NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:85.6k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. PENGHINAAN

Liora tidak langsung menjawab.

Ia berdiri di tengah ruang tamu Montclair, punggungnya tegak, kedua tangannya terlipat rapi di depan tubuhnya yang selama ini dianggap memalukan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dijadikan tumbal.

"Baik. Aku terima," kata Liora akhirnya.

Satu kata itu membuat semua orang terdiam.

Count Bernard mengerutkan kening. Seolah ia mengharapkan tangisan. Protes. Permohonan. Apa pun, selama itu menunjukkan bahwa Liora masih bisa ditekan.

Namun tidak ada.

Liora hanya menunduk sopan ke arah utusan istana. "Sampaikan pada Yang Mulia Kaisar," ucapnya datar, "bahwa keluarga Montclair menerima perintah itu."

Utusan itu tampak sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk. "Upacara pernikahan akan dilaksanakan sebulan dari sekarang."

Satu bulan.

Waktu yang singkat untuk memersiapkan pernikahan.

Terlalu panjang untuk menunggu hukuman.

Setelah utusan itu pergi, keheningan di ruang tamu tidak lagi terasa resmi. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih pribadi.

"Kenapa kau terlihat begitu pasrah?" Countess Irene memecah suasana, nada suaranya dingin. "Seolah kami melakukan kejahatan besar padamu."

Liora mengangkat wajahnya. Matanya tenang, nyaris kosong. "Bukankah memang begitu?"

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Liora.

Kepalanya terhuyung ke samping, rambutnya terurai. Rasa perih menyebar cepat, panas, memalukan. Beberapa pelayan menahan napas. Tak satu pun bergerak.

"Jaga mulutmu," bentak Count Bernard. "Kau akan menikah dengan Duke. Itu kehormatan."

"Kehormatan bagi siapa?" tanya Liora lirih.

Count Bernard menatapnya tajam. "Bagi keluarga ini."

Liora menatap Count dingin ketika mendengar ucapan itu. Tentu saja untuk keluarga dan bukan untuk Liora sendiri. Memang sejak kapan keluarganya ini peduli padanya.

Sera berdiri di dekat tangga, menonton dengan ekspresi cemas palsu. "Kakak, jangan memperburuk keadaan. Ayah dan Ibu juga sedang tertekan."

Liora menoleh ke arah adik tirinya itu. Tatapan mereka bertemu.

Dan di mata Sera, Liora melihatnya ...

bukan rasa bersalah, melainkan kelegaan.

Dasar jalang licik, batin Liora.

Kabar pernikahan itu menyebar lebih cepat dari api di musim panas.

Di dapur, para pelayan berbisik tanpa menurunkan suara.

"Duke Ravens itu jenderal perang, kan?”/"

"Katanya dia membunuh musuh dengan tangannya sendiri."

"Dan Lady Liora yang akan menikah dengannya?"

"Kasihan Duke harus menikahi wanita gendut sepertinya."

Kata kasihan diucapkan sambil tertawa kecil.

Setiap langkah Liora di koridor kastil diiringi pandangan merendahkan.

Gaun yang dipakaikan untuk pengukuran pernikahan terlalu sempit di pinggang dan lengan, seolah sengaja dipilih untuk memerjelas setiap lekuk tubuh Liora.

"Berdirilah lebih lurus," kata pelayan penjahit dengan nada jengkel. "Kalau Nona tidak bisa mengontrol tubuh sendiri, setidaknya jangan menyulitkan kami."

Jarum menusuk kulitnya tanpa permintaan maaf.

Liora tidak mengeluh. Tidak bergerak. Ia hanya menatap bayangannya di cermin tinggi, sosok besar dengan wajah pucat dan mata abu-abu yang kini terlihat lebih tua dari usianya.

"Gaun ini terlalu polos," komentar Countess Irene dari kursi dekat jendela. "Tapi ya sudahlah. Tubuh seperti itu tidak akan terlihat anggun dengan apa pun."

Sera tertawa kecil. "Setidaknya Duke tidak akan berharap banyak."

Kata-kata itu disambut tawa pelan para pelayan.

Liora menunduk. Bukan karena malu, melainkan karena ia menyadari sesuatu.

Mereka tidak akan berhenti.

Tidak hari ini.

Tidak setelah pernikahan.

Tidak pernah.

Malam hari membawa bisikan yang lebih gelap.

