Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: PERMINTAAN MAAF
Malam itu, apartemen Revan terasa jauh lebih tenang, seolah dinding-dindingnya pun ikut menghela napas lega setelah badai besar yang mereka lalui di kampus. Lampu ruang tengah sengaja dipadamkan, menyisakan keremangan dari lampu-lampu kota yang masuk melalui jendela besar.
Revan duduk di sofa, namun pikirannya tidak lagi melayang pada pasal-pasal hukum atau draf laporan polisi. Fokusnya tertuju kepada Valerie yang sedang duduk bersandar di dadanya, terbungkus selimut tebal.
"Mas..." bisik Valerie lirih. Tangannya memainkan kancing kemeja Revan yang sudah terbuka dua teratas. "Apa kau benar-benar tidak menyesal? Besok seluruh universitas akan membicarakanmu bukan sebagai dosen teladan, tapi sebagai pria yang menikahi mahasiswinya sendiri."
Revan mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala Valerie yang masih sedikit lembap karena baru selesai mandi. "Biarkan mereka bicara, Erie. Aku lebih memilih kehilangan martabat di mata kolega daripada kehilangan hak untuk menggandeng tanganmu di depan mereka. Kau adalah satu-satunya hukum yang ingin kupatuhi sekarang."
Revan memutar tubuh Valerie agar menghadapnya. Dalam keremangan, mata Revan tampak begitu dalam, penuh dengan kerinduan dan proteksi yang meluap. Ia mengusap pipi Valerie dengan jempolnya, menghilangkan sisa kecemasan yang mungkin masih tertinggal.
"Selama ini aku terlalu kaku, terlalu takut rahasia ini akan menghancurkanmu. Tapi melihatmu gemetar di studio saat itu... aku sadar bahwa diamku adalah luka bagimu," ujar Revan serak.
Revan menunduk, menyatukan kening mereka. Napasnya yang hangat terasa di kulit Valerie, membuat jantung gadis itu berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya sendiri. Ini adalah jarak terdekat yang pernah mereka lalui selama berbulan-bulan tinggal di bawah satu atap.
Revan menatap bibir Valerie yang merah alami, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk melakukan lebih dari sekadar menjaga. Namun, ia kembali menahan diri. Ia tidak ingin merusak kepercayaan yang baru saja Valerie bangun di tengah badai ini. Bagi Revan, Valerie adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk disentuh tanpa kesiapan mental yang utuh dari gadis itu.
Secara perlahan dan sangat lembut, Revan memiringkan wajahnya, namun bukan bibir Valerie yang ia tuju. Ia mendaratkan kecupan yang dalam dan lama di kening Valerie sebuah ciuman yang tidak lagi membawa amarah kecemburuan, melainkan janji kesetiaan yang mutlak.
Setelah itu, Revan menarik Valerie ke dalam dekapan yang sangat erat, menenggelamkan wajah gadis itu di dada bidangnya. Ia mengusap punggung Valerie dengan gerakan ritmis yang menenangkan, sementara tangan satunya lagi menggenggam jemari Valerie, mengunci celah di antara jari-jari mereka.
"Mas..." bisik Valerie lirih di balik dada Revan.
"Tetaplah seperti ini sebentar saja, Erie," jawab Revan dengan suara bariton yang rendah. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar aman di sini. Di dalam pelukanku."
Valerie memejamkan mata, menghirup aroma parfum sandalwood bercampur aroma tubuh khas Revan yang menenangkan. Meski tanpa ciuman di bibir, Valerie merasakan bahwa ia benar-benar memiliki tempat untuk pulang. Di dalam dekapan pria yang lebih memilih menahan hasratnya demi menjaga kehormatan istrinya.
Namun, momen penuh ketenangan itu terusik oleh suara bel pintu yang berbunyi terus-menerus. Bukan bunyi kasar seperti gedoran Hendrawan, melainkan bunyi yang ragu namun mendesak.
Revan menghela napas berat, matanya memancarkan kilat kekesalan karena momen berharganya terganggu. Ia perlahan melepaskan pelukannya, meski tangannya sempat mengusap pipi Valerie dengan lembut sebagai tanda bahwa ia tidak ingin menjauh.
