raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perang air mata dan sumpah setia sang mantan raja kegelapan
beberapa Minggu telah berlalu setelah tragedi di goa terlarang pagi di desa aethelgard Ferdi sudah sedikit enakan...Matahari baru saja merangkak naik di ufuk timur Desa Aethelgard, namun di dalam rumah kayu itu, Ferdi sudah merasa seperti sedang berada di tengah medan tempur. Bahu kirinya yang masih dibalut perban putih berdenyut nyeri—sisa-sisa racun laba-laba purba dua minggu lalu masih menyisakan sensasi terbakar yang luar biasa.
Ferdi baru saja hendak menghela napas lega setelah berhasil mengenakan kemejanya, ketika sebuah suara lirih nan menyedihkan memecah kesunyian kamar.
"Ferdi... kau sudah mau pergi?" panggil Vani. Suaranya terdengar sangat lemah, hampir seperti bisikan.
Ferdi menoleh cepat. Ia mendapati istrinya sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal, tangannya mengelus perutnya yang kian membuncit. "Hanya sebentar ke kebun, Vani. Aku perlu memeriksa jagung-jagung itu. Kau butuh sesuatu?"
Vani tidak langsung menjawab. Ia justru menundukkan kepala, membiarkan rambut pirang panjangnya menutupi sebagian wajahnya. "Entahlah. Aku merasa... anak ini sedang sangat lapar. Tapi dia tidak mau jagung."
"Lalu? Kau ingin aku membuatkan sup daging lagi?" tanya Ferdi sabar.
Vani mendongak. Matanya yang biru jernih kini sudah berkaca-kaca. "Bukan daging. Aku... aku ingin makan Apel Kristal Merah dari Lembah Kabut Abadi. Dan aku ingin makan Beri Salju yang dicelupkan ke madu lebah raksasa. Rasanya... kalau aku tidak memakannya sekarang, aku merasa sangat mual hingga ingin mati saja."
Ferdi mematung. Matanya membelalak. "Vani! Lembah Kabut itu tempat Griffin liar! Dan lebah raksasa? Kau tahu sendiri sengatannya bisa membunuh kerbau dalam hitungan detik! Jaraknya setengah hari perjalanan, dan bahuku..." Ferdi menunjuk perban di bahunya, "...aku bahkan belum bisa mengangkat pedang dengan benar."
Mendengar argumen logis suaminya, Vani terdiam sejenak. Namun, dalam hitungan detik, pertahanan emosionalnya runtuh secara dramatis. Air mata mulai mengalir deras di pipinya yang mulus.
"Oh, tentu saja... bahumu lebih penting," isak Vani. Suaranya kini berubah menjadi tangisan yang menyayat hati. "Hanya karena luka kecil itu, kau tega mengabaikan keinginan anakmu sendiri. Aku tahu, aku sekarang sudah tidak cantik lagi sejak hamil. Aku jadi beban, kan? Aku cerewet, kan?"
"Vani, bukan itu maksudku—"
"Tega sekali kau, Ferdi!" Vani tiba-tiba berteriak sambil memukul kasur dengan tangan kecilnya.
"Dulu saat kau masih menjadi Raja Kegelapan, kau bilang kau bisa memindahkan gunung untukku! Kau bilang kau akan melindungiku dari segala mara bahaya! Tapi sekarang, mencari apel saja kau sudah perhitungan! Apa kau ingin anak kita lahir cacat karena ayahnya terlalu malas untuk bergerak?!"
"Vani, demi Dewa, itu hanya mitos! Anak kita akan baik-baik saja meski kau tidak makan apel kristal pagi ini!" Ferdi mencoba mendekat, namun Vani justru mundur menjauh hingga ke pojok tempat tidur.
"JANGAN SENTUH AKU!" raung Vani. "Pergi saja kau ke kebun jagungmu! Biarkan aku sendiri di sini kelaparan! Biarkan istrimu yang malang ini menangis sampai matanya buta! Mungkin kalau aku mati, kau bisa kembali jadi Raja Kegelapan yang bebas tanpa ada istri yang merepotkanmu!"
Vani mulai terisak-isak sangat keras, bahunya berguncang hebat. Ia mulai meracau seperti anak kecil yang kehilangan mainan favoritnya. "Dasar Ferdi jahat! Raja Kegelapan pelit! Kau lebih sayang pada perbanmu daripada anakmu sendiri! Oh, nasibku... kenapa aku harus menikah dengan pria yang tidak mau mencarikan buah untuk istrinya..."
Ferdi memegang kepalanya yang mulai terasa pening. "Vani, tolong berhenti menangis. Kau tahu aku tidak bisa melihatmu menangis seperti itu."
"BIARIN! Biar aku nangis terus sampai bayinya keluar sekarang juga!" Vani semakin menjadi-jadi, ia mulai menendang-nendang selimutnya dengan kesal. "Pergi sana! Gak usah balik sekalian kalau gak bawa apel itu! Aku gak mau liat muka kamu!"
Melihat istrinya yang sudah mulai "ngamuk" layaknya anak kecil yang sedang tantrum, Ferdi hanya bisa mendesah pasrah. Ia tahu, melawan Vani dalam kondisi seperti ini sama saja dengan melawan seluruh alam semesta.
