Alya, wanita cantik yang sudah lelah dengan kisah kehidupannya, mencoba untuk membuka hatinya kembali untuk seorang pria yang dijodohkan oleh bos di kantornya. Ia berharap itu yang menjadi cinta terakhirnya. Namun, siapa sangka ternyata pria itu menyimpan sebuah masa lalu yang membuat Alya, kembali berpikir apakah ia harus hidup tanpa cinta untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon empat semanggi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya SAH
Teng,,,
teng,,,
teng,,,
Bunyi lonceng gereja, menandakan di mulainya ibadah.
seorang wanita cantik, tampak berjalan menuju altar, bersama seorang pria paruh baya yang menggandeng lengan wanita cantik itu.
didepan altar seorang pria tampan, dengan balutan tuxedo putih yang terus menunjukan senyum manisnya dengan mata berkaca-kaca, saat melihat kedatangan mempelainya.
air mata bahagia tak bisa dibendung lagi, banyak yang ikut terharu dengan prosesi pernikahan ini.
Akhirnya, pak Waldo menyerahkan puteri satu-satunya itu, pada pria yang ia percayai untuk menjaga anak perempuannya ini. walaupun belum menjadi ayah yang baik, pak Waldo berharap Raka akan menjaga dan menyayangi Alya dengan sepenuh hati.
Air mata Alya yang sedari tadi ditahannya, akhirnya jatuh juga saat ayahnya melepaskan tangannya dan menyerahkan pada Raka.
Raka, pria yang terlihat dingin, dan tegas itu juga tak dapat menahan air matanya dari awal, saat ia melihat Alya masuk bersama ayahnya, hingga tangan wanita itu akhirnya dapat ia genggam.
Ia tak menyangka, wanita yang sebelumnya asing baginya, kini akan menjadi bagian dalam hidupnya untuk selamanya.
Bu Rany, juga terus menitikkan air matanya. akhirnya putera satu-satunya kini sudah melepas masa lajangnya.
semua keluarga Raka hadir, ayahnya dan juga kakek dan neneknya yang rela datang jauh-jauh dari luar negeri untuk melihat langsung acara pernikahan cucu satu-satunya itu.
sedangkan keluarga Alya yang hadir hanya ayahnya saja. Alya tak mempermasalahkan hal itu, karena ia juga tak ingin ibu tirinya itu hadir di acara istimewanya. Alya juga tak begitu dekat dengan bu Melny, dan juga kedua puteri wanita itu, sehingga ia tak mempersoalkan ketidakhadiran mereka.
Sebelumnya, Alya sudah menanyakan pada ayahnya apakah tak masalah jika bu Melny tak ikut. Pak Waldo tak masalah dengan hal itu, karena bu Melny juga menolak hadir, dengan alasan sedang mengurus Clara yang sedang depresi berat. sedangkan Darla, anak pendiam itu tentunya tak akan hadir jika tanpa kakak dan ibunya.
pendeta yang memimpin jalannya ibadah, kemudian membacakan janji-janji pernikahan, kemudian ia meminta Alya dan juga Raka untuk mengucapkan janji pernikahan mereka.
"Dihadapan Tuhan dan jemaatnya, saya Raka Kingston, mengambil engkau Alya Wijaya menjadi isteri saya. Saya berjanji untuk mengasihi dan menghormati engkau, dalam keadaan sehat atau sakit, kaya atau miskin, dalam suka maupun duka dan akan tetap setia kepadamu, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan yang Kudus"
suara lantang Raka terdengar, saat mengucapkan janji pernikahannya pada Alya. Begitupun dengan Alya, setelah Raka mengucapkan janji pernikahannya ia juga mengucapkan janji pernikahannya untuk pria itu.
setelah janji keduanya diucapkan sang pendeta memberikan cincin untuk keduanya kenakan pada pasangan masing-masing sebagai tanda cinta mereka.
Raka mengecup lembut kening Alya, setelah memakaikan cincin itu pada jari manis Alya.
akhirnya, Alya dan Raka sah menjadi suami isteri. keduanya kemudian berbalik, dan mengangkat tangan kiri mereka ke arah jemaat.
Dave adalah orang yang paling heboh saat melihat Raka memamerkan cincin pernikahannya.
pria itu turut bahagia, karena pada akhirnya Raka bisa menemukan cinta sejatinya.
