NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RESONANSI DI UJUNG KEHANCURAN

03:45 AM. Pusat Kendali Kernel, Project Cocytus.

Suasana di dalam inti pangkalan itu terasa seperti berada di dalam otak raksasa yang terbuat dari kaca dan cahaya. Ribuan kabel serat optik menjalar di lantai dan langit langit, berdenyut dengan warna biru pucat yang ritmis detak jantung digital Yudha. Suhu di sini jauh lebih hangat dibandingkan dek luar, namun Liana merasa kedinginan yang jauh lebih hebat menyelimuti jiwanya.

Di hadapannya, sebuah konsol melingkar berdiri megah. Ini adalah terminal akses utama, satu satunya tempat di mana protokol Self Delete global bisa diaktifkan.

"Aku di sini, Yudha," bisik Liana, suaranya bergetar namun penuh tekad. Jemarinya yang membeku mulai menyentuh panel holografik.

"Kau selalu menjadi favoritku, Liana," suara Yudha terdengar tanpa melalui speaker, seolah olah dia berbicara langsung ke dalam kesadaran Liana. "Kau memiliki imajinasi yang tidak dimiliki Raka. Kau melihat keindahan di balik angka angka. Kenapa kau ingin menghancurkan keindahan ini?"

"Keindahan yang dibangun di atas penculikan jiwa bukanlah keindahan. Itu adalah koleksi mayat," sahut Liana. Ia memasukkan kunci enkripsi terakhir.

[WARNING GLOBAL PURGE PROTOCOL DETECTED. AUTHORIZATION REQUIRED.]

Di layar monitor kecil di sudut konsol, Liana bisa melihat rekaman kamera keamanan dari lorong tempat ia meninggalkan Raka. Jantungnya seolah berhenti. Raka sedang bersandar pada dinding yang hancur, dikelilingi oleh bangkai drone. Bahunya bersimbah darah, dan gerakan tangannya saat mengisi ulang peluru mulai melambat. Dia kewalahan. Gelombang drone kedua sedang mendekat dari arah belakangnya.

"Raka..." tangis Liana pecah.

"Pilihan yang sulit, bukan?" Yudha tertawa pelan. "Jika kau menekan tombol itu, seluruh pangkalan ini akan meledak dalam hitungan detik untuk memastikan dataku tidak tersisa. Kau akan menang, Aegis akan hancur, tapi Raka tidak akan sempat mencapai palka penyelamatan. Dia akan terkubur di bawah es Arktik bersama semua koleksi mayat yang kau benci."

Liana menatap tombol eksekusi yang bercahaya merah di depannya. Tangannya gemetar hebat. Di satu sisi, ada kebebasan dunia. Di sisi lain, ada pria yang baru saja ia rasakan kehangatannya semalam. Pria yang mengajarinya bahwa bahkan seorang hantu bisa memiliki detak jantung.

"Li... lakukan..."

Suara Raka terdengar melalui komunikator yang rusak, diiringi suara tembakan yang memekakkan telinga.

"Raka, aku tidak bisa! Kau masih di sana!" teriak Liana ke arah mikrofonnya.

"Dengarkan aku, Li..." suara Raka terdengar parau, terengah engah. "Aku sudah melihat daftar itu. Aku sudah melihat apa yang dia lakukan pada kita. Jika kau tidak menekannya sekarang, dia akan mengunggah kita. Aku lebih baik mati sebagai manusia di sini, bersamamu di telingaku, daripada hidup selamanya sebagai boneka di kepalanya. Lakukan, Liana! Itu perintah!"

"Aku bukan prajuritmu, Raka! Aku wanitamu! Aku tidak bisa membunuhmu!" Liana jatuh berlutut di depan konsol, air matanya jatuh membasahi panel kontrol.

Di layar, Raka menoleh ke arah kamera keamanan. Seolah olah dia bisa melihat Liana melalui lensa kecil itu. Dia menurunkan senjatanya sejenak, mengabaikan drone yang tinggal beberapa meter darinya. Dia tersenyum senyum paling tulus dan paling manis yang pernah dia berikan selama sepuluh tahun ini.

"Li... ingat toko buku itu?" suara Raka melunak, mengabaikan kebisingan pertempuran. "Warna biru laut. Bau kertas tua. Kucing yang tidur di rak. Aku melihatnya sekarang. Sangat jelas. Dan di sana, kau sedang tertawa sambil memegang buku puisi yang aku tidak mengerti."

Liana tersedak oleh isakannya. "Raka, jangan bicara seolah olah ini akhirnya..."

"Ini bukan akhir, Li. Ini adalah pengiriman data terakhirku padamu," Raka terbatuk, darah menyembur dari mulutnya. "Simpan memori itu. Bangun toko itu. Jika kau di sana, aku juga ada di sana. Di setiap baris kode yang kau tulis, di setiap halaman yang kau balik. Aku mencintaimu, Ratu ku. Selalu."

