Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 - Di Antara Jalan yang Terbuka
Nadira mendapatkan pijakan pertama yang benar-benar terasa.
"Kalau kamu keberatan dengan jam lapangan, bilang sekarang." Kata Sinta sambil menata berkas.
Nadira menutup buku catatannya. "Tidak. Aku justru lebih nyaman di lapangan."
"Banyak yang bilang begitu di awal." Sinta tersenyum tipis. "Tapi tidak semua bertahan."
Nadira mengangkat bahu. "Aku tidak sedang mengejar nyaman."
Mereka duduk di ruang rapat kecil lebih tepatnya bekas ruang kelas yang dialihfungsikan. Papan tulis masih penuh coretan lama.
Koordinator masuk membawa termos kopi.
"Ini bukan proyek besar." Katanya tanpa basa-basi. "Tapi kementerian mulai melirik data kita."
Nadira mendongak. "Melirik bagaimana?" Tanyanya.
"Belum kontrak. Baru undangan diskusi. Tapi kalau kamu mau ikut presentasi awal..."
"Aku mau." Potong Nadira cepat.
Sinta menoleh. "Kamu yakin? Biasanya untuk orang baru butuh waktu."
Nadira menarik napas pelan. "Aku sudah terlalu lama menunggu waktu yang sempurna."
Koordinator mengangguk pelan. "Baik. Tapi satu hal, kamu akan jadi wajah tim. Kalau ada serangan reputasi..."
"Aku sudah biasa." Kata Nadira, nadanya tenang.
Ruangan hening sejenak.
Koordinator tersenyum samar. "Baik. Kita coba."
Siang itu, Nadira duduk sendirian di kafe kecil dekat kantor. Bukan tempat hits karena mejanya goyang, kopinya biasa.
Dia membuka laptop, menyiapkan slide presentasi. Tangannya sempat berhenti.
"Aku tidak bersembunyi lagi." Gumamnya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Arvin.
[Kamu terlihat sibuk akhir-akhir ini.]
Nadira mengetik.
[Aku mulai berdiri lagi. Perlahan.]
Balasan Arvin datang cepat.
[Aku senang dengarnya. Tapi jangan lupa berhenti kalau lelah.]
Nadira tersenyum kecil.
[Aku lelah. Tapi ini lelah yang kupilih.]
Dia menutup ponsel dan kembali ke layar. Untuk pertama kalinya sejak lama, pekerjaannya bukan pelarian, tapi tujuan.
***
"Rak, kamu serius mau terus begini?" Bima, teman lamanya duduk di bangku bengkel, menatap Raka dengan alis berkerut.
"Begini bagaimana?" Tanya Raka sambil membersihkan tangannya.
"Kerja kasar. Gaji kecil. Padahal kamu bisa balik cepat."
Raka tidak menjawab.
Bima mencondongkan badan.
"Ada orang lama. Butuh kamu. Satu proyek. Bayarannya besar."
"Dengan syarat?" Tanya Raka.
Bima terdiam sejenak. "Nama kamu bersih. Tapi... ya, kamu tahu lah. Abu-abu dikit."
Raka tertawa pendek. "Abu-abu itu alasan lama."
"Rak." Bima mendesah, "hidup itu tidak ideal."
"Aku tahu." Jawab Raka pelan. "Makanya aku sedang belajar hidup tanpa topeng."
Bima menggeleng. "Kamu berubah."
"Iya."
"Karena Nadira?"
Raka berhenti bergerak. "Karena aku." Katanya akhirnya.
Malam hari, Raka duduk di kos, menatap layar ponsel. Tawaran Bima masih terbuka. Angka di rekeningnya membuat dadanya sesak.
"Cepat atau benar." Gumamnya.
Dia menelepon Pak Jaya. "Pak, kalau ada jalan pintas, tapi melanggar sedikit prinsip... apa itu tetap salah?"
Pak Jaya terdiam lama di seberang. "Kamu tanya karena kamu sudah tahu jawabannya." Kata Pak Jaya akhirnya.
Raka menutup mata. "Kalau aku menolak, hidupku akan lebih susah."
"Dan kalau kamu terima, hidupmu akan lebih kosong." Jawab Pak Jaya tenang.
Raka menghela napas panjang. "Aku takut menyesal."
"Kamu akan menyesal di dua jalan." Kata Pak Jaya. "Pilih yang membuat kamu masih bisa menatap cermin."
Telepon terputus.
Raka menatap ponsel lama... lalu mengirim pesan ke Bima.
[Maaf. Aku tidak ambil.]
Dia meletakkan ponsel. Dadanya ringan dan takut bersamaan.
***
Aluna di persimpangan kabur atau bertahan
"Kalau kamu mau ke luar negeri, kita bisa atur cepat." Kata pengacaranya pelan.
Aluna duduk tegak, tangan terlipat di pangkuan. "Cepat bagaimana?"
"Beasiswa lama kamu masih bisa diaktifkan. Secara teknis, sebelum proses lanjut."
Aluna menatap meja. "Dan kasus ini?"
"Tidak hilang." Jawab pengacara jujur. "Tapi kamu tidak hadir secara fisik."
Aluna tersenyum pahit. "Lari?"
"Bertahan juga tidak menjamin aman." Kata pengacara itu. "Media sudah menunggu."
Aluna terdiam lama. "Kalau aku kabur." Katanya pelan, "aku selamat."
"Secara hukum? Belum tentu. Secara mental? Itu pilihan kamu."
Aluna berdiri, berjalan ke jendela. Jalanan ramai. Orang-orang berjalan tanpa mengenalnya.
"Aku selalu hidup dari posisi aman." Katanya lirih. "Sekarang aman itu terasa... kosong."
Pengacara menunggu.
"Aku minta waktu." Kata Aluna akhirnya.
Malam itu, Aluna pulang ke rumah ibunya.
Ibunya sedang menyapu teras. "Kamu kelihatan capek." Kata ibunya.
"Aku selalu capek, Bu."
Ibunya tersenyum lelah. "Duduk."
Mereka duduk berdampingan.
"Kalau aku pergi." Kata Aluna tiba-tiba, "Ibu marah?"
Ibunya berhenti menyapu. "Pergi bagaimana?"
"Keluar negeri. Menghilang."
Ibunya menatapnya lama. "Kamu mau lari dari apa?"
Aluna tidak menjawab.
Ibunya menghela napas. "Kamu pintar. Tapi selama ini kamu tidak pernah benar-benar berani."
"Berani itu menyakitkan." Suara Aluna pecah.
"Iya." Jawab ibunya lembut. "Tapi lari juga."
Air mata jatuh.
"Aku takut sendirian."
Ibunya menggenggam tangan Aluna. "Kamu sudah sendirian sejak lama. Bedanya, sekarang kamu sadar."
***
Nadira menjadi panggung kecil, sebagai langkah yang besar.
Ruang diskusi kementerian tidak besar. Hanya sepuluh orang.
Nadira berdiri di depan layar. "Data kami tidak sempurna." Katanya jujur. "Tapi ini lapangan nyata."
Seseorang mengangkat tangan. "Nama Anda Nadira?"
"Iya."
"Bukankah Anda pernah terlibat kontroversi kampus?"
Ruangan hening.
Nadira mengangguk. "Iya. Dan saya bertanggung jawab atas kesalahan saya. Tapi data ini tidak salah."
Beberapa orang saling pandang.
"Lanjutkan." Kata seorang pejabat.
Nadira menekan slide berikutnya. Tangannya sedikit gemetar tapi suaranya stabil.
Setelah selesai, ruangan hening sejenak.
"Terima kasih." Kata pejabat itu. "Kami akan mempertimbangkan kerja sama."
Di luar ruangan, Sinta memeluk Nadira singkat. "Kamu gila." Katanya. "Tapi... bagus."
Nadira tertawa kecil. "Aku tidak menyembunyikan diri lagi."
***
Beberapa hari kemudian, bengkel sepi. Tidak ada proyek besar.
Pak Jaya duduk, menghitung. "Kita mungkin harus tutup seminggu." Katanya pelan.
Raka menelan ludah. "Bapak mau aku cari kerja tambahan?"
Pak Jaya mengangguk. "Kalau kamu mau."
Raka pulang dengan langkah berat. Di kos, ia melihat pesan lama dari Bima mengenai tawaran yang kini terasa seperti hantu.
Dia mematikan ponsel.
"Ini hidup yang kupilih." Katanya pada dirinya sendiri. "Aku harus tahan."
***
Pagi itu, Aluna kembali ke kantor pengacara.
"Keputusan?" Tanya sang pengacara.
Aluna menarik napas panjang. "Aku tidak pergi."
Pengacara mengangguk. "Konsekuensinya berat."
"Aku tahu."
"Nama kamu akan rusak."
Aluna tersenyum tipis. "Nama itu sudah tidak menyelamatkanku."
Kemudian dia menandatangani dokumen kehadiran sidang lanjutan. Saat keluar, wartawan sudah menunggu.
"Aluna! Apakah Anda mengakui kesalahan?"
Aluna berhenti. Menatap kamera. "Aku tidak kabur." Katanya jelas. "Aku akan bertanggung jawab."
Flash kamera menyala.
Tangannya gemetar tapi kakinya tidak melangkah mundur.
Di minggu yang sama...
Nadira mulai diakui bukan karena masa lalunya, tapi karena kerja nyatanya.
Raka menolak jalan pintas dan menerima hidup yang lebih sempit namun jujur.
Aluna memilih tinggal dan menghadapi runtuhnya citra demi kesempatan menjadi manusia utuh.
Tidak ada yang langsung bahagia. Tidak ada yang benar-benar aman. Tapi mereka tidak lagi lari dari diri sendiri. Dan itu meski sunyi adalah langkah paling berani.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