Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: PINTU YANG DIBUKA
Suara dering telepon mengguncang ketenangan pagi yang biasanya menyelimuti rumah kami. Aku mengerutkan dahi sambil menatap jam di sisi meja malam—pukul 04.30. Siapa yang mungkin menelepon di jam yang tidak biasa seperti ini? Arga masih terlelap di sisi lain tempat tidur, dengusan lembut keluar dari mulutnya. Aku dengan hati-hati menyelinap dari bawah selimut agar tidak mengganggunya, mengambil telepon dari meja dan menjawab dengan suara pelan.
“Halo?”
Sebuah tangisan pecah dari ujung lain saluran, membuatku langsung terjaga sepenuhnya. “Ra… Rania… tolong… aku tidak tahu harus kemana…”
Suaranya aku kenal sangat baik. Maya. Sahabatku sejak masa SMA. Aku duduk tegak, menekan telapak tangan ke dada untuk menenangkan denyut jantung yang mulai berdebar kencang. “Maya? Ada apa denganmu? Kamu menangis. Dimana kamu sekarang?”
“Aku di depan gerbang rumahmu… aku… aku tidak punya tempat lain untuk pergi,” ucapnya sambil mencoba menahan tangisannya, tapi jelas terlihat dia sedang dalam keadaan sangat tertekan. “Suamiku… dia mengusirku dari rumah. Dia bilang aku tidak pantas jadi istri dia lagi…”
Tanpa berpikir dua kali, aku berdiri dan mengambil baju tidur yang ada di kursi. “Tunggu di sana ya, May. Aku akan membukakan pintu sekarang juga.”
Aku berjalan cepat menuju pintu depan, menyetel lampu darurat agar jalan tidak terlalu gelap. Ketika aku membuka gerbang besi rumah kami, sosok Maya muncul di bawah sinar lampu jalan raya, mengenakan hanya baju tidur tipis dan jaket tipis yang jelas tidak cukup untuk menghadapi hawa dingin pagi ini. Tas kecil selempangnya tergantung di bahunya, dan matanya merah memerah karena menangis. Tanpa berkata apa-apa, aku membuka pelukan lebar dan menariknya masuk ke dalam pelukanku.
“Tenang saja, May,” bisikku pelan sambil mengusap punggungnya yang terus bergoyang karena tangisan. “Kamu aman di sini. Kamu bisa tinggal di rumahku selama kamu mau. Tidak perlu khawatir tentang apa-apa.”
Maya menangis semakin deras di bahuku, mengeluarkan semua rasa sakit dan kecemasannya. Aku tidak tahu persis apa yang terjadi padanya dan suaminya, Rio, tapi yang jelas dia membutuhkan tempat untuk berlindung. Maya pernah banyak membantu aku ketika aku sedang dalam kesusahan—ketika ayahku meninggal dunia dan aku hampir tidak bisa melanjutkan kuliah, dia yang menyediakan uang untuk biaya sekolahku. Ketika aku dan Arga baru menikah dan kesulitan mencari rumah, dia yang membiarkan kami menginap di rumahnya selama tiga bulan. Kini giliranku untuk membantunya.
Setelah beberapa saat, tangisannya mulai mereda. Aku membawanya masuk ke rumah, menuju ruang tamu dan membuatkan secangkir teh hangat untuknya. Ketika aku sedang mengocok gula ke dalam cangkir, aku merasa ada tangan yang menyentuh bahuku. Aku menoleh dan melihat Arga berdiri di pintu koridor, masih menggosok-gosok mata yang belum terjaga sempurna.
“Siapa yang datang, sayang?” tanyanya dengan suara masih berat karena tidur. Ketika matanya melihat Maya yang sedang duduk di sofa dengan wajah pucat dan mata merah, ekspresinya langsung berubah menjadi khawatir. “Maya? Ada apa denganmu?”
