Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Kontrak Terungkap II
Mahira bukan wanita yang sabar. Dia bukan tipe yang cuma duduk manis nunggu sesuatu dateng sendiri, dia tipe yang nyari, yang ngejar, yang dapetin apapun yang dia mau dengan cara apapun yang dia tau.
Dan sekarang dia mau satu hal, tau kebenaran soal pernikahan Nathan dan Naura. Gut feeling Mahira bilang ada yang ga beres, dari cara Naura ngomong yang terlalu ragu ragu, dari cara dia nolak pertanyaan Mahira di rumah sakit kemarin, dari cara mata Naura berkilat sebentar waktu Mahira sebut kalimat, 'menikah tanpa cinta'.
Naura bohong, dan Mahira tau persis.
Tapi bohong tentang apa?
Selasa sore, Mahira duduk dikafe deket kantornya, laptop di depannya terbuka tapi layarnya cuma nunjukin halaman kosong, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gak sabaran.
Dia butuh akses ke dokumen perusahaan Erlangga Group. Dokumen yang pasti ada di server internal kantor Nathan, tapi Mahira ga punya akses.
Dahhh.
Mahira menyandar dikursi sambil mikir keras, otaknya berputar cepet kayak mesin yang lagi cari solusi tercepat.
Dia buka ponselnya, scroll kontak, cari nama satu orang yang udah lama dia incer, sejak pertama kali dia tau Nathan kerja di perusahaan itu, sebuah nama muncul di layar.
Dian.
Dian adalah seorang staf administrasi di Erlangga Group, yang udah kerja hampir empat tahun. Wanita dengan gaji biasa aja, tapi ingin hidup lebih mewah dari yang bisa dia afford.
Mahira tau soal Dian dari researchnya, dia tau Dian punya hutang kartu kredit yang lumayan besar, punya anak sakit yang butuh biaya pengobatan mahal, dan dia tau Dian itu tipe yang kalo dikasih uang yang cukup besar bakal bisa diajak kerja sama.
Mahira mengetik pesan pada Dian.
...💌...
Mahira: Hei Dian. Aku mau ngobrol sama kamu, kita bisa ketemu gak? Aku ada tawaran yang menurutku baik buat kamu.
Balasan dateng dengan begitu cepet.
^^^Dian: Hei kak, boleh aja, aku juga lagi bebas sore ini.^^^
Mahira tersenyum, lalu melangkah dan rencana pertamanya berhasil.
***
Mereka ketemu di kafe yang sama, sudut ruangan yang agak tersembunyi dari pandangan orang lain.
Dian dateng dengan pakaian kantor yang udah agak lusuh, rambutnya diiket asal asalan, ada lingkaran hitam dibawah mata yang nunjukin dia kurang tidur.
Mahira ngeliat Dian dan langsung tau wanita ini lagi struggling.
"Dian! makasih udah mau ketemu," Mahira berdiri dan peluk Dian, seperti sudah lama kenal, padahal mereka baru pertama kali ketemu langsung.
Dian kelihatan canggung tapi dia ikut-ikutan senyum. Mereka duduk, Mahira langsung pesan dua kopi premium dan cemilan mahal.
"Aku langsung ke poin aja ya Dian, aku tau kamu kerja di Erlangga Group." Mahira memulai, sambil menatap Dian dengan tatapan hangat tapi di dalemnya dingin.
"I-iya, Kak. Aku emang kerja disana, ada kebutuhan apa?"
"Aku butuh akses ke satu dokumen spesifik, dokumen rahasia yang ada di server internal perusahaan." Mahira bilang pelan sambil ngambil amplop dari tas, naruh di meja dengan halus.
Dian ngeliat amplop itu, tangannya bergetar sebentar sebelum ngambilnya. Dia buka amplop dan matanya melebar pas liat isi dalamnya, selembar cek dengan jumlah yang besar banget.
"I-ini berapa?" Dian berbisik
"Lima puluh juta," Mahira bilang santai. "Buat kamu, sepenuhnya buat kamu, untuk anak kamu yang sakit itu."
