Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Dilema
"Ayo berangkat," ajak Adimas. Rani menurunkan kembali rambutnya. Adimas tersenyum, leher jenjang itu akhirnya terselamatkan oleh rambut panjang Rani.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Rani. Adimas tersenyum tak menjawab apa pun dari pertanyaan itu.
Dia melaju keluar dari area perumahan dan akhirnya masuk ke arah jalan raya. Malam itu jalanan sangat ramai, banyak orang yang berjalan-jalan di malam Minggu. Rani dari dalam mobil memperhatikan sekelilingnya.
"Lapar gak?" tanya Adimas. Rani akhirnya menatap Adimas.
"Udah makan sih, tapi kalau Mas lapar, kita boleh makan dulu," ucap Rani. Adimas mengangguk, lalu membelokkan setir dan memampirkan mobilnya ke sebuah restoran mewah di pusat kota.
Begitu kaki Rani melangkah masuk, dadanya seketika terasa asing. Restoran itu seperti dunia lain baginya, sunyi namun hidup. Lampu gantung kristal menjuntai dari langit-langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan yang lembut. Dindingnya berlapis marmer krem dengan guratan halus, sementara lantainya mengilap hingga bayangan langkah kaki tampak jelas.
Suara musik jazz mengalun pelan, dimainkan dari sudut ruangan oleh sebuah band kecil dengan piano hitam mengilap sebagai pusatnya. Denting gelas kristal, sendok perak yang bersentuhan dengan piring porselen putih, dan bisikan percakapan orang-orang berkelas membentuk harmoni yang rapi tenang, mahal, dan berjarak.
Rani refleks merapikan bajunya, jujur itu refleks dilakukan Rani. Dia merasa pakaiannya terlalu sederhana di tempat semacam ini. Bahkan cara duduk orang-orang di sana terlihat terlatih, punggung tegak, senyum tipis, dan tatapan penuh kendali.
Seorang pelayan bersetelan hitam-putih membungkuk sopan, mengantar mereka ke meja dekat jendela besar yang menghadap taman kecil dengan air mancur di tengahnya. Lampu-lampu kecil di sekitar taman berkelip lembut, menambah kesan eksklusif. Namun langkah Adimas terhenti sejenak.
Di tempat itu, duduk sepasang suami istri dengan aura yang sulit diabaikan. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu gelap, rambutnya rapi dengan sedikit uban di pelipis, duduk tenang sambil membaca menu. Sorot matanya tajam namun berwibawa. Di sampingnya, seorang wanita anggun mengenakan gaun panjang berwarna navy, perhiasan sederhana namun jelas bernilai mahal, tersenyum lembut sambil mengaduk minumannya.
Itu adalah Tuan Ghiffari, ayah Adimas. Dan Nyonya Aditiya, ibu Adimas.
Rani tidak mengenal pria itu secara langsung, tapi entah kenapa dadanya berdebar. Ada sesuatu dari cara pria itu duduk tenang, penuh kendali, dan terasa… berkuasa. Istrinya pun memancarkan ketenangan yang sama, bukan tipe wanita yang banyak bicara, tapi sekali bicara, pasti didengar.
Adimas menegang hampir tak terlihat. Rahangnya sedikit mengeras, langkahnya melambat sepersekian detik sebelum kembali berjalan normal. Rani menangkap perubahan itu.
"Mas?" bisiknya pelan. Adimas menoleh, lalu tersenyum tipis. Senyum yang terlalu rapi untuk disebut santai.
"Itu Daddy," ucapnya singkat. Rani menelan ludah. Apa yang dilakukan Adimas? Kenapa dia membawa Rani ke tempat seperti itu dan bahkan ada orang tuanya juga? Bukankah ini seperti sedang mengenalkan seseorang yang khusus kepada orang tua?
Apalagi di tengah kemewahan restoran itu, keberadaan Tuan Ghiffari terasa seperti pusat gravitasi, tak melakukan apa pun, tapi membuat seisi ruangan seolah menyesuaikan diri dengannya.
"Ayo!" ajak Adimas menggandeng tangan Rani. Rani merasakan kehangatan dari tangan Adimas. Mata Rani tak lepas dari tangan yang menggandengnya kini, hingga tubuhnya sudah berhadapan langsung dengan kedua orang itu.
"Daddy, Mommy, apa kabar?" sapa Adimas. Kedua orang tua itu nampak berdiri dari duduknya dan memeluk putra mereka.
"Ini?" Tuan Ghiffari menatap Rani, begitu pun dengan Nyonya Aditiya.
"Ini Rani, Ran ini kedua orang tuaku," ucap Adimas. Rani tersenyum hendak mengulurkan tangan. Namun satu pelukan justru dia dapatkan dari ibu Adimas. Dia mengecup kedua pipi Rani dan mengajaknya duduk di sampingnya.
"Daddy kira kenapa sampai mengajak Daddy ke sini, rupanya ingin mengenalkan seseorang," ucap Tuan Ghiffari. Adimas tersenyum.
"Dad, bukankah ini Rani yang waktu itu?" ucap ibu Adimas. Rani merasa gugup. Tangannya bahkan sudah berkeringat basah saat itu. Wah, mentalnya dipertaruhkan sekarang.
"Benar, lalu bagaimana dengan model itu, Adimas?" Kini mata Tuan Ghiffari tertuju tajam pada Adimas.
"Aku akan mengakhirinya," cicit Adimas. Tuan Ghiffari menghela napas kasar.
"Sudahlah, Adimas. Sebenarnya apa maksud semua ini? Langsung pada intinya." Kini ibunya ikut berbicara. Adimas memang sudah mempersiapkan diri akan pertanyaan itu.
"Biar aku menyelesaikan semuanya," tutur Adimas. Ibunya kini menatap Rani dengan lembut.
Kedua orang tuanya tahu, kini Adimas terjebak dalam dilema. Dia belum mengenal perasaannya sendiri, namun di saat dia berusaha, justru dia menemukan jawaban itu pada orang lain.
"Nak, mau makan ice cream?" tawar Tuan Ghiffari. Rani sejenak terdiam. Di kalangan kelas atas, penawaran semacam itu memang terlihat manis, tapi memiliki makna yang jahat. Itu artinya Tuan Ghiffari tengah mengatakan bila Rani masih kecil secara usia.
"Saya lebih suka juice," jawab Rani hati-hati. Salah bicara satu kata saja bisa langsung menghempas tubuh Rani. Jadi dia harus super hati-hati. Maksud Rani sudah jelas bila dirinya memang masih kurang matang dalam usia, namun dia cukup dewasa untuk tetap duduk di sana.
Senyum terukir di bibir ibu Adimas. Dia tak menyangka bila tawaran suaminya dapat diartikan secara bijaksana. Namun, pada dasarnya Tuan Ghiffari memang menawarkan ice cream tanpa maksud terselubung.
"Ice cream di sini nikmat, loh," ucap ibu Adimas lagi. Adimas yang mengerti percakapan mereka menarik lengan Rani dan menggenggam tangan itu yang sudah berkeringat.
"Senikmat apa pun makanannya, akan berbeda bila dirasa dengan lidah yang berbeda," ucap Rani. Adimas tersenyum, tak menyangka Rani memiliki jawaban yang bijak.
"Ran, maksud Daddy dan Mommy bukan seperti itu. Di sini memang menjual ice cream yang terkenal. Dan malam ini ice cream legendaris sedang dijual. Maukah kamu mencicipinya, hem?" ucap Adimas. Rani mencubit tangan Adimas.
"Tapi di menu yang jadi best seller-nya itu bukan itu!" gereget Rani, suaranya dibuat sekecil mungkin.
"Hahaha, ya ampun. Kenapa kamu semanis ini, Ran?" tawa Adimas pecah. Suasana elegan di tempat itu sontak terhenti beberapa saat dengan tawa menggema dari Adimas.
"Mau coba es krimnya?” tanya Adimas lagi.
Rani ragu sejenak, lalu akhirnya mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, Adimas langsung memesan empat porsi es krim dengan rasa yang sama, sementara Rani hanya bisa menahan malu sendirian.
"Rani Jaya Almaira, usiamu baru delapan belas tahun. Kamu juga sudah mendapatkan kursi di Al-Azhar University. Siapa yang sangka? Bahkan sekarang mungkin sudah mulai menghafal makna Al-Qur'an, bukan?" tanya Tuan Ghiffari.
Pucat sudah wajah Rani. Dia bahkan belum memberi tahu ibunya tentang hal ini. Namun Tuan Ghiffari mengatakannya seolah itu bukan sebuah rahasia yang besar.
"Al-Azhar?" tanya Adimas bingung. Rani menunduk, dia menggigit bibir bawahnya.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang