SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMAKIN MENJADI
"Mana?" pinta Sasa meminta sekertaris Sakti untuk membuka room chat mereka. Bagi Sasa, dia tidak akan percaya dengan perempuan yang dekat dengan Sakti hanya sebatas profesional. Sasa kapok sudah percaya dengan Mutiara, berujung dikhianati juga.
"Bu Sasa, membuka ponsel saya termasuk melanggar privasi, Bu!" ucap sekertaris Sakti menolak dengan halus, agar tidak bersinggungan dengan Sasa saat ini.
"Gak usah melebar, saya cuma mau tahu kabar Sakti saja buat hari ini, tidak bakal mengecek ponsel kamu keseluruhan!" balas Sasa kekeh. Sekertaris Sakti juga kekeh menolak, hingga Sasa menggeprak meja sang sekertaris.
"Kamu sengotot ini menolak membuka chat kamu sama Sakti karena kamu ketakutan kalau selama ini kamu ternyata menggoda suami saya kan?" semprot Sasa, dan berhasil menyita perhatian rekan kerja lain.
"Bu Sasa berlebihan, saya tidak mau Bu Sasa membaca chat di ponsel saya karena itu privasi saya, bukan karena saya ada main sama Pak Sakti," sang sekertaris tak mau lah dituduh sembarangan begitu. Dia juga kerja secara profesional dengan Sakti, tak mungkin ada hubungan lain selain itu.
"Masalah ini simple, kalau memang kamu tidak ada hubungan dengan Sakti, seharusnya kamu tunjukkan saja room chat kalian. Semakin kamu menolak membukanya, itu tandanya kamu jug salah satu perempuan penggoda Sakti!"
"Jaga bicara Bu Sasa!" sentak sang sekertaris tak terima. Rekan senior mulai ada yang memisahkan, dan menasehati Sasa untuk tidak terlalu melanggar batas privasi, terutama soal ponsel.
"Akan aku cari tahu sendiri kalau kamu menggoda suami saya!" ucap Sasa lupa akan statusnya.
"Mantan suami," balas sang sekertaris makin memancing emosi Sasa. Dia spontan menjambak rambut sang sekertaris, hingga teriakan menggema di area itu. Beberapa orang gupuh memisahkan, namun cengkraman Sasa sangat kuat, ditambah cakaran di pipi sang sekertaris membuatnya semakin tak berdaya. Aulia sempat merekamnya dan mengirim pada Sakti. Tak dibalas langsung lagi, dan Aulia mengabaikan ponselnya langsung ikut melerai.
"Sa, udah dong, Sa!" lerai rekan yang satu angkatan dengan Sasa. "Lepas, Sa!" ujarnya lagi. Namun Sasa tak mendengar, cengkramannya masih kuat, dan sekertaris Sakti sudah capek menangis. Di saat diri mulai berada di titik terendah, dorongan untuk tetap bertahan akan muncul secara mendadak. Tangan sekertaris yang berniat melindungi rambutnya, dialihkan dengan menonjok perut Sasa sekeras mungkin hingga Sasa terdorong dan cengkraman itu lepas. Giliran rekan lain yang berteriak, melihat Sasa tersungkur sembari mengerang kesakitan.
"Sudah gila, makanya diceraikan Pak Sakti," ujar sekertaris namun digeret oleh rekan lain untuk pergi ke area lain. Sasa dibantu berdiri tapi malah ditolak, hingga Aulia dan Mita menggelengkan kepala.
Sakti baru membalas pesan Aulia selepas isya, dan kaget melihat video yang dikirim Aulia tersebut. "Kayaknya aku habis ini pulang saja, gak ikut acara besok," ujar Sakti pamit pada teman-temannya.
"Ada masalah kantor?" tanya teman Sakti, kebetulan mereka sedang barbequean.
"Iya, aku pamit!" ujar Sakti daripada kemalaman, lebih baik buru-buru pulang. Ia tak mau ada banyak korban, dan Sasa melakukan tindakan di luar batas lagi.
Sakti sampai rumah dini hari, mama kaget katanya pulang Rabu kok selasa dini hari sudah sampai di rumah. "Kenapa?" tanya mama.
"Pusing, Ma. Sasa anarkis sampai sekertaris Sakti dijambak," ucap Sakti sembari memijat keningnya.
"Tidur dulu saja, besok pagi selesaikan dengan bijak," ujar mama dan Sakti mengangguk. Ia jadi bingung, Sasa ini enaknya diapain. Dikasih sp juga gak bakal berubah, egois begitu bahkan mungkin merasa Sakti tidak akan tega memberikan sp.
