NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 30

Satu minggu telah berlalu sejak malam kelam di bawah guyuran shower dan hari-hari menyakitkan di ruang rawat .

Pagi ini, udara terasa sedikit lebih segar, atau mungkin aku saja yang memaksa diriku untuk merasa begitu. Aku berdiri di depan cermin besar di kamarku, menatap pantulan diriku yang mengenakan setelan kerja formal blazer abu-abu dengan kemeja putih yang disetrika rapi.

Wajahku masih sedikit pucat, dan tak bisa berbohong tentang sisa-sisa kelelahan mental, tapi pulasan makeup tipis membantuku terlihat seperti

"Hana sang Manajer" yang tangguh kembali.

​Aku menarik napas panjang, mencoba membuang sisa sesak yang masih bersarang di dada Cukup.

Aku tidak boleh terus-menerus mengurung diri dalam bayang-bayang Wira atau rasa bersalah pada Tomi. Hidup harus tetap berjalan, dan perusahaan Papa membutuhkan kehadiranku.

​Aku melangkah turun menuju ruang makan. Di sana, Papa sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca koran, sementara Mama sedang menata piring-piring berisi sarapan. Suasana mendadak hening saat mereka melihatku sudah berpakaian rapi.

​"Hana? Kamu... kamu serius mau masuk kantor hari ini, Nak?" tanya Papa sambil menurunkan korannya.

Ia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh kekhawatiran.

"Gimana keadaan kamu sebenarnya? Kamu yakin sudah merasa lebih baikan? Papa nggak mau kamu tumbang lagi di kantor."

​Mama ikut mendekat, menyentuh keningku sebentar.

"Iya, Sayang. Padahal Mama sudah mau buatkan sup hangat lagi hari ini. Kenapa nggak istirahat satu atau dua hari lagi di rumah? Wajah kamu masih belum secerah biasanya, lho."

​Aku tersenyum kecil, mencoba memberikan raut wajah yang paling meyakinkan.

"Hana sudah jauh lebih baik, Ma, Pa. Kalau Hana cuma diam di rumah, pikiran Hana malah makin ke mana-mana. Hana butuh kesibukan supaya bisa kembali normal. Lagi pula, sudah seminggu Hana tinggalin pekerjaan, pasti sudah menumpuk di meja."

​Papa menghela napas, tampaknya ia memahami karakterku yang keras kepala jika sudah menyangkut tanggung jawab.

"Ya sudah, kalau itu memang keputusan kamu. Tapi ingat, jangan dipaksakan. Kalau terasa pusing atau lemas, langsung pulang. Biar sopir yang antar kamu kalau kamu belum stabil."

​"Hana bawa mobil sendiri saja, Pa," balasku cepat.

​"Berangkat sama Papa saja, ya? Biar mobil kamu nanti diantar supir ke kantor," tawar Papa lagi, berusaha memproteksiku.

​Aku menggeleng pelan.

"Enggak usah, Pa. Hana ingin menyetir sendiri. Lagian, rencananya Hana mau mampir sebentar menemui seorang teman sebelum ke kantor. Ada urusan sedikit."

​Papa dan Mama saling berpandangan, tapi akhirnya mereka mengangguk setuju.

Aku tahu mereka masih cemas, namun mereka juga menghargai privasiku. Sarapan pagi itu berlangsung dengan obrolan ringan, meskipun di dalam hati, aku sedang mempersiapkan mental untuk menghadapi dunia luar lagi.

​Aku melangkah keluar menuju garasi, menggenggam kunci mobilku dengan erat. Ya, biarpun bagaimana pun, aku tidak boleh selalu larut dalam kesedihanku. Foto Wira di Facebook itu, penolakan kejamku pada Tomi... semuanya harus kusimpan rapat-rapat dalam sebuah kotak di sudut hatiku yang paling dalam.

​Aku menghidupkan mesin mobil. Suara deru mesinnya seolah memberiku kekuatan baru. Aku tidak langsung menuju ke kantor. Ada seseorang yang harus kutemui, seseorang yang mungkin bisa membantuku mengurai benang kusut dalam pikiranku sebelum aku benar-benar kembali terjun ke rutinitas pekerjaan yang menuntut profesionalitas tinggi.

​Sepanjang perjalanan, jemariku sesekali mengetuk setir seirama dengan detak jantungku yang masih terasa gelisah. Bertemu dengan orang-orang kantor berarti akan ada banyak pertanyaan, dan bertemu dengan ini... adalah langkah pertamaku untuk benar-benar mencoba berdamai dengan kenyataan yang ada.

Aku melajukan mobilku membelah jalanan kota yang mulai padat, meninggalkan rumah yang selama seminggu ini menjadi saksi bisu kehancuranku.

...----------------...

Mobil kuparkirkan dengan rapi di depan sebuah kafe yang suasananya cukup tenang di jam segini. Aku melangkah masuk, membiarkan bunyi lonceng di atas pintu menyambut kedatanganku.

Mataku langsung tertuju pada sebuah meja di sudut ruangan, posisi yang cukup privat dan jauh dari hiruk-pikuk pengunjung lain meja yang memang sudah dipesan sebelumnya.

Di sana, seseorang sudah menungguku. Begitu aku mendekat, ia mendongak dan menyapa dengan nada yang tenang namun penuh arti.

"Hai, lama ga ketemu" ucap sosok itu singkat.

Aku menarik kursi di hadapannya, mencoba mengatur napas agar tetap terlihat tenang.

"Eh, iya. Silakan duduk," jawabku sedikit kaku, meskipun sebenarnya aku yang baru saja tiba.