Maya hanya bisa menggelengkan kepala dan menahan tangisan yang ingin muncul kembali. Aku menjelaskan secara singkat apa yang dikatakannya padaku tadi malam, dan Arga langsung mendekat dan menepuk bahu Maya dengan lembut. “Tentu saja kamu bisa tinggal di sini, May. Rumah ini juga rumahmu. Jangan sungkan ya.”
Aku melihat senyum hangat di wajah Arga, dan rasa syukur menghiasi hatiku. Betapa beruntungnya aku memiliki suami yang baik hati dan selalu siap membantu orang lain. Kami berdua duduk bersebelahan di sofa, mendengarkan Maya menceritakan apa yang terjadi padanya dan Rio.
“Kemarin malam kami berdebat tentang hal yang sepele,” ujar Maya dengan suara yang masih sedikit gemetar. “Aku bilang dia terlalu sering keluar bersama teman-temannya dan jarang ada di rumah. Dia marah besar dan berkata aku tidak pernah mengerti pekerjaannya. Lalu dia mengambil semua barang-barang kecilku, memasukkannya ke dalam tas ini, dan mendorongku keluar dari rumah. Dia bahkan tidak memberikan waktu untuk aku mengambil pakaian atau barang penting lainnya.”
Aku menjepit tangan Maya dengan erat. “Rio benar-benar melakukan itu? Bagaimana bisa dia tega mengusirmu seperti itu? Kamu adalah istri yang baik untuk dia.”
“Dia bilang aku sudah tidak menarik lagi baginya,” kata Maya sambil mengusap air mata yang mengucur lagi. “Dia bilang dia sudah bosan dan ingin hidup baru. Aku tidak tahu harus kemana. Orang tuaku tinggal di kota lain, dan aku tidak ingin mereka khawatir. Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa kubutuhkan sekarang, Rania.”
“Tenang saja, May,” ucap Arga dengan lembut. “Kamu bisa tinggal di kamar tamu kami. Aku akan membersihkannya sekarang juga agar kamu bisa beristirahat. Kau pasti sudah sangat lelah.”
Tanpa menunggu tanggapan, Arga berdiri dan pergi ke arah kamar tamu yang terletak di sisi belakang rumah. Aku melihat Maya menatap arah yang ditempuh Arga, dan ada ekspresi yang aku tidak bisa mengartikan di wajahnya—seolah campuran antara rasa syukur dan sesuatu yang lain yang aku tidak bisa menentukan. Namun aku mengabaikannya; tentu saja dia sedang dalam keadaan sangat stres dan emosional.
Setelah kamar tamu siap, aku membawakan Maya ke sana dan memberinya beberapa pakaian tidur ku yang mungkin bisa dikenakannya. “Istirahatlah dulu ya, May. Besok pagi kita bisa berbicara lagi dan memikirkan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Jangan khawatir tentang apa-apa, ya? Kamu tidak sendirian.”
Maya mengangguk dan memberikan pelukan hangat padaku. “Terima kasih banyak, Rania. Terima kasih sudah mau membantuku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kamu tidak ada untukku.”
Setelah memastikan Maya sudah berbaring dan mulai terlelap, aku kembali ke kamar tidur kami. Arga sudah berada di sana, duduk di tepi tempat tidur sambil menyalakan laptopnya seolah sedang bekerja. Aku duduk di sebelahnya dan bersandar pada dadanya.
“Dia sangat menyedihkan, sayang,” ucapku pelan. “Bagaimana bisa Rio melakukan hal seperti itu padanya?”
Arga menutup laptopnya dan membungkus lengannya di sekeliling pundakku. “Dunia ini tidak adil, sayang. Kadang-kadang orang yang kita cintai justru yang menyakitkan kita paling dalam. Tapi setidaknya kita bisa membantu Maya dalam kesusahannya. Dia pernah banyak membantu kita juga kan?”
Aku mengangguk dan mencium pipinya. “Ya, benar. Aku senang kamu setuju untuk membantunya. Kamu adalah suami yang paling baik di dunia.”
