Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Black Mamba Im Back
Setelah Derren mengatakan balapan, seluruh markas langsung heboh.
" Serius Lo nantang Queen balapan?" tanya wanita cantik yang bernama Febby.
Dia menoleh menatap Derren dengan tatapan ragu. Dia tahu bagaimana Derren di arena. Namun, Febby juga sangat tahu bagaimana Ara jika sedang balapan.
" Gue serius Febby, jangan hanya karena dia Queen lo jadi tutup mata seperti ini," jawab Derren.
" Gila kalau begitu, ini bakalan seru," kata angggota yang lain.
" Iya. Sudah lama gue nggak lihat Queen balapan," jawabnya sembari tersenyum.
Sedangkan Rafaell dia tidak ikut menimpali percakapan mereka semua. Dia tahu bagaimana Ara saat di Arena. Rafaell hanya takut Ara masih kurang Fit apalagi dia baru saja keluar dari rumah sakit.
" Ra Lo yakin?" tanya Rafaell dengan penuh kekhawatiran.
" Tentu saja, gue itu Queen Rafaell, gue harus membuktikannya," jawab Ara dengan santai.
Rafaell terdiam. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di antara Derren dan Ara nanti. Apalagi balapan Black Mamba itu bukan balapan biasa. Lintasannya melewati jalur gunung yang berbahaya bahkan tak jarang banyak orang yang celaka di sana.
" Gue harap lo bisa lebih hati-hati Queen," kata Rafaell penuh dengan kekhawatiran.
Ara menatap Rafaell sejenak lalu mengangguk pelan.
Derren melihat situasi yang mulai tidak kondusif langsung saja menatap Ara dengan mata penuh tantangan.
" Bagaimana Queen, lo siap?" tanya Derren.
" Cuma Balapan? tanya Ara
Dia menatap Derren dengan datar.
" Gue kira lo punya tantangan lebih menarik," lanjutnya sembari menaikan satu alisnya sambil tersenyum sinis.
Derren menaikan alisnya. Dia juga tidak bodoh seperti apa yang di katakan Ara.
" Tentu saja ada, Queen," jawab Deren.
Dia menyeringai tipis sebelum melanjutkan ucapannya.
" Kalau gue menang, lo harus keluar dari Black Mamba," lanjutnya dengan nada penuh percaya diri.
Ara menaikkan sebelah alisnya.
Dia ingin tahu sampai sejauh mana Deren berani bersikap sombong seperti ini.
" Kalau gue menang?" tanya Ara.
Deren menatapnya lurus.
" Gue akan tunduk dan patuh sama lo," jawabnya.
Ara tersenyum tipis.
" Deal," katanya sembari bangkit dari duduknya.
Dia berjalan pergi meninggalkan Rafaell dan semua orang yang berada di sana.Namun sebelum benar-benar pergi, Ara menghentikan langkahnya.
Dia menoleh sedikit ke arah Deren.
" Gue tunggu jam sebelas malam," kata Ara.
Setelah mengatakan itu, Ara langsung pergi meninggalkan markas Black Mamba.
" Ara, tungguin gue!" teriak Rafaell.
Dia segera bangkit dari duduknya lalu berjalan hampir berlari untuk mengejar Ara.
Beberapa detik kemudian dia sudah berada di samping Ara.
" Ck, lama banget sih lo," kata Ara kesal.
Rafaell menghela napas sambil menatap Ara.
" Ya maaf, gue kan masih syok, Ra," jawabnya.
Ara memutar bola matanya dengan malas.Hanya karena satu tantangan saja Rafaell sudah terlihat seperti itu.
" Rafaell… lebay lo," ucap Ara datar.
Saat mereka keluar dari markas, Rafaell mulai terlihat serius. Dia mengingatkan Ara tentang lintasan balapan Black Mamba.
"Ra, lo masih ingat lintasannya kan?" tanya Rafaell dengan perasaan was-was.
Dia takut terjadi sesuatu pada Ara. Apalagi Ara saat ini belum benar-benar sembuh.
