Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PANAS LAINNYA SETELAH DAPUR
Besoknya, Rico menjemput Anela dengan kemeja hitam sederhana dan aroma parfum yang membuat Anela sadar—ini bukan kunjungan biasa.
“Aku sudah atur pengasuh buat malam ini,” katanya santai. “Cuma beberapa jam. Profesional. Aman.”
Anela ragu sebentar.
Tapi melihat bagaimana Rico beberapa minggu terakhir memperlakukan Ziyo—sabar, tulus, hadir—ia akhirnya mengangguk.
“Jangan sampai ini jadi kebiasaan kamu manja-manjain aku,” gumam Anela.
Rico tersenyum. “Aku nggak manja-manjain. Aku investasi.”
Anela menanggapinya dengan senyum tertahan.
Makan malam itu berbeda.
Tidak ada dapur kecil. Tidak ada suara hujan di jendela apartemen sederhana. Tidak ada rasa takut meja berderit.
Yang ada hanya lampu temaram restoran, gelas anggur, dan tatapan Rico yang kali ini tidak perlu sembunyi-sembunyi.
Anela terlihat berbeda malam itu. Gaunnya sederhana, tetapi cara gaun itu memeluk tubuhnya membuat Rico sulit fokus pada menu di tangannya.
Gaun mini itu berwarna gelap, dengan potongan yang mengikuti lekuk tubuh Anela. Bahannya lembut dan sedikit jatuh, menempel di pinggang rampingnya lalu turun mengikuti garis pinggul yang jenjang. Panjangnya hanya beberapa jari di atas lutut, memperlihatkan kaki Anela yang mulus dan panjang.
Bagian atas gaun itu memiliki potongan yang anggun—cukup terbuka untuk menampilkan tulang selangka dan sedikit garis dada, namun tetap terlihat elegan. Setiap kali Anela bergerak, kainnya ikut bergoyang pelan, menambah kesan menggoda tanpa harus berusaha.
Rambutnya dibiarkan terurai, dan senyumnya malam itu terasa lebih berani dari biasanya.
Rico tak bisa menahan diri untuk terus meliriknya. Di balik ketenangannya, ada keinginan yang diam-diam tumbuh—keinginan menarik Anela lebih dekat dan merasakan kehangatan perempuan itu di pelukannya.
“Kamu tahu nggak,” kata Rico pelan, “aku sudah lama nggak ngerasa kayak gini.”
“Kayak gimana?”
“Deg-degan cuma karena lihat satu orang senyum.”
Anela tertawa kecil, tapi pipinya memerah.
Dan ketika makan malam selesai, Rico tidak bertanya dua kali.
“Kita ke apartemenku ya?”
Anela tahu itu bukan sekadar ajakan biasa. Tapi ia tetap mengiyakan.
————————
APARTEMEN RICO
Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah.
Tidak ada lagi jarak.
Tidak ada lagi ruang tamu kecil dengan anak tertidur di seberang.
Hanya mereka.
Tatapan Rico lebih gelap.
Lebih lapar.
Anela baru saja meletakkan tasnya ketika Rico menariknya pelan dari belakang. Tidak kasar. Tapi tegas.
“Rico…” bisiknya, tapi kali ini tidak ada peringatan di suaranya.
Hanya antisipasi.
Rico menyukai cara Anela memanggil namanya. Suara itu terdengar manja, lembut, dan entah mengapa terasa begitu seksi di telinga Rico.
Ciuman pertama di apartemen itu lebih dalam dari yang pernah mereka rasakan. Intens dan dalam.
Bibir mereka saling mencari, tidak tergesa namun penuh dorongan emosi yang sulit disembunyikan.
Napas mereka mulai bercampur di sela-sela ciuman yang semakin dalam. Ada kehangatan, ada ketegangan manis yang membuat detik-detik terasa melambat.
Dengan gerakan perlahan, pria itu menunduk dan menciumi lekuk dada Anela dari balik gaun yang masih menutupi tubuhnya, membiarkan napas hangatnya terasa di sana.
Tangan Rico menyusuri pinggang Anela, mengangkat sedikit kain gaun mini-nya yang sedari tadi menggoda Rico, cukup untuk membuat napas Anela berubah makin berat.
“Ahgn…Rico” suara Anela melemah.
“Disini nggak ada yang perlu ditahan,” gumam Rico di telinganya.
Anela merinding.
Ia bersandar ke tubuh Rico. Gaunnya sedikit terangkat, kainnya tersingkap mengikuti gerakan mereka yang semakin dekat. Sedetik kemudian Rico menarik turun kain segitiga berenda yang masih menghalangi tubuh Anela. Setelah itu ia membuka resleting celananya, memperlihatkan gairah pada miliknya yang sudah menegang sempurna sejak tadi.
Rico lalu mengangkat kaki kanan Anela, mendekatkannya lebih erat ke tubuhnya. Ia menahan gerak sejenak, memastikan posisi mereka nyaman, sementara napas keduanya sudah mulai tidak teratur.
