Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: GUGATAN JOKO
"Pak Aryo? Saya Joko. Keponakan Mbah Kar."
Pria itu berdiri di depan rumahku. Setelan rapi. Wajah tegang. Dua orang di belakangnya. Badan besar. Muka garang. Leher tato. Preman.
Aku baru selesai shalat Subuh. Masih dalam keadaan lemas setelah seminggu kehilangan Mbah Kar. Rumah baru sepi. Risma di kamar. Budi tidur. Dewi di dapur.
"Ada perlu apa?" tanyaku curiga.
Joko tersenyum. Tapi senyum itu tak sampai ke mata. "Saya mau bicara soal rumah ini. Rumah peninggalan Mbah Kar."
Ia keluarkan map cokelat. Serahkan padaku. Surat-surat. Gugatan. Atas nama ahli waris Mbah Kar.
"Rumah ini, Pak, adalah warisan keluarga. Mbah Kar cuma numpang di sini. Sekarang saya minta kembali."
Dunia serasa berhenti.
Rumah ini... satu-satunya tempat tinggal kami. Rumah yang Mbah Kar berikan dengan ikhlas. Rumah tempat Risma terbaring tiga tahun terakhir. Rumah tempat Budi belajar jalan. Rumah tempat Dewi menangis dan tertawa. Rumah tempat Mbah Kar menghabiskan hari-hari terakhirnya.
Sekarang, orang yang tak pernah datang saat Mbah Kar sakit, tak pernah hadir di pemakaman, datang untuk merebutnya.
Aku pegang surat itu. Tanganku gemetar.
"Keluar."
Joko tertawa. "Saya kasih waktu seminggu, Pak. Siap-siap pindah. Minggu depan saya datang lagi, bawa polisi."
Mereka pergi. Meninggalkan aku yang membeku di pintu.
Dari dalam, suara Risma. Bukan tangis. Tapi suara gelisah. Suara yang keluar dari tenggorokannya. Seperti ia tahu. Seperti ia merasakan bahaya.
Aku masuk. Risma di kamar. Matanya ke arahku. Basah.
"Pa... Pa..." panggilnya lirih.
Aku pegang tangannya. "Nak, Bapak di sini. Bapak nggak akan biarkan siapa pun usir kita."
Risma diam. Tapi genggamannya... genggamannya kuat. Seperti bilang, "Aku percaya, Pa."
---
ADEGAN 1: ANCAMAN DI RUMAH SENDIRI
Seminggu setelah kedatangan Joko, teror mulai datang.
Malam pertama, jam 2 dini hari. Batu sebesar kepalan menghantam jendela depan. Kaca pecah. Suara keras membangunkan kami. Budi menjerit. Risma di kamar, napasnya tiba-tiba cepat—sesak karena kaget.
Aku ambil kayu. Lari ke luar. Tapi hanya gelap. Tak ada siapa pun.
Malam kedua. Lebih brutal. Tiga batu sekaligus. Dua ke jendela, satu ke pintu. Kali ini cat merah mencoreti dinding. Kata-kata kasar. "USIR KONTRAKAN!" "BAYAR UTANG!" Padahal kami tak punya utang pada mereka.
Dewi ketakutan. Peluk Budi yang nangis sepanjang malam. Aku coba tenangkan, tapi suaraku sendiri bergetar.
Malam ketiga. Polisi datang setelah kami lapor. Dua orang. Satu bawa buku, satu bawa senter. Mereka lihat coretan, lihat kaca pecah. Lalu hanya mengangguk.
"Kami catat, Pak. Tapi ini sulit. Pelaku pasti kabur kalau tahu kami datang."
"Jadi saya harus diam saja rumah dirusak?"
"Sabarlah, Pak. Jangan main hakim sendiri."
Mereka pergi. Aku tahu. Joko punya uang. Polisi bisa diatur.
Malam keempat. Budi demam. Takut kalau tidur. Ia minta ditemani terus. Aku gendong dia sepanjang malam. Duduk di kursi dekat jendela yang sudah kututup triplek.
Dari kamar, Risma gelisah. Dewi jaga dia. Napas Risma cepat-cepat lambat. Tanda stres. Ia bisa merasakan meski tak bisa bicara.