Dave tahu, walaupun tak terlalu menunjukan rasa cintanya pada Alya. Namun, dari tatapan pria itu pada Alya sudah membuat Dave tahu jika Raka benar-benar mencintai Alya.
Ia berharap, rumah tangga keduanya bisa langgeng hingga maut memisahkan sesuai janji pernikahan yang mereka ucapkan tadi.
^^
Acara resepsi dilakukan disalah satu hotel milik keluarga Kingston. berbeda dengan waktu pernikahan yang hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat. Acara resepsi dihadiri oleh cukup banyak tamu undangan.
kebanyakan tamu undangan yang hadir adalah partner bisnis bu Rany, dan suaminya. sedangkan Raka beberapa kenalan bisnisnya terlihat hadir. Berbeda dengan Alya, wanita itu hanya mengundang teman-teman yang satu divisi dengannya.
acara resepsi berlangsung sangat meriah. Raka dan Alya tak henti-henti mengucapkan terima kasih pada tamu undangan yang telah berkesempatan untuk hadir.
para undangan yang hadir juga tidak diijinkan membawa kado, sesuai dengan isi undangan. mereka hanya perlu hadir dan memberikan doa tulus pada kedua mempelai.
^^^
Raka dan Alya langsung menginap disalah satu kamar di hotel, yang telah disediakan.
keduanya sangat bersyukur, karena tak ada halangan dalam pernikahan maupun acara resepsi mereka, semua berjalan lancar sesuai dengan rencana.
Alya melepaskan gaun resepsinya di bantu oleh Raka. kedua insan itu tampak letih, sehingga setelah membersihkan diri, Alya langsung tertidur pulas.
awalnya, Alya sedikit gugup harus berbagi kasur dengan Raka yang sudah menjadi suaminya, karena itu Raka memilih menyibukkan dirinya, sehingga ia ikut tertidur setelah Alya tertidur.
...
Matahari pagi muncul disela-sela kain gorden, hingga menembus diranjang Alya. wanita cantik itu mengusap kedua matanya, saat cahaya hangat itu mengenai matanya.
"good morning" suara ringan Raka membuat Alya seketika membuka matanya.
"good morning," balas Alya dengan suara seraknya.
"ayo mandi, semua telah menunggu dibawah" ucap Raka, yang baru saja selesai mandi, dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"semua?" gumam Alya tak mengerti. Raka tak mendengar ucapan Alya, karena pria itu sedang berjalan ke arah balkon kamar.
Alya meraih handuk yang sudah disiapkan oleh Raka, dan langsung menuju ke kamar mandi.
wanita itu sedikit lama dikamar mandi, Alya juga mencuci rambutnya karena rambut wanita itu terasa begitu lepek akibat hair spray yang digunakan.
"ah,,aku lupa membawa kacamataku" ucap Alya. selama proses pernikahan dan resepsi, Alya menggunakan lensa kontak, sehingga kacamatanya ia tinggalkan di apartemen Raka.
"apa lensa kontaknya masih ada?" tanya Raka.
"entah,, sepertinya enggak" jawab Alya, sambil membuka tas kecilnya yang diberikan oleh Dave semalam.
"biar aku tanyakan pada Dave,," ucap Raka, lalu mengambil ponselnya dan siap menghubungi Dave.
"enggak perlu, Ka. aku masih bisa melihat" cegah Alya cepat. ia tak mau terus merepotkan Dave.
"kau yakin?" tanya Raka memastikan.
"yaps,,aku nggak buta Ka, hanya sedikit rabun" jawab Alya.
karena tak ada hair dryer, akhirnya Alya dan Raka turun ke lantai satu dengan rambut sedikit lembab. Raka yakin, ia akan di goda oleh keluarganya karena rambut mereka yang tampak basah itu.
"waah,,,wah,,selamat pagi pasangan baru,," suara bu Rany, menyambut kedatangan Alya dan Raka.
semua yang ada langsung menoleh ke arah Alya dan Raka. semuanya tampak tersenyum membuat Raka mengerti dengan isi pikiran mereka.
