NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 Teduh

Allah tidak selalu menenangkan badai, tetapi Dia menenangkan hati yang berada di tengahnya.

—Aldivano Athariz—

Malam itu turun pelan, seperti selimut hitam yang disibakkan perlahan oleh tangan tak terlihat. Lampu-lampu kota berpendar di kejauhan, berkelip seperti kunang-kunang yang tersesat di antara gedung-gedung tinggi. Dari balkon apartemennya, Celine memandang langit yang nyaris tanpa bintang—kosong, luas, dan terasa dingin… persis seperti hatinya.

Angin malam menyentuh pipinya, lembut namun menusuk, seperti tangan seseorang yang ragu antara ingin menghibur atau justru menyadarkan. Kerudung yang kini selalu menutupi kepalanya berkibar kecil, seperti bendera putih tanda menyerah—bukan pada dunia, tetapi pada dirinya sendiri yang dulu.

Sejak ia memutuskan berhijab, hidupnya terasa berubah dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Bukan hanya soal pakaian. Bukan sekadar kain yang menutup rambut. Ada sesuatu yang lain… sesuatu yang lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih menuntut.

Ia merasa seperti sedang berdiri di ambang pintu yang memisahkan dua dunia.

Dunia lama yang riuh, bebas, penuh cahaya semu.

Dan dunia baru yang tenang… namun juga penuh ujian.

Celine merapatkan kedua lengannya di dada, seolah memeluk dirinya sendiri. Dingin malam merayap masuk seperti air yang menyusup melalui retakan kecil.

“Aku capek…” bisiknya pelan, hampir tenggelam oleh suara angin.

Pintu balkon terbuka perlahan.

Aldivano keluar, membawa dua cangkir minuman hangat. Aroma cokelat panas langsung mengisi udara, lembut seperti pelukan yang tak terlihat.

"Mas tahu kamu belum tidur,” ucapnya pelan.

Celine menoleh. Senyumnya tipis, seperti bulan sabit yang malu-malu muncul di antara awan.

“Makasih.”

Ia menerima cangkir itu. Hangatnya langsung merambat ke telapak tangannya, seperti aliran cahaya kecil yang mencoba menghidupkan kembali sesuatu yang hampir padam.

Mereka berdiri berdampingan dalam diam.

Diam yang tidak canggung… tetapi juga tidak sepenuhnya tenang.

Seperti laut sebelum badai.

“Mas…” suara Celine pelan, ragu, seperti anak kecil yang takut dimarahi.

“Hm?”

“Apa aku… berubah terlalu cepat?”

Aldivano tidak langsung menjawab. Ia menatap langit sejenak, seolah mencari kata yang tepat di antara kegelapan.

“Kamu berubah… karena kamu mau,” katanya akhirnya. “Bukan karena dipaksa.”

Celine menggigit bibirnya.

“Tapi rasanya berat. Kadang aku rindu jadi aku yang dulu… yang nggak mikir banyak, nggak takut salah, nggak takut dosa.”

Suara terakhirnya hampir pecah.

“Sekarang aku kayak… selalu diawasi. Sama Allah. Sama diri sendiri. Sama rasa bersalah.”

Ia tertawa kecil, pahit.

“Lucu ya… dulu aku jauh dari Allah tapi tenang. Sekarang aku dekat, malah sering nangis.”

Aldivano menoleh padanya. Tatapannya lembut, seperti air yang tidak pernah memaksa batu untuk berubah bentuk—hanya mengalir, sabar, sampai batu itu sendiri yang melembut.

“Itu bukan lucu,” katanya pelan.

“Itu tanda hati kamu hidup.”

Celine terdiam.

“Orang yang hatinya mati nggak akan merasa bersalah,” lanjutnya. “Nggak akan takut kehilangan Allah.”

Angin kembali berembus, lebih kencang kali ini. Kerudung Celine terangkat sedikit lalu jatuh kembali, seperti sayap burung yang lelah terbang terlalu jauh.

“Aku juga takut,” Aldivano tiba-tiba berkata.

Celine menoleh cepat. “Kamu?”

Ia mengangguk.

“Takut kalau aku nggak bisa jadi imam yang baik buat kamu. Takut kalau aku gagal jagain kamu. Takut kalau aku yang justru bikin kamu menjauh dari Allah.”

