NovelToon NovelToon
Pilot'S Barbaric Triplets

Pilot'S Barbaric Triplets

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Konglomerat berpura-pura miskin / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Office Romance / Tamat
Popularitas:106k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞

______________________________________________

"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?

Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.

Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.

Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.

Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Cia, Vano, dan Varo dengan langkah ragu menyusuri koridor menuju ruang kerja Opanya, Anggara. Firasat buruk yang sedari tadi menghantui mereka perlahan sirna, tergantikan rasa penasaran yang menggelitik.

Di depan pintu, mereka saling bertukar pandang, senyum kecil tersungging di bibir masing-masing. Mereka memang menyukai tantangan, dan aura misterius yang menyelimuti mereka semakin terpancar. Pertemuan mendadak mereka ini, menjanjikan sesuatu yang menarik bagi ketiganya.

Vano mengetuk pintu dengan percaya diri, menunggu jawaban dari dalam.

Tok!

Tok!

"Opa! Ini kami!" ujar Varo memberi tahu.

"Masuk," sahut suara berat Anggara dari dalam, terdengar lebih dalam dan berwibawa dari biasanya.

Vano gegas membuka pintu lalu masuk, di ikuti Cia dan Vano di belakangnya. Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam ruangan yang terlihat rapi namun dipenuhi dengan buku-buku tua dan aroma kayu cendana.

Anggara duduk di balik meja kerjanya yang besar, menatap ketiga cucunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ruangan itu terasa lebih intens dan penuh antisipasi.

"Duduk," perintah Anggara singkat, wajahnya menunjukkan keseriusan.

Cia, Vano, dan Varo menurut. Mereka duduk di kursi yang berderet di depan meja Opa, Anggara, saling bertukar senyum penuh semangat.

Anggara menghela napas panjang, terlihat sedikit ragu. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, lalu menatap mereka satu per satu dengan tatapan serius. Ia tahu betul ketiga cucunya ini memiliki bakat luar biasa, namun naluri seorang kakek tetap mengkhawatirkan keselamatan tiga cucu kembar kesayangannya.

"Kalian pasti bertanya-tanya, mengapa Opa memanggil kalian ke sini," ujar Anggara memulai pembicaraan. Suaranya pelan, namun penuh dengan otoritas.

Cia, Vano, dan Varo mengangguk serempak, mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu yang tak dapat di sembunyikan.

"Besok malam, kalian akan menjalankan sebuah misi rahasia," lanjut Anggara, membuat triple saling melempar pandang penuh semangat.

"Misi? Misi apa, Opa?" tanya Vano, tak bisa menyembunyikan antusiasmenya.

Anggara terdiam sejenak, terlihat menimbang-nimbang. "Ini adalah misi yang sangat penting, misi yang membutuhkan keahlian khusus. Misi yang ... berbahaya," jawab Anggara dengan nada yang lebih berhati-hati.

Cia, Vano, dan Varo tersenyum lebar. Mendengar kata "berbahaya", justru semakin memacu adrenalin mereka.

Anggara kemudian menjelaskan secara detail tentang misi yang harus mereka lakukan.

"Besok malam, akan ada pertemuan rahasia antara para pemimpin sindikat narkoba terbesar di Asia Tenggara di sebuah hotel mewah di pusat kota. Kalian bertugas untuk menyusup ke dalam pertemuan itu, mengumpulkan bukti-bukti kejahatan mereka, dan ... jika memungkinkan, menangkap mereka semua," jelas Anggara dengan nada tegas, namun tersirat kekhawatiran dalam suaranya.

"Wah, kedengarannya seru!" seru Cia, matanya berbinar-binar.

"Tentu saja kami bisa, Opa! Justru semakin sulit, semakin menantang!" timpal Varo dengan nada bersemangat.

"Kami sudah lama tidak beraksi, Opa. Ini saatnya untuk menunjukkan kemampuan kami!" sambung Vano, tak kalah antusias.

Anggara menghela napas, menyadari bahwa ia tak bisa menghentikan semangat membara ketiga cucunya ini. "Saya tahu kalian mampu, tapi ingat, ini bukan permainan. Ini nyata. Nyawa kalian taruhannya," ujar Anggara dengan nada serius, mengingatkan mereka akan bahaya yang mengintai.

"Kami mengerti, Opa. Kami akan berhati-hati," jawab Cia, Vano, dan Varo serempak tanpa rgu sedikit pun.

Anggara menatap mereka satu per satu, mencoba meyakinkan diri bahwa mereka akan baik-baik saja.

"Opa akan memberikan kalian semua informasi yang kalian butuhkan. Kalian akan mendapatkan identitas palsu, akses ke hotel, dan peralatan yang diperlukan. Kalian hanya perlu mengikuti instruksi yang Opa berikan, dan yang terpenting, saling melindungi satu sama lain," lanjut Anggara, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya di balik nada tegasnya.

"Siap, Opa! Kami akan menjalankan misi ini dengan sempurna!" jawab Vano dengan nada penuh semangat.

