Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Aparat Desa yang Jujur.
Herman menyenggol kaki Banyu di bawah meja. Kode keras: Ini orang mau nilep duitnya buat kantong pribadi.
Tapi bagi Banyu, mau duitnya masuk kas desa atau kas perut Pak Kades, dia tidak peduli. Yang penting dia dapat tanahnya secepat mungkin tanpa birokrasi berbelit. Uang bukan masalah sekarang.
"Deal, Pak," jawab Banyu mantap tanpa menawar. "Dua puluh lima juta per tahun plus deposit. Kapan bisa tanda tangan?"
Pak Jarkasih tersenyum lebar sampai gignya yang kuning terlihat. "Anak muda yang tegas! Saya suka! Hari ini juga bisa!"
Di atas meja kayu jati yang penuh goresan, kontrak terhampar.
Isinya tertulis jelas: Sawah produktif seluas satu hektar dan lahan bukit seluas satu hektar. Dengan menghitung sewa dibayar dimuka untuk tiga tahun plus uang deposit jaminan, Banyu harus merogoh kocek total Seratus Juta Rupiah.
Dengan berat hati namun penuh harapan, Banyu menyerahkan sepuluh ikat uang merah pecahan seratus ribu yang masih terbungkus plastik bank.
Plok!
Pak Jarkasih langsung menyambar tumpukan uang itu. Matanya menyipit saking senangnya, nyaris hilang tertelan pipinya yang gembul. Dengan cepat, dia membubuhkan stempel merah besar bertuliskan PEMERINTAH DESA SUKAMAKMUR di atas materai.
"Nah, sah!" seru Pak Jarkasih.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, wajah Pak Jarkasih berubah menjadi sok prihatin, sebuah akting yang sangat buruk.
"Mas Banyu, Bos Herman... sekarang kan kontrak sudah sah, uang juga sudah saya terima. Tapi ada satu hal kecil yang perlu saya ingatkan," ucapnya dengan nada licin.
"Apa itu, Pak?" tanya Banyu waspada.
"Itu lho... sepuluh hektar sawah yang Mas sewa itu, dulunya kan garapan tiga kepala keluarga di sini. Nah, uang 'kerohiman' atau ganti rugi garap buat mereka tolong segera diselesaikan ya. Kalau nggak, saya takutnya nanti mereka ngamuk dan Mas Banyu nggak bisa masuk ke lahan."
"APA?!"
Herman langsung menggebrak meja, membuat asbak rokok bergetar. Dia berdiri dengan wajah merah padam.
"Maksud Bapak apa?! Bukannya semua urusan ganti rugi itu tanggung jawab Desa? Kita kan udah bayar sewa mahal! Itu tanah Desa, bukan tanah warga!"
"Eits, jangan emosi dulu, Bos," wajah Pak Jarkasih berubah dingin dan tidak bersahabat. "Di Desa Sukamakmur ini ada kearifan lokal. Adatnya begitu. Uang kompensasi penggarap itu tanggung jawab penyewa baru. Kalau nggak mau ikut aturan sini, ya susah."
Herman sudah siap melontarkan sumpah serapah, tangannya mengepal keras. Ini jelas-jelas pemerasan di siang bolong.
Tapi Banyu dengan cepat menahan lengan Herman. Dia menatap mata Pak Jarkasih dengan tenang.
"Pak Kades, berapa nominalnya?"
Pak Jarkasih tersenyum tipis, merasa menang. "Murah kok. Cuma tiga juta per keluarga per tahun. Ada tiga keluarga. Jadi total sembilan... ah, buletin aja jadi Sepuluh Juta Rupiah. Mas Banyu kan abis keluar duit seratus juta, masa sepuluh juta aja keberatan?"
Ancaman tersirat itu sangat jelas: Kalau lo nggak bayar 10 juta ini, duit 100 juta lo yang tadi bakal hangus karena lo nggak bakal bisa masuk lahan.
Melihat wajah Pak Jarkasih yang songong dan penuh kemenangan, Banyu sebenarnya ingin sekali meninju hidungnya sampai pesek. Tapi dia menahan diri. Dia di sini untuk bisnis jangka panjang, bukan cari musuh.
Banyu menghela napas panjang. "Oke. Saya bayar."
Herman menoleh tak percaya. "Nyu! Lo gila?!"
