Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Seyra merasa iba mendengar teriakan Nino. Dia tersenyum canggung, berusaha menjaga suasana tetap tenang.
"Nino, aku bukan mama kamu, mungkin mama kamu sudah menunggu di rumah," katanya sambil berjongkok agar sejajar dengan mata Nino.
Nino menatapnya dengan bingung, tetapi tangan kecilnya tetap menggenggam jari Seyra. "Tapi kakak baik. Aku mau kakak jadi mama aku," jawabnya polos.
Killian menghela napas, terlihat sedikit kesal dan khawatir. "Nino, kita harus pulang sekarang. Nenek sudah menunggu kita," katanya dengan lembut, berusaha mengalihkan perhatian anaknya.
Seyra merasa ada beban di hatinya. Dia tidak ingin menyakiti perasaan anak itu, tapi dia juga tidak bisa mengambil peran yang bukan miliknya.
"Nino, bagaimana kalau kita berjanji untuk bertemu lagi di lain waktu? Aku bisa jadi teman bermain kamu nanti," tawar Seyra, mencoba memberikan alternatif.
Nino tampak merenung sejenak, lalu menggeleng. "Aku mau kakak jadi mamaku sekarang," katanya dengan nada yang agak putus asa.
Killian berusaha mengambil alih situasi. "Nino, ingat? Mama pernah bilang kamu nggak boleh menyusahkan orang lain. Kamu paham, kan!"
Nino tetap merengek, kedua matanya memerah menahan tangis. "Aku mau mama, Pa."
Melihat putra semata wayangnya menangis, hati Killian seperti teriris pisau. "Sayang, mama sudah tenang di alam sana. Kita bakal ke makam mama nanti, ya."
Seyra merasakan suasana hati di sekitar mereka berubah drastis. Kalimat Killian membuatnya tercekat. Dia bisa melihat kesedihan yang mendalam di wajah Killian dan tangisan Nino yang semakin keras.
Tanpa sadar, Seyra melangkah maju sedikit, merasakan dorongan untuk membantu meskipun dia tahu ini bukan urusannya.
"Hei, Boy. Dengerin kakak," Seyra mencoba menjelaskan dengan lembut. "Mama kamu pasti bakalan sedih, kalau tahu kamu nangis. Jagoan nggak boleh cengeng loh."
Nino menghentikan tangisnya sejenak, menatap Seyra dengan mata yang masih basah.
"Tapi aku mau mama di sini," jawabnya dengan suara bergetar.
Killian mengusap rambut Nino dengan lembut, berusaha menenangkan. "Kita mampir ke makam mama, yuk. Sekalian ngasih bunga buat mama."
Dalam sekejap Nino mengangguk perlahan, meski masih terlihat sedih. Anak itu mendongak lalu menatap Seyra dengan sendu, "Kakak, kalau kita ketemu lagi. Kakak mau jadi pengganti mama aku?"
Baik Killian mau pun Seyra sama-sama diam, hingga Seyra yang mendengar ponselnya bergetar segera melihat dan ternyata papanya sudah menanyakan keberadaannya yang belum sampai.
Tanpa pikir panjang Seyra mengangguk, agar pembicaraannya dengan Nino segera selesai. "Oke."
Senyum sumringah terlihat jelas di wajah Nino, dia memeluk Seyra dan memberikan kecupan di pipinya.
"Makasih, Kakak cantik!" serunya, kali ini dengan sedikit semangat di balik kesedihan.
Seyra mendesah lelah, namun dia tetap membalas pelukan anak itu. "Sama-sama, sekarang pulang gih. Kasihan papa kamu nungguin dari tadi."
Nino mengangguk, dia melepas pelukannya dan melambaikan tangan kembali.
Setelah mereka menghilang dari pandangan, Seyra melanjutkan langkahnya kembali menuju mobil sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Semoga gue nggak ketemu lagi sama mereka." Gumamnya penuh harap. "Masa gue jadi mama muda dadakan, padahal gue aja baru hidup lagi."
***
Mobil yang Seyra kendarai tiba di kediaman orang tuanya, dia turun dari mobil begitu pintu di buka. Saat melihat rumah baru yang akan dia tempati mulai sekarang, dia tercengang. Rumah itu sangat besar bahkan tiga kali lipat dari rumahnya di kehidupan yang dulu, Seyra menelan ludahnya kasar.