"Baik! Baik! Aku pergi!" seru Ferdi. "Berhenti menangis, oke? Aku akan carikan apel itu, beri salju itu, bahkan madu raksasa itu kalau perlu. Tolong, simpan air matamu."
Seketika, tangisan Vani berhenti. Benar-benar berhenti total. Ia menyeka air matanya dengan ujung selimut dan menatap Ferdi dengan mata berbinar-binar yang tampak sangat polos, seolah tangisan hebat tadi hanyalah ilusi.
"Benar? Kau berjanji?" tanya Vani dengan nada manis yang tiba-tiba.
"Ya, aku janji," jawab Ferdi lemas.
"Dan ingat, Ferdi! Apelnya harus yang masih ada embun paginya! Kalau sudah layu atau ada ulatnya sedikit saja, aku tidak mau! Dan madunya... jangan yang sudah diperas, aku ingin sarangnya utuh!" Vani tersenyum lebar, memberikan kecupan jauh (kiss bye) kepada Ferdi.
Ferdi hanya bisa menggelengkan kepala. Bagaimana bisa wanita ini berubah dari singa menjadi kucing dalam satu detik? pikirnya heran.
Ferdi terpaksa berjalan kaki menembus hutan rimba yang pekat. Setiap kali ia melangkah, rasa nyeri di bahunya seolah mengejeknya. Namun, bayangan wajah Vani yang menangis tadi terus menghantuinya.
"Dasar... kalau bukan karena anak ini, aku sudah menyerah," gumam Ferdi sambil menebas semak belukar.
Di Lembah Kabut, ia benar-benar harus berhadapan dengan Griffin raksasa yang menjaga pohon apel kristal. Ferdi yang biasanya menghancurkan musuh dengan api kegelapan, kini harus merayap seperti pencuri agar tidak memancing keributan besar. Ia berhasil memetik tiga buah apel kristal yang bersinar merah delima.
Lalu, di sarang lebah raksasa, ia harus disengat beberapa kali di punggungnya demi mengambil sepotong besar sarang madu yang masih penuh dengan cairan manis keemasan.
"Aku harap ini cukup untuk memuaskan Ratu Cerewet itu," desahnya sambil menahan perih.
Ferdi tiba di rumah saat matahari hampir tenggelam. Tubuhnya penuh goresan duri, punggungnya bentol-bentol karena sengatan lebah, dan bajunya basah kuyup karena keringat dan embun.
"Vani... aku pulang," panggil Ferdi dengan suara parau.
Vani yang sedang asyik memakan kacang rebus di dapur menoleh dengan wajah datar. "Oh, kau sudah pulang? Mana apelnya?"
Ferdi meletakkan tasnya di meja dengan gemetar. "Ini. Apel kristal, beri salju, dan sarang madu lebah raksasa. Persis seperti yang kau minta."
Vani mengambil satu apel, melihatnya di bawah cahaya lampu, lalu mendengus. "Ih, Ferdi! Kok ini agak penyok sedikit di bagian bawahnya?"
Ferdi terdiam. Rahangnya mengeras. "Vani... itu buah yang kupetik di puncak tebing sambil menghindari cengkeraman Griffin."
"Ya tapi kan aku maunya yang sempurna!" omel Vani lagi sambil menaruh apel itu dengan kasar.
"Dan lihat bajumu! Ih, bau sekali! Kau sengaja ya mau membuat aku mual lagi? Kau tahu kan hidungku sensitif sejak hamil! Kau ingin aku pingsan karena bau badanmu ini?"
"Vani! Aku baru saja mempertaruhkan nyawaku untuk keinginan anehmu, dan kau malah mengomentari bau badanku?!" suara Ferdi naik satu nada.
Vani langsung memasang wajah "sad-girl" andalannya. Bibirnya gemetar, dan dalam sekejap, air mata kembali menggenang di matanya. "
Tentu saja... bentak saja aku lagi, Ferdi. Aku memang istri yang buruk. Aku hanya ingin makan sesuatu yang enak agar anak ini kuat, tapi aku justru dihina karena aku mengomentari kebersihan suamiku. Mungkin kau memang sudah bosan denganku..."
Vani mulai terisak-isak lagi di pojok dapur. "Pergi saja kau mandi sana! Biarkan aku makan apel penyok ini sendirian! Aku memang pantas mendapatkan sisa-sisa saja..."
Ferdi memejamkan mata, mencoba menahan emosinya yang meledak-ledak. Ia mendekati Vani, lalu berlutut di hadapannya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya sangat lelah," bisik Ferdi lembut. Ia memegang kedua tangan Vani. "Aku akan mandi, tapi tolong jangan menangis lagi. Kau tahu hatiku hancur setiap melihatmu seperti ini."
Vani berhenti menangis, lalu menatap Ferdi dengan senyum licik yang sangat tipis. "Kalau begitu... setelah mandi, kau harus memangku aku di kursi depan sambil menyuapi aku apel ini. Dan kau harus memijat kakiku sampai aku benar-benar tertidur. Janji?"
Ferdi tersenyum pasrah, dikecupnya tangan istrinya itu. "Janji, Ratu Kecilku."
Malam itu, di bawah cahaya rembulan, sang mantan Raja Kegelapan duduk dengan patuh memangku istrinya, mendengarkan omelan Vani tentang rasa madu yang menurutnya "sedikit terlalu manis", sambil terus memijat kaki Vani dengan penuh kasih sayang.