Karya Orisinal.
Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.
Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.
“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”
Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?
Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 : Bahasa Ibu Berakhir di Bukit, Bahasa Dunia Dimulai dengan Jerat.
Fajar lahir dalam warna abu-abu kebiru-biruan, cahayanya belum hangat.
Kabut membungkus atap-atap jerami Jinglan, seakan desa ini menarik napas terakhir sebelum melepasku.
Aku berdiri di ambang pintu, tas kain kasar menekan tulang belakang. Isinya sederhana, roti sisa hangat tungku, sebotol air dari sumur, dan sehelai kain biru pudar sepeninggalan ayah yang seperti sisa napasnya.
Kulit lenganku masih mengingat dingin embun sawah, namun di balik tulang dada, api kenangan masih menyala, titik-titik cahaya bergerak di punggung bukit tadi malam, seperti darah dalam urat nadi bumi.
Mereka bukan pertanda.
Mereka adalah pintu yang terbuka, dan aku harus melangkah.
Kaki kanan meninggalkan tanah halaman, menjejak jalur setapak yang dingin.
Suara retak halus terdengar, bisikan terakhir dari bumi yang mengenal tapak kakiku, seolah berkata. Kau pasti kembali. Tapi mataku sudah tertuju pada garis gelap di mana hutan mulai menelan jalan, menuju puncak tempat cahaya-cahaya asing itu lenyap.
Aku mendaki, berusaha merekam Jinglan untuk terakhir kalinya. Paru-paru menyimpan udara lembab sarat aroma tanah dan dedaunan busuk. Telinga menangkap simfoni terakhir, desis angin dalam bambu, bisik mata air di antara akar batu, kicau burung pipit yang tak berubah.
Bahasa ibu.
Kucoba simpan dalam ingatan.
Perlahan, alam berubah. Pepohonan meranggas. Angin dari Sungai Kelindang turun menyergap, membawa suara baru, gemerincing logam samar dan bau menusuk, asap campur sesuatu yang asing, mungkin minyak atau daging gosong.
Lalu, di tepi jalan, teronggok sebuah jerat besi.
Besi berkarat merah-coklat melekat pada kayu patah. Geriginya tajam, dirancang untuk menggigit dan merobek. Bukan buatan tangan Jinglan. Di sekelilingnya, bekas sepatu berat menghancurkan rumput.
Jantungku berdebar. Aku berlutut, menyentuh logam itu. Dingin menusuk. Kekasaran karatnya seperti pesan kasar tentang klaim dan kekuasaan. Ini milik kami. Kami ambil apa yang kami mau.
Aku menarik tangan, berdiri. Jerat itu kutinggalkan sebagai monumen pelajaran pertama, aturan di luar Jinglan ditulis dengan logam dan ditegakkan dengan gigitan.
Di puncak bukit, angin menggigit. Dan di bawah, terhampar dunia lain.
Persimpangan Sungai Kelindang, dua aliran air bertemu dalam keruh dan debu. Di tepiannya, sebuah perkemahan tumbuh seperti infeksi, kereta pedati raksasa, tenda-tenda kasar berpola luka, manusia bergerak dengan ritme garang.
Teriakan parau, tawa kasar, dan suara cambuk—khas!—diikuti ringkik kuda kesakitan.
Di kereta terbesar, bendera lusuh bergambar mata tertutup dalam lingkaran matahari tanpa cahaya berkibar lesu.
Lalu, pandanganku tertumbuk pada sangkar kayu di pinggir. Di dalamnya, seekor serigala. Bulunya kusam, kepala terkulai, mata kuning redup menatap hampa ke arah bukit. Satu kakinya kaku, tidak wajar.
Lolongan penuh sakit tadi malam. Jerat besi. Sangkar ini. Semuanya tersambung dalam garis lurus yang kejam.
Nasihat itu kembali terasa di tulang belakang.
Jadikan langkah pertamamu sebagai telinga.
Kini, telingaku mendengar kakofoni ambisi, dentuman kekuatan, lengking keserakahan, dan rintihan makhluk yang patah. Aku menarik napas. Udara penuh debu, keringat asam, dan ketakutan.
Aku merendahkan badan, bersandar pada batu dingin. Mataku memisahkan kerumunan, pria besar bercambuk yang jadi pemimpin, lelaki-lelaki muda pengangkut yang jadi pengikut, dan kereta bendera yang dijaga ketat, pusat kekuatan.
Ling Feng yang pemimpi telah tertinggal di lembah, yang tersisa di puncak bukit ini hanyalah pengamat dengan fokus yang dingin dan jernih.
Aku berdiri. Angin mendorong dari belakang. Langkah pertama menuruni lereng adalah langkah pertama ke dalam bahasa baru, bahasa di mana rumah tak dikenal dan dialog dimulai dengan menunjukkan taring.
Di bawah sana, dunia dengan segala gemerincing rantai dan lolongannya menungguku.