Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelabuhan di Tengah Badai
Malam semakin larut. Jakarta di kejauhan masih berkedip dengan lampu-lampu kota yang tak pernah tidur, tapi di teras rumah kecil di pinggiran Bekasi itu, hanya ada keheningan yang ditemani suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing tetangga.
Arman duduk di kursi plastik kesayangannya, menatap gelap tanpa benar-benar melihat. Di tangannya, segelas kopi hitam yang sudah dingin sejak setengah jam lalu.
Pintu kamar masih tertutup rapat. Tidak ada suara dari dalam. Rani mungkin sudah menangis hingga tertidur, atau mungkin hanya terbaring memandangi langit-langit dengan mata kering, seperti dirinya dulu saat pertama kali menyadari hidupnya tidak seperti yang ia bayangkan.
Arman menghela napas panjang. Asap rokoknya mengepul, menyatu dengan kabut malam. Ia mengeluarkan ponsel, membaca lagi pesan Nadia yang belum sempat ia balas.
[Nadia] : Sayang, udah ngomong? Gimana reaksinya? Aku deg-degan. Semoga kamu kuat.
Jemarinya menari di layar.
[Arman] : Udah. Dia marah besar. Bahkan sampai banting barang. Sekarang aku di teras, dia di kamar. Nggak tahu harus ngapain.
Balasan Nadia datang cepat, seperti sudah menunggu.
[Nadia] : Ya Allah, Arman. Aku turut sedih. Tapi kamu hebat sudah berani jujur. Itu langkah pertama. Aku bangga sama kamu.
Arman membaca pesan itu, dan entah mengapa, ada kehangatan yang merambat di dadanya. Nadia tidak menyalahkannya. Tidak menuntutnya. Ia justru memberikan dukungan, sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini.
[Arman] : Aku nggak tahu harus gimana, Nad. Dia minta aku tidur di ruang tamu, nggak mau ngapa-ngapain lagi buat aku. Rasanya... hancur.
[Nadia] : Sayang, dengerin aku. Ini memang berat. Tapi coba kamu pikir dari sudut pandang lain. Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan jujur. Rani butuh waktu untuk menerima. Dan apapun yang terjadi, aku ada di sini buat kamu. Aku nggak akan ke mana-mana.
[Nadia] : Kamu harus kuat, Arman. Untuk Aldi, untuk kita, untuk masa depan. Ini ujian. Dan aku yakin kamu bisa melewatinya.
Setiap kata Nadia seperti balsem yang menenangkan luka. Arman membaca ulang pesan-pesan itu, dan perlahan, ketegangan di pundaknya mulai mengendur.
[Arman] : Kamu nggak pernah nyalahin aku? Padahal ini semua karena aku.
[Nadia] : Nyalahin kamu buat apa? Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang kita hadapi bersama. Aku milih kamu, Arman. Dengan segala konsekuensinya. Dan aku nggak akan pernah menyesal.
[Nadia] : Lagian, coba kamu renungkan. Bukankah semua ini sudah jalannya? Kamu bertemu aku di saat yang tepat, aku bisa bantu ekonomi kamu, kita saling melengkapi. Mungkin ini memang sudah takdir. Kamu harusnya bersyukur, bukan malah tenggelam dalam rasa bersalah.
Arman terdiam. Bersyukur. Kata itu menggelitik pikirannya. Ia menengok ke dalam rumah, melihat pintu kamar yang masih tertutup, lalu kembali ke layar ponsel dengan foto profil Nadia yang tersenyum lembut.
Mungkin Nadia benar. Mungkin ini memang sudah jalannya. Dulu ia berjuang keras mencari pembenaran poligami, bertengkar dengan Rani, hampir menyerah, lalu tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Bertemu Nadia, wanita yang matang, mandiri, dan menerimanya apa adanya. Bukankah itu pertanda? Bukankah itu rezeki yang harus disyukuri?
