NovelToon NovelToon
Rebel Hearts

Rebel Hearts

Status: tamat
Genre:Berbaikan / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford

Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.

Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Momen Kedamaian

Salena menyadari bahwa apartemen maupun rumah ini bukan lagi tempat yang aman bagi kewarasan Zane. Tanpa banyak bicara, ia mengambil kunci mobil dan menarik tangan Zane yang masih gemetar. Ia membawa Zane menuju rumah peristirahatan tersembunyi milik keluarga Ashford yang terletak di lereng pegunungan es, jauh dari hiruk-pikuk Reykjavik dan bayang-bayang beracun Kharel.

Sesampainya di sana, keheningan pegunungan menyambut mereka. Hanya ada suara angin yang melolong lembut di luar dan nyala api dari perapian yang mulai membara di dalam kabin kayu mewah itu.

Salena menatap Zane yang berdiri di depan jendela besar, menatap kegelapan abadi di luar sana.

"Zane," panggil Salena lirih.

Zane berbalik. Sinar api perapian memantul di matanya, memperlihatkan sisa amarah yang kini berubah menjadi kerinduan yang mendalam. Ia mendekat, jemarinya yang kasar menyentuh pipi Salena dengan sangat hati-hati, seolah takut gadis itu akan hancur.

"Hanya kau, Salena... Hanya kau yang tersisa untukku sekarang," gumamnya dengan nada yang sangat emosional.

Salena tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik tengkuk Zane dan menciumnya, sebuah ciuman yang penuh dengan janji, kekuatan, dan keberpihakan. Ciuman itu menjadi pemantik bagi segala emosi yang mereka tahan sepanjang hari.

Rasa sakit, pengkhianatan Phoenix, dan kegilaan Kharel seolah terbakar habis oleh gairah yang mendadak meledak di antara mereka.

Zane mengangkat tubuh Salena dengan satu gerakan mudah, membawa gadis itu menuju ranjang besar yang dilapisi bulu-bulu hangat.

Di bawah temaram cahaya api, Zane menatap Salena dengan tatapan yang memuja. Ia melepaskan kemejanya, memperlihatkan tato kupu-kupu yang menjadi saksi bisu masa lalunya, namun malam ini, tato itu bukan lagi simbol penderitaan.

Malam itu, di tengah badai es yang mengamuk di luar, di dalam kabin itu terjadi badai yang jauh lebih panas.

Zane memperlakukan Salena dengan intensitas yang luar biasa, campuran antara pemujaan yang lembut dan gairah yang tak tertahankan. Setiap sentuhan Zane adalah pembuktian atas kata-katanya, bahwa Salena adalah wanita pertama dan satu-satunya yang berhasil meruntuhkan dinding pertahanannya.

Salena merasakan setiap inci kulit Zane yang panas bertemu dengan miliknya. Tidak ada lagi hukum, tidak ada lagi logika pengacara, yang ada hanyalah dua jiwa yang sedang mencari tempat berteduh di tengah kekacauan dunia mereka.

Gairah itu bergelora, mengalir seperti lava di bawah lapisan es Islandia. Zane mencium setiap inci tubuh Salena, membisikkan namanya berulang kali seolah itu adalah mantra suci.

Mereka tenggelam dalam keintiman yang paling murni, sebuah penyatuan yang bukan hanya fisik, melainkan juga emosional.

Di bawah naungan langit pegunungan yang membeku, kabin kayu itu menjadi satu-satunya titik api di tengah hamparan salju. Di dalam, udara terasa berat oleh aroma kayu pinus dan panas yang menjalar dari perapian, namun panas yang paling membara justru bersumber dari sentuhan dua tubuh yang saling mendamba.

Zane mengukung tubuh Salena di atas ranjang yang dilapisi bulu lembut. Matanya yang biru gelap menatap Salena dengan kejujuran yang meluluhkan.

Malam ini, bukan Dewa New York yang berdiri di sana, melainkan seorang pria yang sedang menyerahkan seluruh Hidupnya.

"Kau adalah yang pertama, Salena," bisik Zane, suaranya parau, bergetar di antara helaan napas yang memburu. "Hanya kau yang mampu meruntuhkan benteng ini, dan hanya padamu aku ingin menyerahkan segalanya."

