Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak akan sama lagi
Pagi-pagi sekali Clara mendapatkan pesan dari Viola.
Kak Clara, hari ini ikut ke kecamatan kan? tanya Viola melalui teks.
Clara yang saat itu sedang mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk langsung meraih ponselnya dan mengetik cepat.
Iya, kamu juga ikut? balas Clara.
Tak lama kemudian pesan masuk lagi.
Iya dong, nanti aku jemput ya kak.
Clara membalas dengan stiker jempol, tanda ia akan menunggu.
Setelah selesai sarapan, Clara bersiap dengan celana jeans denim dan atasan senada yang simpel. Ia berdiri di depan pagar rumah, menikmati udara pagi yang belum terlalu panas sambil menunggu Viola.
Tak lama kemudian, Anton lewat bersama Alvian di atas motor.
“Clara, lagi nunggu siapa?” tanya Anton sambil menghentikan motornya tepat di depan Clara.
“Lagi nunggu Viola, ton,” jawab Clara santai.
“Itu anak emang lelet, mbak,” sahut Alvian yang masih duduk di belakang Anton.
“Macam lu gak lelet aja, Yan,” sindir Anton.
Alvian menyengir, dan Clara terkekeh melihat tingkah mereka.
“Paling bentar lagi kok. Kalian duluan aja,” ucap Clara.
Belum sempat Anton menarik tuas gas, suara klakson dari belakang membuat mereka semua menoleh. Sebuah motor matic berhenti tak jauh dari mereka. Viola duduk di atasnya dengan wajah masam begitu melihat Alvian.
“Tuh mbak Clara udah nungguin dari tadi!” omel Alvian.
“Apaan sih, orang Kak Clara juga baru bales chat kok!” sungut Viola.
“Makanya jadi cewek tuh jangan dempul-dempul, bikin lelet,” sahut Alvian lagi.
“Lu mau gue tonjok, Yan?” Viola menurunkan standar motor dengan wajah sengit.
“Ayo ton gas, ada singa betina ngamuk!” teriak Alvian sambil tertawa.
Anton yang ikut tertawa cepat-cepat menarik gas motornya, takut benar-benar kena imbas amukan Viola.
Clara menggeleng pelan melihat kelakuan mereka.
“Huh, ngeselin banget,” omel Viola.
“Lucu banget kalian berdua,” ucap Clara sambil menerima helm dari Viola.
“Lucu apaan, kak. Wajah Alvian kayak musang gitu,” sungut Viola.
Clara kembali terkekeh.
“Daripada mikirin musang, mending kita berangkat,” ujar Viola sambil menarik tuas gas.
Motor melaju membelah jalan pagi yang mulai ramai. Kecamatan yang mereka tuju sebenarnya tidak terlalu jauh dari gang Clara, akan tetapi mereka harus memutar lewat jalan raya karena jalan pintas kecil biasa dipakai untuk pasar pagi.
Angin menerpa wajah Clara, membuat ujung rambutnya bergerak halus di balik helm.
“Kak Clara!” teriak Viola sedikit keras karena suara angin.
“Hah?”
“Kira-kira punya teman yang lagi nyari karyawan gak, kak?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku mau cari kerja, kak. Tapi yang habis pulang sekolah. Dari jam tiga sore sampai malam juga gak papa.”
Clara sedikit mencondongkan tubuh agar bisa mendengar lebih jelas.
“Dari kemarin aku cari belum nemu yang jamnya pas,” lanjut Viola.
“Kamu kan sudah kelas tiga, Vi. Apa gak sebaiknya fokus ujian aja?” tanya Clara hati-hati.
“Aku masih sempat kok belajar di sekolah. Aku mau cari uang sendiri buat biaya acara kelulusan. Aku gak mau terlalu ngerepotin ibu.”
Clara terdiam sejenak, ia terharu. Lantas tersenyum kecil di balik helm.
“Nanti aku coba tanya temanku, tapi aku gak janji ya, Vi.”
“Makasih, Kak Clara yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung!” puji Viola setengah berteriak.
Clara hanya terkekeh mendengar ucapan Viola.
Tak lama kemudian, mereka sampai di kecamatan. Bahkan dari kejauhan sudah terlihat betapa besar acara itu. Lapangan sepak bola kecamatan penuh dengan tenda-tenda putih, banner tinggi dengan logo perusahaan, serta pengeras suara yang memutar musik kampanye.
Orang-orang mulai berdatangan. Antrean sudah terlihat di beberapa meja registrasi. Spanduk besar bertuliskan program kesehatan gratis bersama Forrer Pharmaceutical Indonesia terbentang di sisi lapangan.
Clara dan Viola berjalan mendekat ke arah antrean. Suasana lapangan cukup ramai. Suara pengeras terdengar samar-samar dari panggung utama, bercampur dengan obrolan warga yang saling menyapa.
Belum sampai diantrian, mereka kembali bertemu Anton dan Alvian.
Begitu melihat Alvian, Viola langsung mendecih pelan.
“Aduh… sepet mata ku, kak, kalau ngeliat musang,” ucapnya sengaja cukup keras agar terdengar.
Alvian yang tidak merasa dipanggil menoleh ke kanan dan kiri. “Mana? Musang mana?”
