Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Dengan kekuatan tubuhnya yang luar biasa, dia bisa membersihkan area seluas sekitar tiga kali lipat ukuran kebun Sayuran utamanya dalam waktu kurang dari satu jam. Dia menggali tanah dengan hati-hati menggunakan cangkulnya, membuat alur-alur tanam yang lebih dalam dan lebih rapi dibandingkan kebun Sayur. Sekitar lima belas sentimeter kedalaman dan tiga puluh sentimeter jarak antar alur, karena sebagian besar tumbuhan obat memiliki akar yang lebih dalam dan membutuhkan lebih banyak ruang untuk tumbuh dengan baik.
Setelah tanah siap, dia mulai membangun pagar kecil untuk melindungi kebun tumbuhan obat tersebut dari hewan liar seperti rusa atau kelinci yang mungkin ingin memakan tanaman obat tersebut. Dia menggunakan batang bambu yang kuat dan tinggi sekitar satu setengah meter untuk menjadi tiang pagar, memasangnya ke dalam tanah dengan kedalaman sekitar lima puluh sentimeter agar kokoh dan tidak mudah roboh. Kemudian dia membuat anyaman bambu yang rapat di antara tiang-tiang tersebut menggunakan serpihan bambu yang lebih fleksibel, memastikan bahwa tidak ada celah yang cukup besar untuk membiarkan hewan kecil masuk ke dalam kebun.
Untuk membuat sistem penyiraman yang sederhana, dia mengambil beberapa batang bambu dengan diameter yang berbeda, menghilangkan bagian dalamnya menggunakan tusuk kayu yang diasah tajam hingga menjadi pipa yang halus. Dia menyambungkan batang bambu tersebut satu sama lain menggunakan akar pohon yang dipanaskan hingga lentur, membuat jalur penyiraman yang menghubungkan danau dengan kebun obat. Dia membuat lubang-lubang kecil di bagian bawah pipa bambu tepat di atas setiap alur tanam, sehingga air akan mengalir secara merata ke seluruh tanaman tanpa perlu dia menyiramnya secara manual setiap hari. Dia mengujikan sistem penyiraman tersebut dengan membuka aliran air dari danau, air mengalir dengan lancar melalui pipa bambu dan keluar melalui lubang-lubang kecil dengan takaran yang pas untuk setiap tanaman.
"Di kehidupan sebelumnya, aku bisa membuat sistem irigasi yang jauh lebih canggih dengan menggunakan energi spiritual untuk mengendalikan aliran air," pikirnya sambil memeriksa sambungan pipa bambu yang sudah dia pasang dengan hati-hati, memastikan bahwa tidak ada kebocoran air yang tidak perlu. "Tapi membuat sistem seperti ini dengan tangan sendiri memberikan kepuasan yang luar biasa. Setiap bagian yang aku pasang dengan susah payah adalah bukti bahwa aku bisa hidup mandiri dan mengelola sumber daya yang ada di sekitar ku dengan baik."
Setelah semua persiapan tanah dan struktur pendukung selesai, Xue Xiao mulai menanam tumbuhan obat yang dia kumpulkan dari lembah. Dia mulai dengan menanam akar kuning keemasan yang sangat berharga terlebih dahulu, menaruhnya di bagian paling dalam kebun yang paling terlindungi dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Dia menanamnya dengan jarak sekitar lima puluh sentimeter antar tanaman agar memiliki cukup ruang untuk tumbuh dan berkembang biak. Kemudian dia melanjutkan dengan menanam tanaman dengan daun hati berwarna hijau tua di bagian depan kebun yang lebih dekat dengan gubuk, tanaman dengan bunga ungu muda di bagian sisi kanan kebun yang mendapatkan naungan sebagian dari pepohonan besar, dan tanaman dengan daun tombak di bagian sisi kiri kebun yang lebih dekat dengan sumber air.