Di kamar kecil dekat dapur, dua pelayan senior berbicara sambil melipat kain.

"Katanya Duke Ravens tidak pernah menyentuh wanita kalau tidak ia kehendaki."

"Lalu bagaimana dengan Nona Liora?"

"Siapa yang mau menyentuh tubuh sebesar itu?"

Tawa pelan kembali terdengar.

"Jangan heran kalau Duke meninggalkannya di malam pernikahan."

"Atau bahkan menceraikannya langsung."

Liora berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia tidak masuk. Tidak pergi.

Ia hanya berdiri, mendengarkan.

Setiap kata masuk ke dalam dirinya dengan rapi, seperti disusun satu per satu, lalu disimpan. Bukan untuk dilupakan, melainkan untuk diingat.

Karena, Liora tidak merasa ingin membela diri. Tidak perlu ... untuk saat ini.

Ia tidak mau menghabiskan energi hanya untuk melabrak para pelayan itu, walau Liora sangat ingin menjambak rambut mereka.

Tentang Duke Alaric Ravens, cerita-cerita itu semakin liar.

Ia disebut The Iron Duke, pria yang tak pernah tersenyum di medan perang, yang memimpin pasukan dari barisan depan, yang tidak ragu memenggal pengkhianat di depan umum.

Ada yang mengatakan ia tidak punya istri karena semua wanita takut padanya.

Ada yang mengatakan ia menolak semua perjodohan karena ia tidak percaya cinta.

Ada pula yang berbisik bahwa ia hanya menikah karena perintah Kaisar, dan akan membenci siapa pun yang menjadi istrinya.

"Wanita malang, tapi itu balasan karena dia hanyalah wanita jahat yang tidak tahu diri," ucap seseorang suatu malam di kediaman Count.

"Wanita gendut, seharusnya mengurung diri saja di dalam kamar," sahut yang lain.

Liora mendengar semuanya.

Dan di tengah semua itu, tidak satu pun yang bertanya bagaimana keadaan dan juga perasaan Liora.

Namun sama seperti mereka, Liora juga tidak peduli.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti hukuman yang diulang.

Pelayan tidak lagi menyembunyikan kekasaran mereka. Makanan Liora sering datang terlambat, atau terlalu banyak. Selalu terlalu banyak.

Dan setiap kali Liora mencoba menolak, seseorang akan berkata, "Bukankah Nona menyukainya? Makan yang banyak agar Anda tidak pingsan saat pernikahan nanti, tapi jangan kebanyakan karena nanti gaun Anda bisa robek."

Ya, penghinaan seperti itu semakin jadi.

Sera sering datang ke kamarnya dengan senyum manis.

"Kakak terlihat pucat," kata Sera suatu pagi, meletakkan sepiring kue di meja. "Makanlah. Kau butuh tenaga untuk pernikahan. Aku sengaja menyuruh koki kita membuatkan makanan manis yang enak."

Liora menatap kue itu lama. Dari aromannya saja Liora tahu betapa manis kue itu, membuatnya mengernyit ngilu membayangkan Liora memakannya.

"Aku tidak lapar," tolak Liora.

Sera mengerutkan kening, lalu tersenyum lagi. "Jangan begitu. Kau akan terlihat semakin buruk kalau tidak makan. Akan sangat baik kalau kau makan banyak."

Sera pergi, meninggalkan aroma manis yang membuat perut Liora mual.

Malam itu, Liora muntah. Karena entah kenapa makanan selalu datang dan Liora sampai dipaksa makan baik oleh pelayan sampai oleh ibu tiri dan adik tiri Liora.

Di hadapan cermin, Liora membuka lengan bajunya dan menatap memar-memar lama yang belum sepenuhnya hilang, bekas cubitan, dorongan, hukuman kecil yang selalu dianggap pantas.

Ia menyentuhnya pelan.

Lalu ia mengangkat wajahnya.

Di mata yang menatap balik, tidak ada air mata.

Hanya satu pemahaman yang akhirnya tumbuh dengan jelas:

Jika dunia ini telah memutuskan untuk menjadikannya korban, maka ia akan belajar bertahan, bahkan jika itu berarti melangkah sendirian ke sisi monster bernama Duke Alaric Ravens.

Namun entah kenapa, Liora tidak sepenuhnya takut.