Nada suaranya rendah, hampir seperti pengakuan yang selama ini disimpan rapat.

Celine menatapnya lama.

Selama ini ia selalu melihat Aldivano sebagai sosok kuat—tenang, kokoh, seperti pohon tua yang akarnya mencengkeram tanah begitu dalam hingga mustahil tumbang. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik keteguhan itu… ada juga rasa takut.

“Mas nggak pernah kelihatan takut,” bisiknya.

Aldivano tersenyum kecil.

“Karena imam nggak boleh kelihatan goyah,” katanya. “Tapi bukan berarti dia nggak pernah gemetar.”

Kalimat itu jatuh di hati Celine seperti hujan pertama setelah kemarau panjang—pelan, lembut, tapi menghidupkan sesuatu yang hampir mati.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku takut… kalau Allah nggak nerima aku,” ucapnya akhirnya, suara bergetar. “Aku punya masa lalu yang… kotor.”

Air mata jatuh, satu, lalu satu lagi. Seperti embun yang tak sanggup lagi bertahan di ujung daun.

Aldivano tidak langsung menyentuhnya. Ia hanya berdiri lebih dekat, cukup untuk membuat Celine merasa tidak sendirian.

“Kalau Allah nggak nerima kamu,” katanya pelan, “kamu nggak akan sampai di titik ini.”

Celine menahan napas.

“Orang yang ditinggalkan Allah nggak akan rindu sama-Nya.”

Tangis Celine pecah.

Bukan tangis histeris. Bukan tangis keras.

Tangisnya lirih… seperti hujan malam yang turun diam-diam tetapi membasahi segalanya.

“Aku cuma pengen… jadi baik,” katanya terbata.

Aldivano akhirnya mengangkat tangan, ragu sejenak, lalu mengusap puncak kepalanya dengan sangat lembut—hampir seperti menyentuh sesuatu yang rapuh.

“Kamu sudah baik,” bisiknya.

“Kamu cuma belum sadar.”

Celine menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Dada yang selama ini terasa sesak mendadak longgar, seperti jendela yang akhirnya dibuka setelah ruangan terlalu lama tertutup.

Langit di atas mereka tetap gelap. Tidak ada bintang. Tidak ada bulan.

Namun entah kenapa… malam itu tidak lagi terasa menakutkan.

Seperti seseorang yang berjalan di hutan gelap tetapi kini menggenggam tangan orang yang ia percaya.

Setelah tangisnya mereda, Celine menurunkan tangannya. Matanya sembap, hidungnya merah, tetapi ada sesuatu yang berbeda di sana.

Tenang.

Seperti danau setelah badai berhenti.

“Mas…” panggilnya pelan.

“Ya?”

“Terima kasih… sudah nggak pernah nyerah sama aku.”

Ia tersenyum—senyum kecil, tetapi tulus. Senyum yang lahir dari tempat paling dalam, bukan dari kebiasaan.

Aldivano balas tersenyum.

“Mas nggak lagi ngejar kamu,” katanya.

“Aku cuma jalan bareng kamu.”

Celine menatapnya lama.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi… ia merasa benar-benar pulang.

Bukan ke tempat.

Bukan ke masa lalu.

Tetapi ke versi dirinya yang selama ini tersembunyi di balik luka, ketakutan, dan kesombongan.

Angin malam kembali berembus, kali ini terasa hangat.

Seperti doa yang dikabulkan tanpa suara.

Celine memejamkan mata sejenak.

Di dalam hatinya, sesuatu tumbuh—pelan, sunyi, tetapi pasti. Seperti benih yang akhirnya menemukan tanah yang tepat untuk berakar.

Dan ia tahu…

Perjalanan ini belum selesai.

Ujian masih akan datang.

Luka mungkin akan terbuka lagi.

Namun sekarang ia tidak takut.

Karena ia tidak berjalan sendirian.

Dan lebih dari itu—ia tahu, Allah tidak pernah meninggalkannya.

Malam semakin larut.

Lampu-lampu kota masih berkelip, tetapi kini tidak lagi terasa seperti kunang-kunang yang tersesat. Mereka tampak seperti penjaga kecil yang setia, memastikan bahwa bahkan dalam gelap… cahaya tetap ada.

Celine menggenggam cangkirnya lebih erat.

Hangatnya masih tersisa.

Seperti harapan.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!