Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Jodoh Kok Dicari Rame-Rame
Keesokan hari ....
Pagi di rumah Pak Wijaya datang bersama cahaya lembut yang menyelinap dari sela-sela tirai. Udara masih dingin, bau tanah basah sisa hujan semalam bercampur dengan aroma teh hangat dari dapur.
Krisna sudah bangun sejak subuh.
Ia berdiri di depan cermin kamar, mengancingkan kemeja abu-abu mudanya dengan gerakan rapi dan kaku. Rambutnya disisir ke belakang, wajahnya kembali ke mode profesional—tenang, dingin, nyaris tanpa cela. Seolah kejadian kemarin hanyalah gangguan kecil yang tidak layak menggores citranya.
Di ranjang kecil dekat jendela, baby Ezio tertidur telentang, tangan mungilnya terangkat ke atas, bibirnya sedikit mengerucut.
Krisna menoleh sekilas.
Ada perasaan asing setiap kali ia melihat anak itu. Campuran tanggung jawab, takut, dan rasa bersalah yang tidak punya nama. Ia mendekat, membetulkan selimut Ezio dengan ujung jarinya—gerakan yang canggung tapi hati-hati.
Tak lama, ibunya masuk sambil membawa segelas susu hangat.
“Kris ... kamu jadi lihat lokasi klinik hari ini?” tanya ibunya pelan.
“Iya, Bu, jadi. Sama Ayah,” jawab Krisna singkat.
Ibunya menaruh gelas di meja, lalu melirik Noval. “Terus Ezio sama siapa?”
Krisna menarik napas sebentar. “Itu yang mau aku bicarakan. Aku kepikiran … mungkin kita perlu pengasuh tetap. Aku nggak bisa bolak-balik ngurus Ezio kalau klinik sudah jalan.”
Ibunya tersenyum tipis, lalu mengibaskan tangan seolah itu perkara kecil. “Iya, iya. Ibu carikan. Nanti Ibu tanya-tanya tetangga. Banyak kok yang butuh pekerjaan. Nanti tinggal kamu wawancara aja."
Ia melangkah ke dekat ranjang, mengangkat Ezio dengan cekatan. Bayi itu langsung menggeliat kecil, mengeluarkan suara protes pelan.
“Lagi pula,” lanjut ibunya sambil mengayun cucunya, “Ibu ini masih kuat. Ngurus cucu sendiri juga bisa.”
Krisna menatap ibunya, ada kerut halus di antara alisnya. “Paham, tapi angan terlalu capek, Bu. Ibu juga harus menjaga kesehatannya.”
Ibunya tertawa kecil. “Capek itu kalau nganggur. Ini mah bahagia kalau ngurus cucu.”
Krisna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu mengambil map berisi sketsa kasar dan catatan rencana klinik. Ketika keluar kamar, Pak Wijaya sudah menunggu di ruang tengah, mengenakan kemeja putih dan peci hitam.
“Kamu udah siap berangkat?” tanya Pak Wijaya.
“Siap, Yah. Kita jalan sekarang.”
Mereka berdua keluar rumah, mobil melaju pelan menyusuri jalan desa yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.
Di waktu yang hampir bersamaan, di rumah kecil tak jauh dari sawah, Raisa sudah berdiri di depan cermin buram, mengikat rambut panjangnya dengan karet hitam. Ia mengenakan kaus sederhana dan celana kain, membawa tas belanja kain yang warnanya sudah pudar.
“Mak, aku ke pasar sayur dulu,” katanya sambil menyambar dompet kecil.
Bu Rika yang sedang menyapu halaman menoleh. “Jangan lupa beli tempe. Sama cabe rawit dan bawang putih.”
Raisa mengangguk. “Iya, Mak.”
Ia mengayuh sepedanya menuju pasar kecil dekat rumah—tempat yang tak pernah sepi gosip, terutama di pagi hari.
Pasar itu sederhana: deretan lapak kayu, terpal biru, bau sayur segar bercampur aroma ikan asin dan tanah basah. Suara tawar-menawar bercampur tawa dan teriakan khas emak-emak.
Raisa memarkir sepedanya, langsung menuju lapak langganan. Baru saja ia mengambil kangkung, telinganya sudah menangkap potongan percakapan yang membuatnya refleks melirik.
“Eh, kamu sudah lihat belum anaknya Pak Kades pulang?” suara seorang emak-emak dengan jilbab ungu terdengar heboh.
