NovelToon NovelToon
Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 KEDATANGAN ROMI

Usai sarapan pagi yang terasa berbeda dari biasanya, Khay langsung bersiap untuk berangkat ke kelas. Perutnya kenyang, hatinya entah kenapa juga terasa lebih ringan. Ia berdiri di depan cermin asrama, merapikan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai rapi, lalu meraih tas selempangnya.

Hari ini ia memilih gaun sederhana berwarna biru muda, dipadukan dengan sepatu putih. Tidak berlebihan, tapi cukup membuatnya terlihat segar. Khay menatap pantulan dirinya sendiri sesaat, lalu tersenyum kecil.

Oke, Khay. Fokus kuliah. Jangan melayang-layang cuma gara-gara sarapan.

“KHAAAYYY!” teriak Vani dari ranjangnya. “Lo lama banget! Ini mau kuliah apa mau kondangan?”

Khay menoleh sambil menyambar ponsel. “Sabar, Nyonya Cerewet. Cantik itu butuh usaha.”

Rika mendengus dari balik bantal. “Padahal cantiknya juga modal muka.”

Sinta ikut tertawa. “Iya, iya. Jangan lupa dosa ngomong gitu pagi-pagi.”

Khay melempar bantal ke arah Rika. “Kalian iri aja.”

Mereka pun akhirnya keluar kamar bersama-sama.

Empat gadis itu berjalan berdampingan menyusuri koridor asrama menuju gedung fakultas. Matahari sudah naik cukup tinggi, membuat udara pagi berubah menjadi hangat.

“Eh, Khay,” Vani mendekat sambil menyenggol lengan Khay. “Sarapan lo tadi kok niat banget sih? Biasanya juga lo cuma roti.”

Khay pura-pura santai. “Lagi pengen makan enak.”

“Pengennya tiba-tiba?” Rika mengangkat alis. “Atau… ada yang ngirimin?”

Sinta menutup mulut menahan tawa. “Aku juga curiga.”

Khay berhenti berjalan, menatap ketiga temannya satu per satu. “Kalian bertiga nih ya, kompak banget kalo kepo.”

Vani menyeringai. “Sebagai sahabat sejati, itu tugas kami.”

“Pokoknya bukan urusan kalian,” jawab Khay sambil kembali melangkah.

“Berarti urusan seseorang,” celetuk Rika.

“Dan seseorang itu cowok,” tambah Sinta.

Khay tertawa kecil, menggeleng. “Kalian ini

kebanyakan nonton drama.”

Percakapan ringan dan tawa mereka mengalir begitu saja. Sesekali Khay menimpali dengan gaya ceplas-ceplos khasnya, membuat suasana makin hidup. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka bahkan sempat menoleh karena suara tawa yang riuh.

Namun, langkah mereka mendadak terhenti.

Tawa itu seolah tercekik di tenggorokan ketika seorang laki-laki berdiri tepat di hadapan mereka.

Romi.

Tubuhnya tinggi, wajahnya masih sama tapi, tampan, dan berpakaian mahal. Namun, sorot matanya kini berbeda. Ada kegelisahan di sana, juga sesuatu yang tak bisa Khay jelaskan selain… keterkejutan.

Vani refleks maju selangkah, berdiri di depan Khay dengan kedua tangan bertolak pinggang. “Mau apa kamu?”

Rika menyilangkan tangan di dada. “Pagi-pagi udah bikin suasana rusak aja.”

Sinta tertawa sinis, menatap Romi dari atas ke bawah. “Dih, ada laki-laki sok tampan tapi ngumpet di ketiak mamah,” katanya sambil terkekeh. “Hahahah.”

Tawa mereka bertiga pecah, keras dan tanpa beban.

Romi menghela napas pelan, jelas menahan emosi.

“Aku nggak ada masalah sama kalian bertiga,” ucapnya datar. “Aku ke sini karena ingin bertemu Khayla.”

Khay melangkah maju, membuat Vani sedikit mundur tapi tetap waspada. Wajah Khay tenang, tapi matanya dingin.

