Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Part 2) Chapter 32
Hujan masih turun tanpa jeda ketika Brian tersadar sepenuhnya.
“...Sial.”
Ia menatap pintu rumah Amayah yang baru saja tertutup keras. Tanpa membuang waktu, ia segera menoleh kepada wanita di sampingnya.
“Masuklah dulu. Hujannya terlalu deras,” ujar Brian dengan nada lebih cepat dari biasanya.
Wanita berambut hijau itu tersenyum lembut. “Kamu terlihat terburu-buru.”
“Ada kesalahpahaman,” jawab Brian singkat.
"Kesalahpahaman?"
Wanita itu hanya mengangguk pelan setelah melihat papan nama rumah yang Brian tuju, seolah sudah memahami tanpa perlu penjelasan panjang.
“Baiklah. Jangan buat dia menunggu terlalu lama," teriaknya.
Brian tidak menjawab. Ia hanya bergegas menuju rumah Amayah setelah mengantar wanita itu ke dalam rumahnya.
Langkahnya cepat. Hampir berlari.
Hujan sedikit membasahi rambut dan pakaiannya, tetapi ia tidak peduli.
Yang ada di pikirannya hanya satu—
Amayah.
Pintu rumah Amayah tidak terkunci.
Brian langsung masuk tanpa ragu.
“Amayah!”
Tidak ada jawaban.
Ia bergegas menuju tangga, langkahnya sedikit tergesa. Nafasnya belum stabil ketika ia tiba di depan kamar Amayah.
Pintu itu tertutup.
Dan terkunci.
Brian mengetuk.
“Amayah.”
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras.
“Amayah, buka pintunya.”
Masih hening.
Brian menghela napas, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Nafasnya yang tadi tidak teratur mulai perlahan stabil.
“Amayah,” ujarnya lagi, kali ini lebih pelan. “Aku tahu kau di dalam.”
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada respons.
Brian bersandar pada pintu, menundukkan kepala sedikit.
“Aku tidak akan pergi sebelum kau membuka pintu.”
Hening.
Namun kali ini—
Dari dalam, terdengar suara.
Pelan.
“...Untuk apa?”
Brian mengangkat wajahnya.
“Aku ingin menjelaskan.”
“Tidak perlu.”
Nada Amayah datar. Namun ada sesuatu yang berbeda—tertahan.
Brian menghela napas kecil.
“Kau salah paham.”
“Kalau begitu, jelaskan dari sana saja.”
Brian terdiam sejenak, lalu menyandarkan punggungnya pada pintu.
“Wanita itu bukan seperti yang kau pikirkan.”
“Dia memelukmu,” jawab Amayah cepat. “Dan kau tidak menolaknya, bahkan tersenyum manis padanya.”
Nada suaranya masih rendah, tetapi jelas mengandung emosi.
Brian menutup mata sejenak.
“Itu karena aku tidak perlu menolaknya.”
“Alasan yang bagus.”
“Sangat bagus, justru.”
Hening.
“Namanya Hannah,” lanjut Brian. “Dia yang merawatku sejak bayi.”
Di dalam kamar, Amayah terdiam.
“Dia seperti keluarga bagiku. Bahkan lebih dari itu.”
“...”
“Hari ini dia datang karena merindukanku. Sudah lama kami tidak bertemu.”
Amayah menggenggam ujung bajunya.
“Pelukan itu... bukan seperti yang kau pikirkan.”
Brian melanjutkan dengan tenang, namun jelas.
“Dia selalu seperti itu sejak dulu. Dan aku tidak pernah mempermasalahkannya. Dia sudah seperti ibuku..."
Beberapa detik berlalu.
“...Kau berbohong.”
Brian menghela napas.
“Aku tidak pernah berbohong kepadamu.”
Hening lagi.
“Kau bisa keluar dan melihatnya sendiri jika masih ragu.”
Tidak ada jawaban.
Brian menatap pintu di depannya.
“Amayah,” ucapnya pelan. “Jika aku benar-benar seperti yang kau pikirkan... aku tidak akan berdiri di sini sekarang.”
Kalimat itu menggantung.
Beberapa detik terasa lama.
Lalu—
Terdengar suara kunci diputar.
Pintu terbuka perlahan.
Amayah berdiri di sana.
Kepalanya sedikit menunduk. Matanya tampak basah.
