"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : DIBAWAH GETAH NANGKA
Di Mandala, aku bukan hanya dikenal sebagai anak laki-laki kurus yang lincah, tapi juga sebagai "si pembuat onar". Ada dua bersaudara, Hamzah dan adiknya Hamsor. Entah karena masalah apa—mungkin hanya karena senggolan saat bermain—aku sering kali mendaratkan pukulan ke mereka.
Aku merasa harus kuat. Mungkin ini bentuk pertahanan diriku setelah melihat bagaimana keluarga kami "dikalahkan" secara mental di Pelita 4. Aku tak mau ada yang meremehkanku lagi.
Namun, aksi jagoanku berakhir setiap kali nenek Hamzah datang ke rumah dengan wajah merah padam. "Si Raymond itu! Habis cucuku dipukulinya!" adu si nenek pada Mama.
Mama, yang sudah cukup tertekan dengan segala urusan keluarga, tidak punya ruang lagi untuk negosiasi. Saat itulah, Mandala menjadi saksi hukuman "legendaris" bagi anak laki-laki Batak yang bandel.
"Sini kau! Tak mau dengar dibilangi!" teriak Mama.
Tanganku ditarik. Mama mengambil tali, dan di bawah tatapan teman-temanku—mungkin juga Timbul melihat dari kejauhan—aku diikat di pohon nangka di depan rumah. Tujuannya satu: supaya aku jera, supaya rasa maluku mengalahkan rasa nakalku.
Aku berdiri di sana, di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang mulai merayap, merenungi nasib sebagai anak laki-laki tertua yang energinya meledak-ledak tapi tak tahu harus disalurkan ke mana.
Pohon nangka itu menjadi saksi bisu. Dengan sisa tangis yang mengering di pipi, aku berdiri gemetar di depan Mama. Beliau memegang tanganku kuat-kuat, matanya menyiratkan kelelahan yang luar biasa.
"Bersumpah kau, Raymond! Jangan lagi kau sentuh si Hamzah itu. Jangan lagi kau buat malu Mama!" suaranya serak.
Aku menelan ludah, melihat bayangan tubuhku yang kurus di tanah. "Iya, Ma. Aku bersumpah. Gak akan kupukul lagi si Hamzah."
Sumpah itu kuucapkan bukan hanya karena takut pada tali pengikat, tapi karena aku sadar Mama sudah cukup menderita. Aku kembali ke lingkaran pertemananku dengan Timbul. Sore-sore kami habiskan dengan bermain kartu gambar, kelereng, atau sekadar berlari tanpa baju—hanya mengenakan sandal jepit yang sudah tipis, ciri khasku yang paling melekat.
Namun, dunia anak-anak tak selamanya ramah. Ada Jefri, kawan bermain yang sering menjadi momok bagiku. Badannya gemuk, jauh berbeda dengan aku yang hanya tulang berbalut kulit. Setiap kali bertengkar, aku selalu berakhir tersungkur dan menangis karena kalah tenaga. Belum lagi gangguan dari anak-anak yang lebih besar, yang sering mencegatku di gang. Saat itu, Bapak masih menjadi pahlawanku; beliau akan keluar dan memarahi siapa saja yang menggangguku. Tapi, rasa aman itu tak bertahan lama.
Mandala punya sisi gelap yang pelan-pelan menelan lingkungan kami. Judi, narkoba, dan pergaulan bebas menjadi pemandangan sehari-hari. Dan entah apa yang merasuki pikiran Bapak—mungkin tekanan hidup, mungkin rasa kesepian karena dijauhi keluarga besar di Pelita 4—ia akhirnya terbawa arus.
Bapak yang dulu rapi dengan seragam PNS-nya, kini lebih sering terlihat memegang buku kecil yang kami sebut Erek-Erek. Rumah kami yang seharusnya jadi tempat bernaung, berubah menjadi markas diskusi togel dan judi KIM. Teman-teman baru Bapak—laki-laki dan perempuan dari lingkungan situ—kerap datang dan membahas tafsir mimpi hingga larut malam.
"Nomor berapa yang keluar semalam?" itu adalah pertanyaan yang paling sering kudengar.