"Kamu kenapa jadi begini sih, Sa?" gumam Sakti frustasi. Ia pun sempat chat pada Mutiara menanyakan solusi sebagai psikolog.
Bawa ke psikolog, Sak. Dia terlalu overthinking sehingga ada gangguan mental yang membuat dia cemas, ketakutan, dan bisa melukai orang lain.
Sumber masalahnya di aku, Ti. Apakah dia mau menerima saran dari aku?
Coba aja, Sakti. Kamu juga jangan ikutan berpikir jauh dulu sebelum mencoba.
Oke, Ti. Makasih.
Sakti berangkat ke kantor setelah mampir ke rumah Iswa dulu, ia sudah membawakan oleh-oleh kepada kedua ponakannya. Boneka berbentuk buah alpukat dan juga hewan. Baik Athar maupun Queena mendapat boneka yang sama.
"Makasih, popo!" ujar keduanya, sedangkan Sakti mengangguk saja dan tak lama pamit, sedangkan Iswa masih bersiap di kamar, setelah menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya.
Sakti datang tepat waktu, karyawan kantor sudah banyak yang datang dan kaget, bukannya masih besok ya, Sakti masuk. Mereka saling pandang, sekertaris masuk dengan bekas cakaran masih tampak, Sasa pun juga masuk dengan wajah berbinar seperti tidak ada masalah kemarin.
"Sasa dan Reti silahkan ke ruangan saya," ujar Sakti tegas setelah melewati Sasa maupun Reti. Rekan lain bisa menebak pasti buntut urusan kemarin, "Bu Anggita juga silahkan ikut masuk ke ruangan saya," ujar Sakti menyebut manajer HRD.
Di dalam ruangan Sakti sudah ada tiga perempuan, ia berpikir semoga tidak ada insiden seperti kemarin. "Silahkan Reti menceritakan kronologis kemarin," pinta Sakti.
"Yang jujur, gak usah memutar balikkan fakta," cetus Sasa, lagaknya dia masih seperti Nyonya Sakti yang akan mendapat pembelaan. Reti dan Bu Anggita hanya menggelengkan kepala.
Reti menceritakan kronologis kejadian kemarin, tanpa menambah dan mengurangi, poinnya hanya fokus pada penolakan Reti atas permintaan Sasa membuka chat antara dirinya dengan Sakti. Reti kekeh dengan dalih privasi.
"Harusnya kalau," Sasa sedikit tak terima kalau Reti bilang privasi, padahal kalau tak ada hal yang mencurigakan ya dibuka saja begitu kan.
"Bisa diam gak, Sa?" sentak Sakti yang belum memberi kesempatan Sasa bicara.
"Ya aku gak terima Sakti, dia kekeh privasi terus," ceplos Sasa masih belum sadar dia suka memotong omongan orang dan belum diberi kesempatan untuk ngomong, padahal Sakti ingin mendengar kronologi dua versi.
Sakti menghela nafas, "Saya menghadirkan kalian bertiga agar saya mendengar kronologi dua versi secara real tanpa ada yang menjatuhkan satu sama lain. Kenapa kamu jadi ribet, harusnya kamu mendengar dulu penjelasan Reti. Kamu nanti juga saya akan beri kesempatan untuk bicara, Sa!" Bu Anggita ingin bertepuk tangan pada ketegasan Sakti. Memang Sasa ini sudah keterlaluan, gak bisa mendengar pendapat lain. Bu Anggita jadi bisa menyimpulkan, masalah rumah tangga Pak Sakti salah satunya karena Sasa tak bisa dinasehati oleh seorang suami.
Wajar diceraikan. Mau menang sendiri begitu, batin Bu Anggita dengan tatapan datar pada Sasa.
"Kamu sudah berobat?" tanya Sakti pada Reti, melihat video yang dikirim Aulia, Sakti bisa menebak kalau rambut dan pipi Reti pasti sakit.
"Sudah, Pak!" sebenarnya Sakti bertanya itu untuk memastikan Reti baik-baik saja kalau ada luka yang parah bisa reimburse pada kantor, bila tidak dicover BPJS. Sedangkan tanggapan Sasa sekali lagi berbeda.
"Sama perempuan lain selalu peka, sok perhatian," gumam Sasa tapi Sakti dan yang lain bisa mendengar, namun Sakti tak memperpanjang.
eh kok g enak y manggil nya