" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mommy Lauren
Nana melangkah cepat menyusuri koridor kantor yang masih remang-remang. Suara langkah sepatunya menggema, memecah kesunyian gedung yang belum berpenghuni itu. Hanya ada beberapa lampu lorong yang menyala, memberikan kesan mistis sekaligus mencekam.
Begitu sampai di depan pintu ruangan CEO, Nana mengatur napasnya yang tersengal. Ia menempelkan kartu aksesnya dan pintu terbuka pelan.
Pemandangan di dalam ruangan itu membuat Nana mematung seketika di ambang pintu.
Pria itu tampak sedang duduk santai di sofa panjang berbahan kulit, salah satu kakinya diangkat menyilang. Yang membuat Nana hampir menjatuhkan tas pakaian di tangannya adalah fakta bahwa Abian hanya mengenakan jubah mandi.
Rambutnya masih basah, acak-acakan, dan beberapa tetes air jatuh ke dadanya yang bidang, yang sedikit terekspos karena ikatan jubahnya yang longgar. Ia tampak fokus memainkan ponsel di tangannya, sementara wajahnya terlihat sangat lelah dengan mata yang sedikit kemerahan.
"Lama sekali," gumam Abian tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Suaranya terdengar lebih serak, berat, dan penuh tekanan daripada biasanya.
"Kamu mampir beli sarapan di pasar kaget dulu atau bagaimana? Saya sudah menunggu hampir satu jam."
Nana berdehem keras, berusaha menormalkan detak jantungnya sekaligus mengalihkan pandangan dari pemandangan di depannya. "Jalanan tidak sedingin hati Bapak, Pak. Tetap saja ada hambatan. Ini pakaian Bapak. Lengkap. Semuanya. Termasuk... anu... yang Bapak minta di laci bawah."
Abian akhirnya mendongak. Ia menatap Nana yang sudah rapi dengan pakaian kantor.
"Kenapa wajahmu begitu? Seperti baru melihat hantu," ucap Abian datar, menyadari kegugupan sekretarisnya.
"Bapak... Bapak kenapa cuma pakai jubah mandi begini? Saya kaget, Pak! Tidak sopan sekali!" protes Nana sambil memalingkan wajahnya.
"Lalu kamu mau saya pakai apa? Karung goni? Saya baru selesai mandi, Haruna. Jangan berlebihan," ucap Abian sambil berjalan mendekati tas pakaian yang dibawa Nana.
"Oh ya, tadi saya ke apartemen Bapak..." Nana menjeda sejenak.
"Pak, Bapak habis ngapain di apartemen? Kenapa banyak tisu bertebaran di mana-mana? Bapak... Bapak habis nangis yaa."
Langkah Abian terhenti. Ia perlahan menoleh ke arah Nana dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Nana bisa mencium aroma sabun maskulin yang segar dari bosnya itu.
Abian menatap Nana tajam, suaranya merendah dan terdengar sangat misterius.
"Lebih sedikit yang kamu tahu, itu lebih baik, Haruna," bisik Abian tepat di depan wajah Nana, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Nana mengerutkan kening, tidak puas dengan jawaban penuh teka-teki itu. "Kenapa begitu? Apa Bapak sedang melakukan hal-hal ilegal sampai butuh tisu sebanyak itu? Atau Bapak memang sedang galau tapi gengsi mengakuinya?"
Abian mendengus, sebuah seringai tipis muncul di wajahnya yang lelah. "Kamu terlalu banyak menonton drama. Saya sedang flu berat sejak semalam karena kehujanan saat menjemputmu di kost kemarin. Jadi, daripada kamu sibuk berimajinasi yang tidak-tidak, lebih baik kamu siapkan kopi hangat dan obat di meja saya. Cepat! Jangan lelet lagi!"
Nana tertegun. Jadi, gundukan tisu itu karena Abian sakit? Dan dia sakit karena menjemput Nana saat hujan?
"Maaf, Pak... saya nggak tahu kalau Bapak serapuh itu sampai sakit gara-gara saya," ucap Nana.