Ia tersenyum tipis senyum yang tidak sampai ke mata.

“Memangnya kita kenal?” tanyanya sinis.

Romi terdiam sejenak. “Khay_”

“Khay!” potong Vani dengan nada tajam. “Lo gak perlu dengerin dia.”

Namun Khay mengangkat tangan, memberi isyarat agar Vani tenang. Ia menatap Romi lurus-lurus, tanpa ragu, tanpa gentar.

“Aku nggak tahu kamu datang ke sini buat apa,” lanjut Khay. “Tapi kalau mau nostalgia atau drama, salah tempat.”

“Khay, aku cuma mau ngomong,” kata Romi, nada suaranya terdengar menahan. “Aku perlu jelasin sesuatu.”

“Jelasin?” Khay terkekeh kecil. “Apa lagi yang perlu dijelasin, Romi?”

Romi membuka mulut, tapi belum sempat bicara, Khay sudah lebih dulu melangkah mundur.

“Gais,” kata Khay santai sambil merangkul bahu Vani dan Rika. “Ayo kita masuk kelas. Cuaca lagi panas banget. Jangan berdiri di bawah matahari kayak gini.”

Nada bicaranya ringan, tapi sindirannya jelas.

Ia melirik Romi sekilas, lalu menambahkan, “Nanti bisa gosong.”

Tanpa menunggu jawaban, Khay menarik teman-temannya pergi. Langkahnya mantap, tidak menoleh ke belakang sedikit pun.

Vani mendengus saat mereka menjauh. “Kurang ajar banget dia dateng ke sini.”

Rika menoleh sekilas ke arah Romi yang masih berdiri di tempat. “Muka tebel emang.”

Sinta merangkul lengan Khay. “Lo gak apa-apa, Khay?”

Khay menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil. “Aku baik-baik aja.”

Dan itu bukan kebohongan. Ia memang sempat terkejut melihat Romi muncul tiba-tiba, tapi tidak ada lagi perasaan yang mengaduk-aduk dadanya seperti dulu. Tidak marah, tidak sedih hanya… datar.

Hubungan satu tahun yang kandas itu kini terasa seperti cerita lama yang sudah selesai ia baca.

“Aku cuma heran,” lanjut Khay sambil berjalan.

“Setelah semua yang terjadi, dia masih berani muncul.”

“Berani karena gak punya malu,” sahut Vani cepat.

Mereka tertawa kecil, mencoba mencairkan kembali suasana. Tak lama, gedung fakultas sudah terlihat di depan mata. Mahasiswa mulai memenuhi area, suara langkah dan obrolan bercampur jadi satu.

Namun, di balik langkah ringan Khay, pikirannya sempat melayang singkat.

Kalau Revan tahu… Nama itu muncul begitu saja, membuat dadanya menghangat lagi. Khay menggeleng kecil, menepis pikiran itu. Ia belum siap membicarakan semua ini. Belum sekarang. Yang ia tahu, satu hal sudah pasti ia tidak lagi sendiri menghadapi masa lalu.

KELAS.

Khay dan ketiga temannya duduk di bangku yang sudah menjadi “wilayah tetap” mereka sejak semester awal. Bangku deretan tengah dekat jendela cukup strategis untuk mendengar penjelasan dosen, tapi juga aman untuk berbisik dan bercanda pelan.

Vani menyandarkan dagu di telapak tangan. “Sumpah ya, aku masih kesel lihat muka si Romi tadi pagi.”

Rika mengangguk setuju. “Datang-datang bikin suasana rusak.”

Sinta melirik Khay. “Tapi kamu keren sih, Khay. Ditinggal gitu aja, tanpa drama.”

Khay mengangkat bahu santai. “Ngapain drama? Capek. Energi mending dipakai buat lulus tepat waktu.”

Vani tertawa kecil. “Dewasa banget kamu sekarang.”