Raka meledakkan granat terakhir di tangannya untuk menghambat laju drone, menciptakan ledakan besar yang menutupi pandangan kamera.

Amarah yang murni meledak di dalam diri Liana. Dia berdiri, matanya menyala dengan kebencian yang dingin terhadap Yudha.

"Kau salah, Yudha," desis Liana. "Kau pikir kau bisa menggunakan cinta kami untuk menghentikanku? Kau baru saja memberiku alasan untuk memastikan kau tidak akan pernah menyentuh satu jiwa pun lagi."

Liana menekan tombol [CONFIRM PURGE].

"TIDAK! KAU AKAN KEHILANGAN DIA SELAMANYA!" teriak Yudha, suaranya terdistorsi saat sistem mulai menghapus dirinya sendiri.

"Dia tidak akan hilang," kata Liana tenang. "Dia ada di sini." Ia menyentuh dadanya.

Pangkalan mulai bergetar hebat. Alarm Self Destruct menderu dengan nada rendah yang mengerikan. Liana tidak berlari menuju pintu keluar. Dia berlari kembali ke arah lorong tempat Raka berada. Jika mereka harus tenggelam, mereka akan tenggelam bersama.

Dia menerjang asap dan api, melewati puing-puing logam yang berjatuhan. Di ujung lorong, di tengah kepulan asap termit, dia melihat sesosok tubuh tergeletak.

"RAKA!"

Liana menjatuhkan diri ke lantai, menarik tubuh kaku Raka ke pangkuannya. Wajah Raka pucat, matanya tertutup, tapi dadanya masih bergerak sangat tipis.

"Bangun, Sayang... bangun! Kau janji akan membawaku pulang!" Liana memeluk kepala Raka, menciumi wajahnya yang penuh luka dan jelaga. "Jangan biarkan aku membangun toko itu sendirian. Aku tidak tahu cara membuat kopi yang enak, Raka! Aku butuh kau!"

Tiba tiba, tangan Raka yang besar dan lemah bergerak, menggenggam jemari Liana yang gemetar. Dia membuka matanya sedikit, menatap Liana dengan kebingungan yang manis.

"Kau... kau terlambat menekan tombolnya, ya?" bisik Raka lemah.

"Aku menekannya, Bodoh! Pangkalan ini akan meledak dalam dua menit!" Liana tertawa di sela tangisnya. Dia membantu Raka berdiri, menyampirkan lengan pria itu di bahunya.

Mereka tertatih tatih menuju palka penyelamatan darurat. Di belakang mereka, pusat server Yudha mulai runtuh ke dalam laut es. Ledakan demi ledakan mengguncang struktur pangkalan apung tersebut.

Mereka mencapai kapsul pelarian terakhir. Raka mendorong Liana masuk, lalu jatuh terduduk di sampingnya. Dengan sisa tenaganya, Raka menarik tuas peluncuran.

WUUUSH!

Kapsul itu melesat keluar, membelah air laut yang membeku tepat saat pangkalan Cocytus meledak dalam bola api raksasa yang menerangi langit malam Arktik. Gelombang kejutnya mendorong kapsul mereka jauh ke permukaan.

Di dalam kapsul yang sempit, mereka berbaring berdampingan. Suara ledakan di luar perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian yang damai. Oksigen darurat mulai mengalir, terasa manis di paru paru mereka yang sesak.

Liana membalikkan tubuhnya, memeluk Raka yang masih terengah engah. Dia mencium bibir Raka dengan lembut, sebuah ciuman yang terasa seperti kemenangan, kehidupan, dan masa depan.

"Kita masih nyata, kan?" bisik Liana di bibir Raka.

Raka tersenyum, merangkul Liana erat erat, merasakan detak jantung wanita itu yang beradu dengan miliknya. "Sangat nyata, Li. Dan aku baru saja memutuskan..."

"Apa?"

"Kucing di toko buku kita nanti... harus yang berwarna oranye. Supaya sama menyebalkannya denganmu."

Liana tertawa, tangisannya kini benar benar berubah menjadi kebahagiaan. Di tengah samudra es yang gelap, mereka terapung dalam kapsul kecil, dua jiwa yang berhasil melarikan diri dari neraka digital. Yudha mungkin telah dihapus, Aegis mungkin telah runtuh, tapi cerita mereka baru saja dimulai.

"Janji satu hal lagi, Raka," kata Liana sambil menyandarkan kepalanya di dada Raka.

"Apa?"

"Jangan pernah suruh aku melakukan perintah militer lagi. Aku adalah bos mu sekarang."

Raka mengecup kening Liana. "Siap, Bos. Ke mana kita setelah ini?"

Liana melihat ke arah jendela kapsul, ke arah ufuk timur di mana matahari Arktik mulai menampakkan sinarnya yang pucat namun hangat. "Ke tempat di mana kita bisa mencium bau kertas tua dan air laut tanpa takut ada drone yang mengintai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!