"Tetap di sini, Erie. Jangan keluar," perintah Revan dengan nada protektif.
Revan berjalan menuju pintu. Saat layar intercom menyala, wajah Julian muncul di sana. Pria itu tampak hancur; tanpa jas, kemejanya kusut, dan matanya merah karena panik. Sangat jauh dari citra dosen idola yang biasanya ia banggakan di fakultas hukum.
Revan membuka pintu sedikit, namun tetap berdiri kokoh di ambang pintu, menghalangi pandangan Julian ke dalam apartemennya.
"Pak Revan..." suara Julian bergetar, hampir seperti bisikan. "Saya... saya datang untuk memohon. Tolong jangan lanjutkan laporan itu. Tolong jangan kirimkan bukti audit digital itu ke dekanat."
Revan menatap Julian dengan tatapan dingin dan datar, seolah sedang menatap terdakwa yang sudah pasti kalah. "Kau pikir setelah mencoba menghancurkan nama baik istriku dengan fitnah 'wanita liar', kau bisa datang ke sini dan meminta maaf begitu saja?"
Julian nyaris berlutut di koridor apartemen. "Saya khilaf. Adrian yang meyakinkan saya bahwa ini satu-satunya cara untuk 'menyelamatkan' Valerie dari Anda. Saya tidak tahu kalau kalian benar-benar sudah menikah sah! Jika laporan ini naik ke dewan etik, saya akan dipecat secara tidak hormat. Karier saya habis!"
Revan terkekeh, suara tawa yang pendek dan sangat dingin. Ia maju satu langkah, auranya begitu mengintimidasi hingga Julian terpaksa mundur.
"Karier? Kau mengkhawatirkan kariermu saat kau sendiri yang berusaha menghancurkan hidup seorang gadis yang bahkan tidak pernah mengusikmu?" Revan mencengkeram kusen pintu hingga buku jarinya memutih. "Kau mencoba mempermalukannya di depan publik hanya karena egomu terluka melihat dia tidak pernah melirikmu."
"Tolong, Pak Revan... saya akan melakukan apa saja. Saya akan mengundurkan diri, asal jangan bawa ini ke ranah hukum," ratap Julian.
Revan menatap Julian dengan kejijikan yang nyata. "Kau ingin aku berhenti? Maka lakukan ini. Besok pagi, unggah pernyataan di forum kampus. Akui bahwa kau terlibat dalam penyebaran foto itu dan nyatakan bahwa semua narasi negatif tentang Valerie adalah bohong. Setelah itu, ajukan surat pengunduran dirimu dan pergi dari kota ini. Jika aku melihatmu lagi dalam jarak dekat dengan Valerie, aku tidak akan hanya menghancurkan kariermu, tapi aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di dunia hukum lagi selamanya."
Pagi itu, suasana di kediaman Revan terasa jauh lebih ringan. Meskipun pemberitaan tentang pengakuan Revan masih menjadi topik panas di universitas, ada rasa lega yang terpancar dari wajah Valerie. kali ini ia tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi atau menunduk saat berjalan di samping Revan.
Revan telah menyiapkan mobilnya sejak pagi. Hari ini, ia tidak membawa Valerie ke kampus. Ia ingin menepati janji untuk memberikan ketenangan bagi Valerie, dan itu dimulai dengan mengunjungi satu-satunya anggota keluarga Adiwijaya yang tulus menyayanginya.
Rumah Sakit Utama – Ruang VVIP Kakek Adiwijaya
Kakek duduk bersandar di tempat tidurnya, menatap ke arah jendela saat pintu kamar terbuka perlahan. Senyumnya langsung mengembang saat melihat Valerie masuk, diikuti oleh Revan yang membawa beberapa buah-buahan segar.
"Kakek..." Valerie langsung menghampiri dan memeluk pria tua itu dengan lembut.
"Valerie, cucuku... Kakek sudah dengar beritanya," suara Kakek terdengar parau namun penuh kebanggaan. Ia menatap Revan yang berdiri tegak di samping tempat tidur. "Revan, kau benar-benar melakukannya. Kau membongkar semuanya di depan publik."