasa perih menyebar cepat, panas, memalukan. Beberapa pelayan menahan napas. Tak satu pun bergerak.
"Jaga mulutmu," bentak Count Bernard. "Kau akan menikah dengan Duke. Itu kehormatan."
"Kehormatan bagi siapa?" tanya Liora lirih.
Count Bernard menatapnya tajam. "Bagi keluarga ini."
Liora menatap Count dingin ketika mendengar ucapan itu. Tentu saja untuk keluarga dan bukan untuk Liora sendiri. Memang sejak kapan keluarganya ini peduli padanya.
Sera berdiri di dekat tangga, menonton dengan ekspresi cemas palsu. "Kakak, jangan memperburuk keadaan. Ayah dan Ibu juga sedang tertekan."
Liora menoleh ke arah adik tirinya itu. Tatapan mereka bertemu.
Dan di mata Sera, Liora melihatnya ...
bukan rasa bersalah, melainkan kelegaan.
Dasar jalang licik, batin Liora.
Kabar pernikahan itu menyebar lebih cepat dari api di musim panas.
Di dapur, para pelayan berbisik tanpa menurunkan suara.
"Duke Ravens itu jenderal perang, kan?”/"
"Katanya dia membunuh musuh dengan tangannya sendiri."
"Dan Lady Liora yang akan menikah dengannya?"
"Kasihan Duke harus menikahi wanita gendut sepertinya."
Kata kasihan diucapkan sambil tertawa kecil.
Setiap langkah Liora di koridor kastil diiringi pandangan merendahkan.
Gaun yang dipakaikan untuk pengukuran pernikahan terlalu sempit di pinggang dan lengan, seolah sengaja dipilih untuk memerjelas setiap lekuk tubuh Liora.
"Berdirilah lebih lurus," kata pelayan penjahit dengan nada jengkel. "Kalau Nona tidak bisa mengontrol tubuh sendiri, setidaknya jangan menyulitkan kami."
Jarum menusuk kulitnya tanpa permintaan maaf.
Liora tidak mengeluh. Tidak bergerak. Ia hanya menatap bayangannya di cermin tinggi, sosok besar dengan wajah pucat dan mata abu-abu yang kini terlihat lebih tua dari usianya.
"Gaun ini terlalu polos," komentar Countess Irene dari kursi dekat jendela. "Tapi ya sudahlah. Tubuh seperti itu tidak akan terlihat anggun dengan apa pun."
Sera tertawa kecil. "Setidaknya Duke tidak akan berharap banyak."
Kata-kata itu disambut tawa pelan para pelayan.
Liora menunduk. Bukan karena malu, melainkan karena ia menyadari sesuatu.
Mereka tidak akan berhenti.
Tidak hari ini.
Tidak setelah pernikahan.
Tidak pernah.
Malam hari membawa bisikan yang lebih gelap.
Di kamar kecil dekat dapur, dua pelayan senior berbicara sambil melipat kain.
"Katanya Duke Ravens tidak pernah menyentuh wanita kalau tidak ia kehendaki."
"Lalu bagaimana dengan Nona Liora?"
"Siapa yang mau menyentuh tubuh sebesar itu?"
Tawa pelan kembali terdengar.
"Jangan heran kalau Duke meninggalkannya di malam pernikahan."
"Atau bahkan menceraikannya langsung."
Liora berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia tidak masuk. Tidak pergi.
Ia hanya berdiri, mendengarkan.
Setiap kata masuk ke dalam dirinya dengan rapi, seperti disusun satu per satu, lalu disimpan. Bukan untuk dilupakan, melainkan untuk diingat.
Karena, Liora tidak merasa ingin membela diri. Tidak perlu ... untuk saat ini.
Ia tidak mau menghabiskan energi hanya untuk melabrak para pelayan itu, walau Liora sangat ingin menjambak rambut mereka.
Tentang Duke Alaric Ravens, cerita-cerita itu semakin liar.
Ia disebut The Iron Duke, pria yang tak pernah tersenyum di medan perang, yang memimpin pasukan dari barisan depan, yang tidak ragu memenggal pengkhianat di depan umum.
Ada yang mengatakan ia tidak punya istri karena semua wanita takut padanya.
Ada yang mengatakan ia menolak semua perjodohan karena ia tidak percaya cinta.
Ada pula yang berbisik bahwa ia hanya menikah karena perintah Kaisar, dan akan membenci siapa pun yang menjadi istrinya.
"Wanita malang, tapi itu balasan karena dia hanyalah wanita jahat yang tidak tahu diri," ucap seseorang suatu malam di kediaman Count.
"Wanita gendut, seharusnya mengurung diri saja di dalam kamar," sahut yang lain.
Liora mendengar semuanya.
Dan di tengah semua itu, tidak satu pun yang bertanya bagaimana keadaan dan juga perasaan Liora.
Namun sama seperti mereka, Liora juga tidak peduli.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti hukuman yang diulang.
Pelayan tidak lagi menyembunyikan kekasaran mereka. Makanan Liora sering datang terlambat, atau terlalu banyak. Selalu terlalu banyak.
Dan setiap kali Liora mencoba menolak, seseorang akan berkata, "Bukankah Nona menyukainya? Makan yang banyak agar Anda tidak pingsan saat pernikahan nanti, tapi jangan kebanyakan karena nanti gaun Anda bisa robek."
Ya, penghinaan seperti itu semakin jadi.
Sera sering datang ke kamarnya dengan senyum manis.
"Kakak terlihat pucat," kata Sera suatu pagi, meletakkan sepiring kue di meja. "Makanlah. Kau butuh tenaga untuk pernikahan. Aku sengaja menyuruh koki kita membuatkan makanan manis yang enak."
Liora menatap kue itu lama. Dari aromannya saja Liora tahu betapa manis kue itu, membuatnya mengernyit ngilu membayangkan Liora memakannya.
"Aku tidak lapar," tolak Liora.
Sera mengerutkan kening, lalu tersenyum lagi. "Jangan begitu. Kau akan terlihat semakin buruk kalau tidak makan. Akan sangat baik kalau kau makan banyak."
Sera pergi, meninggalkan aroma manis yang membuat perut Liora mual.
Malam itu, Liora muntah. Karena entah kenapa makanan selalu datang dan Liora sampai dipaksa makan baik oleh pelayan sampai oleh ibu tiri dan adik tiri Liora.
Di hadapan cermin, Liora membuka lengan bajunya dan menatap memar-memar lama yang belum sepenuhnya hilang, bekas cubitan, dorongan, hukuman kecil yang selalu dianggap pantas.
Ia menyentuhnya pelan.
Lalu ia mengangkat wajahnya.
Di mata yang menatap balik, tidak ada air mata.
Hanya satu pemahaman yang akhirnya tumbuh dengan jelas:
Jika dunia ini telah memutuskan untuk menjadikannya korban, maka ia akan belajar bertahan, bahkan jika itu berarti melangkah sendirian ke sisi monster bernama Duke Alaric Ravens.
Namun entah kenapa, Liora tidak sepenuhnya takut.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣
semoga Alaric baik² saja, othor membuyku menangis lagi 😭
ommoooo