"Buset, gede banget rumahnya. Ini Kana nyari referensi di mana sih?" Ujarnya takjub.
Seyra melangkah menuju pintu utama, begitu dia tiba di depan pintu dia di sambut oleh suara orang-orang yang sedang berdebat. Seyra mengernyitkan dahinya heran.
Dari arah pembicaraan mereka, jelas itu ayah dan ibunya. Dan gadis yang berdiri di sisi wanita paruh baya itu Seyra yakini sebagai kakaknya, Valeri Chazelle.
"Aku nggak mau tahu, Valeri harus ikut denganku!" pekik sang ibu, yang bernama Maya.
"Kamu nggak bisa seenaknya memutuskan hak asuh anak-anak! mereka sudah besar, mereka memiliki pendapat. Jangan egois kamu jadi ibu, Maya!" bentak ayahnya, yang bernama Lewin Chazelle.
Seyra yang baru tiba merasa jantungnya berdegup kencang. Dia tidak pernah membayangkan akan tiba di situasi seperti ini, di tengah konflik yang melibatkan orang tuanya. Dia berdiri di luar pintu, terjebak antara rasa ingin tahunya dan ketidaknyamanan yang melanda.
"Kenapa mereka bertengkar?" gumamnya pelan, meski suara itu hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
Dia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Suara ketukan itu seakan memecah ketegangan di udara. Sebentar kemudian, pintu terbuka dan Valeri muncul dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Seyra, lo pulang juga," kata Valeri, suaranya lembut meski mata gadis itu tampak lelah. "Masuklah."
Seyra melangkah masuk, tetapi suasana di dalam rumah tidak jauh berbeda dengan bayangan yang ada di kepalanya. Suara bentakan masih terdengar jelas, dan dia bisa merasakan ketegangan di antara kedua orang tuanya. Valeri menatapnya dengan ekspresi campur aduk, seolah ingin menghibur sekaligus meminta maaf.
"Mama sama Papa mau cerai." Cetus Valeri dingin.
"Cerai? kenapa?" Seyra menoleh meminta jawaban Valeri, namun gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
Sementara itu, suara ibunya semakin keras. "Valeri harus ikut denganku! dia butuh bimbingan seorang ibu!"
"Lantas, bagaimana dengan Seyra? dia juga putri kita!" sentak Lewin, dia meraup wajahnya dengan kasar.
Seyra berusaha mencari cara untuk memecah kebuntuan itu. "Ehm, Mama, Papa…" Suaranya tercekat, tetapi semua mata langsung tertuju padanya. "Apa yang terjadi? kenapa kalian bertengkar?"
Kedua orang tuanya terdiam sejenak, seolah terperangkap dalam ketidakpastian. Maya mengalihkan pandangannya, sementara Lewin menghela napas panjang.
"Kamu sudah sampai, Sey?" Ujar Lewin lembut.
Seyra mengangguk. "Apa benar kalian mau bercerai?"
"Sayang, sebenarnya Mama dan Papa nggak ingin bercerai tapi keadaan sudah nggak bisa di perbaiki." Jawab Lewin dengan nada lembut, berusaha meredakan suasana. "Kita hanya ingin yang terbaik untuk kalian."
Maya menatap Seyra dengan mata penuh harap. "Kamu sudah dewasa, Seyra. Kamu pasti sudah mendengar semuanya, kan? Kamu nggak keberatan kalau harus ikut Papa kamu, kan? Kamu bisa menjaga dirimu sendiri, sedangkan kakakmu masih butuh Mama biarin kakak kamu ikut Mama, ya?"
Seyra menatap ibunya dengan pandangan rumit, seolah sejak awal ibunya tidak pernah menginginkan keberadaannya di rumah itu. Terlihat jelas dari cara bicaranya, bahwa Seyra bukanlah anak yang di perjuangkan oleh ibunya.
"Kenapa?" tanya Seyra lirih.
"Apa maksudmu kenapa?" bingung sang ibu.
Helaan napas berat terdengar jelas di bibir gadis itu, "Kenapa Mama ingin bercerai dengan Papa? Dan kenapa hanya Kak Valeri yang boleh ikut Mama?"