Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.
Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.
Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Turnamen Murid Dalam
Hari turnamen pun akhirnya tiba.
Arena dipenuhi penonton, tidak hanya para murid akademi, tapi juga tamu dari kota kota terdekat, bahkan beberapa utusan dari klan-klan kecil di wilayah ini.
Lin Feng seperti pelayan lainnya bertugas melayani tamu di tribun khusus. Ia membawa nampan berisi teh dan cemilan, menunduk sopan setiap kali menyajikan dan tidak menarik perhatian.
Tapi matanya memperhatikan segalanya.
Arena berbentuk lingkaran besar dengan diameter 50 meter, dibatasi oleh formasi penghalang yang mencegah serangan menyebar ke penonton.
Di tribun utama, para Tetua akademi duduk dengan tenang termasuk Tetua Shen, kepala murid dalam yang bertanggung jawab atas turnamen ini.
Tetua Shen adalah kultivator di Ranah Formasi Inti, salah satu yang terkuat di akademi. Rambut putihnya diikat rapi, dan jubah birunya melambai tertiup angin.
"Murid-murid dari Akademi Pedang Awan Biru," suara Tetua Shen bergema menggunakan Qi, memastikan semua orang mendengarkannya.
"Hari ini, kalian akan membuktikan diri. Bukan untuk hadiah dan juga bukan untuk kebanggaan, tapi untuk menunjukkan apakah kalian layak menyandang nama di akademi ini!"
Sorak-sorai bergema dari tribun penonton.
"Aturannya sederhana." lanjut Tetua Shen. "Pertarungan satu lawan satu. Kalah jika menyerah, jatuh di luar arena, atau tidak sadarkan diri. Membunuh dilarang keras, dan apabila itu terjadi, maka orang yang melanggarnya akan dieksekusi."
"Sekarang... mari kita mulai!"
Anggota turnamen sudah ditentukan sejak minggu lalu. 64 murid dalam, akan bertarung dalam sistem eliminasi. Pemenang dari setiap pertarungan naik ke babak selanjutnya, sampai hanya tersisa satu juara.
Pertarungan pertama pun dimulai.
Dua murid dalam yang berada di Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Lima naik ke arena. Mereka membungkuk pada Tetua juri, lalu saling berhadapan.
"Mulai!"
Wush...
Keduanya langsung menyerang. Pedang Qi bersinar dan teknik kultivasi dilepaskan, qi saling bertabrakan dengan ledakan kecil, bahkan para penonton bersorak setiap kali ada benturan terjadi.
Lin Feng menonton dengan perhatian penuh dan menganalisis setiap gerakan. Itu teknik pedang dasar tiga gerakan. Itu formasi kaki awan lima langkah.
Pertarungan berakhir dalam lima menit. Salah satu murid dalam terjatuh di luar arena mengakui kekalahan.
Pertarungan demi pertarungan berlanjut, ada yang cepat dan ada juga yang lambat. Beberapa ada yang menarik, dan ada juga yang membosankan. Lin Feng menonton semuanya, menyerap informasi, dan belajar dari kesalahan dan keberhasilan para peserta.
Lalu pertarungan keenam dimulai.
"Zhao Ming melawan Liu Chen!"
Lin Feng akhirnya menegakkan punggungnya. Zhao Ming orang yang selalu mengganggunya, sekarang naik ke arena dengan percaya diri. Lawannya, Liu Chen adalah murid dalam yang berada di Lapisan keempat yang kelihatan gugup.
Zhao Ming dengan Qi petir lapisan ketiganya menghancurkan Liu Chen dalam waktu kurang dari dua menit. Serangan petir-nya sangat cepat dan brutal, tidak memberi Liu Chen kesempatan untuk menyerang balik.
Saat Liu Chen terjatuh dengan tubuh penuh luka bakar ringan, Zhao Ming tersenyum puas. Ia melirik ke arah tribun dan pandangannya bertemu dengan Lin Feng.
Senyum itu melebar seperti predator yang menemukan mangsanya. Lin Feng tidak bereaksi. Ia hanya melanjutkan menuangkan teh untuk tamu, tapi di dalam hatinya ia merasakan sesuatu yang gelap menggeliat.
