Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konflik Antara Ipar
Vira menyibakkan gorden sutra yang berat, membiarkan cahaya matahari pagi membias masuk menembus kaca jendela yang bening. Seketika itu pula, seluruh kekacauan di kamar Chika terpampang nyata. Barang-barang berserakan tanpa aturan. Tempat tidur yang kusut, dinding yang penuh coretan spidol, hingga meja belajar yang lebih mirip tempat pembuangan sampah dengan sisa rautan pensil, tisu kotor, dan bungkus camilan yang berderet.
"Bu, biar saya saja yang bersihkan," suara lembut dari ambang pintu mengejutkan Vira.
"Bik, apa kamar Chika memang jarang dibersihkan?" tanya Vira sembari memunguti bungkus camilan yang berceceran di lantai.
Bi Ijah, asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama tiga tahun di sana, menghela napas panjang. "Boro-boro, Bu. Setiap saya mau masuk, Non Chika selalu mengunci pintu rapat-rapat. Baru kali ini saya bisa masuk ke sini," ucapnya sambil mulai menyapu dengan ragu.
"Lantas, selama ini siapa yang membersihkan?" Vira terheran-heran.
"Bapak. Biasanya hari Minggu saat Bapak di rumah. Non Chika tidak mau kamarnya disentuh orang lain selain Bapak," jawab Bi Ijah jujur.
Vira tertegun. Pantas saja ruangan ini seperti kapal pecah. "Mama Inneke tidak marah melihat ini?" selidik Vira, mengingat ibu mertuanya yang sangat perfeksionis.
"Mungkin sudah lelah menegur, Bu. Non Chika memang sulit diatur," ujar Bi Ijah terkekeh pelan.
Vira tersenyum tipis dan ikut membantu menyisir debu serta aroma apek yang pekat di ruangan itu. "Syukurlah sekarang ada Ibu yang mau mengurus Non Chika. Saya kasihan melihatnya ... dia sangat pendiam dan kaku," celetuk Bi Ijah lagi.
Vira hanya menyahut dengan senyuman. Ia sendiri belum yakin bisa menaklukkan hati putri sambungnya yang memiliki suasana hati yang mudah berubah itu.
Kesibukan mereka terhenti saat bel rumah berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, Bi Ijah melapor, "Bu, ada tamu bernama Pak Yusuf di bawah."
Vira mengerutkan dahi, namun segera turun untuk menemui tamu tersebut. Di ruang tengah, dua pria berkemeja rapi dengan rambut klimis menyambutnya dengan senyum profesional.
"Selamat siang, Bu Vira. Kami dari Aurelian Interiors. Bapak William menghubungi kami untuk menangani renovasi interior rumah ini," ucap salah satu dari mereka sambil menjabat tangan Vira.
Vira mengangguk paham dan mempersilakan mereka duduk. Salah satu desainer menyodorkan katalog tebal berisi berbagai referensi warna dan konsep ruangan. Di tengah asyiknya memilih, Anggi berlari kecil mendekatinya.
"Ma-ma ... Ma," panggil Anggi manja.
Vira menggendong balita itu ke pangkuannya. "Anggi suka warna apa?" tanya Vira lembut sambil menunjukkan palet warna.
Anggi menunjuk semua warna dengan antusias, membuat Vira tertawa kecil.
"Kalau semua dipilih, nanti jadi pelangi, Sayang."
"Nuansa pelangi sebenarnya bagus untuk kamar anak agar mereka tidak bosan, Bu," timpal sang desainer memberi saran.
Namun, suasana hangat itu hancur seketika saat derap langkah kaki yang angkuh mendekat. Tanpa salam, Monic masuk ke ruang tengah dengan wajah dingin.
"Ada apa ini?" tanya Monic ketus.
Vira berdecak dalam hati. Kakak iparnya ini datang tanpa kabar dan langsung memotong pembicaraan. "Aku mau mengganti cat rumah, Kak," jawab Vira singkat tanpa beralih dari katalognya.
"Siapa yang menyuruhmu?" Monic tiba-tiba merebut katalog itu dari tangan Vira.
Vira tersentak, ia mengangkat kepala dan menatap Monic tajam. "Aku sudah bicara dengan William, dan dia setuju," tegas Vira sembari merebut kembali katalog itu dengan gerakan kasar.
Monic mendengus, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Apa kau sudah meminta pendapat Mommy? Mommy setuju?"
Dua desainer di sana hanya bisa membeku, terjebak dalam ketegangan keluarga yang memanas.
"Kenapa harus tanya Mommy? Bukankah rumah ini milik—"
Plak!