"Sudah tahu kan? Sekarang keluar, saya mau ganti baju. Kecuali kalau kamu memang mau memvalidasi bentuk Gitar Spanyol versi pria di depan matamu sekarang," usir Abian dengan mulut pedasnya yang kembali normal.
Nana langsung balik kanan dan lari keluar ruangan dengan wajah semerah tomat. "DASAR BOS MESUM!" teriaknya tepat sebelum pintu tertutup rapat.
Lift bergerak turun dengan sunyi menuju lantai dasar, tempat ruang rapat utama berada. Nana berdiri di sudut lift, memegang tumpukan map dengan rapi, sementara Abian berdiri tegap di depannya. Meskipun sedang flu, aura kepemimpinan Abian tidak luntur, meski sesekali ia harus menahan bersin.
Tiba-tiba, keheningan lift pecah oleh nada dering ponsel Abian. Lalu mendesah panjang sebelum menggeser tombol hijau.
"Yes, Mom," sapa Abian.
Nana berusaha menahan senyum. Ternyata, singa kantor ini tetaplah seorang putra yang patuh jika Mommynya sudah menelpon.
Dari speaker ponsel yang volumenya cukup keras, terdengar suara wanita paruh baya yang terdengar sangat elegan. Itulah Mommy Lauren, ibunda Abian.
"Abian! Kamu ini benar-benar ya. Kenapa tidak pulang-pulang ke rumah? Ini sudah lewat berapa minggu, hah?" suara Mommy Lauren terdengar jelas di ruang lift yang sempit itu.
"Aku sibuk, Mom."
"Sibuk terus! Sampai Mama sendiri dilupakan," balas Mommy Lauren tak mau kalah.
"Lagipula, rumah sedang ramai, Abian. sudah ada Kak Davin di sini. Istrinya juga ada, cucu-cucu Mama yang lucu juga semuanya berkumpul. Masa cuma anak Mama yang paling ganteng ini yang tidak ada? Mama mau kamu pulang!"
Abian memijat pangkal hidungnya yang terasa pening akibat flu dan omelan ibundanya.
"Sudah ada Kak Davin dan keluarganya di sana, kan? Sudah cukup ramai, Mom. Aku di kantor saja," jawab Abian singkat, mencoba mencari alasan.
"Tidak bisa! Ramainya Davin beda dengan adanya kamu. Apa jangan-jangan kamu sengaja tidak pulang karena takut Mama tanya soal pasangan? Atau..." Suara Mommy Lauren tiba-tiba berubah penuh selidik.
"Apa kamu sedang asyik sama sekretaris baru yang kamu banggakan itu? Siapa namanya? Nana?"
Nana langsung tersentak mendengar namanya disebut. Ia refleks merapatkan map ke dadanya, berpura-pura sangat sibuk.
Abian melirik Nana lewat pantulan cermin lift. Ia bisa melihat telinga asistennya itu memerah.
"Mom, jangan mulai," ucap Abian dengan nada memperingatkan. "Nana ada di sebelahku sekarang. Kami sedang menuju rapat penting."
"Oh! Ada Nana di sana? Halo, Nana Sayang!" seru Mommy Lauren dari seberang sana dengan nada yang mendadak riang.
"Maaf ya, Abian pasti judes sekali padamu. Kalau dia bikin kamu darah tinggi, main ke rumah Mama saja, biar Mama yang jewer telinganya!"
Abian langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban lebih lanjut. Ia memasukkan ponselnya ke saku jas marunnya dengan wajah yang terlihat jauh lebih frustrasi daripada saat menghadapi masalah audit.
"Abaikan saja," gumam Abian dingin tanpa menoleh ke Nana. "Mommy saya memang suka berlebihan kalau sedang kumpul keluarga."
"I-iya, Pak. Saya mengerti," jawab Nana kaku, berusaha menahan tawa yang hampir pecah karena melihat sisi anak mama dari bosnya yang garang ini.
Ting!
Pintu lift terbuka. Abian melangkah keluar dengan langkah lebar yang angkuh, sementara Nana mengekor di belakang.
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama