NovelToon NovelToon
Satu Wajah Dua Kehidupan

Satu Wajah Dua Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24: Pembunuh yang Menghilang

Suasana di laboratorium forensik siang itu penuh dengan aroma disinfektan yang menusuk hidung, bercampur bau logam dari peralatan bedah dan cairan analisis. Lampu-lampu putih di langit-langit menyala terang dan memantul pada meja-stainless steel tempat salah satu jenazah sedang dibedah oleh tim koroner. Di sepanjang dinding, berbagai instrumen uji dan mikroskop bekerja tanpa jeda, menghasilkan bunyi mekanis yang monoton namun teratur.

Di balik pintu kaca laboratorium, Lin Dongxue dan Chen Shi berdiri memandang ke dalam, sementara Xu Xiaodong berdiri tidak jauh di belakang mereka. Melihat Xu Xiaodong menyusul tanpa diundang, Lin Dongxue menoleh dengan wajah jengkel.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya.

“Kita kan partner!” Xu Xiaodong tersenyum bangga.

“Siapa yang jadi partner kamu?” Lin Dongxue mendecak.

Xu Xiaodong langsung mematung, memegangi dadanya seolah tertembak kata-kata, wajahnya merendah lesu. Chen Shi menahan tawa kecil melihat reaksi dramatis itu.

Di dalam laboratorium, Kepala Forensik Peng Sijue sedang mengatur anak buahnya. Ia mengenakan jas lab putih yang tampak sedikit kusut, rambut ditata seadanya, dan di antara dokumen-dokumen di mejanya terdapat sebungkus permen mint yang sudah setengah kosong.

“Xiao Zhang, ambil sampel kulit ini, kirim untuk uji patologi optik. Cepat!” taktis dan ketus, seperti biasa.

“Xiao Li, bagaimana hasil analisis jejak kaki? Laporan visualnya sudah muncul atau belum? Dan… mana permen saya? Permen saya?!”

Ia merogoh sela-sela dokumen dan menemukan sebungkus mint terjepit di bawah map. Dengan lega ia memasukkan satu ke mulutnya, seolah itu adalah bagian paling penting dari pekerjaannya.

“Masih sama seperti dulu,” gumam Chen Shi pelan sambil melangkah masuk.

Peng Sijue tak mengangkat kepala sedikit pun ketika Chen mendekat. Chen bertanya langsung, “Saya ingin menanyakan, apakah laporan darah pada gagang pisau sudah keluar?”

Tanpa melihat siapa yang bicara, Peng Sijue menjawab ketus, “Siapa kamu? Ini laboratorium forensik, bukan rumah sakit yang bisa dimasuki sembarang orang. Bahkan di rumah sakit pun harus ambil nomor antrian!”

“Kapten Lin yang memanggil saya untuk membantu penyelidikan,” jawab Chen Shi santai.

“Buktikan,” ujar Peng Sijue datar tanpa jeda, masih menatap dokumen-dokumen di hadapannya.

Lin Dongxue segera maju dan mencoba memberi penjelasan, “Kapten Peng, benar. Dia membantu—”

“Bukti tertulis,” bantah Peng Sijue tanpa menoleh.

Lin Dongxue menghela napas kesal. Chen Shi akhirnya mengeluarkan ponsel dan menelepon Lin Qiupu.

Beberapa detik kemudian suara Lin Qiupu terdengar dari speaker, terdengar jelas sedang memendam amarah.

“Kamu ini! Siapa yang menyuruhmu mengganggu kerja orang? Dasar menyusahkan!”

Chen Shi menatap Peng Sijue sambil menunggu. “kapten Lin, tolong beri instruksi pada Kepala Forensik.”

Hening sebentar. Lalu terdengar suara Lin Qiupu lagi, kali ini terdengar pasrah.

“Sijue, orang itu saya minta bantu. Beri dia akses informasi.”

Begitu mendengar itu, Peng Sijue mengangkat wajahnya lalu, tanpa ekspresi, menyalakan perekam di ponselnya. “Kapten Lin, ulangi.”

Lin Qiupu mengulang kalimatnya, jelas dengan nada tidak senang.

Selesai rekaman, Peng Sijue mengangguk tipis. “Baik. Tapi DNA tidak bisa keluar dalam lima menit. Harap seseorang di sini punya sedikit akal sehat.”

Chen Shi justru tersenyum. “Kami percaya Anda yang paling profesional, Kapten Peng. Bolehkah saya tahu laporan yang sudah selesai?”

Peng Sijue menggeser beberapa foto ke meja depan.

“Di TKP ditemukan jejak kaki dengan noda darah. Ukuran sepatu 43, kondisi sol aus pada bagian luar. Tidak ada kecocokan dengan sepatu milik keluarga. Maka kemungkinan itu milik pelaku.”

“Jejak ukuran lain?” tanya Chen.

“34, 35, dan 43.”

Chen bergumam pelan. “Ukuran si pelaku sama dengan ukuran sepatu pria itu…”

“Kami juga menemukan empat set sidik jari di rumah. Dua set pada senjata tajam, milik pasangan suami-istri. Tidak ada sidik jari pelaku. Sidik jari pada mangkuk hanya empat jenis—semuanya milik keluarga.”