Malam kelima. Aku pasang lampu terang di depan. Beli kunci tambahan. Pagar kawat. Tapi rasa aman tak kunjung datang.
Di dalam rumah sendiri, kami seperti di penjara.
---
ADEGAN 2: CARI PENGACARA
"Pak Rahmat, tolong saya."
Aku duduk di ruang tamu rumah Pak Rahmat. Pengacara yang dulu bantu urus utang palsu. Rambutnya sudah makin putih. Kacamatanya tebal. Tapi matanya masih tajam.
Ia baca surat gugatan Joko. Satu per satu. Wajahnya makin serius.
"Pak, ini berat."
Deg.
"Mereka punya saksi-saksi yang akan bilang Mbah Kar pikun. Dua orang tetangga. Satu mantan perangkat desa. Mereka siap bersaksi di pengadilan."
"Tapi Mbah Kar waras, Pak. Beliau sadar waktu hibahkan rumah. Beliau sendiri yang kasih saya surat hibah itu."
Pak Rahmat menghela napas panjang. "Masalahnya, Pak, di mata hukum, kalau yang punya rumah sudah tua, dan ada saksi yang bilang beliau pikun, surat hibah bisa dibatalkan. Apalagi ini keponakan—ahli waris sah kalau Mbah Kar tak punya anak."
"Tapi Mbah Kar punya istri, Pak. Almahram. Sudah meninggal 10 tahun lalu."
"Itu beda. Istri sudah meninggal, berarti ahli warisnya keponakan—saudara kandung atau anak dari saudara kandung. Mereka punya hak secara hukum."
Aku diam. Putus asa mulai merayap.
Pak Rahmat tatap aku. "Kita harus buktikan Mbah Kar waras. Cari saksi yang tahu kondisi beliau saat itu. Saat hibahkan rumah. Saat beliau masih sehat. Siapa yang paling dekat dengan Mbah Kar?"
Aku mikir. Lalu jawab, "Saya, Pak. Keluarga saya."
"Itu tidak cukup. Kalian penerima hibah. Terlalu berkepentingan. Kita butuh orang luar. Tetangga. Kerabat. Siapa pun yang bisa bersaksi."
Aku ingat seseorang. Tapi ia sudah lama tak muncul.
"Mbah Tum... adik kandung Mbah Kar. Tapi beliau sudah 5 tahun tinggal di luar kota. Ikut anaknya. Saya tak punya kontak."
Pak Rahmat mencatat. "Coba cari. Kalau beliau bisa jadi saksi, mungkin kita punya harapan."
Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Ada sedikit harapan. Tapi juga takut kalau harapan itu palsu.
---
ADEGAN 3: SIDANG PERDANA
Sidang digelar di pengadilan negeri. Gedung besar. Ruangan dingin. AC menyemburkan hawa yang bikin tulang terasa ngilu.
Joko datang dengan pengacara mahal. Jas rapi. Sepatu mengilap. Dasi warna merah. Di belakangnya, kerabat dan teman-temannya bawa somay dan ketupat—seperti mau piknik, bukan sidang. Mereka duduk di bangku belakang. Bercanda. Tertawa. Seperti ini acara santai.
Aku hanya sendiri dengan Pak Rahmat. Dewi di rumah jaga anak-anak. Tak tega lihat mereka di ruangan penuh musuh.
Di bangku belakang, kulihat beberapa tetangga. Mereka tak berani menatapku. Mungkin sudah dibayar Joko. Mungkin takut.
Hakim masuk. Semua berdiri. Palu diketuk. Sidang dimulai.
Pengacara Joko angkat bicara. Suaranya lantang. Penuh percaya diri.
"Yang Mulia, klien kami adalah ahli waris sah almarhum Mbah Kar. Almarhum tak punya anak. Istri sudah meninggal. Maka keponakan—saudara kandung dari istri kedua—adalah ahli waris yang sah. Rumah yang ditempati tergugat adalah warisan keluarga. Almarhum hanya menumpang di rumah itu, bukan pemilik sah."
Pak Rahmat protes. "Yang Mulia, klien kami punya surat hibah sah dari almarhum. Ditandatangani di atas meterai. Disaksikan dua orang tetangga."
Hakim mengangguk. "Saksi akan kita dengar."
Saksi pertama dipanggil. Seorang tetangga. Namaku lupa. Tapi aku kenal wajahnya. Ia tinggal dua rumah dari Mbah Kar.