1
Lala Kusumah
yaaaaaa tamat, tapi gapapa happy ending, bahagianya 😍😍😍
tapi nanti ada cerita lanjutan anak-anak ya 🙏🙏🙏🫰🫰👍👍
Ir
sampai ketemu di next cerita calon bandit kerjaan 🤭🤭
Lala Kusumah
tegaaaanng pisan 🫣🫣😵‍💫😵‍💫
Jelita S
terimakasih thor atas ceritamu,,lnjut y cerita Elala🤣🤣
Miss Typo
keren 👍👍👍
Miss Typo
kok tau² tamat thor????
happy ending 👏👍

terimakasih thor 🙏, selalu sukses dgn karya-karyanya di novel dan tunggu cerita para bocil cadel juga Rowan 😍
Eli Rahma
ehhh,..beneran tamat nih thor..tp tar ada kelanjutanyya kan ..ttg para bocil..
Miss Typo
tunggu saat waktunya tiba Elara bisa mengendalikan sihir itu
Miss Typo
belum saatnya Elara menggunakan kekuatannya
Ir
hmm gampang ini mah kalo misal nya mau bikin Elara meratakan dunia pancing aja emosi nya pasti segel nya Arram bakalan hancur, jangan sampe aja di manfaatkan sama orang² jahat, sekarang tinggal Evan kak keajaiban apa yang Evan punya ga adil kalo Elara doang yang di spill 🤣🤣
Archiemorarty: Hahaha....Evan sama kayak bapak emaknya dia 🤭
total 1 replies
Jelita S
Lanjut thor
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐧𝐝𝐞𝐫𝐚 𝐤𝐞 𝟔 𝐭𝐡𝐨𝐫? 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐡 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐤𝐢 𝐚𝐝𝐚 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐭𝐮𝐩 𝐚𝐮𝐫𝐚 ...

𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐤𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐠𝐚𝐢𝐛 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐫𝐬𝐛𝐭 𝐛𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐨𝐛𝐚𝐭𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 😁😁
Jelita S
wah msih lnjut rupanya sang penyihir hitam y
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐚𝐬𝐚𝐡 𝐠𝐤 𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐄𝐥𝐚𝐫𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧?? 😕😕😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐧𝐤𝐪𝐮 𝐲𝐠 𝐬𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐬 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚 𝐛𝐬 𝐧𝐠𝐨𝐛𝐫𝐨𝐥 𝐝𝐠𝐧 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐡𝐚𝐥𝐮𝐬 𝐭𝐡𝐨𝐫😭😭 𝐭𝐩 𝐩𝐚𝐬 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐓𝐊 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐞 𝐬𝐤𝐫𝐧𝐠 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐝𝐞 𝐝𝐢𝐚 𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐠𝐤 𝐛𝐬 𝐥𝐡𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐡𝐥𝐬 𝐥𝐠 😕😕
total 2 replies
Ir
akhhh aku bari mau mikir monster selanjutnya Evan yang bikin kejutan, ternyata emak nya, ini dua bocil Alaric harus di ajarin mengendalikan diri ini, kalo engga hancur dunia
Archiemorarty: Baru tiga tahun udah duarrrr 🙄
total 1 replies
Ir
elara dapet ini pasti dari leluhur nya yang dulu² pasti kan, soalnya Alaric ga bisa sihir, Lior juga ga punya, kak pokoknya harus di jelasin sih dari mana Elara sama Evan dapet kekuatan itu
Archiemorarty: Ohoho...siap siap 🤭
total 1 replies
Miss Typo
di bab brpa tuh ya saat Alaric dan pasukannya menyerah monster hampir menyerah dan Liora datang bersama pasukannya membantu, trs ada anak yg bilang itu lho, bingung ngomongnya. matahari dan bulan kalau gak salah anak kembar Liora. berarti Elara matahari nya panas membara dengan sihir nya, apa Evan yg akan merendam nya saat Elara kehilangan kendali dari kekuatan sihirnya. aaahh gak tau lah 🤣
Archiemorarty: boleh boleh 🤭
total 3 replies
Miss Typo
berarti yg matahari Elara ya thor, wah kekuatan Elara keluar karna melihat kakaknya berdarah gak sadarkan diri karna monster itu, dan pas monster mendekat mau menyerang dia gak rela semua terluka seperti Rowan
Miss Typo: mantep nih 😁
total 2 replies
Jelita S
Liora selalu jdi penyelamat bagi keluarganya😍
Jelita S
wow Elara kamu hebat💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!