Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Dialog di Balik Zirah Akar
Angin malam di puncak Malabar mendadak berhenti berhembus, seolah alam semesta sendiri lagi nahan napas ngelihat pemandangan di depan mata Sekar. Raksasa setinggi sepuluh meter itu masih berlutut.
Badannya yang kekar bukan terbuat dari pelat baja dingin kayak teknologi The Harvester, tapi jalinan akar pohon teh purba yang warnanya gelap metalik, diperkuat sama urat-urat perak yang bersinar lembut tiap kali dia "bernapas".
Sekar berdiri mematung. Jantungnya berdegup kencang, antara takut, bingung, tapi ada rasa rindu yang luar biasa nyesek di dadanya. Suara tadi... suara yang keluar dari speaker internal raksasa itu... itu bener-bener suara Adrian. Bukan suara rekaman kaku, tapi punya intonasi, punya "jiwa" yang Sekar kenal banget.
"Adrian?" bisik Sekar. Suaranya gemeteran. "Lu beneran di dalem situ? Atau lu cuma... robot yang diprogram pake suara dia?"
Raksasa akar itu sedikit nundukin kepalanya. Gerakannya halus banget, nggak kaku kayak mesin. Mata biru terangnya meredup sebentar, terus nyala lagi dengan pendar yang lebih hangat.
"Sekar... ini gua. Tapi gua nggak 'di dalem' sini secara fisik,"suara itu bergema lagi, kerasa vibrasinya sampai ke tanah tempat Sekar berpijak. "Raga gua yang asli masih tertahan di titik singularitas portal tadi. Zirah ini... ini adalah 'Avatar Organik' yang gua rakit dari sana pake sisa-sisa energi emas yang gua lempar balik ke bumi. Gua butuh wadah buat tetep bisa jagain lu, jagain Malabar."
Aris, yang dari tadi cuma melongo sambil megang obeng raksasanya, pelan-pelan ngedeket. Dia ngetuk-ngetuk bagian kaki raksasa itu yang terbuat dari jalinan akar keras. "Gila... ini mah mahakarya bioteknologi, Kar. Adrian, lu denger gua? Lu bisa ngerasain kalau gua getok kaki lu?"
"Gua ngerasa, Ris. Tapi rasanya kayak lu lagi ngetuk sepatu gua. Gua nggak ngerasain sakit, cuma sensor tekanan aja,"jawab raksasa itu. Mata birunya beralih ke Aris. "Makasih udah jagain Sekar, Ris. Dan makasih udah nggak meledak pas portal tadi kebuka."
Aris nyengir lebar. "Hampir aja, Bos. Hampir aja gua jadi kembang api dimensi. Jadi, lu sekarang jadi Transformer versi kearifan lokal Malabar nih?"
Sekar nggak ikut bercanda. Dia jalan makin deket, sampai dia berdiri tepat di depan "wajah" raksasa itu. Dia ngulurin tangannya, nyentuh bagian pipi raksasa yang teksturnya mirip kayu jati yang sangat halus tapi sekeras berlian.
"Kalau ini beneran lu, Adrian... kasih tahu gua sesuatu yang cuma kita berdua yang tahu. Sesuatu yang nggak ada di memori chip mana pun," tantang Sekar. Matanya natap tajam ke arah sensor mata biru itu.
Raksasa itu diem sebentar. Suara dengungan energinya kedengeran rendah, kayak suara kucing yang lagi purring.
"Pas malem terakhir kita di gubuk sebelum tsunami perak itu... lu bilang lu sebenernya nggak suka teh melati. Lu bilang itu baunya kayak parfum nenek-nenek, tapi lu tetep minum karena lu kasihan liat gua yang udah capek-capek nyeduhin. Dan lu bilang... kalau suatu saat dunia ini normal lagi, lu mau gua masakin mie instan pake telur setengah mateng di pinggir tebing."
Sekar langsung nutup mulutnya pake tangan. Air matanya netes. Itu beneran Adrian. Detail kecil soal mie instan itu nggak mungkin ada di data The Harvester atau memori Dirgantara Group. Itu cuma obrolan receh mereka pas lagi neduh.
"Adrian..." Sekar nyandarin kepalanya ke logam akar itu. "Gua kangen banget, Bre. Lu jahat banget maen ninggalin gitu aja."
"Gua nggak pernah ninggalin lu, Kar. Gua cuma pindah frekuensi,"raksasa itu ngangkat tangannya yang gede banget, pelan-pelan dia nyentuh bahu Sekar pake ujung jarinya yang ukurannya segede kepala manusia.
Sentuhannya sangat ringan, penuh kehati-hatian. "Gua pake tabung kristal dan memori chip yang gua kasih tadi buat jadi jangkar. Selama benda itu ada di tangan lu, kesadaran gua di dimensi sana tetep punya jalur komunikasi ke zirah ini."
Malam itu, mereka nggak langsung balik ke desa. Mereka bertahan di puncak gunung, duduk di sekeliling api unggun kecil yang dibuat Aris. Raksasa akar itu duduk bersila di belakang mereka, jadi tameng raksasa yang nahan angin kencang gunung Malabar. Pemandangannya bener-bener surreal: dua manusia dan satu raksasa bioteknologi lagi "nongkrong" di bawah sinar bintang.