Dian langsung noleh ke Mahira, matanya berkaca kaca, "Kak, i-ini terlalu banyak."
"Tidak terlalu banyak, anggap aja aku lagi baik hati hari ini." Mahira tersenyum manis. "Tapi ada satu hal yang aku minta sebagai... katakanlah ini balasan kecil."
Dian mendekatkan kepala, "Apa?"
"Aku butuh salinan satu dokumen dari server internal Erlangga Group, dokumen kontrak pernikahan antara Nathan Erlangga dan Naura Davina."
Dian terdiam.
Wajahnya berubah pucat. "Kak, itu dokumen rahasia, kalau ketahuan aku bisa dipecat, bahkan bisa dipidana karena."
"Dian," Mahira motong dengan suara yang masih lembut, tapi ada ketegasan di sana. "Tidak akan ketahuan, aku yang jamin, aku tau cara agar jejak digital kamu bersih, aku punya ahlinya."
Dian menatap amplop cek itu lagi.
Lima puluh juta. Biaya operasi anak Dian yang belum terbayar, biaya pengobatan yang terus bertambah setiap harinya. Lima puluh juta cukup buat beberapa bulan kedepan. Dian menggigit bibir kuat kuat, tangan mengepal.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan ini, Kak."
"Tentu," Mahira ngangguk. "Amplop ini tetep buat kamu apapun keputusanmu, aku udah bilang ini buat anak kamu, bukan syarat, bukan jaminan."
Bohong, tentu saja bohong, tapi Dian gak tau itu.
***
Dua hari kemudian, Dian kirim pesan ke Mahira lewat nomor baru yang Mahira kasih.
"Udah siap."
Mereka ketemuan lagi di tempat yang sama, Dian ngasih USB kecil ke Mahira dengan tangan gemetar.
"Itu dokumen yang kamu minta, Kak. Semua ada di dalemnya, aku udah copy dari server." Dian bilang dengan suara pelan, sambil ngelirik kesana kesini kayak takut ada yang ngeliat.
"Bagus," Mahira ngambil USB itu dan masukin ke tas. "Kamu udah lakukan hal yang bener buat anak kamu Dian."
Hal yang bener, mata-kata yang Mahira ucapin kayak mantra buat bikin Dian ngerasa ga bersalah.
"Kak, cek itu..."
"Udah aku transfer ke rekening yang kamu kasih tadi, cek sekarang aja," Mahira berdiri dan senyum. "Hati hati ya Dian, ingat kita ga pernah ketemu."
Mahira pergi ninggalin Dian yang langsung buka ponsel, dengan tangan yang gemetar buat cek rekeningnya. Di dalam mobilnya, Mahira memasukan USB ke laptop, yang udah dia siapin dikamar mobilnya.
File-file muncul di layar, banyak banget dokumen, kontrak kontrak bisnis, laporan keuangan, surat surat resmi.
Mahira scroll cepet, matanya tajam cari satu file spesifik.
"Contract Marriage: Nathan Erlangga & Naura Davina"
Ketemu, Mahira klik file itu. Layar menampilkan dokumen legal yang rapi rapi, logo firma hukum di atas, nama Nathan dan Naura tertera jelas di bagian pertama.
Mahira mulai baca dari awal, matanya bergerak cepet menyerap setiap kalimat.
Pasal pertama.
"Pernikahan ini dilaksanakan berdasarkan perjanjian kontrak selama dua tahun, terhitung dari tanggal akad nikah."
Pasal kedua
"Pihak kedua (Naura Davina) akan menerima pembayaran sejumlah satu miliar rupiah, sebagai imbalan jasa dalam kontrak pernikahan ini."
Mahira berhenti, satu miliar rupiah. Matanya melebar, satu miliar rupiah, itu bukan pembayaran buat desain atau konsultasi atau kerja apa pun. Itu pembayaran buat nikah, lebih tepatnya kontrak pernikahan.
Jadi bener, pernikahan Nathan dan Naura memang palsu. Cuma kontrak, Mahira teruskan membacanya, pasal demi pasal.