"Entahlah, gue lupa-lupa ingat," jawab Ara dengan sedikit ragu.
Namun dia masih terlihat santai seperti biasa. Bahkan Rafaell tidak melihat sedikit pun rasa takut di wajah Ara.
"Kalau begitu ayo kita ke lokasi sekarang," ajak Rafaell pada Ara.
Awalnya Ara ingin pulang. Namun setelah mendengar ucapan Rafaell, dia terdiam sejenak memikirkan perkataan itu.
"Sepertinya itu tidak buruk. Sekalian gue ingin tahu alur jalannya," gumam Ara dalam hati.
"Ayo, tapi kita ke garasi dulu sekarang," kata Ara.
"Oke," jawab Rafaell singkat.
Ara dan Rafaell berjalan menuju garasi markas yang berada di bagian belakang. Tempat itu cukup luas, dipenuhi deretan motor besar milik anggota Black Mamba.
Lampu neon yang menggantung di langit-langit menyala redup, membuat suasana garasi terasa sedikit dingin dan sunyi.Langkah Ara perlahan melambat saat mereka masuk ke dalam.Matanya menyapu setiap sudut ruangan, melewati beberapa motor yang berjejer rapi di sana. Sebagian besar motor itu terlihat gagah dengan berbagai modifikasi.
Rafaell berjalan sedikit di depan, lalu berhenti di salah satu sudut garasi.
Di sana, sebuah motor sport berwarna hitam doff terparkir sendirian. Bentuknya terlihat lebih agresif dibandingkan motor lain.
Di bagian tangkinya terdapat simbol ular Black Mamba yang terlihat mencolok.Ara terdiam.
Tatapannya langsung tertuju pada motor itu.
Entah kenapa, dadanya terasa sedikit berdebar.Seolah-olah ada sesuatu yang menariknya untuk mendekat.Tanpa sadar Ara melangkah pelan ke arah motor tersebut.
"Ini motor lo, Ra," kata Rafaell pelan.
Ara berhenti tepat di samping motor itu.Tangannya perlahan menyentuh bagian tangki yang dingin.Dalam sekejap, beberapa bayangan samar melintas di kepalanya.
Suara raungan mesin.Lampu jalan yang berkelebat.Angin malam yang menerpa wajahnya saat motor melaju dengan kecepatan tinggi.
Sorakan orang-orang di pinggir jalan.Ara sedikit mengernyit sambil memegang kepalanya.
"Ra?" panggil Rafaell khawatir.
Ara menarik napas pelan lalu menggeleng.
"Gue nggak apa-apa," katanya singkat.
Dia kembali menatap motor hitam itu.Ada perasaan aneh yang sulit dia jelaskan.Seolah-olah motor ini sudah sangat familiar baginya.
Ara lalu menyeringai tipis.
"Motor gue ternyata keren juga," katanya santai.
Rafaell menghela napas kecil melihat sikap Ara yang masih bisa bercanda.
"Itu bukan motor biasa, Ra," kata Rafaell.
Ara menoleh sedikit.
"Motor itu yang selalu lo pakai setiap balapan. Semua orang di Black Mamba tahu motor itu milik Queen."
Ara terdiam sejenak mendengar itu.Dia kembali menatap motor tersebut dengan pandangan yang berbeda.
Beberapa detik kemudian Ara mengambil helm yang tergantung di stang motor.
"Kalau begitu, kita langsung ke lintasan," katanya.
Rafaell menaikkan alisnya.
"Sekarang?"
Ara sudah duduk di atas motor sambil menyalakan mesin.Suara mesin langsung menggema di dalam garasi.
Ara menoleh ke arah Rafaell sambil tersenyum tipis.
"Tenang aja. Gue cuma mau lihat lintasannya."
Rafaell hanya bisa menghela napas pasrah.
"Kadang gue lupa kalau lo ini emang gila, Queen."
Ara hanya tertawa kecil sebelum menarik gas motornya.
Mesin meraung keras memenuhi garasi.
" Black Mamba... I'm Back,"