✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dentuman Regulus dan Ras Harpy
Mika sudah berada di tepi jurang. Ia menatap Ratu Syra dengan tatapan empati yang palsu. "Satu saran dariku, Ratu. Jika kau ingin bertaruh, pilihlah pihak yang memiliki senjata yang bisa menghapus gunung ini dari peta. Arthemis memberikan perisai, tapi Tuan Leon memberikan kepastian."
Tanpa menunggu jawaban, Mika menjatuhkan diri ke jurang sedalam ribuan meter. Saat para Harpy mengejarnya ke bawah, mereka hanya menemukan jubah Shadow Silk yang melayang kosong. Mika telah menghilang ke dalam bayangan hutan di bawah, bergerak secepat hantu menuju perbatasan Vargos.
Angin menderu di telinga Mika saat ia terjun bebas. Gravitasi menariknya dengan kejam ke arah bebatuan tajam di dasar lembah, namun wajah gadis itu tetap tenang, bahkan sedikit tersenyum. Di ketinggian lima ratus meter dari permukaan tanah, Mika menarik pelatuk pada gelang mekanis di pergelangan tangannya.
Cklik-Swosh!
Sebuah kabel mythril tipis melesat keluar, ujungnya menancap kuat pada batang pohon raksasa yang menjorok dari dinding tebing. Dengan sentakan yang bisa mematahkan lengan manusia biasa, Mika mengubah momentum jatuhnya menjadi ayunan pendulum raksasa. Ia melengkung di udara, melewati celah sempit di antara dua pilar batu, dan mendarat dengan mulus di atas kanopi hutan yang tebal.
"Terlalu lambat, burung-burung jelek," gumam Mika sambil berlari di atas dahan-dahan pohon.
Di atasnya, pekikan kemarahan terdengar. Pasukan Harpy mencoba mengejarnya, namun hutan lebat adalah mimpi buruk bagi makhluk bersayap lebar. Mereka menabrak ranting, sayap mereka tersangkut tanaman merambat, dan formasi tempur mereka hancur berantakan.
Mika tidak berhenti. Kakinya yang ringan melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan kecepatan yang membuat mata biasa hanya melihatnya sebagai bayangan kabur. Ia tahu Ratu Syra tidak akan melepaskannya begitu saja. Namun, Mika juga tahu bahwa ia sudah memasuki wilayah "zona transisi", area di mana pengaruh miasma Vargos mulai terasa.
"Selamat datang di halaman belakang Tuan Leon," bisik Mika.
Ia melompati sebuah sungai kecil yang airnya mulai berwarna ungu gelap. Di belakangnya, beberapa Harpy nekat yang berhasil menembus kanopi hutan mencoba melemparkan tombak.
Mika berputar di udara, melempar tiga shuriken peledak ke arah pengejarnya.
BOOM! BOOM!
Ledakan kecil itu tidak membunuh mereka, tapi cukup untuk merusak bulu-bulu sayap utama mereka, membuat para Harpy itu jatuh berputar-putar ke tanah yang penuh lumpur hisap.
Mika mendarat di tanah basah perbatasan Vargos, menarik napas panjang.
Udara di sini berbau belerang dan pembusukan, bagi orang lain mungkin menjijikkan, tapi bagi Mika, ini adalah aroma rumah. Ia menyimpan Recording Orb dan surat curian itu ke dalam saku dimensionalnya, lalu menghilang ke dalam kabut rawa, meninggalkan para pengejarnya yang kini ragu-ragu untuk melintasi batas wilayah sang Raja Iblis.
Dua jam kemudian, suasana di Aula Tahta Vargos kembali tegang, namun kali ini bukan karena persiapan peluncuran senjata, melainkan karena intelijen yang baru saja tiba.
Ren Akasa duduk di singgasana obsidiannya, satu tangan menopang dagu. Di hadapannya, Mika berlutut dengan satu kaki, napasnya sudah teratur kembali. Ia menyerahkan gulungan surat bersegel emas dengan lambang matahari Arthemis yang kini ternoda oleh lumpur rawa.
"Pengiriman ekspres untuk Raja Leon," ucap Mika dengan senyum cerah, seolah ia baru saja pulang dari jalan-jalan sore, bukan dari misi bunuh diri.
"Isinya agak pedas, Tuan. Arthemis berniat menjadikan Harpy sebagai bomber bunuh diri untuk jalur logistik kita."