Anton yang berdiri di sampingnya langsung menepuk punggung Alvian. “Yang dibilang Viola itu elu, Yan.”
Alvian menoleh ke arah Viola dengan wajah tak percaya. “Gue?”
“Masa musang gak tau kalau dirinya musang,” balas Viola sambil mengangkat dagu.
Clara menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
“Vi, lu kalau lagi bercermin gak takut lihat wajah lu sendiri?” sindir Alvian balik.
“Heh, lu kira gue hantu?” sungut Viola cepat.
“Gue gak bilang gitu ya,” jawab Alvian sambil tertawa lepas.
Viola langsung menaikkan sedikit lengan bajunya, pura-pura siap menyerang. Alvian refleks mundur setengah langkah, tangannya terangkat seolah benar-benar takut.
Anton terbahak melihat tingkah mereka. Clara tak kuasa lagi menahan tawa. Bahunya sampai berguncang pelan.
“Kalian ini kayak tikus sama kucing,” ucap Clara di sela tawanya. “Kalau ketemu pasti ribut.”
“Viola duluan tuh, mbak,” protes Alvian. “Datang-datang ngatain musang.”
“Gue cuma ngomong fakta,” balas Viola santai.
Clara tersenyum tipis. “Nanti malah berjodoh loh.”
“ENGGAK!” sahut Viola cepat, hampir bersamaan dengan suara Alvian yang terbatuk kecil.
Anton langsung menyikut Alvian pelan. “Udah, Yan, tembak aja si Viola.”
Alvian mendengus, lalu memilih melangkah lebih dulu mengikuti antrean yang mulai bergerak.
“Huh… kabur kan lu,” oceh Viola sambil berkacak pinggang.
Clara dan Anton saling lirik sebentar, lalu tersenyum kecil tanpa kata.
Viola menarik tangan Clara. “Ayo, kak. Kita juga antre.”
Di meja registrasi, seorang petugas perempuan menyambut dengan ramah.
“Silakan diisi dulu formulirnya, ya, mbak.”
Clara menerima lembaran itu dan membaca sekilas sebelum mulai mengisi dengan rapi. Viola berdiri di sampingnya, sesekali melongok kolom-kolom yang harus diisi.
Setelah selesai, Clara menyerahkan formulir kembali.
“Nanti di area sana akan dipasangkan gelang kampanyenya dulu, ya,” jelas petugas sambil menunjuk tenda berikutnya yang tampak lebih padat.
Clara mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Mereka berjalan ke antrean selanjutnya. Karena cukup sesak, Clara memilih berdiri sedikit menyamping dan tak sengaja bertemu Bu Jamilah, Bu Sumiati, dan beberapa ibu-ibu lain agar antrean lebih lega.
“Ibumu kerja, Vi?” tanya Bu Jamilah lembut.
“Iya, Bu. Ngambil lemburan,” jawab Viola. “Padahal sudah Viola larang, tapi katanya sayang kalau tanggal merah gak masuk.” lanjutnya dengan nada agak sedih.
Bu Sumiati tersenyum bijak. “Ibumu begitu karena sayang sama kalian. Sering bantu-bantu pekerjaan rumah ya, nak.”
“Iya, Bu Sum. Viola sama Dina selalu beres-beres rumah kok.”
Clara melirik Viola mendengarkan sambil tersenyum kecil. Ia merasa sangat bangga melihat Viola yang begitu mandiri ditengah banyaknya anak remaja yang manja di era ini.
Tiba-tiba Mbak Siti yang berdiri agak di belakang menyahut, “Clara, kemarin mbak lihat kamu di HP Bang Aldi.”
Bu Jamilah dan Bu Sumiati langsung menoleh.
“Di HP ngapain, Ti?” tanya Bu Jamilah penasaran.
“Itu loh, menang lomba nulis. Masuk media sosial.”
Clara tersipu. Ia mengangguk pelan.
“Duh neng Clara, ibu sih gak heran. Kamu emang paling pinter di Gang Karya Bakti,” ucap Bu Sumiati bangga.
“Biasa aja, Bu. Clara cuma beruntung,” jawabnya lembut.
Viola yang sejak tadi berdiri agak ke depan tiba-tiba berhenti bergerak.
“Eh…” suaranya mengecil dulu, lalu mendadak membesar, “Ya ampun… itu siapa kok ganteng banget?”
Beberapa ibu-ibu refleks ikut menoleh.
Clara yang awalnya masih tersenyum, kini wajahnya berubah menjadi datar.
Noel berdiri di depan antrian. Ia membantu peserta satu per satu. Gerakannya rapi, cepat, profesional. Senyum tipis terlukis di wajahnya, bukan senyum hangat, hanya cukup agar terlihat sopan.
Beberapa wanita paruh baya tampak terlalu lama mengulurkan tangan mereka. Ada yang tersenyum malu-malu, ada yang sengaja bertanya ini, itu agar bisa berbicara lebih lama.
Viola menyenggol Clara pelan. “Kak… itu CEO-nya kan? Aku lihat fotonya di sosmed waktu kak Clara menang kompetisi. Ganteng banget sumpah.”
Clara memalingkan wajahnya lebih dulu sebelum Viola bisa membaca ekspresinya.
“Iya,” jawabnya singkat.
Nada suaranya datar. Tidak naik, tidak turun.