“Iyaaa! Dokter itu, kan?” sahut yang lain, matanya berbinar. “Tampan banget katanya.”
“Katanya duda lho,” tambah yang lain sambil terkekeh. “Masih muda pula.”
Raisa mendengus pelan, fokus memilih tomat. Tapi suara mereka terlalu keras untuk diabaikan.
“Anak saya tuh dari kemarin nggak berhenti dandan,” kata emak berjilbab ungu. “Katanya mau bantu-bantu ke rumah Pak Kades, siapa tahu ketemu dokternya.”
“Ya Allah, sama dong,” sahut yang lain. “Anak saya juga. Pagi-pagi nanya, ‘Bu, lipstik merah cocok nggak?’”
Mereka tertawa cekikikan, seolah sedang membicarakan artis, bukan manusia sungguhan.
Raisa mencibir dalam hati. Duda kok dikejar sih. Emangnya pada nggak ada kerjaan.
Tangannya menimbang tempe dengan agak kasar. Ia menahan diri agar tidak ikut nimbrung, tapi ekspresinya sudah cukup menunjukkan apa yang ia pikirkan.
“Raisa,” sapa Bu Sumi, pedagang sayur langganannya. “Kamu dengar nggak? Anak Pak Kades sekarang tinggal di sini.”
Raisa mengangkat bahu. “Dengar sih.”
“Katanya dokter. Duda lagi,” Bu Sumi berbisik, nadanya penuh makna.
“Iya, terus?” Raisa menatap lurus.
Bu Sumi terkekeh canggung. “Ya … siapa tahu jodoh. Kali aja kamu pengen ikutan kayak yang lain.”
Raisa hampir tertawa. “Jodoh kok dicari rame-rame, Bu.”
Beberapa emak-emak menoleh ke arah Raisa, ekspresi mereka berubah—antara tersinggung dan penasaran.
“Kamu mah masih muda, Raisa. Belum ngerti,” kata emak berjilbab ungu.
Raisa menoleh, tatapannya tajam tapi malas. “Ngerti apa, Bu? Ngerti ngejar duda karena dia dokter sama anaknya Kades?”
Suasana langsung sedikit canggung.
“Eh, Raisa ini ngomongnya,” gumam seseorang.
Raisa mengambil belanjaannya, memasukkan ke tas. “Saya cuma heran. Kalau laki-laki itu jodoh, ya datang sendiri. Kalau nggak, ya udah. Nggak usah heboh kayak rebutan sembako.”
Beberapa emak-emak tersinggung, yang lain justru terkekeh tertahan.
Raisa beranjak pergi tanpa menunggu reaksi lebih jauh. Ia mengayuh sepedanya keluar pasar, angin pagi menyentuh wajahnya.
Dalam benaknya, bayangan pria dingin dengan tatapan tajam itu muncul lagi—dr. Krisna Wijaya. Anak Pak Kades. Dokter duda.
Raisa mendecih.
“Songong. Arogan. Sok paling benar,” gumamnya.
Ia sama sekali tidak sadar—atau mungkin tidak mau sadar—bahwa di saat yang hampir bersamaan, mobil hitam itu melaju pelan melewati jalan lain di desa.
Krisna duduk di kursi penumpang, menatap bangunan tua bekas balai pengobatan desa yang akan disulap menjadi klinik. Pak Wijaya menjelaskan panjang lebar, menunjuk sana-sini.
“Lokasinya strategis. Dekat pasar. Orang banyak lewat di sini,” kata Pak Wijaya.
Krisna mengangguk, matanya menyapu sekitar. Dekat pasar.
Entah kenapa, kata itu membuat wajah seseorang terlintas di kepalanya—rambut panjang, pipi cubby, mata menyala penuh perlawanan.
Ia mengerutkan kening, seolah kesal pada dirinya sendiri.
“Masalah parkir bisa diatur,” lanjut Pak Wijaya.
“Iya,” jawab Krisna pendek.
Ia tidak mengatakan bahwa pikirannya sedang tidak sepenuhnya di sini.
Di kejauhan, suara pasar terdengar samar. Suara emak-emak. Suara desa yang riuh. Suara kehidupan yang tidak pernah berhenti meski hati seseorang sedang runtuh.
Dan tanpa disadari oleh keduanya—dokter duda yang dingin dan gadis barbar yang keras—jalur hidup mereka perlahan mulai mengarah ke satu titik yang sama.
Pasar.
Klinik.
Dan desa kecil yang terlalu sempit untuk menghindari satu sama lain.
Bersambung ... 💔
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