Alya sedikit terkejut karena hampir semua keluarga Raka ternyata ikut menginap di hotel itu. keterkejutan Alya semakin bertambah, saat melihat sosok ayahnya yang juga hadir di tengah-tengah keluarga Raka.
seketika Alya mengingat sosok ibunya, jika saja ibunya masih ada, keluarganya juga pasti akan bahagia seperti keluarga Raka.
"bagaimana tidur kalian,,nyenyak? kasurnya pas?" suara pak Max terdengar. pria itu mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum jahil.
Melihat itu membuat Raka memutar bola mata malas, ia tahu ayahnya itu sedang menggodanya.
Alya melihat ayahnya, yang tampak tersenyum lembut padanya. walau masih sedikit canggung Alya membalas senyuman ayahnya, entah mengapa ia merasa lega, jika ayahnya tak bersama bu Melny.
mungkin ia akan dikatakan egois, tapi itulah yang Alya inginkan. hidup berdua bersama ayahnya tanpa wanita itu bersama kedua anaknya.
setelah sarapan pagi bersama, dan mengobrol santai. akhirnya pak Waldo berpamitan untuk pulang. Raka telah menawarkan diri untuk mengantarnya namun ditolak oleh pria itu.
sebelum meninggalkan Alya ke kota Rebo, pak Waldo juga berpamitan secara khusus dengan Puterinya. Raka memberikan ruang untuk ayah dan anak itu melepas rindu mereka. apalagi pria itu juga tahu, jika isterinya sudah mulai membuka hatinya untuk ayahnya.
"jaga dirimu, ayah minta maaf telah menyakitimu" ucap Pak Waldo lemah.
"katanya, kau dan suamimu akan keluar negeri setelah ini. pesan ayah, jadilah isteri yang baik. pertahanankan rumah tangga kalian sesuai dengan janji suci yang sudah kalian ucapkan. apapun masalahnya, perpisahan bukan jalan keluarnya jangan lupa berdoa dan selalu mengucap syukur. maaf, karena ayah belum bisa menjadi ayah yang baik untukmu selama ini,,," ucap Pak Waldo tertahan, pria itu tak melanjutkan kata-katanya lagi, karena air matanya sudah tak bisa dibendung.
" aku udah maafin ayah. Aku juga minta maaf, karena sudah mengabaikan ayah selama ini. terima kasih banyak untuk semuanya, aku akan mengingat pesan ayah" ucap Alya.
ia maju selangkah, dan memeluk puterinya erat. pria paruh baya itu juga memberikan sebuah bungkusan kecil untuk Alya Alya menerima bungkusan itu, dan membalas pelukan ayahnya tak kalah erat
setelah itu, pak Waldo beralih ke Raka yang berdiri tak jauh dari mereka.
ia menepuk pundak pria itu dan mengatakan pesannya juga untuk Raka.
"tolong jagalah puteriku, ia sudah cukup terluka dan sakit hati oleh sikapku, karena itu ku mohon tolong jaga Alya dan jangan pernah sakiti hatinya. ia mungkin terlihat kuat di luar, namun hatinya begitu rapuh. sudah banyak beban yang ia pikul sejak kecil, karena itu ku harap kau bisa selalu sabar dengan sikapnya,,, " pak Waldo menarik nafas, kemudian melanjutkan ucapannya.
"aku juga meminta, jika ditengah jalannya pernikahan kalian dan kau merasa jenuh padanya. ku harap kau kembalikan dia padaku. walaupun aku tak cukup baik sebagai seorang ayah, tapi hanya aku yang ia punya selain kamu" pesan pak Waldo.
Raka menganggukan kepalanya mengerti.
"aku janji akan menjaga Alya dengan baik, dan aku pastikan aku nggak akan mengembalikan Alya pada ayah" janji Raka.
pak Waldo kemudian memeluk Raka, dan kemudian berpamitan pada pria itu.
pria paruh baya itu, akhirnya pergi dengan langkah yang begitu ringan, karena ia tahu puterinya telah mendapatkan pasangan hidup yang pas, yang bisa menjaganya dengan baik.
biar cepet koit tuhhhh marah-marah melulu 😤
lanjuuttttt 💪💪💪🤩🤩
semoga langgeng dan harmonis terus rumah tangga nya 👍👍🤗🤗🤗
gak tergoda yg lain, atau menyakiti hati Alya 👍👍🤗