NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Cerai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.

Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.

Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balas Budi

Keesokan paginya, di ruang privat paling mewah di Colosseum.

“Tuan Rinaldi, terima kasih sudah melindungi saya. Ini canscora yang Anda minta. Silakan diperiksa.”

Maureen meletakkan sebuah kotak kayu berukir di atas meja, lalu mendorongnya ke depan Hans.

“Hm?”

Hans membuka kotak itu. Di dalamnya tergeletak tanaman canscora berwarna merah darah.

Bentuknya melengkung seperti taring naga. Penampilannya unik dan mencolok. Saat ia mendekatkan hidungnya, aroma khas yang tajam langsung tercium.

“Ini benar-benar canscora. Terima kasih, Nona Wiraningrat.”

Wajah Hans tampak cerah. Selama bertahun-tahun ia mencari berbagai tanaman langka. Akhirnya, ia menemukan satu lagi.

Masih tersisa lima jenis. Jika kelimanya berhasil dikumpulkan, harapan itu akan terbuka.

“Tidak perlu berterima kasih. Anda pantas mendapatkannya. Justru saya yang seharusnya berterima kasih,” ujar Maureen sambil tersenyum.

“Nona Wiraningrat, aku ingin meminta satu hal. Jika nanti kamu menemukan tanaman langka seperti ini lagi, tolong segera hubungi aku. Aku bersedia membayar berapa pun,” kata Hans serius.

“Tentu saja bisa. Tapi saya penasaran, untuk apa Anda mengumpulkan semua tanaman ini?” tanya Maureen hati-hati.

“Untuk menyelamatkan seseorang.”

Hans terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Ada temanku yang terluka parah. Aku butuh tanaman-tanaman ini untuk menyembuhkannya.”

“Oh? Penyakit apa yang dideritanya sampai Anda pun tidak bisa menyembuhkannya?” Maureen tampak terkejut.

Ia sudah melihat sendiri kemampuan medis Hans. Tak berlebihan jika dikatakan ia seolah mampu menghidupkan orang yang sekarat.

“Kemampuan saja tidak cukup. Aku tetap butuh bahan yang tepat,” jawab Hans sambil menggeleng.

Sehebat apa pun keahliannya, tanpa ramuan yang sesuai, banyak penyakit tak akan bisa diatasi.

“Saya mengerti.” Maureen mengangguk pelan. “Baiklah, saya akan membantu mencarinya. Jika ada kabar, saya langsung menghubungi Anda.”

“Terima kasih sebelumnya, Nona Wiraningrat.” Hans mengangguk tipis.

“Tidak masalah. Kita tetap berhubungan.” Maureen mengedipkan mata ringan.

“Tentu.”

Hans tidak berlama-lama. Setelah berbincang singkat, ia pamit dan pergi.

Dua puluh menit kemudian, di depan Peaceful Medical Center.

Sambil membawa dua botol arak, Hans melangkah santai masuk ke dalam.

“Hei, pemabuk, lihat aku bawa apa!” serunya sambil menyapu pandangan ke sekitar.

Ia mengikuti suara dengkuran keras, hingga akhirnya menemukan seorang pria berwajah merah tergeletak di bawah meja.

Pria itu bermata satu dan salah satu kakinya cacat. Penampilannya acak-acakan seperti gelandangan.

“Hei, bangun!”

Hans mendorongnya.

Pria itu tak menggubris, hanya membalikkan badan dan melanjutkan tidur. Dengkurannya malah makin keras.

“Nyenyak banget tidurnya.”

Hans tersenyum tipis, lalu membuka salah satu botol arak. Aroma alkohol langsung menyebar memenuhi ruangan.

Detik berikutnya, pria yang tertidur itu langsung tersentak bangun. Kepalanya terbentur meja hingga meja itu terbelah dua.

Tanpa peduli serpihan kayu di lantai, ia langsung merebut botol dari tangan Hans dan menenggaknya.

“Wah, ini baru enak!” desah pria bermata satu itu lega.

