Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunjukan Opera
Estevan saat ini sedang tidak ada di kota pusat. Dia tengah melakukan perjalanan ke perbatasan bersama Niccolo, Terrence, Vermont serta rombongan kakak tertua Beatrice
“Ngomong-ngomong soal perburuan musim semi, apakah kamu akan berpartisipasi juga?” tanya Alicia, sambil menyesap teh hangat.
Beatrice mengangguk. "Tentu saja, aku akan pergi. Lagipula, kamu juga harus pergi. Siapa tahu jodohmu ada di sana."
Pikirannya melayang, mengingat kembali kejadian di novel aslinya. Dalam kisah kelahiran kembali Paula, Alicia dan Julio, sang putra mahkota bertemu pertama kali di perburuan musim semi.
"Tentu saja," jawab Alicia. "Aku akan pergi bersama kakakku. Mengenai jodoh … siapa yang mau menikah denganku, seorang wanita yang sudah bercerai?"
Beatrice tersenyum sedikit, mengangkat bahu. “Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi, pertama-tama kita harus membuat Paula dan Charls bersama. Setelah itu, buatlah rumor perselingkuhan mereka sebelum perceraianmu dan citramu di masyarakat tidak akan tercemar."
Alicia mengangguk perlahan, sepertinya mencerna kata-kata Beatrice. "Kamu benar."
"Kapan kamu akan melaksanakan rencana ini?" tanya Beatrice.
"Besok. Itu sebabnya aku datang padamu hari ini. Apakah kamu ingin ikut?" Alicia menyeringai, tampaknya sudah siap dengan ide-ide liciknya.
Beatrice tersenyum, mata berbinar. "Tentu saja aku ikut. Aku ingin melihat kesenangan itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Beatrice bersiap untuk meninggalkan Kastil Vassal. Alicia dan Bernard datang menjemputnya di siang hari.
Marionne tampak cemas. "Bagaimana jika kamu jatuh sakit lagi nanti?"
"Ibu, aku akan baik-baik saja. Aku berjanji akan makan tepat waktu dan tidak akan meniup angin malam," jawab Beatrice dengan nada lembut, mencoba menenangkan ibunya.
"Sudahkah kamu membawa jubah hangatmu? Camilan?" tanya Marionne khawatir, memeriksa barang-barang Beatrice.
"Sudah, Ibu." Beatrice mengangguk, sedikit lelah karena pertanyaan yang terus diajukan.
Marionne menghela napas, menyaksikan putrinya yang siap berangkat. Dia menatap Bernard dan Alicia dengan penuh perhatian. "Kalian berdua, ingat untuk menjaga gadisku, jangan biarkan dia kelaparan."
Bernard mengangguk sopan. "Jangan khawatir, Duchess. Saya tidak akan lalai kali ini."
"Baiklah, aku percaya padamu. Cepatlah pergi, dan pastikan untuk mengirim surat jika kalian terlambat kembali hari ini."
"Yakinlah, saya akan melakukannya."
Bernard tidak berani santai kali ini. Sebelumnya, mereka pergi tanpa persiapan, tetapi kali ini Alicia memastikan semuanya sudah siap, termasuk perlengkapan perjalanan.
Saat kereta kuda mulai bergerak menuju tujuan, Bernard berbicara pelan saat menyebutkan rencananya. "Charls dan Paula sudah pergi ke kota pusat kemarin untuk menyaksikan pertunjukan opera yang datang dari ibu kota."
"Pertunjukan opera? Di gedung opera?" Beatrice menatap Bernard, agak terkejut.
"Tidak, lebih tepatnya di sebuah penginapan," jawab Bernard, matanya sedikit tertutup saat berbicara. "Penginapan itu mirip gedung pelelangan—ada beberapa ruang di lantai dua yang khusus untuk tamu spesial. Meski terlihat seperti tempat yang biasa digunakan untuk pelelangan, nyatanya sering digunakan untuk pel*curan."
Beatrice menatapnya dengan terkejut. “Pel*curan secara terbuka? Bukankah itu ilegal?”
Bernard hanya mengangkat bahu, wajahnya serius. “Dunia ini tidak selalu seperti yang kita bayangkan.”
Beatrice mengerutkan kening. Benarkah ini masih dunia novel yang sama?
Kenapa semua ini terasa lebih vulgar dan bebas, seperti cerita yang tidak pantas dibaca?
“Bukankah jika Charls dan Paula melakukannya di sana, tidak akan ada yang salah pada akhirnya?” Beatrice bertanya, masih bingung dengan situasi yang tergambar di benaknya.
“Tentu saja ini masalah,” jawab Bernard, ekspresinya semakin serius. “Rombongan opera dari ibu kota bukan pertunjukan hiburan biasa . Pemilik operanya memiliki hubungan langsung dengan anggota keluarga kekaisaran. Siapa yang berani melakukan perbuatan tak senonoh di sana?”
Beatrice terkejut. “Anggota keluarga kekaisaran membuka pertunjukan opera?”
“Kudengar putri satu-satunya dari istana kekaisaran yang memiliki opera itu,” jawab Alicia yang menjelaskan lebih lanjut.
“Artinya, ini benar-benar pertunjukan opera saja?” Beatrice menanyakan lagi untuk memastikan.