Bagi Zane, penyatuan ini adalah sebuah penebusan atas tahun-tahun yang ia habiskan dalam pelarian. Saat jemarinya yang kasar namun gemetar menyentuh kulit Salena yang halus, ia melakukannya dengan pemujaan yang begitu dalam, seolah Salena adalah karya seni yang paling rapuh sekaligus paling kuat yang pernah ia temui.

Salena merasakan dunia di sekelilingnya memudar. Saat Zane perlahan menyatu dengannya, sebuah sensasi asing namun mendebarkan menghantam kesadarannya.

Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, sesak karena emosi yang meluap dan kehadiran Zane yang begitu dominan memenuhi ruang dalam dirinya.

Namun, di balik sesak itu, sebuah kenikmatan yang belum pernah ia bayangkan mulai mekar seperti bunga di tengah badai es.

"Zane..." desah Salena, suaranya pecah, menjadi melodi yang memenuhi ruangan sunyi itu.

Setiap gerakan Zane adalah kalimat puitis yang tertulis di atas kulitnya. Salena mencengkeram bahu kokoh Zane, kuku-kukunya menekan kulit pria itu seiring dengan gelombang nikmat yang menyengat sarafnya. Ia merasa seperti sedang tenggelam dalam lautan yang hangat, di mana ia kehilangan arah namun merasa sangat aman.

Desahan Salena menjadi pengiring bagi detak jantung mereka yang beradu dalam ritme yang sama.

Zane bergerak dengan intensitas yang bergelora, seolah ia sedang mencoba menyatukan setiap inci jiwa mereka agar tak ada lagi celah bagi masa lalu untuk masuk. Ia menciumi ceruk leher Salena, menghirup aroma gadis itu yang memabukkan, sementara tangannya menggenggam tangan Salena, mengunci jemari mereka menjadi satu.

"Jangan lepaskan aku, Salena... jangan pernah," gumam Zane di antara ciuman-ciuman panasnya.

Dalam penyatuan itu, Salena menemukan Hal yang indah, ia merasa tak berdaya di bawah kuasa Zane, namun di saat yang sama, ia merasa memiliki kuasa penuh atas pria itu.

Air mata haru merembes dari sudut matanya, bukan karena sakit, melainkan karena keindahan yang terlalu besar untuk ditampung oleh hatinya yang kecil. Sesak itu menjadi nikmat, dan nikmat itu menjadi sebuah janji yang tak terucapkan.

Malam itu, di tanah Islandia yang liar, mereka tidak hanya berbagi tubuh. Di antara desahan yang bersahutan dan peluh yang membasahi kulit, Zane dan Salena telah melintasi batas menuju dunia di mana hanya ada mereka berdua. Bagi Zane, ini adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya, dan bagi Salena, ini adalah saat ia menyadari bahwa cintanya pada sang Dewa telah membawanya pada kebahagiaan yang paling hakiki.

Di puncak kenikmatan yang memabukkan, Zane mendekap Salena begitu erat, seolah-olah ia tidak akan pernah membiarkan dunia menyentuh gadis itu lagi.

Setelah badai gairah itu mereda, mereka terbaring berselimutkan kehangatan di depan perapian yang mulai mengecil. Zane mencium kening Salena, tangannya mengelus rambut gadis itu dengan sayang.

"Sekarang aku tahu kenapa aku dikirim ke Islandia," katanya dengan suara yang berat dan tenang. "Bukan untuk lari dari Kharel, tapi untuk menemukanmu, Salena."

Malam itu, mereka tertidur dalam pelukan yang paling tenang yang pernah mereka rasakan.

Kharel mungkin telah berhasil menghancurkan persaudaraan Zane, namun secara tidak sengaja, ia justru telah menciptakan sebuah kekuatan baru yang tidak akan pernah bisa ia hancurkan, cinta yang lahir dari api dan es.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Anisa Muliana
padahal keluarga Vance berpengaruh di New York masak gk ada pembalasan utk si penabrak? kenapa rasanya kayak pasrah aja gtu..dan yg bergerak utk membalas malah Katiya..😌
Anisa Muliana
ditunggu update ceritanya thor..😁
Anisa Muliana
serius ceritanya seru thor😍 dan bikin deg"an bacanya Krn gk bisa nebak alurnya kyk gmna..
Anisa Muliana
sepertinya seru ceritanya thor😊
sakura
...
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
anggita
tato yg keren😚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!