Sebelum kalimat Vira tuntas, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Vira terhuyung, sementara Anggi yang ketakutan mulai menangis histeris. Suster segera berlari mendekat, mengambil alih Anggi dan membawanya menjauh dari keributan tersebut.
Dua desainer itu panik. Mereka segera berpamitan dengan terburu-buru, meminta Vira menghubungi mereka kembali nanti.
Vira, dengan pipi yang memerah dan panas, mengantar mereka sampai pintu dengan senyum getir yang dipaksakan.
Saat kembali ke dalam, Monic sudah duduk di sofa dengan wajah kemenangan sembari menekan ponselnya. Ia menghubungi Inneke dan langsung mengadu dengan pengeras suara agar Vira mendengar.
"Mom, Vira mau mengubah interior rumah tanpa izin!" adu Monic cepat.
"Apa-apaan kau, Vira?! Kau sudah tidak waras?" pekik suara Inneke dari seberang telepon. "Jangan sampai kau menyentuh apa pun di rumah itu! Mengerti?!"
Sambungan terputus setelah kecaman itu terlontar. Monic tersenyum sinis. "Lain kali, tanya dulu pada pemiliknya. Jangan tidak tahu diri!"
Vira meremas tangannya kuat-kuat. Amarahnya mencapai puncak. Ia melangkah mendekati meja, meraih gelas berisi sisa jus jeruk milik tamu tadi, lalu tanpa peringatan menyiramkannya tepat ke wajah Monic.
"Sialan!" jerit Monic histeris, melonjak berdiri dengan cairan lengket menyelimuti wajah dan pakaian mahalnya.
Vira menyeringai dingin, matanya berkilat merah. "Lain kali kalau mau bertamu, izin dulu pada pemilik rumah. Keluar dari sini!" balasnya dengan nada ketus.
Tanpa menoleh lagi, Vira menaiki tangga dengan napas memburu dan dada yang terasa sesak. Ia masuk ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat, dan membiarkan air mata amarahnya jatuh.
Dengan jemari gemetar, ia meraih ponselnya, mengirimkan pesan penuh kecaman kepada suaminya sebagai satu-satunya pelampiasan rasa kecewanya yang mendalam.
"VIRAAA!" suara tinggi Monic menggelegar hingga mampu terdengar di kamarnya.
Vira tetap bergeming, ia tak menjawab ataupun membuka pintu kamarnya.
.
.
Setelah hampir empat jam mengurung diri di dalam kamar, jeritan histeris Monic tak lagi terdengar memekakkan telinga. Suasana rumah mulai berangsur tenang. Vira meraih kunci mobil di atas nakas, hendak menjemput Chika sekolah.
Ia mengembuskan napas panjang sebelum memutar kenop pintu, sejenak berharap kakak iparnya itu sudah pergi.
Saat menuruni tangga, kesunyian yang menyambut di ruang tengah memberikan rasa lega.
"Bi, si nenek lampir sudah pergi?" tanya Vira pada Bi Ijah yang tengah sibuk merapikan sisa-sisa kekacauan di ruang tamu.
"Nenek lampir?" Bi Ijah menyipitkan mata, dahinya berkerut tampak berpikir keras mencari tahu siapa yang dimaksud majikannya.
"Monic, Bi. Siapa lagi?" cetus Vira tanpa basa-basi.
"Oh, Non Monic sudah pulang dari tadi, Bu. Mungkin capek teriak-teriak terus," tukas Bi Ijah sembari terkekeh pelan.
"Benar-benar orang tidak waras. Ya sudah Bi, saya mau menjemput Chika dulu," pamit Vira seraya melangkah cepat menuju garasi.
Namun, baru saja ia hendak menghidupkan mesin mobil, suara klakson yang nyaring dari depan gerbang menghentikan gerakannya. Vira mematikan mesin, matanya menyipit melihat sebuah BMW silver perlahan meluncur memasuki halaman rumah begitu gerbang terbuka otomatis.
Hati Vira mencelos saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut. Chika, putri sulungnya, disusul oleh wanita yang beberapa jam lalu baru saja berseteru dengannya.
Monic terlihat sudah berganti pakaian. Dress pink yang basah kuyup tadi telah berganti dengan setelan blus satin berwarna merah.
Rupanya, kakak iparnya itu sengaja menjemput putri sulungnya untuk melancarkan serangan balasan.
"Lihat Mama tirimu! Benar-benar tidak becus mengurusmu!" tuding Monic dengan suara lantang tepat saat Vira mendekat ke arah mereka.
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