Perlahan Rico mendekatkan miliknya-nya pada Anela, membiarkan kedekatan itu terasa jelas di antara mereka—seolah memastikan Anela siap. Ia bisa merasakan kehangatan yang mencair dari dalam diri Anela, tanda bahwa perempuan itu benar-benar siap dan tidak lagi menahan diri.
“Ri….co…” bisik Anela lirih.
Dalam satu gerakan tegas, Rico menariknya lebih dekat. Dan… Blesss….Milik Rico masuk sempurna.
Dari cara Anela memeluknya semakin kuat, Rico tahu—perempuan itu juga menantikan kedekatan ini sejak tadi, sama seperti dirinya.
Rico mulai bergerak perlahan, mendekat lalu menarik diri kembali dengan ritme yang menggoda. Sesekali menancap dengan tegas, memberi sedikit sensasi liar, ia menikmati setiap reaksi yang muncul dari tubuh Anela.
“Emhh…Ric….o…” desah Anela pelan. Anela merasakan dorongan yang makin kuat di balik kendali pria itu.
“Iya, sayang…” jawab Rico rendah dan menggoda di telinga Anela.
Rico menatap wajah Anela yang kini memerah oleh gairah. Napasnya tidak teratur, bibirnya sedikit terbuka seolah berusaha menahan desah yang hampir lepas. Rico sangat menikmati pemandangan yang sangat menggairahkan dari wanitanya, Pemandangan itu membuat Rico semakin terpikat—cara perempuan di pelukannya larut sepenuhnya dalam momen mereka.
“Emhh… Ric…” suara Anela kembali terdengar, lebih lemah, Anela menggigit bibirnya, tapi kali ini bukan untuk menahan suara karena takut. Ia memang tidak ingin diam.
Gerakan Rico tetap tegas dan mantap, membuat kaki Anela perlahan terasa lemas oleh sensasi yang menjalar di tubuhnya.
Tubuhnya bergerak mengikuti ritme pria itu. Ketika gelombang kenikmatan mulai datang, ia tidak lagi berusaha menahannya. Suaranya pecah “Aaahhhh…aaaahn……”, membuat Rico semakin tenggelam dalam momen itu. Beberapa detik setelah Anela mencapai puncaknya.
“Lihat aku,” bisik Rico pelan.
Anela menoleh sedikit. Tatapan mereka bertemu di cermin ruang tamu.
Dan seketika suasana di antara mereka terasa semakin panas.
Rico memacu gerakannya, dan akhirnya... "Aaaahhhnela...sayang!" Rico menuju puncak kenikmatan.
Ronde pertama berakhir dengan napas terengah dan tawa kecil penuh kepuasan.
“Ini baru pemanasan,” gumam Rico.
Di kamar, semuanya lebih lambat.
Lebih dalam.
Pakaian benar-benar dilepas. Tidak ada lagi kain yang menghalangi.
Rico tidak lagi terburu.
Ia mengeksplorasi Anela seperti seseorang yang tidak hanya menginginkan tubuhnya—tapi ingin menghafalnya.
Anela balas membalas. Ia tidak lagi ragu. Tidak lagi canggung.
Ia menarik Rico, membalik posisi, tertawa kecil saat melihat ekspresi terkejut pria itu.
“Jangan kira cuma kamu yang bisa dominan,” bisiknya nakal.
Malam itu penuh sentuhan panjang, ciuman yang tidak ingin selesai, dan percakapan kecil di sela napas berat.
Bukan hanya panas.
Tapi intim.
Belum puas, paginya mereka kembali melakukan penyatuan.
Cahaya samar masuk lewat tirai.
Anela terbangun dengan tubuhnya dipeluk dari belakang.
Hangat.
Rico mencium bahunya pelan.
“masih pagi, tapi kamu menggoda banget, sayang,” bisiknya parau.
Kali ini gerakannya pelan. Dalam. Tidak seagresif semalam.
Rico mengarahkan miliknya kepada Anela, mencoba menerobos masuk dengan pelan, meski tanpa pemanasan, ternyata milik Anela sudah siap, membuat milik Rico masuk dengan lancar tanpa perlawanan, begitu milik Rico masuk sepenuhnya, lalu ia mulai bergerak.
Anela memejamkan mata, mengangkat kakinya sedikit dan mendorong pinggulnya ke belakang, memberi akses agar milik Rico masuk memenuhi semua ruang miliknya.
Ritmenya gerakan Rico pelan dan stabil namun membuat Anela kembali menggelinjang pelan, desahnya terdengar lebih lembut tapi tak kalah intens. Perlahan namun pasti ia mencapai puncaknya, suaranya kembali pecah—tidak lagi tertahan.
"Aaaah....hmp..."
Rico mempercepat gerakannya dan menyusul mencapai pelapasan tak lama kemudian.
"Ahhhhh....Ahh..." Napasnya berat di leher Anela.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Tidak ada tawa kali ini.
Hanya detak jantung yang masih cepat dan perasaan aneh yang lebih dalam dari sekadar hasrat.
Anela berbalik menghadapnya.
Rico menatapnya lama. Ia menimbang, apakah terlalu cepat jika ia ingin mengungkapkan rasa?. Tapi dia urung, ia takut Anela belum siap.
.....