"Saudara saksi, bagaimana kondisi almarhum Mbah Kar dalam setahun terakhir hidupnya?" tanya pengacara Joko.
Saksi itu menunduk. Lalu jawab, "Almarhum... sering lupa, Yang Mulia. Saya pernah lihat beliau bingung di depan rumah sendiri. Lupa jalan pulang. Pernah juga beliau panggil saya dengan nama orang lain."
Aku ingin teriak itu bohong. Mbah Kar memang kadang lupa. Tapi itu wajar untuk usia 78 tahun. Tapi lupa jalan pulang? Itu tidak pernah!
Pak Rahmat pegang tanganku. "Tenang, Pak. Ini baru awal."
Saksi kedua. Mantan perangkat desa. Bapak-bapak berpeci. Wajahnya serius.
"Saya kenal almarhum sejak lama. Riwayat kesehatannya menurun drastis tiga tahun terakhir. Saya dengar dari mantri bahwa almarhum punya gejala pikun. Sering lupa nama sendiri. Lupa tanggal. Lupa hari."
Pak Rahmat cross-check. Pertanyaan tajam.
"Saudara saksi, apa Anda saksi langsung melihat Mbah Kar lupa nama sendiri?"
"Saya... dengar dari mantri."
"Jadi Anda tak pernah melihat sendiri?"
"Saya percaya mantri."
"Tapi mantri tak dihadirkan di sini. Hanya Anda yang bicara atas namanya."
Hakim mengetuk palu. "Pertanyaan diterima. Saksi, jawab saja yang Anda lihat sendiri."
Saksi itu gelisah. Tapi tetap pada pendiriannya. Ia bilang beberapa kali lihat Mbah Kar bingung. Tapi tak bisa sebut waktu pasti. Tanggal pasti.
Aku mulai paham. Mereka diatur. Tapi diatur dengan rapi. Cukup untuk meragukan hakim.
Sidang ditunda. Satu minggu lagi lanjutan.
Pak Rahmat bilang, "Kita harus cari Mbah Tum. Kalau tidak, kemungkinan besar kita kalah."
---
ADEGAN 4: SAKSI PALSU
Minggu kedua sidang.
Kami belum dapat Mbah Tum. Tak ada kontak. Tak ada kabar. Hanya nama dan ingatan bahwa beliau pernah datang setahun lalu. Tapi ke mana? Tak ada yang tahu.
Pak Rahmat berusaha tanya tetangga lama. Ada yang bilang Mbah Tum ikut anaknya di Surabaya. Tapi alamatnya tak jelas. Nomor telepon tak ada.
Sidang hari itu berat.
Pengacara Joko hadirkan saksi ketiga. Seorang wanita paruh baya. Mengaku teman dekat Mbah Kar.
"Saya sering jenguk almarhum. Setiap minggu. Beliau sering cerita hal yang sama berulang-ulang. Lupa kalau sudah cerita. Pernah beliau tanya saya sudah makan padahal baru saja kami makan bersama."
Pengacara Joko mengangguk puas. "Menurut saudara, apakah almarhum dalam kondisi waras saat menghibahkan rumah?"
Wanita itu menjawab cepat, "Tidak, Yang Mulia. Saya yakin beliau sudah pikun. Tidak sadar apa yang dilakukan."
Pak Rahmat bangkit. Wajahnya merah.
"Saudara saksi, Anda bilang setiap minggu jenguk Mbah Kar. Kapan terakhir Anda jenguk beliau?"
Wanita itu diam. "Beberapa bulan sebelum beliau wafat."
"Bulan apa? Tanggal berapa?"
"Saya lupa."
"Lupa? Tapi Anda ingat detail percakapan beliau yang berulang?"
Wanita itu gelisah. "Saya... ingat secara umum."
"Secara umum tidak cukup di pengadilan, Saudara. Hak butuh fakta, bukan kesan."
Hakim mengangguk. Tapi ragu di wajahnya.
Aku lihat Joko di bangku pesakitan. Ia tersenyum tipis. Percaya diri.
Sepertinya mereka akan menang. Sepertinya rumah ini akan direbut.
---
ADEGAN 5: MBAH TUM DATANG
Sidang hari ketiga.