"Pihak kedua tidak berhak menuntut cinta, atau perhatian dari pihak pertama."
"Pernikahan ini akan diakhiri dengan perceraian baik-baik, setelah periode kontrak selesai."
"Pihak pertama, (Nathan Erlangga) menikah untuk memenuhi syarat wasiat dari mendiang ibunya, yang mensyaratkan Nathan harus menikah sebelum usia tiga puluh tiga tahun, guna mewarisi saham perusahaan."
Mahira berhenti lagi, wasiat ibunya. Jadi Nathan nikah bukan karena dia pengen, bukan karena dia cinta sama Naura, tapi karena terpaksa.
Karena kalau ga nikah, saham perusahaan ga akan jatuh ke tangan dia. Mahira menyandar di kursi mobil, menatap layar laptop dengan pandangan yang berkilat.
Bibirnya pelan pelan melekuk jadi senyuman yang dingin, senyuman yang licik. Senyuman seseorang yang baru aja nemuin senjata mematikan.
"Jadi ini alasannya," Mahira berbisik sambil ngusap dagu. "Nathan menikah karena wasiat ibunya, dan bukan karena dia cinta sama gadis itu."
Dia tertawa pelan, tawa ringan yang mengerikan.
"Dan Naura, gadis polos itu menikah dengan Nathan, karena butuh uang buat operasi ibunya. Tapi dia dapet lebih dari yang dia minta, dia dapet cinta yang dia ga minta dan gak akan pernah dapet."
Mahira tutup laptop pelan pelan sambil mikir, otaknya mulai bekerja keras. Senjata ini bisa dipake buat apa?
Mahira bisa leak ke publik, bikin Nathan malu secara sosial, bikin reputasi Erlangga Group hancur. Tapi itu terlalu kasar, terlalu obvious, Nathan pasti langsung tau siapa yang belkind leak.
Mahira bisa pake buat manipulasi Naura, bikin Naura ngerasa lebih kecil lagi, lebih ga berharga lagi, sampe dia sendiri yang mau pergi dari pernikahan ini.
Lebih halus.
Lebih efektif.
Tapi belum cukup.
Mahira bisa pake kontrak ini buat bikin Nathan percaya, bahwa dia ga butuh Naura lagi, kalau kontrak itu bisa dipercepat pemutusan, kalo ada loophole yang bisa dieksploitasi, kalo ada cara untuk bikin perceraian terjadi lebih cepat dari dua tahun.
Bingo, itu jawabannya. Mahira ngambil ponsel dan foto setiap halaman kontrak satu persatu, foto jernih dan jelas.
"Ini akan berguna nanti," dia berbisik sambil scroll foto-foto di galeri ponsel.
Setelah semua halaman terfoto, Mahira masukin USB kembali ke tas dan nyalahin mesin mobil. Dia mulai ngetik di notes hp, nulis nulis rencananya sambil mengunakan pikiran.
Ini bisa membuat Nathan makin deket sama Mahira, makin tergantung. Naura ngerasa semakin gak berharga, pelan-pelan. Mahira akan mencari loophole di kontrak, buat bikin perceraian lebih cepat.
Dan membuat Nathan tau bahwa Naura yang nikah karena uang, bahwa perasaan Naura sama dia itu bohong, bahwa Naura cuma istri bayaran.
Dan langkah selanjutnya, Mahira tersenyum lebar, ia akan menjadi Nyonya Erlangga yang beneran. Bukan Naura, bukan gadis miskin yang jual diri buat bayar operasi ibunya.
Mobil melaju di tengah hujan sore Jakarta yang deras. Mahira menatap hujan yang ngalir di jendela sambil senyum, senyum yang dingin dan licik. Senyum seseorang yang udah punya semua kartu di tangannya.
Dan tinggal nunggu waktu yang tepat buat memainkannya. Naura juga gak tau apa-apa. Naura gak tau bahwa sahabatnya lagi pegang senjata, yang bisa hancurin hidupnya.