Kami terdiam sejenak, membiarkan pelayan meletakkan menu sebelum akhirnya kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius. Suara denting sendok yang beradu dengan cangkir kopi menjadi latar belakang percakapan kami yang sangat rahasia ini.

Tidak ada satu pun orang kantor, bahkan Diva atau Dhea, yang tahu aku menemui sosok ini. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan, sesuatu yang hanya bisa dijawab oleh orang di hadapanku ini.

Setelah pertemuan yang cukup menguras emosi itu selesai, aku menarik napas dalam-dalam sebelum menginjak pedal gas menuju kantor. Begitu memasuki lobi perusahaan Papa, aku langsung memasang wajah profesional.

Tidak ada lagi Hana yang rapuh yang ada hanyalah Hana sang Manajer Operasional

yang siap bekerja.

Sesampainya di ruangan, meja kerjaku sudah disambut oleh tumpukan map yang menunggu sentuhanku.

Aku duduk di kursi kebesaranku, menyalakan komputer, dan mulai tenggelam dalam rutinitas yang selama seminggu ini kutinggalkan.

Tugas pertamaku adalah memeriksa Laporan Arus Kas dan Realisasi Anggaran bulan lalu untuk memastikan tidak ada pengeluaran yang membengkak selama aku absen. Jemariku dengan lincah menelusuri angka-angka di layar monitor, mencocokkannya dengan nota-nota fisik yang terlampir.

Setelah itu, aku mulai meninjau beberapa Memo Internal dan menyetujui sejumlah pengajuan kerja sama dari vendor baru dengan membubuhkan tanda tangan resmi di atas materai.

Sebagai manajer, aku juga harus melakukan follow-up terhadap Key Performance Indicators (KPI) staf di bawahku.

Aku memeriksa laporan progres proyek yang sedang berjalan, memastikan setiap divisi memenuhi target tenggat waktu yang telah ditentukan. Sesekali, aku memanggil sekretarisku melalui interkom untuk mendiskusikan jadwal rapat koordinasi yang harus segera dilakukan sore nanti.

Fokus pada dokumen-dokumen rumit ini ternyata menjadi terapi tersendiri bagiku. Saat otakku dipaksa untuk berpikir logis dan strategis, ruang untuk memikirkan rasa sakit itu perlahan menyempit. Aku tenggelam dalam analisis data dan pengambilan keputusan manajerial, mencoba membuktikan pada diriku sendiri dan pada Papa bahwa aku masih mampu berdiri tegak di puncak tanggung jawab ini, terlepas dari badai yang baru saja menghantam hatiku.

Langkahku terasa sangat berat saat memasuki rumah. Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian malam yang pekat. Jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 22.30 hari pertama kembali bekerja ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang kubayangkan.

Bukan hanya karena tumpukan dokumen yang harus kuperiksa, tapi karena usahaku yang luar biasa keras untuk terus memakai topeng manajer yang tangguh di depan semua orang.

"Hana? Kamu baru pulang, Sayang?" suara Mama memecah keheningan.

Mama rupanya masih menungguku di ruang makan, duduk dengan sebuah buku di tangannya.

Aku mengangguk lemah, mencoba memberikan senyum tipis meski otot wajahku terasa kaku.

"Iya, Ma. Tadi ada beberapa laporan bulanan yang harus Hana selesaikan malam ini juga supaya besok nggak menumpuk lagi."

Mama berdiri, menghampiriku dengan raut wajah penuh kasih sekaligus cemas.

"Kamu pasti capek sekali. Ayo, duduk dulu sebentar. Mama sudah siapkan makan malam, ada lauk kesukaan kamu. Makan sedikit ya?"

Aku menggeleng pelan sambil membetulkan letak tas kerja di bahuku.

"Nggak usah, Ma. Hana tadi sudah makan kok bareng rekan kantor sebelum pulang. Sekarang Hana cuma ingin segera tidur, badan Hana rasanya capek banget."

"Tapi beneran sudah makan, kan? Jangan sampai lambung kamu sakit lagi, Han," desak Mama, tangannya mengusap lenganku pelan.

"Beneran, Ma. Hana cuma butuh istirahat. Hana naik ke atas dulu ya, Ma. Selamat malam," pamitku tanpa menunggu jawaban lebih lanjut.

Aku menaiki anak tangga satu per satu dengan sisa tenaga yang ada. Begitu sampai di depan kamarku, aku segera masuk dan ceklek langsung memutar kunci pintu dari dalam.

Suara kunci yang mengunci itu memberikan rasa aman yang aneh bagiku.

Aku menyandarkan punggungku di balik pintu kayu yang dingin itu, memejamkan mata rapat-rapat. Di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya lampu jalan dari balik jendela, topeng profesionalitas yang kupakai seharian akhirnya luruh. Aku melepaskan blazer abu-abuku, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai.

Ruangan ini adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu menjadi Manajer Operasional yang tegas, tidak perlu menjadi putri sempurna bagi Papa dan Mama, dan tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, kesunyian malam ini justru membawa kembali suara-suara yang kucoba bungkam seharian

1
🌹Widian,🧕🧕🌹
wahhh.....Tomi cowok keren tapi masih misterius nih
🌹Widian,🧕🧕🌹
haiiiii.......mampir nih !
Sepertinya Hana gadis yang menyimpan banyak luka dan beban batin ya.....semangat Hana 💪💪
🌹Widian,🧕🧕🌹: mampir juga kak ke karyaku🙏
total 2 replies
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!