Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Malam panjang yang baru saja dilewati Arlan bersama Maura menyisakan aroma parfum wanita lain yang masih melekat kuat di kemejanya.
Pagi-pagi sekali, Arlan sudah terjaga. Ia melangkah keluar dari kamar pengantin barunya dengan perasaan puas, namun perutnya yang lapar menuntut hak. Langkah kakinya membawa Arlan menuju dapur, berharap menemukan kehangatan yang biasanya selalu tersedia di sana.
Maura, istri keduanya, masih terbuai dalam mimpi. Aktivitas panas yang mereka lakukan hingga larut malam membuatnya tak sanggup membuka mata, apalagi berkutat dengan peralatan dapur.
Arlan menghela napas saat mendapati meja makan yang kosong melompong. Tidak ada nasi goreng hangat, tidak ada aroma kopi, dan yang terpenting, tidak ada Hana di sana.
Biasanya, di jam seperti ini, Hana - istri pertamanya yang telaten - sudah berdiri dengan celemek, menyambutnya dengan senyum tulus. Rasa kehilangan yang aneh menyelinap di hati Arlan. Ia melangkah menuju kamar utama, memutar knop pintu dengan perlahan. Di atas ranjang besar itu, Hana masih tertidur pulas.
Arlan duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Hana, lalu mendaratkan kecupan di keningnya. Namun, saat jemarinya membelai wajah sang istri, ia tertegun. Wajah itu sembab. Kelopak mata Hana bengkak, sisa-sisa air mata semalam masih membekas di bantal.
Hati nurani Arlan terusik. Ia tahu betul ia telah menduakan cinta wanita yang telah memberikan segalanya untuknya. Namun, ego lelaki terkadang lebih besar daripada rasa bersalah.
Hana menggeliat, mengerjap pelan sebelum akhirnya mata mereka bertemu. Hana terdiam, menatap sosok suaminya dengan tatapan kosong. Ia memperhatikan setiap inci wajah Arlan, hingga matanya terpaku pada satu titik di leher suaminya. Ada noda kemerahan di sana, bekas ciuman Maura yang masih sangat segar.
Hati Hana terasa seperti disayat sembilu. Di saat ia menangis hingga sesak, suaminya justru sedang menikmati surga dunia di kamar sebelah.
"Kapan kau masuk?" tanya Hana dingin, tanpa nada sapaan hangat seperti biasanya.
"Baru saja," jawab Arlan singkat.
Tanpa kata lagi, Hana beranjak turun. Tidak ada ritual mencium tangan suami atau kecupan pagi. Ia melangkah lurus ke kamar mandi, meninggalkan Arlan yang terpaku menyadari ada sesuatu yang retak dalam hubungan mereka.
~~
Beberapa saat kemudian, Hana turun ke dapur. Ia mulai sibuk dengan bahan masakan. Gerakannya cepat dan efisien, namun wajahnya tetap datar. Ia bahkan menyeduhkan secangkir kopi hitam tanpa gula, persis seperti suasana hatinya.
Arlan turun dengan pakaian kantor yang rapi. Ia duduk di kursi kebesarannya, menunggu Hana melayaninya. Dengan patuh, Hana mengambilkan nasi dan lauk ke piring Arlan.
"Aku ambilkan tas dan dasimu dulu," ucap Hana pelan sebelum kembali ke atas.
Arlan mulai makan. Rasanya tetap sama, lezat. Masakan Hana adalah candu yang tidak bisa diberikan oleh wanita mana pun, termasuk Maura. Kecantikan Hana dan kemampuannya memanjakan perut Arlan adalah alasan mengapa lelaki itu sulit melepaskannya, meski kini ada wanita lain di hidupnya.
Hana kembali dengan tas dan dasi Arlan. Namun, alih-alih memasangkannya, ia meletakkan barang-barang itu begitu saja di atas sofa.
"Han... siapkan juga sarapan untuk Maura. Aku ingin dia bisa mulai belajar makan masakanmu, supaya nanti dia bisa memasak sehebat dirimu," kata Arlan tanpa perasaan, seolah meminta hal itu adalah sesuatu yang wajar.
Hana terhenti. Dadanya sesak. Ia diminta melayani wanita yang baru saja merampas kebahagiaannya? Namun, dengan ketenangan yang mengerikan, Hana mengangguk. Ia kembali ke dapur dan menyiapkan sepiring nasi goreng untuk madunya.
Hana meletakkan piring itu di hadapan Arlan dengan suara denting yang cukup keras. "Ini untuk jalangmu," ucapnya tajam.
"Cukup, Hana! Dia istriku juga!" bentak Arlan, emosinya terpancing.
Hana memutar bola matanya malas. "Selesai sarapan, pergilah. Dan mulai sekarang, minta saja istri barumu yang memasangkan dasimu. Aku bukan pelayan pribadimu lagi."