Dia juga menanam jamur putih keemasan di sekitar pangkal batang pohon kecil yang dia pindahkan ke dalam kebun tumbuhan obat, karena jamur tersebut membutuhkan lingkungan yang lembap dan teduh untuk tumbuh dengan baik. Untuk tanaman dengan buah oranye kecil dan akar putih muda, dia menanamnya di bagian luar kebun yang lebih banyak mendapatkan sinar matahari langsung. Setelah semua tumbuhan obat tertanam dengan rapi, dia membuka aliran air dari sistem penyiraman untuk menyiraminya secara menyeluruh, memastikan bahwa tanah menjadi lembap dengan baik dan membantu akar tumbuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka.
Setelah selesai dengan kebun tumbuhan obat, Xue Xiao memutuskan untuk menjelajah area sekitar danau yang belum pernah dia eksplorasi dengan tujuan mencari binatang baru yang bisa dia jinakkan dan pelihara. Dia tahu bahwa selain ayam dan kelinci, dia juga bisa memelihara jenis binatang lain yang bisa memberikan manfaat tambahan seperti telur lebih banyak, bulu yang bisa digunakan untuk membuat alas tidur yang lebih nyaman, atau bahkan binatang yang bisa membantu dia dalam pekerjaan sehari-hari seperti membawa barang-barang atau menjaga keamanan gubuknya.
Dia berjalan dengan hati-hati di sepanjang tepi danau yang berkelok-kelok, mengamati setiap gerakan yang ada di sekitarnya.
Kwek... Kwek!!
Setelah berjalan sekitar setengah jam, dia mendengar suara yang khas dari area dengan banyak rerumputan tinggi dan semak-semak yang tumbuh di tepi danau yang lebih dalam. Dia menyembunyikan diri di balik batang pohon besar dan mengamati dengan seksama. Tidak jauh di depannya, ada sekelompok bebek hutan dengan bulu berwarna coklat kehitaman dengan belang putih di bagian leher. Mereka tampak sedang mencari makan di sekitar air dan mencari tempat untuk bertelur di antara rerumputan tinggi.
Ada sekitar lima belas ekor bebek dalam kelompok tersebut, dengan beberapa jantan yang memiliki warna bulu yang lebih cerah dan sedikit panjang di bagian kepala. Xue Xiao mengamati pola gerakan mereka dengan cermat selama beberapa menit, mencatat bahwa mereka lebih waspada dibandingkan ayam hutan dan lebih cepat bereaksi terhadap gerakan atau suara yang tidak dikenal. Dia memutuskan untuk menggunakan cara yang lebih lembut dan sabar untuk menjinakkan mereka, karena dia tidak ingin menyakiti atau membuat mereka takut akan kehadirannya.
Dia mulai dengan menyebarkan biji-bijian liar dan dedaunan segar yang dia bawa dari kebunnya di area dekat semak-semak tempat bebek-bebek tersebut tinggal. Dia tidak mendekati mereka secara langsung, melainkan pergi kembali ke gubuk dan datang lagi beberapa jam kemudian untuk melihat apakah bebek-bebek tersebut sudah makan makanan yang dia sediakan. Pada kunjungan kedua dia menemukan bahwa sebagian makanan sudah hilang dan ada jejak kaki bebek yang jelas di sekitar area tersebut. Dia terus melakukan hal yang sama selama tiga hari berturut-turut, menyebarkan makanan di area yang sama dan kemudian pergi tanpa mendekati mereka. Hingga akhirnya bebek-bebek tersebut mulai merasa lebih nyaman dengan kehadirannya dan tidak langsung terbang pergi saat dia datang.
Pada hari keempat, saat dia sedang menyebarkan makanan, salah satu bebek betina yang lebih jinak mendekatinya dengan hati-hati sambil terus mengawasi gerakannya. Xue Xiao berdiri diam dengan tenang, tidak membuat gerakan yang tiba-tiba yang bisa membuat bebek-bebek tersebut terbang ketakutan. Setelah beberapa menit, bebek tersebut akhirnya berani untuk mengambil makanan dari telapak tangannya yang terbuka lebar dan tenang. Sejak saat itu, hubungan antara Xue Xiao dan kelompok bebek hutan tersebut menjadi semakin dekat, dan akhirnya dia bisa menangkap beberapa bebek betina yang sudah cukup jinak untuk dipelihara di kandang yang dia buat khusus untuk mereka.