“...Maaf.”
Suaranya pelan.
Brian menatapnya, lalu menghela napas.
“Aku yang seharusnya meminta maaf.”
Amayah mengangkat wajahnya sedikit, tampak bingung.
“Aku tidak menjelaskan sejak awal. Itu membuatmu salah paham.”
“Namun aku langsung berprasangka,” balas Amayah pelan. “Itu salahku.”
Brian menggeleng ringan.
“Tidak. Itu wajar.”
Hening sejenak.
Lalu—
Amayah mengangkat kedua tangannya perlahan.
“...Peluk aku.”
Brian terdiam.
“...Apa?”
“Peluk aku,” ulang Amayah, masih dengan wajah sedikit menunduk, tetapi kedua tangannya tetap terbuka.
“Sebagai... permintaan maaf.”
Brian mengalihkan pandangan sejenak, sedikit canggung.
“Kau yakin?”
“Jangan membuatku mengulanginya.”
Brian menghela napas kecil.
Lalu—
Ia melangkah maju.
Dan memeluknya.
Pelukan itu lembut.
Hangat.
Amayah langsung membalas pelukan itu tanpa ragu, bahkan sedikit lebih erat.
Kepalanya bersandar di dada Brian.
“...Hangat,” gumamnya pelan.
Brian terdiam sejenak.
Tangannya perlahan mengusap punggung Amayah.
“Kau demam.”
“Aku tahu.”
“Seharusnya kau istirahat.”
“Aku sedang melakukannya sekarang. Ini lebih baik dan nyaman..."
Brian hampir tersenyum.
Hening.
Namun bukan hening yang canggung.
Melainkan hening yang nyaman.
Waktu terasa melambat.
Amayah tidak melepaskan pelukannya.
Sedikit pun.
“...Jangan dilepas,” ucapnya pelan.
Brian menatap ke bawah.
“Kau yang memintanya.”
“Untuk saat ini.”
“Berarti ada batas waktu?”
“Tidak ada.”
Brian menghela napas kecil.
“Kau cukup manja.”
Amayah langsung mengerutkan kening, meskipun masih memeluknya.
“Aku tidak manja.”
“Kau baru saja meminta pelukan tanpa alasan jelas.”
“Itu ada alasannya.”
“Apa?”
“...Aku ingin.”
Brian terdiam.
Lalu tertawa kecil.
“Itu bukan alasan. Itu keinginan.”
“Perbedaan yang tidak penting.”
Brian menggeleng pelan.
Namun tangannya tetap memeluk Amayah.
Tidak dilepaskan.
Beberapa saat berlalu.
Amayah masih tidak bergerak.
“...Kau masih ingin seperti ini?” tanya Brian.
“Iya.”
“Berapa lama?”
“Selama mungkin.”
Brian menghela napas.
“Baiklah, aku siap melakukannya."
Waktu berlalu cukup lama.
Akhirnya—
“Amayah.”
“Apa?”
“Kita harus berhenti.”
“Tidak.”
“Hannah akan menunggu terlalu lama.”
Amayah terdiam.
Lalu perlahan melepaskan pelukannya.
Namun ekspresinya masih enggan.
“Kau bisa memelukku lagi kapan pun kau mau,” ujar Brian santai.
Amayah langsung menatapnya.
“Itu bukan berarti aku ingin melakukannya setiap saat.”
Brian tersenyum tipis.
“Padahal tadi kau tidak ingin melepasku.”
“Itu berbeda.”
“Tidak terlalu berbeda.”
Amayah mendengus pelan.
Brian berbalik.
“Ayo. Bersiaplah. Kita akan menemuinya.”
Namun—
Tiba-tiba—
Amayah memeluknya dari belakang.
Brian terdiam.
“...Amayah?”
“Aku hanya ingin memastikan satu hal.”
“Apa?”
“Apakah aku punya hak khusus?”
Brian menoleh sedikit.
“Hak apa?”
“Untuk memelukmu kapan pun aku mau.”
Brian terdiam sejenak.
Lalu—
“Ya, karena kau pacarku."
Jawaban itu sederhana.
Namun jelas.
Amayah tersenyum kecil, meskipun tidak terlihat.
“Baiklah.”
“Karena aku juga tidak keberatan,” lanjut Brian santai. “Aku justru menyukainya.”