Silas mengambil surat itu, memindainya dengan sihir deteksi kebohongan, lalu menyerahkannya pada Ren. "Segelnya asli, Tuanku. Ditandatangani langsung oleh Kardinal Perang, Uriel."
Ren membuka surat itu, matanya bergerak cepat membaca baris demi baris tulisan tangan yang rapi namun berisi rencana yang keji.
"Kepada Ratu Syra dari Wind Cutter. Kami menjanjikan pengampunan dosa bagi klan Anda jika Anda bersedia menyerang konvoi miasma Vargos dari ketinggian. Jangan pedulikan keselamatan pasukan Anda, kematian dalam melenyapkan iblis adalah tiket langsung menuju surga."
Ren tertawa kecil, suara yang dingin dan kering. "Mereka bahkan tidak berusaha menyembunyikan niat mereka untuk membuang para Harpy setelah perang usai. 'Tiket menuju surga'? Lebih tepatnya tiket menuju kepunahan."
Gorn, yang berdiri di samping peta taktis, memukul meja dengan kepalan tangannya. "Makhluk-makhluk bersayap itu bodoh jika mempercayai manusia! Tuan, izinkan aku mengarahkan Railgun ke gunung mereka. Satu tembakan penuh akan meruntuhkan sarang mereka!"
"Buang-buang energi, Gorn," sela Ren. Ia berdiri, berjalan mendekati peta holografik yang menampilkan topografi Pegunungan Wind Cutter. "Jika kita menghancurkan gunung itu, kita kehilangan sumber daya mineral angin yang ada di sana. Selain itu, aku tidak ingin memusnahkan Harpy. Aku ingin memiliki mereka."
Mata Ren berkilat dengan ambisi yang membuat para jenderalnya merinding kagum.
"Mika," panggil Ren.
"Ya, Tuan?"
"Seberapa besar ketakutan mereka saat kau menyebut namaku?"
"Sangat besar," jawab Mika jujur. "Tapi ketakutan mereka pada Arthemis juga beralasan. Mereka takut digempur dari dua sisi. Arthemis menawarkan perlindungan, kita menawarkan ancaman. Secara logika, mereka memilih yang memberi janji manis."
"Kalau begitu, kita ubah persamaannya," Ren menunjuk ke arah Thrumm Ironfoot yang sedang tertidur sambil berdiri di sudut ruangan. "Thrumm! Bangun!"
Dwarf tua itu tersentak kaget, kacamata pembesarnya hampir jatuh. "Hah? Apa? Meledak?"
"Belum," jawab Ren. "Aku punya tugas baru untukmu dan Gorn. Railgun itu bagus untuk target darat yang statis. Tapi untuk target udara yang lincah seperti Harpy, kita butuh sesuatu yang lebih... menyebar."
Ren menjentikkan jarinya, memunculkan sebuah desain kasar di udara menggunakan sihir ilusi. Itu adalah desain peluru, tapi bukan peluru padat.
"Peluru Flak," jelas Ren. "Peluru yang meledak di udara sebelum mengenai target, menyebarkan ribuan pecahan kristal miasma dalam radius luas. Jika pecahan itu mengenai sayap Harpy, mana di tubuh mereka akan kacau dan mereka akan jatuh seperti batu."
Mata Thrumm berbinar mengerti. "Ah! Mekanisme pemicu waktu! Saya bisa memasang fuse mana yang bereaksi pada ketinggian tertentu. Itu mudah! Gorn bisa membuat selongsongnya dari sisa-sisa baja benteng Aegis!"
Ren mengangguk puas. "Lakukan. Produksi massal dalam tiga hari. Kita tidak akan menunggu mereka menyerang logistik kita. Kita akan melakukan 'kunjungan diplomatik' kembali ke Aerie."
Sementara Vargos sibuk merencanakan dominasi langit, di kedalaman hutan antara puing-puing benteng Aegis dan ibu kota Arthemis, sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.
Kenji Sato tidak kembali ke ibu kota. Harga dirinya yang hancur berkeping-keping tidak mengizinkannya untuk menatap wajah Paus Richard atau mendengar ceramah munafik Kardinal Uriel.
Ia duduk bersandar pada pohon mati, napasnya berat dan berbunyi. Dadanya, yang hancur terkena dampak gelombang kejut Railgun, kini tertutup oleh perban darurat dan... sesuatu yang lain.