'Suatu hari, kamu akan menyesal pernah merendahkanku.'
Pertarungan berlanjut sepanjang hari.
Saat matahari mulai condong ke arah barat, babak pertama selesai. 32 murid dalam, lolos ke babak kedua yang akan diadakan besok.
Lin Feng membantu membersihkan arena setelah acara selesai. Ia sedang mengumpulkan puing-puing dari pertarungan yang merusak sebagian lantai arena ketika mendengar percakapan di dekatnya.
"...Apakah kalian melihat pertarungan Bai Yun tadi? Pertarungannya luar biasa!"
"Tentu saja. Dia mengalahkan lawannya dalam 30 detik. Lapisan kesembilan bukan main-main."
"Menurutmu dia bisa menang di pertandingan berikutnya?"
"Pasti. Satu-satunya yang mungkin bisa mengalahkannya adalah Wei Long atau Zhang Kun. Tetapi Bai Yun masih tetap lebih unggul."
Lin Feng mendengar sambil terus bekerja. Bai Yun memang kuat di pertarungannya tadi, tekniknya bersih, efisien dan tidak ada gerakan yang terbuang. Ia memang layak menjadi favorit juara.
Tapi ada sesuatu yang Lin Feng perhatikan. Bai Yun meskipun kuat masih punya kelemahan. Tekniknya terlalu bergantung pada kecepatan. Jika lawannya bisa memprediksi gerakannya atau menjebaknya di tempat sempit, ia akan kesulitan.
Tidak bagus, pikir Lin Feng sambil menyingkirkan pikiran itu. Aku bukan peserta. Kenapa aku memikirkan strategi mengalahkan Bai Yun?
Tapi bagian otaknya yang sudah terlatih selama sebulan terakhir tidak bisa berhenti menganalisis. Itu sudah menjadi naluri.
Setelah membereskan semuanya malam pun tiba, untuk saat ini Lin Feng tidak berkultivasi.
Sebagai gantinya ia kembali ke kamar pelayannya yang sederhana dan berbaring di kasur tipis, menatap langit-langit kayu.
Turnamen hari ini membuatnya menyadari sesuatu, ia sudah terlalu kuat untuk level pelayannya, tapi masih terlalu lemah untuk dunia luar.
Murid dalam terkuat di akademi ini seperti Bai Yun, Wei Long dan Zhang Kun sudah mendekati atau mencapai puncak Ranah Pengumpulan Qi. Mereka akan segera terobosan ke Ranah Pembentukan Fondasi.
Dan begitu mereka terobosan, mereka akan jauh lebih kuat dari Lin Feng yang masih berada di Ranah Pengumpulan Qi, tidak peduli seberapa bagus tekniknya.
Aku perlu terobosan, putus Lin Feng. Tapi kapan? Di mana? Bagaimana cara menyembunyikan tribulasinya?
Tribulasi untuk terobosan ke Ranah Pembentukan Fondasi mungkin tidak sebesar tribulasi level tinggi, tapi tetap saja akan menarik perhatian. Akan ada awan petir, akan ada ledakan energi, dan akan ada fenomena yang tidak bisa disembunyikan.
Jika ia melakukannya di dekat akademi, semua orang akan tahu. Tapi jika ia pergi terlalu jauh, ia berisiko diserang oleh binatang buas atau kultivator jahat saat dalam kondisi lemah setelah tribulasi.
Dilema, pikir Lin Feng.
Ia menutup matanya mencoba untuk tidur, tapi pikirannya terus berputar.
Dan di tengah kepusingannya itu, ia tiba tiba mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya dan berhenti tepat di depan pintunya.
Lin Feng tidak bergerak. Ia memperlambat napasnya berpura-pura tidur, tapi semua inderanya terus waspada.
"Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu."
"Tapi Tetua Shen bilang kita tidak boleh mengganggu pelayan..."
"Tetua Shen tidak akan tahu. Kita cepat saja. Ambil apa yang berharga lalu pergi."
Lin Feng mengenal suara itu, itu adalah Zhao Ming dan teman-temannya.
Pintu perlahan terbuka, Lin Feng mengunci tidak ada gunanya, karena kunci kamar pelayan sangat sederhana dan mungkin bisa diterobos. Tiga orang masuk dengan pelan, sementara salah satu diantara mereka memegangi lentera kecil.