Joko tersenyum puas. Pengacaranya minta hakim memutuskan surat hibah batal. Mereka yakin menang. Saksi-saksi sudah diatur. Tak ada yang bisa melawan.
Pak Rahmat bicara terakhir. Suaranya loyo. "Yang Mulia, kami mohon waktu untuk menghadirkan saksi kunci. Adik kandung almarhum. Tapi kami kesulitan menemukan beliau."
Hakim menghela napas. "Saudara pengacara, ini sudah tiga kali sidang. Saksi harusnya dihadirkan sejak awal. Kalau tidak ada, saya terpaksa memutus."
Aku tertunduk. Dewi di belakang nangis. Ia nekat datang meski tak kuat. Budi di rumah dititipkan tetangga.
Di bangku belakang, tetangga-tetangga yang tadinya tak berani menatapku, kini berbisik. Kasihan. Tapi tak ada yang bisa membantu.
Hakim mulai bicara. "Dengan ini, majelis hakim—"
"TUNGGU!"
Pintu ruang sidang terbuka. Suara tua. Tapi keras.
Semua menoleh.
Seorang wanita tua masuk. Jalannya lambat. Pakai tongkat. Keriput. Rambut putih hampir semua. Usianya mungkin 70-an. Tapi matanya... matanya tajam. Seperti Mbah Kar.
"Saya saksi."
Joko pucat pasi.
Wanita itu berjalan ke depan. Melewati kursi-kursi. Melewati Joko yang mulutnya terbuka tak percaya.
"Siapa Anda?" tanya hakim.
Wanita itu berhenti di depan majelis. Suaranya bergetar, tapi tegas.
"Saya Mbah Tum. Adik kandung Mbah Kar. Almarhum yang rumahnya diperkarakan ini."
Ruangan gempar. Bisik-bisik di mana-mana. Joko bangkit. "ITU TIDAK MUNGKIN! BIBIK SUDAH 5 TAK MUNCUL! DIA..."
Mbah Tum menoleh. Satu tatapan. Joko diam.
Kemudian Mbah Tum menghadap hakim lagi. Tangannya merogoh tas usang. Keluarkan amplop coklat. Serahkan pada panitera.
"Ini surat pernyataan kakak saya. Ditulis setahun sebelum beliau wafat. Di atas materai. Ditandatangani sendiri. Disaksikan saya dan dua orang tetangga yang masih hidup sampai sekarang."
Hakim membaca. Wajahnya berubah.
Mbah Tum lanjutkan, "Di surat itu, kakak saya nyatakan dengan sadar dan waras bahwa rumah itu adalah hibah untuk keluarga Aryo. Keluarga yang merawatnya sampai akhir. Yang memberinya makan. Yang menjaganya saat sakit. Yang menggendongnya saat tak bisa jalan."
Suaranya mulai bergetar.
"Keponakan-keponakan ini... termasuk Joko... mereka tak pernah datang. Tak pernah jenguk. Saat kakak saya sakit parah, mereka sibuk urus dagangan. Saat kakak saya meninggal, mereka sibuk piknik. Tak ada yang hadir di pemakaman. Sekarang, setelah beliau pergi, mereka datang rebut rumah?"
Ia menunjuk Joko. Jari keriputnya gemetar.
"KAU PUNYA MUKA, JOKO?"
Joko menjerit, "BOHONG! ITU SURAT PALSU! BIBIK DIA SUDAH TUA, PIKUN, TAK TAHU APA-APA!"
Mbah Tum menatapnya tajam. "Kau panggil aku bohong? Aku adik kandungnya. Tujuh tahun lebih muda. Aku tahu kakakku lebih dari siapa pun. Kau hanya keponakan yang tak pernah datang. DIAM!"
Ruangan hening. Hakim angkat palu. "Sidang diskors 15 menit. Majelis akan periksa surat ini."
Joko lunglai di kursinya.
Aku pegang tangan Pak Rahmat. Tanganku basah. Berkeringat. Berdoa.
---
CLIFFHANGER
Tiga hari kemudian.
Sidang lanjutan.
Ruang pengadilan penuh. Lebih penuh dari sebelumnya. Berita kedatangan Mbah Tum menyebar. Banyak yang datang lihat.
Hakim masuk. Wajahnya serius. Palu diketuk.