Amayah langsung terdiam.
Pipinya memerah.
“...Kau curang.”
“Dalam hal apa?”
“Kau bisa mengatakan hal seperti itu dengan mudah.”
Brian mengangkat alis.
“Karena itu benar.”
Amayah menutup matanya sejenak.
“Sedangkan aku harus berusaha keras dan mengumpulkan nyali untuk mengatakannya...”
Brian tersenyum kecil.
“Itu membuatnya lebih berharga.”
Amayah tidak menjawab.
Namun pelukannya sedikit mengerat.
Dan untuk beberapa saat—
Ia tidak ingin melepaskannya lagi.
Ruang tamu rumah Brian terasa hangat, meskipun hujan masih turun di luar. Suara rintiknya terdengar samar, seolah menjadi latar bagi suasana yang canggung di dalam.
Amayah duduk tegak di sofa, kedua tangannya bertumpu rapi di atas lutut. Di seberangnya, seorang wanita berambut hijau menatapnya dengan senyum lembut.
“Nama saya Amayah,” ucap Amayah dengan sopan. “Senang bertemu dengan Anda.”
Wanita itu tersenyum semakin lebar. “Kamu tidak perlu terlalu tegang. Bersantailah.”
Nada suaranya hangat. Tidak menghakimi. Tidak menekan.
Namun entah mengapa, Amayah justru semakin berhati-hati.
Di belakang sofa, Brian berdiri dengan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku.
“Dia memang seperti itu,” ujar Brian tiba-tiba. “Selalu terlihat tenang, tetapi sebenarnya sedang berpikir terlalu banyak.”
Amayah langsung menoleh. “Aku tidak seperti itu.”
“Kau baru saja membuktikannya.”
“Berhenti berbicara.”
Brian tersenyum tipis.
“Dia pacarku,” lanjutnya kepada wanita itu, tanpa nada ragu. “Dan dia cukup… menarik.”
Amayah langsung memalingkan wajahnya.
“Ucapanmu tidak perlu.”
“Padahal aku belum selesai.”
“Tidak perlu dilanjutkan.”
Brian mengangkat bahu ringan. “Baiklah. Aku akan menyimpannya untuk nanti.”
Wanita itu tertawa kecil melihat interaksi mereka.
“Lucu sekali,” ujarnya. “Kalian berdua benar-benar serasi.”
Amayah terdiam, sementara Brian hanya mengangguk santai.
“Namaku Hannah Laurent,” lanjut wanita itu dengan ramah. “Aku adalah pengasuh Brian sejak bayi. Selain itu, aku juga masih memiliki hubungan keluarga dengan orang tuanya, meski tidak sedarah sih.”
Amayah sedikit terkejut, tetapi tetap menjaga ekspresinya.
“Saat ini aku bekerja di perusahaan Zaasla cabang Amerika Serikat,” tambah Hannah. “Sebagai direktur utama.”
Amayah mengangguk pelan. “Senang berkenalan dengan Anda, Nona Hannah.”
“Hanya Hannah saja cukup.”
"Kalau begitu, Nyonya Hannah."
Hannah tersenyum heran.
Percakapan mulai mengalir.
“Jadi,” ujar Hannah sambil menyandarkan punggungnya dengan santai. “Sejak kapan kalian berdua bersama?”
Amayah sedikit ragu, lalu melirik Brian.
“Beberapa waktu lalu,” jawabnya singkat.
“Jawaban yang aman,” komentar Brian.
Amayah menatapnya tajam. “Itu cukup jelas.”
Hannah tersenyum.
“Siapa yang menyatakan perasaan lebih dulu?”
Hening.
Amayah terdiam.
Brian menjawab dengan santai, “Tidak ada.”
Hannah mengangkat alis. “Tidak ada?”
"Kaulah yang lebih dulu menyatakan perasaanmu, Brian," ucap Amayah dengan tajam.
"Mungkin bisa dibilang begitu..."
Hannah tersenyum.
“Penjelasan yang membingungkan.”
“Itu karena kau terlalu terbiasa dengan penjelasan yang dramatis.”
Amayah menyela pelan, “Tidak semua hal harus rumit.”
Hannah menatap Amayah dengan senyum puas. “Begitu ya, aku mulai paham mengapa kalian bisa bersama.”
Amayah sedikit terkejut.