Bernard mengangguk. “Ya, ini benar-benar pertunjukan opera biasa. Pemilik gedung penginapan itu tidak berani membuat masalah. Jadi mereka akan menampilkan segala sesuatu dengan jujur.”
Jika Paula dan Charls sampai melakukannya di sana, tentu saja itu akan menjadi penghinaan besar bagi pertunjukan opera yang begitu terkenal.
Beatrice membayangkan bagaimana Paula dan Charls akan bersatu, meski dengan cara yang agak kasar. Kemudian, kehidupan neraka akan dimulai lagi untuk Paula. Selama wanita itu masih bersama Charls, Alicia akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mendekati Julio, sang putra mahkota.
Kereta kuda mereka akhirnya tiba di kota pusat setelah menempuh perjalanan panjang. Hari sudah sore saat mereka tiba, dan Bernard segera menyewa penginapan terdekat.
Beatrice mengenakan gaun panjang berwarna lembut dengan topi musim semi. Yang membuat beberapa pasang mata memperhatikannya.
Alicia menatap Beatrice dengan ekspresi kagum. “Kamu benar-benar imut,” katanya, sambil tanpa sengaja mencubit pipi Beatrice yang lembut.
Beatrice langsung cemberut. “Jangan cubit.”
“Pipimu lembut sekali!” Alicia tertawa geli, tidak menyadari bahwa dia sebenarnya agak terlalu bersemangat.
Bernard yang melihat situasi itu, tidak bisa menahan diri untuk menyelipkan komentar. “Dia bilang pipimu penuh daging,” ujarnya dengan nada ringan.
Artinya, kamu sedikit gemuk, pikirnya sambil tersenyum.
Beatrice langsung memutar matanya, tampak tidak terpengaruh.
"Tidak!” Alicia mendengus dengan kesal. “Jangan dengarkan kakakku. Dia cuma cemburu karena pipinya tidak selembut milikmu!”
Mereka makan sesuatu lebih dulu sampai akhirnya malam pun tiba.
Bernard, Alicia dan Beatrice mengenakan jubah bertudung untuk menyembunyikan identitas mereka. Dengan hati-hati, mereka memasuki gedung penginapan. Bernard memberikan tanda bukti sewa ruang sekat di lantai dua kepada pelayan yang menyambut mereka di pintu.
Pelayan itu membimbing mereka menuju ruang sekat yang telah disiapkan, memberikan layanan minuman dan kue kering di atas meja.
Ruang sekat itu cukup luas. Di depan ketiganya, sebuah kelambu tipis terpasang, cukup untuk menutupi pandangan langsung namun tetap memungkinkan mereka untuk menikmati pertunjukan opera yang akan berlangsung di bawah.
"Di ruang sekat mana Paula dan Charls berada?" tanya Beatrice.
Bernard menjawab tanpa menyembunyikannya. "Mereka ada di ruang ketiga setelah kita. Aku sudah mengatur seseorang untuk memberikan mereka minuman yang dicampur."
Beatrice menatapnya, terkejut. "Hisssh ... kamu punya kenalan di sini?"
"Ya," jawab Bernard, wajahnya kembali serius. "Ada kenalan di kota pusat. Jangan khawatir, pemilik gedung ini tidak akan tahu aku yang mengaturnya."
Tidak lama setelah itu, pembawa acara naik ke panggung dengan langkah elegan, menarik perhatian semua yang hadir di ruangan tersebut. Dengan suara lantang dan penuh kepercayaan diri, pembawa acara mulai memperkenalkan rombongan opera dari ibu kota.
Setelah serangkaian pembukaan yang meriah, pertunjukan opera pun dimulai. Beatrice tenggelam dalam dramatisasi yang dihadirkan oleh para lakon. Namun, tidak lama kemudian, Alicia menyikutnya lengannya.
“Sudah mulai,” bisik Alicia, suaranya penuh perhitungan.
“Apa?” Beatrice tidak langsung mengalihkan pandangannya dari panggung, tetap terpesona oleh pertunjukan yang sedang berlangsung.
Alicia memutar bola matanya dengan kesal. "Tentu saja. Dua anjing itu mulai 'kepanasan' sekarang."
“Bagaimana kamu tahu?” Beatrice bertanya, meskipun masih tidak mengalihkan perhatiannya dari pertunjukan.
Alicia menoleh dan membalasnya dengan nada sinis. "Obat yang diberikan pada mereka memiliki reaksi jangka waktu tertentu."
Beatrice sedikit terkejut, kali ini tak bisa menahan rasa penasarannya. "Sangat luar biasa?"
Alicia mengangguk mantap. "Tentu saja."
......................
Charls yang awalnya mengajak Paula ke pusat kota untuk menikmati pertunjukan opera, berencana menghabiskan malam bersama. Dengan uang yang cukup besar, Charls berhasil menyewa ruang sekat pribadi di lantai atas.
Pelayan segera menyajikan makanan ringan dan dua gelas bir dengan kadar alkohol ringan. Charls dan Paula menikmati pertunjukan dengan santai, makan camilan dan meneguk bir.
Sesekali, Charls mencuri ciuman dari bibir Paula, menuntut sentuhan yang lebih mesra. Tangan-tangannya seringkali menyentuh bagian tubuh Paula yang menonjol, perlahan dan penuh hasrat.
Paula tidak menolak. Meskipun dia tampak enggan dan sedikit terpaksa, tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan pria itu.