"Setelah memeriksa surat pernyataan almarhum Mbah Kar, saksi-saksi, dan ahli grafologi, majelis memutuskan..."
Aku pegang tangan Dewi. Tangannya dingin.
"Surat pernyataan tersebut ASLI. Ditandatangani almarhum dalam keadaan sadar dan waras."
Joko bangkit. "TIDAK! ITU TIDAK MUNGKIN!"
Hakim mengetuk palu keras. "TERTUTUP! Duduk!"
Joko diam. Wajahnya merah padam.
Hakim lanjutkan, "Dengan ini, majelis memutuskan: surat hibah yang diberikan almarhum Mbah Kar kepada keluarga Aryo adalah SAH. Rumah kontrakan tersebut tetap menjadi milik keluarga Aryo. Gugatan penggugat DITOLAK."
Palu diketuk. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Aku nangis.
Dewi nangis.
Di belakang, Mbah Tum tersenyum. Air mata di pipinya.
Aku berlari memeluknya. "Mbah... terima kasih... terima kasih..."
Mbah Tum usap kepalaku. "Sudah, Nak. Almarhum kakakku pasti senang di sana. Kau sudah rawat dia baik-baik. Ini balasannya."
Joko meninggalkan ruangan dengan muka kesal. Sebelum pergi, ia mendekatiku. Berbisik pelan. Tapi cukup membuat bulu kudukku berdiri.
"Kau menang di pengadilan, Pak. Tapi di luar sana, aku punya cara lain. Keluargamu... jangan harap bisa hidup tenang."
Ia pergi. Disusul preman-preman dan kerabatnya yang bubar seperti kecoa.
Aku diam membeku.
Mbah Tum lihat aku. "Ada apa, Nak?"
Aku geleng. "Nggak apa-apa, Mbah. Terima kasih."
Tapi dalam hati, aku takut.
---
Di rumah, kemenangan itu dirayakan sederhana.
Mie goreng. Telur dadar. Teh manis. Itu saja. Tapi Budi seneng. Ia tertawa, lari-lari kecil di ruang tamu.
"Pa! Rumah kita tetap! Rumah kita!"
Aku gendong dia. "Iya, Nak. Berkat doa Mbah Kar."
Budi lihat ke atas. "Mbah Kar, makasih ya! Budi sayang Mbah!"
Dewi tersenyum. Tapi matanya sayu. Lelah.
Risma di kursi, matanya ke kami semua. Tersenyum tipis. Senyum yang jarang muncul. Tapi malam itu ia tersenyum.
Aku duduk di sampingnya. Pegang tangannya.
"Kita menang, Nak. Rumah ini tetap milik kita."
Risma genggam tanganku. Pelan. Tapi berarti.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, kami tidur dengan tenang.
Atau kami kira tenang.
---
Jam 2 dini hari.
Semua tidur. Aku di kursi dekat jendela—sudah biasa jaga. Lampu teras menyala terang. Pagar terkunci.
Tiba-tiba, suara Risma.
Bukan panggil. Tapi suara napas cepat. Sesak.
Aku lari ke kamarnya. Risma terbangun. Matanya ke jendela. Tangannya menunjuk.
"Pa... Pa..."
Aku lihat ke jendela. Tak ada apa-apa.
Tapi kemudian, bayangan.
Hitam. Besar. Diam di pagar. Memandang ke dalam.
Aku ambil kayu. Lari ke luar.
"SIAPA DI SANA!"
Bayangan itu lari. Cepat. Menghilang di kegelapan.
Aku kejar sampai ujung gang. Tapi tak ada. Hanya gelap. Dan angin malam yang dingin.
Aku kembali ke rumah. Napas terengah-engah.
Di pagar, secarik kertas terselip. Kertas buram. Tulisannya pakai spidol hitam.
Satu kata:
"NIKMATI SISA WAKTUMU."
Tanganku gemetar.
Dari dalam, Risma menangis. Budi terbangun, ikut nangis. Dewi berlari ke kamar mereka.
Aku genggam kertas itu. Rasanya seperti kertas biasa. Tapi berat. Sangat berat.
Malam itu, rumah yang baru saja memenangkan pertempuran, justru terasa lebih menakutkan dari sebelumnya.
Perang sesungguhnya, baru akan dimulai.