Di tangannya, ia memegang sebuah artefak terlarang yang ia curi dari gudang harta karun istana sebelum berangkat : Jantung Chimera.
Sebuah benda berdenyut yang dikabarkan berisi esensi kehidupan dari ribuan monster yang digabungkan secara paksa.
"Sistem..." panggil Kenji dengan suara parau.
"Berapa... berapa peluang keberhasilannya?"
Sebuah layar biru transparan muncul di hadapannya, namun warnanya kini berkedip merah, tanda bahaya.
[Peringatan: Mengintegrasikan Jantung Chimera ke dalam tubuh manusia memiliki risiko kematian 90%. Risiko kegilaan 99%.]
Kenji tertawa, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. "Sembilan puluh persen kematian? Itu lebih baik daripada hidup sebagai pecundang yang dikalahkan oleh NPC rendahan."
Matanya menatap ke arah langit selatan, tempat di mana cahaya ungu Vargos berpendar mengejeknya. Wajah Ren Akasa terbayang di benaknya, senyum tenangnya, tatapan merendahkannya.
"Dia curang..." desis Kenji. "Dia punya senjata masa depan... dia punya pasukan... itu tidak adil. Jika dia ingin menjadi Raja Iblis... maka aku harus menjadi sesuatu yang lebih buruk daripada Pahlawan."
Tanpa ragu, Kenji menancapkan Jantung Chimera itu langsung ke dalam luka menganga di dadanya.
"AAARGGHHHHHHHH!!!"
Jeritan Kenji memecah kesunyian malam hutan. Tubuhnya mengejang hebat. Urat-urat hitam mulai merambat dari dadanya ke seluruh tubuh, mengubah kulitnya menjadi abu-abu pucat. Matanya yang dulu cokelat jernih kini berubah menjadi hitam pekat dengan pupil vertikal berwarna kuning.
Mana di sekitarnya tersedot masuk dengan rakus. Pohon-pohon di sekitarnya layu seketika. Burung-burung yang hinggap jatuh mati.
Sistem di pandangan Kenji berbunyi dengan nada yang berbeda, lebih rendah dan lebih menyeramkan.
[Integrasi Berhasil.]
[Race Change: Human -> Chaos Hybrid.]
[New Skill Acquired: Monstrous Assimilation.]
Kenji berdiri. Rasa sakitnya hilang, digantikan oleh kekuatan yang memabukkan dan liar. Ia menatap tangannya yang kini memiliki cakar tipis yang berpendar samar berwarna ungu yang sepertinya beracun.
"Tunggu aku, Ren," bisik Kenji dengan suara yang terdengar seperti gabungan dua makhluk berbeda. "Ronde kedua... baru saja dimulai."
Fajar menyingsing di atas Vargos, namun cahayanya tidak lagi kuning cerah, melainkan tersaring oleh kabut ungu yang melindungi wilayah tersebut.
Ren berdiri di balkon tertinggi kastilnya, didampingi oleh Mika yang kini sudah bersih dan berganti pakaian, serta Silas yang selalu setia. Di bawah sana, ribuan pasukan Lizardman, Skeleton, dan Dwarf sedang berlatih. Bunyi derap langkah mereka adalah musik bagi telinga Ren.
"Tuan," tanya Mika sambil menggigit apel hijau. "Apa kita benar-benar akan melawan seluruh dunia?"
Ren tersenyum tipis, menatap cakrawala yang luas. "Tidak, Mika. Kita tidak akan melawan dunia. Kita akan memperbaiki dunia ini. Arthemis telah memegang kendali terlalu lama dengan kemunafikan mereka. Sudah saatnya dunia ini melihat bentuk keadilan yang baru."
Ren berbalik, jubahnya berkibar ditiup angin pagi.
"Siapkan unit udara. Beritahu Alice untuk menyiapkan ilusi naga. Kita akan pergi ke Pegunungan Wind Cutter. Jika Ratu Syra tidak mau turun secara sukarela..." Ren menatap tajam, "...maka kita yang akan menjatuhkannya dari langit."
Di kejauhan, Railgun Regulus bergemuruh pelan, seolah menyetujui titah tuannya. Perang perebutan benua Aetheria telah memasuki babak baru, di mana langit pun tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi musuh-musuh Vargos.
Bersambung.