Arga tersenyum dan menarikku lebih dekat kepadanya. “Kamu juga istri yang paling baik, sayang. Kita harus saling membantu satu sama lain, terutama teman-teman kita yang sedang dalam kesusahan.”
Keesokan paginya, aku terbangun dengan suara suara alat masak yang berdesir dari dapur. Aku melihat jam—pukul 07.00. Arga sudah tidak ada di tempat tidur. Aku berdiri dan pergi ke arah dapur, dan melihat pemandangan yang membuat hatiku terasa hangat. Arga sedang memasak telur dadar dan membuatkan roti panggang, sementara Maya berdiri di sebelahnya membantu menyajikan makanan ke dalam piring. Kedua mereka sedang tertawa dan bercanda seperti teman lama yang sudah tidak bertemu lama.
“Selamat pagi, cantik!” ucap Arga ketika melihatku masuk ke dapur. “Kamu tidur nyenyak ya? Maya dan aku sudah siapin sarapan untuk kamu.”
Maya menoleh dan memberikan senyum hangat padaku. “Selamat pagi, Ra. Aku sudah merasa jauh lebih baik setelah istirahat semalam. Terima kasih untuk tempat tinggalnya ya. Dan juga untuk sarapannya, Arga,” tambahnya dengan menyapa punggung Arga dengan lembut.
Aku tersenyum kembali, meskipun ada sesuatu yang sedikit menggangguku dengan kedekatan mereka. Tapi aku segera menepis perasaan itu. Tentu saja tidak ada salahnya jika suamiku akur dengan sahabatku. Itu bahkan seharusnya membuatku bahagia, bukan? Mereka adalah dua orang terpenting dalam hidupku, dan melihat mereka bisa akur dengan baik seharusnya menjadi hal yang membahagiakan.
“Kalian sudah siapin sarapan? Terima kasih banyak ya,” ucapku sambil duduk di kursi makan. “Bagaimana perasaanmu sekarang, May? Apakah kamu merasa lebih baik?”
“Ya, jauh lebih baik,” jawabnya sambil menyajikan piring makanan di hadapanku. “Setelah tidur yang cukup dan melihat wajah-wajah ramah kalian berdua, aku merasa seperti ada harapan lagi. Mungkin aku perlu menghubungi Rio lagi hari ini dan mencoba berbicara dengan dia dengan tenang. Mungkin dia juga menyesal dengan apa yang dia lakukan kemarin malam.”
“Aku tidak yakin itu ide yang baik, May,” ucap Arga sambil menyajikan kopi hangat untukku. “Jika dia bisa mengusirmu begitu saja seperti itu, mungkin kamu perlu memikirkan dengan matang sebelum menghubunginya lagi. Kamu tidak ingin terluka lagi kan?”
Maya mengangguk perlahan, melihat ke arah piring makanannya. “Kamu benar, Ar. Mungkin aku perlu waktu dulu untuk berpikir. Aku tidak ingin membuat keputusan yang salah karena emosi.”
Aku menjepit tangan Maya di atas meja. “Kamu punya waktu sebanyak yang kamu butuhkan, May. Jangan terburu-buru untuk membuat keputusan apa pun. Kita bisa membicarakan semua opsi yang kamu punya dan menemukan jalan keluar yang terbaik untukmu.”
Setelah sarapan, Arga pergi bekerja seperti biasa. Sebelum pergi, dia berbalik dan melihat Maya. “Jika kamu perlu sesuatu ya, May, jangan sungkan untuk menghubungiku melalui telepon. Jangan hanya bergantung pada Rania saja ya. Aku juga bisa membantumu jika kamu membutuhkanku.”
Maya memberikan senyum manis padanya. “Tentu saja, Arga. Terima kasih banyak ya. Kamu benar-benar orang yang baik hati.”
Setelah pintu rumah terdengar tertutup dan suara mobil Arga menghilang di kejauhan, aku melihat Maya yang masih menatap arah pintu dengan ekspresi yang dalam. Aku mendekatinya dan menepuk bahunya. “Kamu baik-baik saja kan, May? Kamu tidak perlu merasa tertekan karena tinggal di rumah kami ya. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau selama kamu merasa nyaman.”