Tiba-tiba Brian berjalan ke dapur, lalu kembali dengan sebuah kotak susu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung membuka tutupnya.
Namun—
“Berhenti.”
Suara Amayah terdengar tegas.
Brian menoleh.
“Gunakan gelas,” lanjut Amayah.
Brian terdiam sejenak.
Lalu—tanpa membantah—ia kembali ke dapur, mengambil gelas, dan menuangkan susu tersebut.
Hannah menatap dengan mata sedikit membesar, lalu tertawa kecil.
“Ini pemandangan langka.”
Brian kembali duduk. “Apa maksudmu?”
“Kamu menurut.”
“Aku hanya tidak ingin berdebat untuk hal sepele.”
Hannah tersenyum geli. “Padahal aku bahkan orang tuamu pun kesulitan mengaturmu.”
Amayah melirik Brian.
“Benarkah?”
“Sangat,” jawab Hannah cepat. “Sejak kecil, dia sulit diatur. Terutama soal waktu tidur.”
Brian menghela napas pelan. “Topik yang tidak penting.”
“Justru menarik,” sahut Hannah. “Dia bisa begadang hanya untuk belajar, bermain gim, atau sekadar menyendiri.”
Amayah menatap Brian lebih lama.
“Kau tidak berubah ya.”
Brian mengangkat bahu. “Aku hanya konsisten.”
Hannah tertawa.
“Sejak bayi, dia sudah berbeda. Jarang tersenyum. Jarang menangis. Tetapi matanya selalu… berpikir.”
Amayah mendengarkan dengan saksama.
“Aku bahkan sempat khawatir,” lanjut Hannah. “Dia terlalu diam. Tidak punya teman.”
Brian berdiri.
“Cukup.”
Nada suaranya tetap tenang, tetapi jelas ingin menghentikan.
Hannah tersenyum lembut. “Kamu masih tidak suka mendengarnya ya.”
Brian berbalik. “Aku ke kamar.”
Ia pergi begitu saja.
Hannah tertawa kecil.
Hannah menatap punggung Brian yang menuju ke lantai atas lalu kembali pada Amayah.
“Sebenarnya…” ujarnya pelan. “Aku sangat bahagia.”
Amayah mengangkat wajahnya.
“Dia akhirnya memiliki seseorang.”
Amayah terdiam.
“Dia selalu sendirian. Selalu terlihat kuat, tetapi sebenarnya… kesepian.”
Kata-kata itu terasa berat.
“Tolong jaga dia,” lanjut Hannah dengan lembut.
Amayah menunduk.
“Aku akan berusaha.”
Tak lama kemudian, Brian kembali dan duduk di samping Amayah.
Namun Amayah langsung berdiri.
“Aku akan membuatkan Anda minuman.”
Amayah tidak menjawab dan berjalan ke dapur.
Hannah bersandar santai. “Aku ingin kopi.”
Brian menghela napas. “Bukankah kau terlalu banyak minum kopi, sejak dulu?"
“Aku lelah,” keluh Hannah. “Pekerjaanku sangat berat.”
Brian menatapnya datar. “Sebenarnya itu karena kau yang tidak mampu mengaturnya. Padahal sejak aku kecil aku sering melihatmu menyeduh kopi, aku yakin itu bagian dari kebutuhan, bukan karena alasan kerja."
Hannah terdiam.
“Kau selalu seperti itu. Mengeluh tanpa memperbaiki.”
Hannah menunduk sedikit.
“Kejam sekali.”
“Realistis.”
Tiba-tiba—
“Ah!”
Brian meringis.
Amayah berdiri di sampingnya, mencubit telinganya.
“Jangan berbicara seperti itu. Dia pengasuhmu loh."
Ia melepaskan cubitannya, lalu meletakkan secangkir kopi di depan Hannah.
"Itu benar, aku ini pengasuhmu loh..."
Brian mengusap telinganya. “Mana tehnya?”
“Aku tidak ingat kau memintanya.”
“Padahal aku sudah mengatakannya sebelumnya..."
“Itu bukan tanggung jawabku untuk mengingatnya.”
Brian terdiam, sedikit kecewa.
Hannah tersenyum kecil. “Kamu mampu mengatasi Brian yang merepotkan itu dengan sangat baik. Padahal kondisimu belum membaik."