[Arman] : Kamu bener, Nad. Mungkin ini memang jalannya. Aku harus bersyukur punya kamu.
[Nadia] : Nah, gitu dong. Aku selalu ada buat kamu, Arman. Ingat itu. Kapanpun kamu butuh tempat berkeluh kesah, aku siap mendengar. Kapanpun kamu butuh pelukan, aku siap menerima. Kamu nggak sendiri.
[Nadia] : Sekarang coba istirahat. Besok kita pikirkan langkah selanjutnya. Aku sayang kamu.
[Arman] : Aku sayang kamu lebih. Selamat malam.
[Nadia] : Selamat malam, suamiku. Mimpi indah ya.
Arman menyimpan ponsel, menyesap kopinya yang sudah benar-benar dingin. Rasa pahitnya kini terasa pas di lidah, seperti hidupnya sendiri. Ia memandangi langit malam yang tak berbintang, terhalang polusi cahaya Jakarta. Tapi di dalam hatinya, ada sedikit cahaya yang mulai menyala. Cahaya dari Nadia.
Ia merenung. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin ia menarik kembali semua yang sudah terjadi. Menceraikan Nadia sekarang? Itu hanya akan membuat segalanya semakin runyam.
Ia sudah terikat janji, sudah terikat akad. Dan di luar itu, Nadia datang dengan kebaikan. Ia memberikan apa yang selama ini tidak diberikan Rani: perhatian, pengakuan, rasa dihargai. Nadia mendengarkannya, membuatnya merasa sebagai laki-laki yang berarti, bukan sekadar mesin pencari uang yang pulang larut.
Sementara Rani? Rani sibuk dengan warungnya, dengan pesanan kue, dengan dunianya sendiri. Rani lebih sering diam, lebih sering menuntut tanpa memberi apresiasi. Mungkin ini balasan atas semua itu. Mungkin ini cara alam semesta mengatakan bahwa ia pantas mendapatkan yang lebih baik.
Arman menghela napas, kali ini lebih lega. Keputusannya bulat. Ia akan menjalani ini bersama Nadia. Ia akan tetap berusaha memperbaiki hubungan dengan Rani, tapi tidak akan meninggalkan Nadia. Keduanya harus berjalan beriringan. Itulah poligami. Itulah yang selama ini ia impikan.
Ia bangkit dari kursi, melipat jaket tipis yang ia pakai, dan masuk ke rumah. Pintu kamar masih tertutup. Ia merebahkan diri di sofa panjang, menatap langit-langit ruang tamu yang retak di sudutnya. Besok akan jadi hari yang berat. Tapi setidaknya, malam ini, ia punya keyakinan baru. Keyakinan bahwa apa yang ia lakukan benar, setidaknya di matanya sendiri.
Ponselnya bergetar sekali lagi.
[Nadia] : Arman... satu lagi. Terima kasih sudah memilihku. Aku janji, aku akan jadi istri yang baik buat kamu. Kita akan bangun masa depan bersama. Aku cinta kamu.
Arman tersenyum di gelap. Lalu membalas:
[Arman] : Aku juga cinta kamu. Selamat malam, istriku.
Ia memejamkan mata, mencoba tidur. Di luar, angin malam berhembus pelan, membawa serta debu dan harapan-harapan baru yang mungkin akan segera terhempas lagi. Tapi untuk malam ini, Arman memilih untuk percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sementara di kamar, Rani terbangun di tengah malam. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi foto Aldi yang tidur pulas di sampingnya.
Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini diam-diam, tanpa suara. Ia tahu, perang belum usai. Bahkan, mungkin baru akan dimulai. Dan di medan perang ini, ia harus berjuang sendiri.
Di dua tempat yang berbeda, dua perempuan menangis untuk laki-laki yang sama. Dan laki-laki itu, di sofa ruang tamu, tidur dengan senyum tipis, bermimpi tentang masa depan yang entah akan seindah apa.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.