Mama mulai sering uring-uringan. Rumah menjadi sesak oleh orang-orang asing yang bahkan berani menginap. Namun, puncaknya adalah ketika Bapak mulai kecanduan judi kartu di rumah seorang tetangga perempuan.
Suatu hari, suasana rumah sangat mencekam. Bapak sudah berhari-hari tidak pulang dan telepon dari kantornya terus berdering—atasan Bapak mencari karena ia sering bolos kerja. Dengan amarah dan kekhawatiran yang memuncak, Mama menyeretku menuju rumah tetangga perempuan itu.
Suara gelak tawa dan bunyi kartu yang dikocok terdengar sampai keluar. Di dalam sana, di tengah kepulan asap rokok, Bapak duduk bersama bapak-bapak dan mama-mama lain, asyik dengan dunianya sendiri.
"Pulang kau, Pak! Kantor mencarimu! Anak-anakmu mau makan apa?" teriak Mama, suaranya pecah di hadapan kerumunan orang itu.
Aku berdiri mematung di ambang pintu, melihat pemandangan yang menghancurkan mentalku sebagai anak laki-laki berusia 10 tahun. Bapak, yang dulu begitu kuhormati, berdiri dengan wajah merah padam. Bukannya merasa malu, ia justru merasa harga dirinya diinjak di depan teman-temannya.
Plakk!
Satu tamparan mendarat di pipi Mama. Di depan orang banyak. Di depan mataku.
Dunia seolah berhenti berputar. Mama tidak menangis kencang, ia hanya memegang pipinya dengan tatapan kosong yang jauh lebih menyakitkan daripada teriakan. Harga diri Mama hancur berkeping-keping di lantai rumah judi itu. Malam itu, sesampainya di rumah, pertengkaran hebat pecah. Barang-barang terbanting, caci maki bersahutan.
Aku hanya bisa meringkuk di pojokan, memeluk lututku yang kurus. Ternyata, monster yang sebenarnya bukan lagi anak-anak besar yang mencegatku di jalan, melainkan perubahan yang terjadi pada sosok laki-laki yang kupanggil "Bapak".
Gaji PNS Bapak, yang seharusnya menjadi tiang penyangga perut kami berempat, kini habis menguap di meja judi kartu dan kertas-kertas nomor erek-erek. Uang belanja tak pernah lagi mampir ke tangan Mama dengan utuh. Akibatnya, rumah kami tak ubahnya seperti medan perang. Meja makan yang dulu hangat dengan telur ayam kampung, kini lebih sering diisi dengan suara piring yang terbanting dan makian yang memekakkan telinga.
Bapak sudah kehilangan akal sehatnya. Karena ketagihan yang sudah mendarah daging, ia mulai meminjam uang ke siapa saja. Ia mendatangi keluarga jauh, memelas demi lembaran rupiah yang akan ia pertaruhkan kembali. Kabar ini pun sampai ke telinga Bapatua dan Opung Boru di Pelita 4.
"Lihatlah si Togi itu, sudah jadi penjudi dia sekarang!" Mungkin begitu cibiran mereka yang sampai ke telinga Mama, menambah luka di atas luka yang sudah menganga.
Namun, yang paling mengerikan bukanlah cemoohan keluarga, melainkan mereka yang tak kami kenal. Bapak mulai berani meminjam uang pada "lintah darat" dan orang-orang kasar dengan janji bayar yang mustahil ditepati.
Suatu sore yang mencekam, suara motor menderu berhenti tepat di depan rumah. Beberapa pria berwajah sangar turun dan menggedor pintu kayu kami tanpa ampun.
"Togi! Keluar kau! Bayar utangmu!" teriak mereka dari luar.
Bapak tidak ada di rumah. Ia sudah lebih dulu "menghilang" sebelum matahari terbenam, seolah sudah tahu badai akan datang. Mama yang tidak tahu-menahu soal utang ini, mendadak pucat pasi.
"Cepat! Masuk ke bawah kolong kasur! Jangan ada yang bersuara!" bisik Mama dengan nada panik sekaligus bergetar.
Aku, kakakku, dan adik-adikku merangkak masuk ke kolong tempat tidur yang gelap dan berdebu. Di sana, aku mencium aroma tanah dan keringat ketakutan. Aku memeluk adikku erat-erat, menahan nafas setiap kali mendengar suara bentakan dari ruang depan.