Lin Feng tetap diam, mata masih terpejam dan napasnya teratur seperti orang tidur.
Zhao Ming mendekati kotak kecil yang berisi pakaian ganti Lin Feng. Ia membukanya dan menggeledah isinya. "Tidak ada apa-apa... hanya pakaian lusuh."
"Coba cek di bawah kasurnya," bisik teman yang lain.
Mereka mengangkat kasur tempat Lin Feng berbaring. Lin Feng hampir terguling tapi ia tetap mempertahankan akting tidurnya.
"Tidak ada juga."
"Sial. Aku yakin pelayan sampah ini pasti menyimpan sesuatu. Mana mungkin dia berani melawanku kalau tidak punya sesuatu."
"Mungkin kita salah senior Zhao. Mungkin dia memang hanya pelayan bodoh yang nekat menjadi sok kuat"
"Diam!" Zhao Ming menghampiri Lin Feng yang berbaring. Ia menatap wajah Lin Feng dari dekat, sangat dekat hingga Lin Feng bisa mencium bau bawang putih dari napasnya.
"Atau mungkin..." bisik Zhao Ming, "kita bisa cari di tubuhnya langsung."
Tangan Zhao Ming meraih baju Lin Feng dan hendak menggeledahnya.
Dan di sinilah kesabaran Lin Feng habis.
Sebelum Zhao Ming bisa bereaksi, Lin Feng membuka matanya dan menangkap pergelangan tangan Zhao Ming, dengan satu gerakan cepat ia memutar dan mendorongnya.
BRAK...
Zhao Ming terlempar menabrak dinding dengan keras.
Kedua temannya tersentak dan mulai mengeluarkan qi untuk menyerang
Tapi Lin Feng lebih cepat. Ia menggunakan "Langkah Bayangan Angin" untuk menghilang dari tempat tidur dan muncul di antara kedua orang itu. Dua pukulan cepat menghantam tubuh mereka, tidak menggunakan Qi hanya kekuatan fisik murni, tapi cukup untuk membuat mereka terjatuh, dan batuk-batuk.
Semua terjadi dalam tiga detik.
Zhao Ming bangkit perlahan dan menatap Lin Feng dengan mata membelalak. "K-kamu... bagaimana kamu bisa..."
Lin Feng menyadari kesalahannya. Ia baru saja mengungkapan bahwa ia bisa bertarung. Bahwa ia tidak selemah yang semua orang kira.
Sial.
Tapi sudah terlambat untuk menarik kembali. Zhao Ming dan teman-temannya sudah melihat.
Lin Feng menatap mereka dengan ekspresi dingin, ekspresi yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Keluar," katanya dengan suara rendah. "Sekarang. Atau kalian akan menyesal."
Zhao Ming terlihat seperti ingin membantah, tapi sesuatu di mata Lin Feng membuatnya merasakan sesuatu yang berbahaya, membuatnya berpikir dua kali.
Dengan wajah merah padam, malu dan marah, Zhao Ming dan teman-temannya keluar dari kamar dengan terburu-buru.
Setelah mereka pergi, Lin Feng menutup pintu dan bersandar di dinding.
Bodoh, makinya pada diri sendiri. Bodoh! Aku seharusnya tetap berpura-pura tidur! Seharusnya biarkan mereka geledah! Sekarang Zhao Ming tahu aku bisa bertarung!
Ia tidak menggunakan Qi tadi, hanya kekuatan fisik dan teknik tangan kosong. Tapi itu sudah cukup untuk membangkitkan kecurigaan mereka.
Besok, Zhao Ming akan menceritakan ini pada orang lain. Pertanyaan akan diajukan. Penyelidikan akan dimulai.
Dan Lin Feng... Lin Feng harus membuat keputusan.
Tetap di akademi dan menghadapi risiko, atau pergi sekarang sebelum terlambat?
Ia menatap keluar jendela kecil kamarnya, ke arah langit malam yang dipenuhi bintang.
Dan untuk pertama kalinya, Lin Feng merasa bahwa waktunya untuk bersembunyi... hampir habis.
💪💪💪💪