Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 Waktu
Allah tidak pernah tergesa menuliskan takdir. Manusialah yang sering tidak sabar membacanya.
—Aldivano Athariz—
Angin laut masih berembus lembut ketika Aldivano menatap layar ponselnya sekali lagi.
Pesan itu singkat.
Namun bobotnya terasa seperti batu yang dijatuhkan ke dasar hati.
Dari Daddy Caesar.
“Kita perlu bicara. Soal waktu yang sudah terlalu lama kita tunda.”
Jantung Aldivano berdetak lebih lambat, bukan karena takut, tetapi karena ia tahu—ini bukan lagi tentang perasaan semata. Ini tentang amanah. Tentang janji yang telah diucapkan di hadapan wali dan saksi. Tentang status yang selama ini tersembunyi rapi seperti rahasia yang dikunci dalam peti besi.
Ia mengangkat wajahnya.
Di kejauhan, Celine sedang tertawa bersama Reina dan Alya. Tawa itu ringan, seperti lonceng kecil yang ditiup angin sore. Ia berdiri dengan rambut yang diterpa cahaya matahari, wajahnya bersinar seperti permukaan laut yang dipantulkan cahaya senja.
Dan tiba-tiba, Aldivano merasa—waktu benar-benar berjalan.
Seperti ombak yang tak pernah kembali ke bentuk semula setelah menyentuh pasir.
Perjalanan kembali ke villa terasa berbeda.
Mobil berjalan menyusuri jalanan berkelok, sawah di kanan kiri terlihat seperti hamparan permadani hijau yang dibentangkan Allah untuk menenangkan jiwa. Langit mulai berubah warna, jingga yang perlahan larut menjadi ungu, seperti perasaan yang tak lagi bisa disembunyikan terlalu lama.
Celine duduk dekat jendela. Pandangannya lurus ke luar, tetapi pikirannya jauh lebih sibuk dari biasanya.
Entah sejak kapan ia berhenti menolak rasa itu.
Entah sejak kapan ia mulai merindukan kehadiran Aldivano, bahkan ketika lelaki itu tidak berbicara.
Ia teringat pagi tadi.
“Tapi aku ingin kamu tahu… aku tidak pergi.”
Kalimat itu berputar di kepalanya seperti gema di ruang kosong.
Dan anehnya, justru ketenangan itulah yang membuatnya gelisah.
Karena seseorang yang tidak memaksa, sering kali lebih sulit dilawan.
Di kursi depan, Aldivano memandang jalan dengan fokus. Namun sesekali, tatapannya jatuh pada kaca spion tengah. Dari sana, ia bisa melihat siluet Celine.
Ia tidak ingin tergesa.
Tetapi ia juga tahu, menunda terlalu lama bukan lagi bentuk kesabaran—melainkan ketakutan.
Malam itu, villa kembali ramai oleh suara keluarga.
Namun setelah makan malam selesai dan sebagian besar sudah kembali ke kamar masing-masing, Daddy Caesar memanggil Aldivano ke ruang tamu.
Lampu ruang tamu redup. Hanya ada cahaya kuning hangat yang memantul di dinding kayu.
Aldivano duduk tegak.
Daddy Caesar menatapnya lama. Tatapan seorang ayah yang bukan sekadar ingin tahu, melainkan ingin memastikan.
“Kamu tahu kenapa saya kirim pesan itu?” tanyanya tenang.
Aldivano mengangguk. “Soal waktu.”
Daddy Caesar menarik napas panjang, seperti seseorang yang sedang menimbang kata-kata agar tidak melukai.
“Kita sudah cukup lama menyembunyikan ini dari Celine.”
Sunyi turun di antara mereka, seperti tirai yang perlahan jatuh di panggung pertunjukan.
“Dia mulai berubah,” lanjut Daddy Caesar. “Dan saya tidak tahu apakah itu karena perasaan yang tumbuh… atau karena kebingungan yang kita ciptakan.”
Kalimat itu seperti cermin.
Aldivano menunduk sedikit.
“Saya tidak ingin membuatnya terluka,” ucapnya pelan.
“Lalu sampai kapan?” tanya Daddy Caesar.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun jawabannya tidak.
Angin malam menyusup lewat celah jendela, membawa hawa dingin seperti pengingat bahwa tidak semua hal bisa ditunda tanpa konsekuensi.
“Saya ingin dia sadar dengan caranya sendiri,” jawab Aldivano akhirnya. “Bukan karena status. Bukan karena kewajiban. Tapi karena hati.”
Daddy Caesar menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya sejak pembicaraan dimulai, ia tersenyum tipis.
“Kamu mencintainya dengan cara yang dewasa.”
Aldivano terdiam.
Cinta.
Kata itu kini terasa lebih berat dari sebelumnya.
Bukan lagi tentang menaklukkan.
Bukan lagi tentang memiliki.
Melainkan tentang menjaga.
“Tapi ingat,” lanjut Daddy Caesar, “kebenaran yang terlalu lama ditunda bisa berubah menjadi luka.”
Kalimat itu menancap dalam.
Seperti anak panah yang tidak melukai kulit, tetapi menembus pikiran.