Adrian mulai cerita banyak hal. Dia cerita gimana rasanya ada di dimensi sana. Katanya, di sana nggak ada waktu. Semuanya cuma aliran data dan energi. Dia harus terus bertarung secara mental supaya kesadarannya nggak kesedot sama sistem pusat The Harvester.
"Jadi lu di sana lagi perang?" tanya Sekar cemas.
"Nggak perang fisik, Kar. Lebih ke perang 'kehendak'. Mereka mau hapus identitas gua, dan gua lagi nyoba buat ngebajak server mereka satu per satu dari dalem. Zirah ini... zirah yang lu liat sekarang, ini adalah 'kemenangan' kecil gua. Gua berhasil manifestasiin diri gua balik ke dimensi kalian,"jelas Adrian.
Adrian yang sekarang kerasa jauh lebih tangguh. Suaranya nggak ada lagi keraguan. Dia bukan lagi CEO yang bingung sama jati dirinya. Dia sekarang adalah pejuang lintas dimensi yang bener-bener tahu apa yang dia pertaruhin.
"Terus tabung kristal sama chip ini buat apa, Dri?" Aris nanya sambil muter-muter chip itu di tangannya.
"Chip itu isinya adalah denah 'Pintu Belakang' sistem mereka. Gua nemuin itu di sela-sela memori kolektif alien. Dan tetes cairan emas di tabung itu... itu adalah DNA murni raga asli gua yang mereka simpan di dalem inti. Kalau kita bisa gabungin DNA itu sama teknologi di Malabar, kita bisa ngebangun raga manusia baru buat gua. Raga yang bener-bener manusia, tanpa ada campur tangan sirkuit perak."
Mata Sekar berbinar. "Jadi lu bisa balik jadi manusia lagi? Bisa makan mie instan bareng gua lagi?"
"Secara teori, iya. Tapi prosesnya nggak gampang. Kita butuh 'Inkubator Organik' yang energinya murni banget. Dan cuma ada satu tempat yang punya energi semurni itu: Kawah Putih di bawah akar purba Malabar."
Aris manggut-manggut. "Berarti misi kita sekarang adalah jadi dokter Frankenstein versi baik ya? Oke, gua suka tantangan ini. Tapi Adrian, lu harus tahu satu hal. Sejak portal itu meledak, Malabar nggak lagi sama. Ada banyak 'penyusup' yang mulai dateng ke desa."
"Penyusup? Maksud lu apa, Ris?"suara raksasa Adrian berubah jadi berat, tanah di sekitarnya sedikit bergetar.
"Orang-orang dari luar, Dri. Mereka pake jas rapi, bawa koper-koper canggih. Mereka ngakunya dari badan dunia buat 'pemulihan pasca-bencana', tapi gua liat mereka bawa alat detektor energi perak. Mereka nyari lu, atau nyari sisa teknologi yang lu tinggalin."
Sekar nambahin, "Dan ada satu orang yang paling aneh. Dia selalu pake masker hitam, nggak pernah ngomong, tapi dia sering berdiri di perbatasan kebun teh tiap sore. Dia nggak kelihatan kayak manusia biasa. Gerakannya... terlalu sinkron, kayak lu pas dulu masih jadi 'The Shark'."
Raksasa akar itu diem cukup lama. Sensor matanya berubah warna jadi ungu tua, tanda dia lagi mikir keras atau lagi ngakses data jarak jauh.
"Mereka adalah 'The Remnants', sisa-sisa pengikut bokap gua yang nggak mau ngelepasin ambisi mereka. Mereka pikir mereka bisa ngendaliin teknologi Malabar tanpa gua. Lu berdua harus hati-hati. Jangan tunjukin zirah ini ke mereka dulu."
"Lu bisa nyamar nggak, Bos?" tanya Aris. "Gede banget masalahnya kalau lu jalan-jalan di desa pake rupa begini. Bisa dikira serangan monster film Jepang."
"Gua bisa masuk ke mode 'Dormant'. Gua bakal berubah jadi pohon teh biasa, tapi ukurannya tetep gede. Lu tinggal bilang aja itu monumen peringatan bencana atau apa lah,"jawab Adrian.
Besok paginya, rencana dimulai. Dengan kekuatan raksasanya, Adrian ngebantu Sekar dan Aris buat ngerapihin sisa-sisa laboratorium yang hancur. Dia ngangkat beton-beton raksasa kayak ngangkat kerupuk. Dia juga ngebantu Sekar nanem kembali area-area teh yang rusak pake energi yang dialirin lewat ujung-ujung akarnya.
Dalam beberapa jam, area puncak Malabar yang tadinya kayak medan perang berubah jadi taman yang sangat indah dan asri. Adrian kemudian milih satu tempat di deket air terjun emas, terus dia mulai melipet badannya. Akar-akarnya merambat ke tanah, daun-daun emas mulai tumbuh dari pundaknya.