Amayah mengangkat bahu. “Ya, saya bisa menghadapinya bahkan saat badai sekalipun.”
Ia bergumam pelan, “Lagipula… saya sudah mengisi energi tadi..."
Amayah membayangkan lagi dirinya yang dipeluk oleh Brian.
Hannah menoleh. “Energi?”
Amayah langsung panik. “Tidak, maksudku… bukan apa-apa.”
Ia cepat mengalihkan topik. “Bagaimana masa kecil Brian?”
Hannah berpikir.
“Hmm… Dia tidak punya teman sih, selalu menyendiri, tapi juga selalu dapat peringkat pertama di kelasnya. Tapi... ada seorang anak perempuan…”
Brian menyela, “Kau lupa kan?”
Hannah menatapnya. “Jangan menyebutku pikun.”
Akhirnya ia tersenyum. “Kayla. Namanya Kayla.”
Amayah mengangguk pelan.
“Mereka sering bermain bersama. Aku bahkan sering memotret mereka.”
Hannah tertawa kecil mengenang.
“Namun mereka harus berpisah… karena suatu insiden.”
Brian terdiam.
Amayah menatapnya.
Brian tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja.”
Namun matanya berkata lain.
Hannah menghabiskan kopinya, lalu melihat jam.
“Aku harus kembali.”
Brian mengerutkan kening. “Kau bolos?”
“Tidak,” jawab Hannah cepat. “Aku hanya… mengambil waktu.”
"Itu sama saja bolos. Aku bisa saja bilang ini ke ibuku—"
Hannah tersenyum namun ada kepanikan di wajahnya.
Ia tiba-tiba berdiri, lalu memeluk Brian.
Kemudian Amayah.
“Sampai jumpa.”
Sebelum pergi, Hannah membisikkan sesuatu ke telinga Amayah.
Brian langsung curiga. “Apa itu?”
Amayah tersenyum kecil. “Tidak ada.”
“Jangan bersekongkol.”
Hannah tertawa. “Jaga dirimu, dan hubunganmu.”
Brian mengangguk. “Terima kasih.”
“Dan aku akan memberi tahu ibumu.”
“Apa?! Jangan!”
Hannah melambaikan tangan sambil berjalan menuju mobilnya.
Brian hanya bisa menatap dengan pasrah.
Sementara Amayah—
Tersenyum kecil, menyimpan rahasia kecil di dalam hatinya.
Suara pintu yang tertutup perlahan menandai kepergian Hannah. Rumah Brian kembali sunyi, hanya ditemani sisa aroma kopi dan suara hujan yang belum juga reda.
Namun, kesunyian itu tidak bertahan lama.
Tanpa mengatakan apa pun, Amayah berdiri dari sofa dan berjalan cepat menuju dapur.
Brian yang masih berdiri di ruang tamu mengernyit.
“Kau mau ke mana?”
“Ke dapur,” jawab Amayah singkat tanpa menoleh.
“Untuk apa?”
“Aku ingin memasak.”
Langkah Brian langsung terhenti.
“Tidak.”
Amayah berhenti di depan meja dapur, lalu menoleh perlahan. “Apa maksudmu ‘tidak’?”
“Kau tidak boleh memasak.”
“Kenapa?”
“Kau sedang sakit.”
Amayah mendengus pelan. “Itu hanya demam ringan.”
“Itu tetap demam.”
“Aku masih bisa berdiri.”
“Berdiri bukan berarti kau sehat.”
Amayah menatapnya tajam. “Kau belum makan.”
Brian terdiam sejenak.
“Itu bukan alasan untuk membuat kondisimu memburuk.”
“Kalau aku tidak memasak, kau tidak akan makan dengan benar.”
“Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Kau sering melewatkan makan.”
“Itu pilihan.”
“Itu kebiasaan buruk.”
Brian menghela napas panjang.
“Kau terlalu keras kepala.”
“Kau juga.”
“Kali ini aku benar.”
“Aku juga.”
Hening sejenak.
Namun tidak lama.
“Aku hanya ingin memastikanmu makan dengan baik,” lanjut Amayah, nadanya sedikit melemah, meskipun masih berusaha terdengar tegas.
“Aku hanya ingin kau tidak jatuh sakit lebih parah,” balas Brian.
Amayah terdiam.
Namun langkahnya tidak mundur.
“Aku tetap akan memasak.”