Banyu memberi kode mata agar Herman diam. Dia mengambil satu ikat uang lagi dari tasnya dan menghitung sepuluh juta, lalu melemparnya ke meja.
"Lunas ya, Pak. Nggak ada biaya siluman lain lagi, kan?"
Melihat uang tambahan masuk, mata Pak Jarkasih berputar licik. Anak ini gampang diporotin ternyata, pikirnya.
"Nah, gitu dong! Ini baru pengusaha sukses!" puji Pak Jarkasih sambil mengamankan uang itu. "Oh ya, satu lagi. Di pinggir lahan itu ada bangunan tua bekas kantor proyek jaman dulu. Tiga lantai. Masih kokoh, cuma kotor dikit. Kalau Mas Banyu butuh tempat tinggal atau gudang, bisa sekalian disewa. Murah kok, Lima Juta aja setahun."
Banyu berpikir sejenak. Dia memang butuh markas untuk beristirahat dan menyimpan alat, daripada harus bolak-balik Jakarta-Bogor atau tidur di tenda. Bangunan tiga lantai dengan harga lima juta per tahun itu sangat murah, terlepas dari niat licik si Kades.
"Oke, saya ambil," jawab Banyu cepat. Dia melempar lagi uang lima juta.
Total pengeluaran hari ini: Rp 115.000.000,-.
"Mantap! Mas Banyu emang the best!" Pak Jarkasih tertawa lebar, giginya yang kuning terkena noda nikotin terlihat jelas. "Kerja sama kita bakal lancar jaya! Mulai hari ini, lahan itu resmi jadi kekuasaan Mas Banyu. Silakan dipakai!"
"Senang berbisnis dengan Bapak," ucap Banyu datar. Dia menjabat tangan gemuk yang berkeringat itu sekilas, lalu segera menarik Herman keluar dari kantor desa.
---
Begitu mereka masuk ke dalam Pajero dan pintu tertutup rapat, meledaklah amarah Herman.
"BAJINGAN TENGIK!"
Herman memukul setir mobilnya keras-keras. "Itu orang bener-bener bangsat! Jelas-jelas itu pungli, Nyu! Ganti rugi apaan?! Kenapa lo mau aja dipalak sama babi air kayak dia?!"
Banyu menyandarkan punggungnya di jok mobil, menyalakan rokok dengan santai untuk meredakan emosi.
"Man, dengerin gue. Kita ini pendatang. Dia itu ular tanah setempat. Kalau gue ributin duit sepuluh juta tadi, dia bisa aja nyuruh preman kampung buat rusak tanaman gue tiap malem. Rugi gue bakal lebih gede dari sepuluh juta."
"Tapi tetep aja gue nggak terima! Itu duit haram!" gerutu Herman masih kesal.
"Anggep aja uang keamanan," Banyu menghembuskan asap rokok. "Biar dia seneng dulu. Lagian gue butuh ketenangan buat mulai nanem."
"Lo percaya duit sepuluh juta tadi bakal dikasih ke warga penggarap?" tanya Herman skeptis.
Banyu tersenyum sinis. "Dikasiin? Mimpi lo. Gue berani taruhan potong kuping, itu duit pasti masuk kantong celana dia sendiri buat karaokean atau main judi."
"Dasar pejabat korup! Sampah masyarakat!" maki Herman lagi.
"Udah, biarin aja. Karma ada jalurnya sendiri. Yang penting sekarang tanahnya udah aman di tangan gue, kuncinya udah gue pegang. Gue nggak peduli dia mau ngapain, asal jangan ganggu ladang gue," kata Banyu dingin.
Herman menatap sahabatnya itu dengan pandangan baru. Dulu Banyu cuma mahasiswa sakit-sakitan yang pendiam. Sekarang, cara berpikirnya taktis dan pragmatis, persis seperti pengusaha yang sudah makan asam garam.
"Gila lo, Nyu. Lo beneran udah ada aura Bos Besar sekarang," Herman menggeleng kagum, lalu menyalakan mesin mobil. "Gue doain lo sukses deh, Bos. Biar tuh Kades nyesel nggak minta saham."
Banyu menatap hamparan sawah dan bukit di kejauhan lewat jendela mobil. Di dalam tasnya, Kendi Penyuling Jiwa terasa hangat, seolah ikut bersemangat.
"Pasti, Man. Gue bakal bikin tempat ini jadi tambang emas."