Maya menoleh padaku dengan cepat, seolah terkejut karena ketahuan sedang memikirkan sesuatu. “Ya, tentu saja, Ra. Aku merasa sangat nyaman di sini. Kamu dan Arga benar-benar orang yang baik padaku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau aku tidak punya kalian berdua.”
Kita menghabiskan sebagian besar hari itu di rumah, berbicara tentang berbagai hal dan mencoba mengalihkan pikiran Maya dari masalahnya dengan Rio. Aku membawanya berbelanja ke pasar untuk membeli beberapa pakaian dan barang kebutuhan hariannya, dan dia mulai terlihat lebih riang lagi. Ketika kita pulang ke rumah pada sore hari, aku terkejut melihat Arga sudah berada di rumah lebih awal dari biasanya. Dia bahkan sudah memasak makanan untuk makan malam—sup krim jagung favorit kita berdua.
“Kamu pulang lebih awal hari ini?” tanyaku sambil meletakkan tas belanjaan di dapur.
“Ya,” jawabnya dengan senyum. “Aku merasa khawatir dengan Maya dan ingin pulang lebih awal untuk membantu kamu merawatnya. Lagipula, tidak ada salahnya bagi suami untuk membantu istri dan teman baiknya kan?”
Maya muncul dari kamar tamu dan melihat meja makan yang sudah disiapkan dengan rapi. “Wah, ini semua untuk kita? Kamu memasaknya sendiri, Arg?”
“Tentu saja,” jawab Arga dengan bangga. “Saya tahu ini makanan favorit kalian berdua. Semoga kamu suka ya, May.”
Selama makan malam, kita bercerita dan tertawa seperti keluarga yang bahagia. Maya bahkan mulai bercerita tentang masa SMA kita yang penuh dengan candaan dan kenangan indah. Aku melihatnya tertawa dengan riang, dan rasanya seperti melihat sahabatku yang dulu kembali lagi—yang selalu ceria dan penuh semangat. Aku merasa bersyukur bisa membantunya kembali pada dirinya yang sebenarnya.
Namun, ketika malam semakin larut dan Maya sudah kembali ke kamar tamunya untuk beristirahat, aku melihat Arga sedang berdiri di teras belakang rumah, menatap langit malam dengan ekspresi yang dalam. Aku mendekatinya dan menyandarkan kepalaku pada bahunya.
“Kamu sedang memikirkan apa, sayang?” tanyaku pelan.
“Cuma khawatir tentang Maya saja,” jawabnya dengan lembut. “Dia adalah orang yang baik, Rania. Aku tidak ingin dia terluka lagi oleh pria yang tidak menghargainya. Semoga dia bisa menemukan kebahagiaan yang dia layakkan.”
Aku mencium pipinya dengan lembut. “Kamu benar-benar orang yang penuh kasih sayang, sayang. Aku sangat mencintaimu karena itu.”
Arga memutar tubuhnya dan melihatku dengan mata yang penuh cinta. “Aku juga sangat mencintaimu, Rania. Kamu dan Maya adalah dua orang terpenting dalam hidupku. Aku akan selalu melindungi kalian berdua dari bahaya apa pun.”
Pada saat itu, aku merasa sangat beruntung memiliki keluarga dan teman seperti mereka. Aku berpikir bahwa mungkin kesusahan yang dialami Maya adalah ujian bagi kita semua, dan kita akan melewatinya bersama-sama seperti yang selalu kita lakukan. Tapi aku tidak menyadari bahwa pintu yang aku buka untuk membantu sahabatku itu juga akan menjadi jalan bagi sesuatu yang akan menghancurkan dunia kecil bahagia yang aku bangun dengan susah payah selama ini. Bahwa kepercayaan yang aku miliki pada dua orang terkasih itu akan berubah menjadi luka dalam yang mungkin tidak akan pernah sembuh seperti semula.