Dalam sekejap, raksasa itu hilang, ganti jadi sebuah pohon teh raksasa yang bentuknya unik, mirip sosok manusia yang lagi duduk bermeditasi. Cantik banget, tapi orang nggak bakal nyangka kalau itu adalah mesin perang dimensi yang sangat kuat.
"Gila, kalau dijual ke kolektor tanaman hias, ini harganya triliunan nih," canda Aris sambil ngelap keringat.
"Jangan macem-macem ya, Ris," Sekar nyikut Aris pelan. Dia ngerasa tenang sekarang. Meski Adrian belum balik jadi manusia, tapi kehadirannya berasa banget di Malabar.
Tapi ketenangan itu nggak berlangsung lama.
Pas mereka lagi jalan turun nuju ke desa, mereka ngelihat ada iring-iringan mobil hitam mewah yang parkir di depan gerbang utama kebun teh. Beberapa orang pake setelan jas anti-radiasi keluar dari mobil, bawa senjata laras panjang yang bentuknya asing banget.
Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya yang perawakannya sangat rapi. Dia ngelepas kacamata hitamnya, terus natap ke arah puncak gunung dengan senyum yang dingin.
"Arahkan detektornya ke sana. Saya ngerasain ada getaran frekuensi 'Emas' yang sangat kuat baru saja muncul," ucap pria itu.
Sekar dan Aris sembunyi di balik semak-semak. "Itu... itu bukannya Pak Wijaya? Mantan wakil bokap lu di Dirgantara Group?" bisik Aris.
"Iya, itu dia. Dia orang yang paling ambisius setelah bokap gua meninggal. Apa yang dia lakuin di sini?"
Tiba-tiba, salah satu detektor di tangan anak buah Pak Wijaya bunyi kenceng banget. Mereka semua langsung nengok ke arah posisi Sekar dan Aris sembunyi.
"Ada tikus kecil di sana. Amankan mereka. Saya yakin mereka tahu di mana 'Pewaris' itu nyembunyiin hartanya," perintah Pak Wijaya dingin.
Sekar dan Aris nggak punya pilihan. Mereka lari balik ke arah hutan. Tapi mereka nggak lari ke arah pohon raksasa Adrian. Mereka lari ke arah yang berlawanan supaya rahasia Adrian nggak ketahuan.
"Aris, bawa chip-nya! Gua bawa tabungnya! Kita pisah di depan!" teriak Sekar.
Tapi pas mereka mau mencar, tiba-tiba tanah di depan mereka meledak. Bukan karena bom, tapi karena ada sesuatu yang meluncur dari langit dengan kecepatan tinggi.
Sesosok pria pake masker hitam yang tadi diceritain Sekar mendarat tepat di antara mereka dan pasukan Pak Wijaya. Pria itu nggak bawa senjata. Dia cuma berdiri tegak, tapi dari punggungnya keluar kabel-kabel perak yang langsung nancep ke tanah.
"Siapa lu?!" teriak salah satu anak buah Pak Wijaya sambil nembak.
Pria bermasker itu nggak ngehindar. Dia cuma ngangkat satu tangannya, dan peluru-peluru itu berhenti di udara, seolah-olah nabrak tembok transparan. Pria itu nengok sedikit ke arah Sekar. Matanya... matanya berwarna emas, persis kayak mata Adrian.
"Pergi ke Kawah Putih sekarang. Biar raga ini yang urus mereka,"suara itu keluar dari mulut pria bermasker tersebut. Suaranya kaku, kayak suara robot, tapi pesannya jelas.
"Adrian?" Sekar bingung. Kok ada dua Adrian? Yang di pohon itu siapa, yang di depan ini siapa?
Pria bermasker itu nggak jawab. Dia langsung nerjang pasukan Pak Wijaya dengan kecepatan yang nggak masuk akal. Setiap pukulannya ngeluarin percikan listrik yang bikin alat-alat canggih mereka korslet.
"Kar, ayo lari! Ini kesempatan kita!" Aris narik tangan Sekar.
Mereka lari sekuat tenaga nuju ke Kawah Putih. Tapi di tengah jalan, Sekar ngerasa ada yang aneh sama Jantung Emas yang dia bawa di tasnya. Jantung itu bergetar hebat, panas banget, dan mulai ngeluarin suara detak jantung yang makin kenceng... tapi detakannya nggak sinkron sama pohon raksasa di puncak.
Detakannya malah sinkron sama langkah kaki pria bermasker itu.
Siapakah sosok pria bermasker emas tersebut yang memiliki kekuatan menyerupai Adrian? Jika Adrian asli masih tertahan di titik singularitas, siapakah yang mengendalikan raga baru yang muncul secara tiba-tiba ini?
Dan mengapa Jantung Emas yang dibawa Sekar justru bereaksi lebih kuat terhadap pria misterius itu dibandingkan terhadap Avatar Akar di puncak gunung? Apakah Pak Wijaya sebenarnya bekerja sama dengan faksi lain dari The Harvester yang jauh lebih berbahaya?
semangat update terus tor..