Chen Shi mengangguk kecil. “Pelaku terlalu berhati-hati.”

Xu Xiaodong tiba-tiba ikut menimpali, penuh semangat seolah menemukan teori mutakhir. “Ah, aku paham! Pelaku pasti mengoles 502 superglue di jarinya agar tidak meninggalkan sidik jari! Kapten Peng, tolong cek apakah—”

Peng Sijue menatapnya tajam. “Aku tidak butuh kamu mengatur pekerjaanku.”

Xu Xiaodong langsung ciut. “M-maaf…”

“Selain itu,” lanjut Peng Sijue, “uji saliva menunjukkan hanya empat orang yang makan. Tidak ada orang kelima.”

Chen Shi mengernyit. “Ada lima mangkuk, tapi hanya empat yang digunakan?”

Peng Sijue justru memasang ekspresi tersinggung. “Metode uji saya tidak pernah salah.”

“Aku tahu,” kata Chen Shi. “Aku hanya memastikan.”

Chen kemudian meminta satu hal terakhir. “Saya ingin uji kecocokan darah pada senjata tajam dengan darah anak kecil itu. Uji paternitas, tolong.”

“Bawa sampelnya.”

“Saya kirim nanti.”

Jika bukan Chen Shi yang memintanya, mungkin Peng Sijue akan mengusirnya keluar sedari tadi. Ia hanya menghela napas jengkel. “Kalau tidak ada lagi, keluar. Kami bekerja.”

Sebelum pergi, Lin Dongxue berujar pelan, seolah ingin menenangkan suasana. “Jangan tersinggung. Kapten Peng memang seperti itu. Kami semua butuh waktu lama untuk terbiasa.”

Chen Shi justru tertawa kecil. “Justru bagus. Karakter seperti itu membuat pekerjaannya rapi.”

Keluar dari laboratorium, Xu Xiaodong, yang sedari tadi seperti lampu merah yang tak dihiraukan, mendesah keras.

“Soal itu… ehm… Dongxue, kenapa kamu jadi dekat sekali dengan si paman itu? Rumor itu… apa benar?”

Lin Dongxue menghentikan langkah. “Rumor apa?”

Xu Xiaodong mengangkat kedua tangan buru-buru. “Tidak! Tidak ada! Tidak ada apa-apa!”

“Kalau tidak ada, jangan bicara yang aneh. Dan jangan mengomentari pergaulan orang lain.” Suara Lin tegas, jelas jengkel.

Di dalam hatinya ia tahu—yang paling menyakitkan adalah pembicaraan di belakang. Sebagai adik Lin Qiupu, orang-orang sering mengira ia masuk tim hanya karena hubungan keluarga. Padahal tidak demikian. Namun akibat status itu, ia justru kurang diberi kesempatan untuk membuktikan diri.

Saat mereka hendak berpisah, Chen Shi tiba-tiba berhenti dan menoleh. “Aku pergi mengambil sampel darah anak itu dulu. Setelah itu mungkin aku tidur sebentar. Kalau ada perkembangan penting, kabari aku.”

Lin Dongxue bertanya, “Tidak ikut bersama kami?”

“Tidak. Aku bukan polisi. Tidak perlu mengikuti semua prosedur kalian. Oh ya… apa fokus investigasi kakakmu?”

“Perusahaan rentenir.”

Chen Shi mengangguk sambil berpikir. “Kalau kalian menemui para saksi, tanyakan alasan keluarga itu sampai meminjam uang sebesar itu.”

“Kau pikir rentenirnya pembunuh?”

Chen menatap Lin lama sebelum menjawab pelan, “Ingat hal yang kukatakan kemarin.”

Lin Dongxue terdiam. Ia tahu maksudnya: pelaku membiarkan anak itu hidup. Itu bukan sifat penagih utang kejam. Ada sesuatu yang lebih dalam.

Chen Shi melambaikan tangan lalu pergi.

Hening beberapa detik, lalu Xu Xiaodong mendekat dan bertanya lirih, “Dongxue… jujur saja, kamu suka paman itu?”

“Pergi sana!” Lin Dongxue langsung refleks menjawab.

Namun kemudian ia berubah pikiran, menatap Xu Xiaodong dengan nada sedikit menyengat. “Ya, aku suka pria dewasa. Masalah?”

Xu Xiaodong terperangah, wajahnya langsung pucat. “Tapi dia tidak tampak dewasa… dia pakaian saja berantakan, dan baunya… bau rokok…”

“Hmph. Lebih dewasa dibanding orang yang suka menggunjing orang lain di belakang,” ujar Lin Dongxue sambil melangkah pergi.

Xu Xiaodong mematung di koridor, mencoba mencerna kata-katanya. Lalu bergumam pada diri sendiri, “Tadi itu… dia bilang sengaja?”

Namun Lin Dongxue tidak lagi menoleh. Ia berlalu dengan langkah mantap, sementara pikirannya kembali tertuju pada kasus besar yang kini dihadapinya: seorang pembunuh yang menghilang tanpa jejak, namun meninggalkan celah yang—bila diperhatikan dengan teliti—mengisyaratkan bahwa kebenaran jauh lebih rumit dari yang tampak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!