Khay hendak membalas ketika langkah kaki terdengar mendekat. Bukan satu orang dua. Namun yang berhenti tepat di samping meja mereka hanya satu sosok.

Seorang gadis dengan rambut panjang tergerai rapi, wajahnya cantik dengan riasan tipis namun jelas disengaja. Tatapannya tajam, penuh percaya diri bahkan cenderung meremehkan.

Inggrit.

Khay mendongak, menatapnya datar. Vani langsung menegakkan punggung, Rika dan Sinta saling pandang.

“Ada apa?” tanya Khay tenang.

Inggrit menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak ramah. “Aku cuma mau ngingetin kamu, Khayla.”

Vani memutar mata. “Waduh, pagi-pagi udah ada peringatan.”

Inggrit mengabaikan Vani. Tatapannya tetap tertuju pada Khay. “Kamu sebaiknya jaga jarak dari Romi. Aku dengar kalian sempat dekat.”

“Sempat,” potong Khay singkat.

Inggrit mencondongkan tubuh sedikit. “Karena sekarang Romi dan aku sudah dijodohkan. Jadi aku harap kamu paham posisi.”

Nada suaranya halus, tapi jelas mengandung ancaman kecil terselubung namun disengaja.

Rika mendengus pelan. “Pede banget.”

Namun Khay justru tersenyum sinis. Bukan senyum manis, bukan pula senyum sopan. Senyum yang dingin dan tidak peduli. “Sorry ya,” ucap Khay ringan. “Aku nggak suka sampah.”

Inggrit terdiam.

“Jadi ambillah,” lanjut Khay santai, seolah membicarakan barang bekas. “Gratis.”

Vani menutup mulutnya menahan tawa. Sinta sampai harus menunduk agar tidak tertawa terbahak.

Wajah Inggrit mengeras. “Kamu_”

Belum sempat kalimat itu selesai, pintu kelas terbuka.

“Selamat pagi.”

Suara dosen membuat seluruh kelas otomatis berdiri. Inggrit terpaksa mundur dengan wajah kesal, sementara Khay kembali duduk dengan ekspresi tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. “Fix,” bisik Vani. “Lo idola gue.”

Khay hanya mengedikkan bahu.

1
erma irsyad
lanjutt thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
siapa yang ngawasin..harusnya Khay terus terang saja kalau udah nikah,kan jadi fitnahan nantinya
Drama Queen
Lanjut kak💪
Drama Queen
apa yang kamu pegang khay🤣🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Khay mulai ada perasaan sama suaminya 🥰🥰
erma irsyad
dtunggu Up selnjutnya🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Jaga suamimu Khay jangan ada valak kor diantara kalian
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
🤣🤣🤣🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Revan cemburu🥰🥰🥰
erma irsyad
thor Up ny jgn lama2 😄
Bungatiem: lanjutkan lagi Doong
total 2 replies
Bungatiem
lanjutkan
Bungatiem
di dunia nyata ada suamiku ga pernah bangunin aku walopun aku tidur sampai siang 😍 Alhamdulillah pernikahan kami sudah berjalan 26 thn 😍
Marchel: Alhamdulillah.. Semoga pernikahannya bahagia terus ya kak 🤗😍
total 1 replies
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Marchel: Terimakasih kak
total 1 replies
Drama Queen
Revan perhatian banget sih ama istri kecilnya.. 😍😍😍
Drama Queen
lanjut💪
Drama Queen
Revan sangat perhatian ama istri kecil nya😍😍😍
Drama Queen
khay jangan banyak alasan bilang aja kamu takut tidurmu kebablasan dan peluk-peluk suamimu. tenang khay kalian sudah sah jadi bebas 🤣🤣
Drama Queen
gak sabar nunggu mereka malam pertama😄
Drama Queen
kenapa khay setiap bangun pasti kamu kaget dan menjerit 🤣🤣
Drama Queen
Revan sabar ya.. kalian masih masa perbekalan dan pendekatan jadi malam pengantinnya di undur sampai kalian benar-benar dekat🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!