Brian berjalan mendekat.
“Tidak.”
“Aku bisa melakukannya.”
“Aku tidak akan membiarkanmu masak kali ini."
“Kau tidak bisa menghentikanku.”
“Benarkah?”
Brian tiba-tiba memegang kedua tangan Amayah.
Gerakannya cepat, tetapi tidak kasar.
Amayah terkejut.
“...Brian?”
Tatapan Brian tenang, tetapi serius.
“Aku tidak ingin kondisimu memburuk.”
Nada suaranya rendah.
Jujur.
“Ini bukan soal siapa yang benar.”
Amayah menatapnya, sedikit goyah.
“Ini soal dirimu.”
Ia terdiam.
“Lalu bagaimana dengan makananmu?” tanyanya pelan.
Brian menggeser tangannya, kini memegang kedua pundak Amayah dengan lembut.
“Aku akan mencari solusi.”
“Seperti apa?”
“Apa pun yang tidak melibatkanmu berdiri di dapur saat demam.”
Amayah menggigit bibirnya.
“Namun—”
Kalimatnya terhenti.
Brian memeluknya.
Tiba-tiba.
Hangat.
Tenang.
“Aku tidak akan kelaparan,” ujar Brian pelan. “Tetapi aku akan merasa bersalah jika kau semakin sakit.”
Amayah memejamkan mata.
Pelukan itu terasa familiar.
Menenangkan.
Perlahan, ia menghela napas.
“...Baiklah.”
Brian tidak langsung melepaskannya.
“Aku akan beristirahat,” lanjut Amayah pelan. “Maaf… aku terlalu keras kepala.”
“Kau memang seperti itu.”
“Itu bukan pujian.”
“Aku tidak bermaksud memujimu.”
Amayah mendengus kecil.
Namun ia tidak menolak pelukan itu.
Beberapa saat kemudian, Brian mengantar Amayah kembali ke rumahnya.
Hujan masih turun, meskipun tidak sederas sebelumnya.
Setelah memastikan Amayah masuk ke kamarnya, Brian berdiri di ambang pintu.
“Berbaringlah.”
“Aku sudah melakukannya.”
“Jangan bangun tanpa alasan.”
“Kau terlalu banyak mengatur.”
“Kau terlalu sulit diatur.”
Amayah menarik selimut hingga ke bahu.
“Jadi, kau akan memasak?”
Brian menyilangkan tangan. “Tentu.”
“Kau bisa?”
“Tentu saja.”
Amayah menatapnya dengan ragu.
“Aku tidak pernah melihatmu memasak.”
“Itu bukan berarti aku tidak bisa.”
“Ini terdengar mencurigakan.”
“Aku hanya tidak sering melakukannya.”
“Artinya kau tidak berpengalaman.”
“Artinya aku belum menunjukkan kemampuanku.”
Amayah menghela napas kecil.
“Jangan membuat dapurku berantakan.”
“Aku tidak seceroboh itu.”
“Jangan membuat rasa makanannya aneh.”
“Aku tidak akan bereksperimen.”
“Jangan sampai kau malah meracuni dirimu sendiri.”
Brian mengangkat alis. “Kau meremehkanku.”
“Aku hanya realistis.”
Brian tersenyum tipis.
“Aku akan membuat sesuatu yang layak.”
Amayah menatapnya beberapa detik.
Lalu—
“Baiklah.”
Namun sebelum Brian berbalik—
“Brian.”
Ia berhenti.
“Ya?”
“Jangan terlalu lama.”
“Kenapa?”
“Aku… akan menunggu.”
Brian terdiam sejenak.
Lalu mengangguk kecil.
“Aku tidak akan lama.”
Saat Brian keluar dari kamar, Amayah memejamkan matanya.
Tubuhnya masih lemah.
Namun entah mengapa—
Hatinya terasa hangat.
“...Dia benar-benar akan memasak untukku...”
Ia tersenyum kecil.
“Semoga dapurku selamat.”
Namun di balik itu—
Ada rasa lain.
Tenang.
Nyaman.
Dan tanpa ia sadari—
Ia tertidur dengan pikiran tentang seseorang yang sedang berusaha… untuknya.
Bersambung.
Namun, masih ada beberapa sifat karakter yang terasa tidak konsisten. Namun, secara keseluruhan, cukup baik.
semangat terus bang!!!