Anggara tersenyum tipis, merasa bangga sekaligus cemas. Ia tahu, ketiga cucunya ini adalah aset berharga bangsa. Mereka memiliki kecerdasan, keberanian, dan kemampuan di atas rata-rata. Namun, di balik semua itu, mereka tetaplah cucu-cucunya yang sangat ia sayangi.

Tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan Ratu dan Nathan sekalipun, Cia, Vano, dan Varo diam-diam mengikuti jejak Anggara sebagai mantan intelijen negara. Sejak duduk di bangku kelas dua SMP, mereka sudah dilatih dengan ketat oleh Anggara. Berkat kejeniusan yang mereka miliki, mereka dengan cepat menguasai semua ilmu yang diajarkan. Mereka belajar ilmu bela diri tingkat tinggi, strategi intelijen, taktik penyusupan, dan berbagai macam keterampilan lainnya. Mereka juga dilatih untuk berpikir cepat, mengambil keputusan tepat dalam situasi yang sulit, dan bekerja sama sebagai tim yang solid.

Ini bukan lah misi pertama mereka. Sebelumnya, mereka sudah berhasil menjalankan beberapa misi rahasia lainnya, meskipun skala dan tingkat kesulitannya tidak sebesar misi kali ini. Berkat keberhasilan mereka dalam menjalankan misi-misi tersebut, mereka mendapatkan julukan tersendiri di dunia intelijen: "The Silent Triple". Julukan yang menggambarkan kemampuan mereka untuk bergerak tanpa suara, bertindak tanpa jejak, dan menyelesaikan misi tanpa diketahui oleh siapapun.

"Ingat, misi ini harus dirahasiakan dari siapapun. Bahkan dari Mama dan Papa kalian sekalipun," pesan Anggara mengingatkan.

"Siap, Opa. Kami mengerti," jawab Cia, Vano, dan Varo serempak.

Anggara mengangguk puas. Ia mengeluarkan sebuah map cokelat dari laci mejanya dan menyerahkannya kepada Vano.

"Di dalam map ini, terdapat semua informasi yang kalian butuhkan. Pelajari dengan seksama, dan jangan sampai ada yang terlewatkan," perintah Anggara.

Vano menerima map tersebut dengan semangat. Ia dan kedua saudaranya gegas bangkit dari kursi dan berpamitan kepada Anggara.

"Kami permisi dulu, Opa. Kami akan mempersiapkan diri untuk misi besok malam," ucap Varo, dengan nada penuh semangat.

Anggara mengangguk. "Hati-hati, dan semoga berhasil," ucapnya dengan nada tulus, menatap ketiga cucunya yang berjalan keluar dari ruang kerjanya.

Setelah Cia, Vano, dan Varo keluar dari ruangan, Anggara menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya di kursi dan memejamkan mata. Rasa khawatir dan cemas kembali menghantui dirinya. Ia berharap, ketiga cucunya akan baik-baik saja, dan misi mereka akan berjalan dengan lancar. Ia tahu, mereka adalah harapan bangsa. Namun, ia juga tahu, dunia intelijen adalah dunia yang penuh dengan bahaya dan pengkhianatan. Ia hanya bisa berdoa, agar ketiga cucunya selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Bersambung ...

1
riniandara
jangan lupa review ya all jika kalian suka terima kasih
Elsa
keren luar biasa
Elsa
Wah lagi seru-serunya dah tamat aja!/Scream//Smile/
Susanti Susanti
Luar biasa
Ariany Sudjana
hahaha opa Narendra speechless 😄😄 cucunya hebat semua
Dwie Artum
double upnya kk🙏🙏
Ariany Sudjana
Ini penulisnya niat ga sih buat novel? bolak balik scroll, ga pernah update. kalau ga niat tulis novel, jangan buat novel
riniandara: maaf kakak author lagi kurang sehat, insyaallah besok mulai up lagi ya.
total 1 replies
my grill🌹
thorrt upp donk pliss
wo te
sekian purnama Bru up lgi tor🤣🤣
Dwie Artum
lanjut lg kk.double upnya kk🙏🙏
Ariany Sudjana
heh jalang kenapa kamu harus sewot? kan kamu ga harus bayar makanan mereka, kamu kalau ga tahu kebenarannya, sudah jangan cari masalah
Dwie Artum
owk g up lg kk.dh lma q tunggu
Dwie Artum: y kk.q tunggu y kk🙏🙏
total 2 replies
Ariany Sudjana
owh papa viona hanya asisten CEO? baru begitu saja sudah sombong, berarti kalah kelas dong dibanding anak-anak owner 😄
Azizah Sby
seneng dgn novel kyk bgini ank muda pinter .dan berjiwa ksatria... ada bumbu cinta dan deg degan Dlm mnjlnkn misi . good author
Tri Rahayuningsih
kesel jg jadi ratu ya...
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
Dwie Artum
jangan lma" up nya kk.lgi seru"nya ini.
Dwie Artum
double upny kk.🙏🙏
Tri Rahayuningsih
pria bertopeng itu pasti Aksa..
waah mereka emang berjodoh ya😄
riniandara
siap
riniandara
siap Kak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!