“Arak itu mahal banget. Jangan kamu habisin sekarang,” tegur Hans.

“Ah sudahlah.” Pria itu memutar bola matanya. “Kamu orang kaya. Dua botol arak mah kecil buat kamu.”

“Biar gitu, jangan dibuang-buang.”

“Udah, jangan cerewet. Ngapain kamu ke sini?” pria bermata satu itu menatapnya tajam.

“Aku nemu satu tanaman langka lagi.”

Hans menyerahkan kotak berisi canscora itu kepadanya.

“Hm?”

Pria bermata satu itu membuka kotak tersebut dan langsung mengernyit.

“Bocah sialan. Aku udah bilang jangan cari-cari tanaman lagi buat aku. Toh aku juga bakal mati. Mati sekarang atau nanti sama aja.”

“Itu urusan kamu. Aku tetap bakal cari. Gak ada hubungannya sama kamu,” jawab Hans santai sambil mengangkat bahu.

“Hei! Kenapa kamu keras kepala banget?”

Pria itu mulai gelisah. “Kamu tahu gak keluarga Rinaldi menguasai hampir semua bahan utama pembuat obat? Kalau kamu terus nyari tanaman langka, cepat atau lambat mereka bakal tahu!”

“Terus kenapa? Aku bukan orang yang sama kayak sepuluh tahun lalu,” balas Hans tenang.

“Bocah, aku tahu kemampuan kamu sekarang jauh lebih hebat dari dulu. Tapi keluarga Rinaldi itu gak terkalahkan. Gak ada yang bisa lawan mereka. Aku gak mau kamu terseret lagi!” ucapnya dengan nada berat.

“Hidup udah ada jalannya. Sepuluh tahun aku bersembunyi, dan aku capek. Aku gak mau sembunyi lagi. Aku mau hidup dengan kepala tegak,” kata Hans tegas.

“Kalau kamu pilih jalan itu, bakal banyak rintangan. Mama kamu dulu pingin kamu hidup tenang, jadi orang biasa.”

“Mama aku udah gak ada. Dia gak bakal balik lagi. Sekarang kamu satu-satunya keluarga aku. Masa aku harus diam lihat kamu mati?” suara Hans meninggi.

“Hidupku gak ada harganya. Gak penting!”

“Kalau gitu aku mati bareng kamu!”

“Aduh! Kenapa sih kamu keras kepala banget? Kalau gak mikirin diri sendiri, mikirin istri cantik kamu tuh! Kamu mau dia jadi janda?” Pria bermata satu itu akhirnya mengeluarkan kartu terakhirnya.

Sejak tiga tahun lalu ia sudah melihat ambisi Hans mulai tumbuh lagi. Karena itu, ia sengaja mencarikan wanita cantik untuk dinikahi Hans supaya pria itu menetap dan berhenti gegabah. Cara ini selalu ampuh setiap kali mereka berdebat.

“Percuma. Kita udah cerai,” jawab Hans sambil menggeleng.

“Apa? Cerai?” Pria itu tertegun.

Habis sudah alasan yang bisa ia pakai untuk menahan Hans.

Tanpa ikatan apa pun, Hans pasti akan bertindak tanpa ragu.

“Aku udah putuskan. Kamu setuju atau nggak, aku tetap jalan. kamu tahu sifat aku,” ucap Hans mantap.

“Terserah kamu.” Pria bermata satu itu melambaikan tangan pasrah. “Paling banter aku kehilangan satu kaki lagi sama jadi buta total.”

“Kamu gak bakal buta. Aku pastiin kamu tetap hidup.” Hans mengepalkan tangan pelan, matanya penuh tekad.

Sepuluh tahun lalu, pria bermata satu itu yang melindunginya.

Sekarang, giliran Hans yang harus melindunginya.

...────୨ৎ────...

...Hi....

...Mohon bantuannya untuk beri LIKE di setiap bab yang kalian baca ya, teman-teman....

...Terima kasih....

...────୨ৎ────...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!