Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Siapa Kamu Sebenarnya?
"Tuan... Kalandra?"
Alea mengulang dua kata itu dengan bibir gemetar. Suaranya nyaris tenggelam di tengah hiruk-pikuk bisikan tamu undangan yang masih syok melihat lima tas seharga miliaran rupiah tergeletak di meja.
Pierre, manajer butik yang biasanya menatap orang dari ujung hidung, masih berdiri membungkuk hormat di hadapan Rigel.
Rigel tidak menjawab pertanyaan Alea. Wajahnya datar, seolah dia baru saja memesan nasi goreng, bukan memanggil koleksi tas paling langka di dunia.
"Pierre, kirim tas yang dipilih Alea ke apartemennya besok pagi. Nanti alamatnya saya kirim. Sisanya bawa balik," perintah Rigel singkat, nadanya penuh otoritas yang asing di telinga Alea.
"Baik! Siap laksanakan, Tuan Muda!" jawab Pierre sigap.
Rigel tidak membuang waktu. Dia mencengkeram pergelangan tangan Alea—kali ini lembut namun tegas—dan menariknya menjauh dari kerumunan yang masih melongo.
"Tunggu! Rigel! Lepas!" Alea memberontak saat mereka berjalan cepat membelah kerumunan. Dia melihat wajah Bella yang pucat pasi seperti mayat hidup di sudut ruangan, tapi Alea bahkan tidak sempat menikmati kemenangan itu. Otaknya terlalu penuh dengan tanda tanya.
"Kita mau ke mana?! Penjelasan lo belum selesai!" protes Alea sambil terseok-seok mengikuti langkah lebar Rigel.
"Di sini terlalu berisik. Bau parfum murah bikin saya pusing," jawab Rigel tanpa menoleh, terus menyeret Alea keluar dari ballroom menuju lobi utama.
Petugas valet yang tadi menghina mobil tua Rigel sedang berdiri santai merokok di dekat tiang. Begitu melihat Rigel keluar, dia membuang rokoknya dan memasang wajah malas.
"Mau ambil mobil, Mas? Mobil tua silver ya? Ambil sendiri aja di parkiran belakang, lagi rame nih," ucap petugas itu meremehkan.
Alea hendak membuka mulut untuk memaki petugas itu, tapi Rigel mendahuluinya.
Rigel tidak mengeluarkan kunci mobil tua yang ada gantungan boneka kucingnya. Dia merogoh saku celana chino-nya yang lain, mengeluarkan sebuah kunci elektronik berwarna hitam matte dengan logo Sayap Perak.
Rigel menekan tombol di kunci itu.
BIP-BIP!
Lampu LED tajam seperti mata predator dari sebuah mobil di area parkir VVIP paling depan menyala, menembus kegelapan malam.
Itu sebuah hypercar hitam matte dengan desain futuristik yang luar biasa agresif. Veleno GT. Mobil super langka yang harganya konon bisa untuk membeli satu pulau kecil.
Rigel berjalan santai menuju mobil itu, sementara petugas valet yang tadi meremehkannya kini melongo.
Pintu mobil itu terbuka ke atas dengan gaya scissor doors yang dramatis saat Rigel menyentuh sensornya.
"Masuk," perintah Rigel pada Alea yang masih mematung.
Alea menatap mobil itu, lalu menatap Rigel yang masih memakai kaos polo polos dan sneakers butut. Otaknya gagal memproses kontradiksi ini.
"Lo... lo maling mobil siapa?" tuduh Alea, masih mencoba menyangkal kenyataan. "Atau ini mobil sewaan? Lo sewa pake paylater ya?!"
Rigel menghela napas panjang, malas menanggapi. Dia mendorong pelan punggung Alea agar masuk ke dalam jok kulit Alcantara yang aromanya saja sudah tercium bau uang.
Begitu Alea duduk, pintu ditutup. Rigel memutar dan masuk ke kursi pengemudi.
Interior mobil itu seperti kokpit pesawat tempur. Panel instrumen digital menyala canggih. Tidak ada AC rusak, tidak ada jok keras, tidak ada bau apek. Yang ada hanya kemewahan teknologi yang membalut mereka.
Jari telunjuk Rigel menekan tombol merah bertuliskan START ENGINE di tengah dashboard.
BLARRRRRR!
Suara raungan mesin V12 bertenaga 800 tenaga kuda meledak, menggetarkan dada siapapun yang mendengarnya. Suara yang jauh berbeda dari batuk-batuk "Si Putih".
Rigel menginjak pedal gas.
Mobil melesat meninggalkan lobi hotel dalam hitungan detik, meninggalkan petugas valet yang masih bengong dan Bella yang baru saja keluar lobi dengan wajah shock melihat mobil "monster" itu membawa Alea pergi.
Di jalan tol yang lengang, Rigel memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi namun stabil. Alea mencengkeram handle pintu erat-erat. Jantungnya berpacu bukan karena kecepatan, tapi karena fakta yang mulai tersusun di kepalanya.
Pierre memanggilnya Tuan Kalandra.
Tas Hermas Private Vault.
Mobil Veleno GT.
Nama belakang Rigel... Kalandra.
"Kalandra..." gumam Alea pelan, matanya menatap profil samping Rigel yang sedang fokus menyetir. "Kalandra... Lo... lo ada hubungan apa sama Keluarga Kalandra?"
Rigel tidak menjawab. Dia hanya memindahkan gigi dengan paddle shift di setir, membuat mesin meraung lagi.
"Jawab gue, Rigel!" teriak Alea. "Keluarga Kalandra itu pemilik jaringan rumah sakit terkenal! Mereka konglomerat farmasi terbesar di Asia Tenggara! Lo siapa?! Anak pungut? Sepupu jauh? Atau..."
Alea menelan ludah.
"...lo anaknya?"
Rigel akhirnya menoleh sekilas. Tatapannya tenang, tapi ada kilatan serius yang belum pernah Alea lihat sebelumnya.
"Kalau iya, kenapa?" jawab Rigel balik bertanya.
Alea ternganga. "Lo gila?! Kalau lo anak Kalandra, ngapain lo kerja jadi kuli di rumah sakit bokap gue?! Ngapain lo naik mobil rongsokan dan biarin Papa ngehina lo miskin?!"
"Saya nggak pernah bilang saya miskin, Alea. Kalian yang berasumsi," sahut Rigel datar. "Dan soal kerja di RS Ardiman... saya cuma mau jadi dokter biasa. Tanpa embel-embel nama belakang ayah saya."
Alea menyandarkan punggungnya lemas. Kepalanya pening. Dia merasa dibodohi. Selama ini dia merasa di atas angin, merasa lebih kaya, lebih berkuasa. Ternyata? Laki-laki di sampingnya ini adalah pewaris kerajaan bisnis yang bahkan lebih besar dari Triple A Capital miliknya.
"Lo... lo nipu gue..." bisik Alea.
Rigel tidak merespons tuduhan itu. Dia memutar setir ke kiri, keluar dari jalan tol menuju kawasan bisnis Sudirman yang penuh gedung pencakar langit.
Mobil hypercar itu melambat, lalu berbelok masuk ke pelataran sebuah gedung pencakar langit tertinggi dan termewah di kawasan itu. Gedung yang puncaknya dihiasi logo huruf "K" raksasa yang menyala biru.
Kalandra Tower.
Rigel menghentikan mobil tepat di lobi utama yang dijaga ketat oleh sekuriti berseragam safari hitam. Begitu melihat plat nomor mobil Rigel, para sekuriti itu langsung membungkuk hormat sembilan puluh derajat, membukakan palang pintu otomatis tanpa bertanya.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Alea bingung, menatap gedung raksasa itu.
Rigel mematikan mesin. Pintu mobil terangkat ke atas.
Rigel turun, berjalan memutar membukakan pintu untuk Alea. Dia mengulurkan tangannya.
Alea menatap tangan itu. Tangan yang sama yang pernah menyuapinya bubur hambar, tangan yang sama yang pernah memelintir tangan mantannya, dan tangan yang sama yang membersihkan kakinya yang kotor tadi.
"Turun, Alea," ucap Rigel lembut namun mutlak.
"Kita mau ngapain di gedung ini?" tanya Alea ragu, tidak menyambut uluran tangan itu.
"Saya mau luruskan semuanya. Saya nggak mau ada rahasia lagi," jawab Rigel.
Rigel menunjuk ke atas, ke lantai paling puncak gedung itu yang lampunya masih menyala terang di tengah malam.
"Masuk. Kita perlu bicara di tempat yang lebih tenang, di mana nggak ada orang yang bisa ganggu kita," Rigel menatap Alea lurus-lurus.
"Selamat datang di kantor ayah saya. Atau lebih tepatnya... kantor saya di masa depan."
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....