Di kamar lain, Celine duduk di tepi ranjang.
Reina sudah tertidur lebih dulu. Namun Celine tidak bisa memejamkan mata.
Ia memandang langit-langit kamar.
Hatinya terasa seperti laut yang tak lagi tenang.
Ia menyadari satu hal yang tidak bisa ia elak lagi—
Ia takut jika Aldivano benar-benar pergi.
Ketika ia menjauh dulu, ia berharap lelaki itu akan tetap mendekat.
Dan ketika Aldivano memberi jarak, ia justru merasa kehilangan.
Bukankah itu pertanda?
Ia memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya, ia berani mengakui dalam hati:
Ia mencintainya.
Pengakuan itu tidak meledak seperti petir.
Ia datang perlahan, seperti embun yang jatuh diam-diam namun membasahi seluruh permukaan daun.
Air mata tipis menggenang.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena sadar.
Namun kesadaran itu juga membawa ketakutan.
Bagaimana jika semua ini hanya perasaannya sendiri?
Bagaimana jika Aldivano tidak lagi menunggu?
Keesokan paginya, suasana villa terasa lebih tenang.
Namun ketenangan itu seperti permukaan danau yang menyembunyikan arus di bawahnya.
Celine memutuskan berjalan sendirian ke taman kecil di belakang villa.
Rumput masih basah oleh embun. Langit cerah seperti kertas putih yang belum ditulisi.
Ia duduk di bangku kayu.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar.
Aldivano.
Ia tidak terkejut melihat Celine di sana.
Seperti ada benang tak kasat mata yang selalu mempertemukan mereka di waktu-waktu sunyi.
“Aku boleh duduk?” tanyanya.
Celine mengangguk pelan.
Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat.
Namun tidak lagi terasa asing.
“Aku ingin bertanya,” ucap Celine pelan.
Aldivano menoleh.
“Kalau seseorang menjauh karena takut pada perasaannya sendiri… apakah itu salah?”
Angin berembus.
Daun-daun bergerak seperti ikut menunggu jawaban.
Aldivano tersenyum tipis.
“Tidak salah. Tapi jangan terlalu lama bersembunyi. Karena hati juga butuh kejujuran.”
Celine menatap lurus ke depan.
“Dan kalau orang itu takut kehilangan?”
“Kehilangan apa?” tanya Aldivano lembut.
Celine terdiam.
Ia hampir mengatakannya.
Namun suara panggilan dari dalam villa memecah momen itu.
“Celine! Sarapan!”
Ia berdiri cepat.
Percakapan itu menggantung seperti kalimat yang belum selesai.
Sebelum melangkah pergi, ia menoleh sekali.
Dan dalam tatapannya, ada sesuatu yang berbeda.
Keberanian kecil yang mulai tumbuh.
Aldivano melihatnya.
Dan ia tahu.
Waktu itu semakin dekat.
Hari terakhir mereka di Yogyakarta datang seperti bab terakhir buku yang tak ingin segera ditutup.
Kedua keluarga berkumpul untuk foto bersama di halaman villa.
Tawa terdengar.
Namun di balik itu, ada perasaan yang tidak diucapkan.
Saat kamera hampir memotret, Celine tiba-tiba berjalan mendekat ke sisi Aldivano.
Bukan kebetulan.
Bukan pula karena disuruh.
Ia memilih berdiri di sana.
Bahunya hampir bersentuhan.
Dan ketika kamera menangkap momen itu, Aldivano merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—
Bukan lagi perjuangan sepihak.
Melainkan langkah yang mulai searah.
Malam sebelum kembali ke Jakarta, Aldivano menerima pesan kedua.
Kali ini dari seseorang yang tak ia duga.
Dari Celine.
Pesannya singkat.
“Kalau seseorang ingin jujur… kapan waktu yang tepat?”
Aldivano menatap layar ponselnya lama.
Jantungnya berdetak seperti genderang perang—bukan karena takut, tetapi karena tahu jawaban ini akan menentukan segalanya.
Ia mengetik balasan.
Berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Akhirnya ia menulis:
“Saat hatinya sudah siap menerima jawaban.”
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada balasan.
Namun dari balkon kamar, ia melihat jendela kamar Celine masih menyala.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa—Takdir tidak lagi berjalan sendiri.
Namun berdampingan.
Namun tepat ketika semuanya terasa mulai menemukan arah, sebuah panggilan masuk dari ponsel Daddy Caesar membuat suasana berubah.
Wajah Daddy Caesar mendadak tegang.
Mommy Chailey berdiri cepat.
Semua mata tertuju pada mereka.
Celine yang melihat itu merasa dadanya sesak.
Seperti ada sesuatu yang akan mengubah rencana mereka.
Dan Aldivano tahu—
Waktu yang mereka bicarakan… mungkin datang lebih cepat dari yang ia kira.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah rahasia itu akan terungkap lebih cepat?
Dan apakah Celine benar-benar siap menerima seluruh kebenaran?
Langit malam Yogyakarta sunyi.
Namun dalam sunyi itu, takdir sedang bergerak.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...