Saat hendak melangkah pergi, Hana berbalik sebentar. Tatapannya jatuh pada leher Arlan. "Oh, aku lupa. Tutupi bekas ciuman istrimu itu kalau tidak mau jadi tontonan orang sekantor."
Arlan terkesiap. Ia meraba lehernya dengan wajah memerah karena malu sekaligus marah. Ia menatap punggung Hana yang menaiki tangga dengan perasaan campur aduk. Ia sadar, ia telah melukai wanita itu terlalu dalam.
Di dalam kamar, Hana menatap bayangannya di cermin. Ia membuka ikatan rambutnya yang selalu ia cepol ke atas karena Arlan menyukai kerapian yang konservatif.
"Apa aku tidak menarik lagi? Sampai kau tega membagi hati, Mas?" bisiknya lirih. Air mata kembali luruh. Perih sekali rasanya melihat bukti persetubuhan suaminya dengan wanita lain tepat di depan matanya.
Hana memukul dadanya, mencoba mengusir sesak yang kian mencekik. Arlan bahkan dengan teganya menyebut nama Maura di depannya tanpa beban.
Cukup. Hana tidak ingin hancur lebih lama lagi. Ia mengambil kunci mobil cadangan yang selama ini tersimpan di garasi. Selama menikah, Arlan selalu melarangnya menyetir sendirian dengan alasan keamanan, namun Hana tahu itu hanyalah cara Arlan untuk mengontrol ruang geraknya.
Hana melajukan mobilnya menuju salon milik Vera, sahabat lamanya. Ia ingin membuang semua identitas istri penurut yang selama ini ia sandang.
"Hana! Ya ampun, sudah berapa tahun kita tidak bertemu?" Vera menyambutnya dengan pelukan hangat namun penuh selidik.
"Vera, aku ingin berubah. Aku bosan menjadi Hana yang kuno. Potong rambutku dan warnai," ucap Hana tegas.
Vera melepas ikatan rambut Hana. Rambut itu hitam, panjang, dan sangat indah, namun modelnya memang sudah sangat ketinggalan zaman.
"Kau yakin? Rambutmu ini idaman banyak wanita," tanya Vera ragu.
"Potong saja. Aku ingin membuang sial," jawab Hana singkat.
Vera pun mulai bekerja. Ia memotong rambut Hana menjadi model long bob dengan sentuhan curly di bagian bawah, lalu mewarnainya dengan warna cokelat karamel yang elegan.
Hana tersenyum puas menatap hasilnya. Ia terlihat jauh lebih muda, segar, dan berkelas. Ia tidak perlu lagi mengikat rambutnya sepanjang hari hanya untuk menyenangkan mata Arlan.
"Kau sangat cantik, Han. Arlan pasti akan makin tergila-gila padamu," puji Vera tulus.
Hana tersenyum pahit. "Tentu saja. Aku pamit dulu, Vera. Terima kasih untuk segalanya."
Di dalam mobil, Hana bergumam lirih, "Andai kau tahu, Vera, bahwa kecantikan ini bukan lagi untuknya."
~
Sementara itu, di rumah, jam makan siang telah tiba. Maura baru saja terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemas. Ia melangkah ke ruang makan dengan perasaan lapar yang luar biasa.
"Non Maura, ini... silakan makan. Ini masakan yang dibuat oleh Non Hana pagi tadi," ujar Bi Inah, asisten rumah tangga senior di sana.
Maura melihat piring nasi goreng itu. Penampilannya sangat menggugah selera. Dengan rakus, Maura menyuapkan sesendok besar ke dalam mulutnya.
UHUK!
Maura membelalak. Ia langsung memuntahkan makanan itu ke lantai dan meraih gelas air putih dengan panik. Wajahnya memerah menahan rasa yang sangat aneh.
"Non Maura! Ada apa?" Bi Inah bertanya cemas.
"Bi! Coba kau rasakan sendiri! Ini asin sekali! Seperti air laut!" teriak Maura emosi.
"Asin? Tapi masakan Non Hana selalu dipuji Tuan Arlan," jawab Bi Inah bingung.
Maura tersenyum sinis dengan mata berkilat marah. "Ini sengaja! Mbak Hana pasti sengaja ingin meracuniku atau membuatku darah tinggi! Dia benar-benar licik!".
"Jangan menuduh Non Hana sembarangan, Non," bela Bi Inah.
Maura mendelik tajam. "Kau membelanya? Coba sendiri kalau tidak percaya!"
Bi Inah mengambil sendok bersih dan mencicipi sedikit nasi goreng di piring Maura. Seketika, Bi Inah ikut memuntahkannya. Wajahnya menunjukkan ekspresi luar biasa asin, seolah satu genggam garam dituangkan ke dalam satu piring itu.
Bi Inah terdiam. Ia teringat betapa tenangnya wajah Hana saat memasak tadi pagi. Ternyata, di balik ketenangan itu, Hana sedang menyiapkan pembalasan kecil yang sangat menyakitkan. Pertarungan di rumah ini baru saja dimulai.
...----------------...
Next Episode...
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.